Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
223. Keputusan Nathan


__ADS_3

Sore harinya, tepat jam empat sore Hilya dibawa ke ruang operasi. Nathan nampak setia mendampingi dan terus berada di sisinya.


"Banyak berdzikir ya Nak. Jangan takut, Kamu ga sendirian karena Kami akan menemani Kamu dan mendoakanmu," kata nenek Hilya sambil mengecup kepala Hilya penuh cinta.


"Iya Nek, makasih ...," sahut Hilya sambil membenamkan wajahnya di pelukan sang nenek.


Setelahnya Anna maju untuk memberi pelukan juga pada menantu cantiknya itu. Ia membisikkan kalimat yang menenangkan Hilya hingga membuat wajahnya bersemu merah. Tentu saja itu membuat Nathan curiga.


"Bunda bilang apa sama Kamu Sayang ?" tanya Nathan penasaran.


"Kepo banget sih. Ini urusan perempuan tau ga !" sela Anna sambil menatap Nathan dengan tatapan galak.


"Aku cuma tanya Bund. Soalnya mukanya Hilya sampe merah banget kaya kepiting rebus gini," kata Nathan sambil melirik kearah istrinya.


Belum sempat Anna menjawab pernyataan Nathan, dokter Abraham nampak mendekat lalu 'melerai' mereka.


"Yup, udah siap semuanya kan ?. Gimana, siapa lagi yang mau ngasih motivasi sama pasien istimewa Saya ini ?!" tanya dokter Abraham dengan lantang lalu berdiri diantara Nathan dan Anna.


Rupanya beberapa bulan menangani kehamilan Hilya membuat dokter Abraham mengenal watak dan karakter keluarga pasiennya itu. Jika sedang santai mungkin sang dokter akan tertawa melihat tingkah absurd Nathan dan ibunya. Tapi karena sekarang ia harus fokus untuk membantu persalinan Hilya, sang dokter hanya bisa tersenyum melihat tingkah absurd ibu dan anak itu.


"Insya Allah siap dok !" sahut ketiga sepupu Hilya mewakili semua orang di ruangan itu.


Hilya pun mengangguk mengiyakan ucapan Varel, Angga dan Bima. Kemudian mereka mengantar Hilya menuju ruang bersalin. Terkesan berlebihan namun mereka terlihat santai dan senang melakukannya.


Saat di perjalanan, mereka melihat brankar lain yang akan dibawa ke ruang operasi yang arahnya berlawanan dengan ruang bersalin. Namun untuk tiba di ruangan yang berbeda itu mereka harus melewati jalan yang sama.


Dari kejauhan Bayan menatap brankar itu dengan tatapan tak suka. Itu karena ia tahu jika brankar itu berisi tubuh Rosi. Sedangkan Nathan yang sedang fokus dengan istrinya nampak tak menyadari ada brankar lain yang berpapasan dengan mereka.


Tepat saat posisi kedua brankar bersisian, Rosi menoleh dan tersenyum lebar di balik perban yang menutupi wajahnya itu. Ia menoleh kearah brankar di sampingnya yang ia ketahui berisi Hilya yang akan segera melakukan persalinan.


Aroma bayi yang pekat seolah memanggil Rosi dan memaksanya terus menatap perut Hilya yang membuncit itu. Bahkan Rosi menelan salivanya berkali-kali membayangkan bagaimana lezatnya rasa dan aroma ketiga bayi di dalam sana.

__ADS_1


"Sabar sedikit lagi. Setelah perban sia*an ini dibuka, maka Aku pasti bisa bergerak dengan leluasa. Dan itu artinya Aku bakal bisa segera melepas dahagaku," batin Rosi.


Tepat di saat Rosi menatap kearah perut Hilya, Bayan maju dan berjalan tepat di samping perut menantunya itu. Bayan berusaha menghalangi tatapan Rosi karena ia khawatir Rosi akan mengirim mantra yang bisa mempersulit proses persalinan nanti.


Entah mengapa saat Bayan berjalan tepat di samping Hilya, saat itu lah ada rasa perih yang menyapa kedua mata Rosi seolah ada sesuatu yang ditaburkan di matanya. Rosi mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menghalau rasa perih yang menyerang matanya itu namun sulit. Bahkan saking perihnya kedua mata Rosi nampak berair.


Rosi pun mengalihkan tatapannya kearah lain karena tak sanggup menahan perih yang mendera matanya itu.


Bayan pun tersenyum diam-diam karena upaya pertamanya 'menghalau' Rosi membuahkan hasil.


"Bagus. Jangan sekali-kali berani menatap keluargaku dengan mata jahatmu itu Rosi. Jika masih berani mencoba, bukan hanya perih yang bakal Kamu rasakan tapi Aku pastikan kedua bola matamu lepas dari tempatnya," batin Bayan sambil tersenyum penuh makna.


Bayan kembali mengingat apa yang telah ia lakukan tadi. Rupanya Bayan memang sengaja menyiapkan serbuk kayu kamper yang dicampur dengan bedak bayi milik Hilya. Kemudian Bayan meletakkan bedak tersebut di telapak tangannya tepat saat brankar Hilya akan berpapasan dengan brankar Rosi.


Dan saat berjalan di samping brankar tadi, Bayan membuka genggaman tangannya hingga serbuk bedak itu menguar tertiup angin. Karena posisinya tangannya berada tepat di samping Rosi, maka Rosi lah yang terkena imbasnya.


Bayan memang terlihat tenang setelah berhasil mengerjai Rosi. Namun jauh di lubuk hatinya Bayan merasa gelisah. Ia khawatir rencana yang telah ia susun gagal karena satu kesalahan kecil saja.


Tiba di ujung lorong kedua brankar pun berpisah. Brankar yang membawa tubuh Hilya berbelok ke kanan, sedangkan brankar yang membawa tubuh Rosi berbelok ke kiri. Dokter Abraham pun menjabat tangan dokter Mutia sebelum berpisah.


"Semoga berhasil," kata dokter Abraham sambil mengedipkan matanya.


"Sama-sama. Semoga berhasil juga," sahut dokter Mutia sambil tertawa.


Kemudian kedua dokter itu berpisah di ujung lorong mengikuti pasien masing-masing.


Dari kejauhan dokter Abraham melihat brankar yang membawa tubuh Hilya berhenti tepat di depan pintu ruang bersalin. Rupanya mereka sedang berdoa bersama. Sesuatu yang jarang dilakukan keluarga pasien dan itu membuat dokter Abraham kagum.


"Meski pun terlihat cuek dan selalu ribut hampir di setiap waktu, ternyata keluarga ini cukup religius juga," batin dokter Abraham sambil tersenyum diam-diam.


Beberapa saat kemudian pembacaan doa selesai. Seorang perawat nampak membuka pintu ruang bersalin sedangkan perawat lain mendorong brankar masuk ke dalam ruangan dibantu Anna. Setelahnya Anna juga ikut masuk ke dalam ruang bersalin hingga membuat Bayan terkejut.

__ADS_1


"Lho, kenapa bukan Kamu yang masuk ke dalam sana Nath ?!" tanya Bayan tak mengerti.


Nathan sudah membuka mulut untuk menjawab pertanyaan sang ayah namun didahului oleh nenek Hilya.


"Ga perlu Nak. Daripada Nathan merepotkan team dokter karena ga kuat ngeliat darah, lebih baik Istrimu yang mendampingi Hilya. Harusnya Aku juga ikut, tapi sayangnya Aku terlalu tua untuk menyaksikan proses melahirkan," kata nenek Hilya menjelaskan.


Ucapan nenek Hilya membuat Bayan bingung. Karena ia tahu Nathan tidak phobia darah alias takut saat melihat darah.


"Tapi Mak ...," ucapan Bayan terputus karena nenek Hilya memotong cepat.


"Udah gapapa. Sekarang Kalian menyingkir dari pintu. Duduk di sana atau bawa Nathan pergi jauh dari sini biar phobianya ga kambuh dan ngerepotin semua orang nanti," usir nenek Hilya.


"Ok, Aku ke sana dulu ya Nek. Ayo Yah ...," ajak Nathan sambil menarik tangan sang ayah agar menjauh dari ruang bersalin.


Setelah jauh dari ruang bersalin Bayan menepis tangan Nathan Ialu menatap sang anak dengan tatapan kesal.


"Ini pasti cuma siasat Kamu supaya bisa ikut membasmi siluman itu. Iya kan Nath ?" tanya Bayan .


"Iya Yah. Jujur Aku juga ga bisa tenang di dalam sana karena khawatir sama keselamatan Ayah saat menghadapi siluman itu nanti," sahut Nathan cepat.


"Tapi Istri dan Anak-anakmu lebih penting Nath !" kata Bayan gusar.


"Andai mereka tau mereka pasti mengerti dan bangga sama keputusanku ini Yah. Karena Aku tak hanya berjuang untuk menyelamatkan mereka tapi juga semua bayi yang ada di sekitar mereka," sahut Nathan sambil tersenyum.


Ucapan Nathan membuat Bayan terharu. Ia memeluk Nathan dengan erat sambil menepuk punggung sang anak dengan lembut.


"Ok. Ayo Kita akhiri semuanya sekarang. Jangan kasih kesempatan siluman itu untuk bangkit lebih kuat," kata Bayan sambil mengurai pelukannya.


"Siap Yah !" sahut Nathan antusias.


Keduanya tertawa lalu bergegas melangkah menuju ruang operasi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2