Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
180. Lupita Datang


__ADS_3

Penantian Bayan dan keluarganya pun membuahkan hasil. Bayi Lupita alias Pita berhasil ditemukan. Meski dalam kondisi yang mengenaskan karena bayi itu terluka akibat dijadikan sandera selama beberapa saat.


Ternyata bayi Lupita berada dalam genggaman mantan suami Lupita. Pria itu berniat menjual bayi itu keluar negeri. Alasannya karena ia ingin membalas dendam pada keluarga Lupita. Padahal dia juga tahu jika Lupita telah meninggal dunia akibat bunuh diri.


Saat akan ditangkap, pria itu langsung menarik sang bayi dari gendongan anak buahnya dengan kasar. Ia tak peduli meski pun aksinya telah membuat sang bayi menangis kesakitan. Ia menodongkan pistol ke kepala sang bayi yang menangis itu dengan maksud mengancam para polisi.


Polisi pun mengalah. Mereka mundur sesuai permintaan pria itu karena tak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan jiwa sang bayi.


Mengira para polisi menuruti permintaannya, pria itu pun lengah. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh para polisi. Mereka langsung menyergap dan menghadiahi bogem mentah bertubi-tubi saking kesalnya karena telah menjadikan bayi sebagai sandera.


Setelahnya mantan suami Lupita dan anak buahnya digelandang ke kantor polisi dengan pengawalan ketat. Sedangkan bayi Lupita langsung dilarikan ke Rumah Sakit agar segera mendapat pertolongan.


Dokter yang menangani pengobatan bayi Lupita mengatakan jika polisi terlambat sedikit saja, kemungkinan nyawa bayi Lupita sudah tak bisa diselamatkan lagi.


Ayu yang mendengar berita itu pun tak kuasa menahan tangis. Ia sedih dan merengek minta diantar menjenguk Pita di Rumah Sakit.


"Tenang ya Mbak. Kita emang mau ke sana kok. Sekarang Mbak siap-siap dulu gih. Mungkin ada yang mau dibawa buat oleh-oleh nanti ?" tanya Nathan.


Ayu berhenti menangis lalu mengangguk cepat. Ia teringat dengan boneka tangan milik Arafah yang selalu ia gunakan untuk bermain bersama Pita.


"Kalo gitu tunggu Aku pulang ambil boneka Arafah dulu ya Nath. Abis itu Kita baru ke Rumah Sakit. Ayo Bi ...," kata Ayu antusias sambil menggamit lengan suaminya.


"Ga usah buru-buru Mbak. Kami kan lewat rumah Mbak juga nanti," kata Nathan sambil tersenyum.


"Oh iya," sahut Ayu ikut tersenyum sedangkan Fikri hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.


"Keliatannya Mbak Ayu sayang banget sama Pita ya Bund," kata Hilya.


"Iya Hil. Rasa rindunya pada Arafah seperti terobati dengan kehadiran Pita. Andai Pita bisa diadopsi, pasti Ayu adalah orang pertama yang bakal daftar," sahut Anna.


"Kayanya bisa Bund. Kalo denger ceritanya Pak Polisi kemarin, keliatannya ga ada yang bakal ngasuh Pita karena pihak kepolisian juga ga percaya sama keluarganya Lupita. Peluang Mbak Ayu buat ngadopsi Pita juga besar kok. Mudah-mudahan aja Pita emang berjodoh sama Mbak Ayu," kata Nathan.


"Tapi ga mungkin Mbak Ayu mengadopsi Pita tanpa persetujuan Bang Fikri. Kita kan ga tau gimana perasaannya Bang Fikri. Soalnya Aku liat Bang Fikri keliatan ga terlalu suka sama bayi itu," kata Hilya.

__ADS_1


"Bukan ga suka. Fikri cuma ga mau terlalu baper. Dia khawatir udah terlalu sayang, eh malah bayinya dijemput lagi. Makanya dia sengaja jaga jarak sama bayi itu. Bunda yakin dalam hatinya juga Fikri sayang kok sama Pita. Kalo Ayu aja bisa sesayang itu sama Pita, Fikri juga pasti sayang sama Pita. Kan pusat kebahagiaan Fikri sekarang adalah Ayu. Melihat Ayu bahagia, dia pasti ikut bahagia," kata Anna menjelaskan.


"Betul itu. Bang Fikri cuma ga mau terlalu larut dalam kebahagiaan karena bayi itu kan memang bukan miliknya. Akan beda ceritanya kalo bayi itu sudah jadi Anaknya nanti," kata Nathan menambahkan.


Tak lama kemudian Bayan dan keluarganya telah meluncur menuju Rumah Sakit dimana Pita dirawat.


Saat melihat Pita terbaring lemah di box bayi,Ayu pun menangis. Ia sedih melihat kondisi Pita yang menguning dengan beberapa selang infus di tubuhnya.


"Pita pasti ga dapat makanan dan sinar matahari yang cukup. Liat, badannya kecil dan kuning gini. Padahal waktu sama Aku dia gemuk dan sehat lho," kata Ayu di sela tangisnya.


"Iya Mbak. Kan yang menyandera Pita laki-laki semua. Mereka pasti ga tau gimana cara merawat bayi yang belum genap berumur empat puluh hari. Jangankan menjemur di bawah sinar matahari pagi, susu pun pasti jarang dikasih," sahut Hilya prihatin.


Tiba-tiba bayi itu menangis. Perawat mengijinkan Ayu menggendongnya karena melihat Ayu yang paling antusias memanggil nama sang bayi. Dan keajaiban kembali terjadi. Saat Pita berada dalam dekapan Ayu, bayi itu pun berhenti menangis. Ia bahkan tersenyum saat Ayu memperlihatkan boneka tangan yang dibawanya.


"Cepat sembuh ya cantik. Nanti Kita main sama-sama lagi," bisik Ayu sambil menciumi Pita dengan sayang.


Nampaknya Pita ingin merespon ucapan Ayu, ia mengeluarkan suara menggemaskan tiap kali Ayu bicara seolah mengerti apa yang Ayu ucapkan. Tentu saja itu membuat semua orang terharu. Polisi yang ikut menyaksikan interaksi Ayu dengan bayi Lupita itu pun nampak menganggukkan kepalanya berkali-kali.


\=\=\=\=\=


Pita diletakkan di kamar rawat inap sesuai permintaan Fikri hingga membuat keduanya lebih leluasa mengawasi Pita.


"Aku keluar sebentar ya Mi," kata Fikri tiba-tiba.


"Mau kemana Bi, ini kan udah malam," sahut Ayu.


"Sebentar aja kok. Mau beli kopi sama makanan ringan. Kamu juga mau teh hangat kan ?" tanya Fikri sambil bangkit dari duduknya.


"Iya deh. Tapi jangan lama-lama ya Bi," pinta Ayu.


"Iya Sayang," kata Fikri sambil mengusap kepala Ayu dengan lembut hingga membuat sang istri tersenyum.


Kemudian Fikri keluar dari ruangan menuju kantin Rumah Sakit.

__ADS_1


Saat Fikri keluar dari ruangan, Ayu pun mulai diserang kantuk. Sambil terus memeluk Pita yang terbaring di sampingnya, Ayu pun perlahan memejamkan matanya.


Tanpa Ayu sadari, sesosok perempuan nampak berdiri di sudut ruangan sambil menatap Pita dengan tatapan sedih. Pita yang sedang tertidur itu pun mendadak membuka matanya dan menggeliat saat mendengar suara yang memanggil namanya. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sumber suara.


Rupanya gerakan kecil Pita membangunkan Ayu yang hampir terlelap. Ia pun menepuk lembut tubuh mungil Pita agar sang bayi kembali tidur. Namun beberapa saat melakukan hal yang sama, Pita tak juga terpejam hingga membuat Ayu bingung.


"Kenapa Sayang, haus ya atau pipis ?" tanya Ayu sambil meraba ke bagian bawah tubuh Pita.


Pita hanya menendang lembut dengan kedua mata yang menatap kearah sudut ruangan seolah memberitahu Ayu jika ada sesuatu di sana.


Ayu pun refleks menoleh mengikuti arah tatapan Pita. Betapa terkejutnya Ayu saat melihat sosok wanita berdiri di sudut ruangan. Meski tak mengenal Lupita, tapi Ayu yakin jika sosok itu adalah hantu Lupita.


Karena khawatir hantu Lupita akan melukai Pita, dengan sigap Ayu menggendong bayi itu lalu mendekapnya dengan erat sambil berdzikir dalam hati.


"Apa lagi maumu ?!. Jangan datang dan mengganggu Anak ini lagi. Biarkan dia hidup tenang. Kamu ga usah khawatir, dia ga sendirian kok. Dia aman bersama orang-orang yang menyayanginya," kata Ayu dengan suara bergetar.


Sosok wanita di sudut ruangan nampak menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Terima kasih ...," kata sosok wanita itu lirih.


"A-apa ?" tanya Ayu yang tak percaya dengan pendengarannya sendiri.


"Terima kasih telah menjaga Anakku," kata wanita itu lirih hingga mirip sebuah bisikan.


"I-iya. Sa ... sama-sama," sahut Ayu cepat.


Perlahan sosok wanita itu mengangkat kepalanya. Ia memperlihatkan wajahnya yang cantik meski sedikit pucat seolah ingin memperkenalkan diri pada Ayu yang akan menjaga anaknya nanti. Ayu hanya bisa terpaku menatap wanita itu hingga sosoknya hilang dari jangkauan mata.


Ayu masih terpaku hingga Fikri kembali ke dalam ruangan. Ia tersentak kaget saat Fikri memanggilnya.


"Sayang !" panggil Fikri lantang hingga membuat Ayu tersadar dari lamunannya yang entah sudah berapa lama.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2