
Taxi yang membawa Anna pun melaju dengan kecepatan tinggi sesuai permintaan Anna. Namun di tengah jalan tiba-tiba Taxi itu mogok.
"Kenapa Pak ?" tanya Anna tak sabar.
"Mogok Bu," sahut supir Taxi sambil menggaruk kepala.
"Kok bisa sih," kata Anna sambil membuka jendela.
Supir Taxi nampak menggedikkan bahunya dan terus berusaha mengecek mesin mobil. Anna yang kesal pun keluar dari dalam Taxi lalu berdiri di ambang pintu Taxi. Sesekali Anna memutar kepalanya untuk memastikan tempat dimana Taxi berhenti adalah tempat yang aman.
Tiba-tiba Anna mendengar suara Nicko yang menyapanya.
"Bunda ngapain di sini ?" tanya Nicko sambil menghentikan motornya tepat di samping Anna.
"Eh, Nicko. Bunda mau ...," ucapan Anna terputus karena Nicko mengabaikan ucapannya.
Nicko menghampiri supir Taxi. Setelah memberi uang kepada supir Taxi, Nicko pun menggamit tangan Anna dan membawanya pergi.
"Tas Bunda masih di dalam Taxi Nick !" kata Anna.
"Biar dibawa Fajri Bund. Sekarang Bunda ikut Aku ya," kata Nicko sambil melajukan motornya perlahan meninggalkan Fajri yang membawa koper sang bunda.
Anna tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemana si bungsu akan membawanya. Ia pun tak berkutik saat Nicko mengajaknya ke taman.
"Kenapa ngajak Bunda ke sini sih Nick. Bunda nih lagi kesel. Bunda butuh curhat sama Eyang Kamu biar ga stress !" kata Anna kesal.
"Minum dulu Bund biar keselnya reda," kata Nicko cuek sambil menyodorkan botol berisi minuman ringan kearah Anna.
Sikap Nicko membuat Anna meradang. Ia merasa diperlakukan seperti anak kecil oleh Nicko.
"Bunda bukan Anak kecil Nicko !. Kenapa Kamu ga bisa menghargai Bunda sih. Kamu tuh sama aja kaya Ayah Kamu yang ga mau menghargai perasaan Istrinya !" kata Anna lantang sambil melempar botol pemberian Nicko ke tanah.
Nicko menatap botol yang terhempas ke tanah dengan tenang kemudian menoleh kearah Anna. Saat itu lah ia melihat sang bunda sedang mengusap matanya yang basah dengan punggung tangannya.
Nicko menghela nafas panjang lalu menarik sang bunda ke dalam pelukannya. Anna pun tak kuasa menahan tangis. Ia menangis kencang seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
Setelah puas menumpahkan tangisnya, Anna pun mengurai pelukan Nicko. Dengan sabar Nicko membantu menghapus air mata sang bunda dengan ujung kaos yang ia kenakan.
"Udah kan nangisnya Bund. Kita pulang yuk," ajak Nicko.
__ADS_1
"Bunda ga mau," sahut Anna cepat.
"Kenapa ?. Bunda masih marah ya sama Ayah ?" tanya Nicko hingga mengejutkan Anna.
"Darimana Kamu tau kalo Bunda lagi marah sama Ayah Kamu ?" tanya Anna sambil menatap Nicko lekat.
"Ayah dan Om Jojo yang bilang. Mereka telephon dan chat Aku tadi. Untung Aku liat Bunda masuk ke dalam Taxi makanya Aku bisa langsung ngejar tadi. Bunda cuma salah paham aja kok. Percaya deh. Ayah ga seperti yang Bunda pikirin kok," kata Nicko.
"Sok tau Kamu," sahut Anna kesal.
"Nicko ga sok tau Bund. Ayah emang ga punya wanita lain atau kepincut sama cewek lain," kata Bayan tiba-tiba.
Anna terkejut dan menoleh ke belakang. Di sana ia melihat Bayan sedang berdiri sambil tersenyum kearahnya. Di samping Bayan tampak Jojo yang menangkup kedua telapak tangannya di depan dada seolah ingin minta maaf.
"Kita omongin di rumah yuk. Ga enak kan kalo rahasia keluarga Kita jadi konsumsi publik," kata Bayan sambil menarik jemari Anna dengan lembut.
Anna nampak berpikir ssjenak kemudian mengangguk. Ia tak menolak saat Bayan membawanya pergi dengan mobil. Sedangkan Jojo memilih naik motor Nicko karena ingin memberi suami istri itu kesempatan bicara.
Tak ada pembicaraan apa pun sepanjang perjalanan menuju ke rumah. Bayan dan Anna sama-sama membisu hingga mobil memasuki halaman rumah. Di teras rumah tampak Nathan sedang bicara dengan Fajri.
"Kalo gitu Aku pulang ya Bang," kata Fajri sambil menstarter motornya.
"Sama-sama Bang. Mari Om," sapa Fajri saat Bayan turun dari mobil.
"Iya Jri. Hati-hati, ga usah ngebut !" kata Bayan.
"Siap Om !" sahut Fajri sambil melaju tanpa menoleh lagi.
Nathan pun menyambut Anna dengan pelukan hangat. Rupanya ia juga tahu jika telah terjadi kesalah pahaman antara kedua orangtuanya. Setelah mengurai pelukan, Nathan pun membawa Anna masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian terdengar suara motor Nicko memasuki halaman. Jojo turun dari motor lalu bergegas menyusul Bayan yang lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Di ruang tengah terlihat Anna duduk di samping Nathan yang berhadapan dengan Bayan dan Jojo. Nicko yang baru masuk pun memilih duduk di samping Jojo.
"Jadi siapa yang mau mulai ngomong duluan nih ?" tanya Nathan memecah kesunyian.
"Ayah aja," sahut Bayan.
"Jangan Yan. Biar Gue yang jelasin karena semua ini kan gara-gara Gue," sela Jojo.
__ADS_1
Bayan dan kedua anaknya saling menatap sejenak kemudian menganggukkan kepala tanda setuju.
"Begini An. Selama sebulan lebih Bayan tinggal di rumah Gue. Dia ga kemana-mana kok. Bahkan Gue juga nyaksiin pake mata kepala Gue sendiri kalo Bayan menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk mengawasi Kalian dan menjalankan perusahaan dari jauh," kata Jojo membuka percakapan.
"Terus ...?" tanya Anna tak sabar.
"Gue yang bujuk Bayan untuk pulang karena Gue ga suka sama caranya yang ninggalin keluarga tanpa pamit," sahut Jono cepat sambil melirik kesal kearah Bayan.
Ucapan Jojo membuat Anna tersenyum. Ia senang karena ternyata sepupu Bayan itu adalah pihak yang netral.
"Waktu Bayan pulang, maksud Gue setelah Bayan pergi naik mobilnya, Gue ngeliat cewek yang berniat bunuh diri di pantai. Lo tau kan kalo Gue ini relawan yang menjaga keamanan dan kelestarian pantai. Makanya ngeliat orang jalan ke tengah laut Gue pun langsung bertindak. Gue tarik dia sampe ke tepi pantai, lalu Gue maki-maki dia !" kata Jojo berapi-api.
Cerita Jojo membuat Nathan dan Nicko kagum. Tapi Anna yang tak sabar mendengar kelanjutan cerita Jojo pun hanya menatap kesal kearah Jojo yang selalu menjeda ceritanya tanpa sebab.
"Dan waktu cewek itu mengangkat wajahnya Gue kaget. Karena cewek itu ternyata Ejah, istri almarhum Alan, kembarannya Bayan. Gue sengaja cerita sama Bayan karena Gue ga mau dia kaget. Selama ini Ejah dikabarkan meninggal entah dimana. Kalo Ejah memang udah meninggal, kenapa Gue ngeliat Ejah hidup dan sehat wal Afiat hari itu. Terus setau Gue saat Ejah pergi, dia juga sedang hamil. Kalo bayi itu lahir dengan selamat, artinya Bayan punya keponakan dan Kalian punya sepupu," kata Jojo sambil menatap Nathan dan Nicko bergantian.
Cerita Jojo membuat Anna menghela nafas lega. Bayangan jika ia diselingkuhi pun lenyap berganti dengan perasaan bahagia. Anna pun menundukkan kepalanya sambil sesekali mencuri pandang kearah Bayan.
Bayan nampak mengulum senyum melihat tingkah malu-malu sang istri.
"Namanya siapa Om ?" tanya Nicko tiba-tiba.
"Ejah," sahut Jojo cepat.
"Kaya pernah denger nama itu. Iya ga sih Bang ?" tanya Nicko sambil menatap Nathan lekat.
"Iya. Jangan-jangan Ejah yang diceritain Om Jojo sama dengan Mak Ejah Ibu angkatnya Rosiana !" kata Nathan lantang hingga mengejutkan semua orang terutama Bayan.
"Masuk akal !. Harus Ayah akui, Ayah pergi karena terus dihantui bayangan wanita itu. Ayah ga tau gimana mendeskripsikan perasaan Ayah saat itu. Tapi sekarang Ayah paham apa sebabnya," kata Bayan jujur hingga membuat Anna menatap kesal kearahnya.
"Jangan mulai lagi deh Yah. Kita baru aja berdamai lho !" kata Anna mengingatkan.
"Maaf Bund. Tapi emang itu kenyataannya," sahut Bayan lirih.
Ucapan Bayan membuat Anna melengos sebal. Tiba-tiba ia teringat Mak Ejah dan Rosiana.
"Jangan-jangan justru Rosiana memang Anak kandung Mak Ejah yang sengaja disamarkan kelahirannya. Bukannya Nathan bilang kalo Rosiana diadopsi saat usianya sembilan atau sepuluh tahun ?. Mungkin Mak Ejah hanya ingin mengaburkan asal usul Rosiana !" kata Anna.
Ucapan Anna membuat Bayan dan Nathan terkejut. Keduanya membeku di tempat karena tak sanggup berkata-kata.
__ADS_1
\=\=\=\=\=