Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
162. Ketemu ...!


__ADS_3

Setelah lama mencari di bagian selatan pemakaman, akhirnya Bayan, Nathan dan Fikri pun menyerah. Mereka memilih kembali ke depan gerbang pemakaman dimana beberapa polisi tengah berkumpul.


Seolah paham jika Bayan, Nathan dan Fikri baru saja membantu mencari jasad Arafah di bagian selatan, para polisi pun menyambut kedatangan mereka sambil tersenyum.


"Gimana Pak, apa menemukan sesuatu di sana ?" tanya seorang polisi mewakili rekan-rekannya.


"Ga ada apa-apa di sana Pak," sahut Bayan lesu.


"Oh gitu. Yang sabar ya Pak. Kadang kala Kami juga ngalamin hal yang sama, berkali-kali gagal dan ga nemuin apa-apa. Tapi Kami ga boleh nyerah apalagi kalo tempat dimaksud adalah titik yang dicurigai," kata sang polisi dengan bijak.


Bayan, Nathan dan Fikri pun menganggukkan kepala sambil tersenyum. Mereka tahu jika tugas polisi dalam mengungkap kasus kejahatan memang berat. Itu sebabnya mereka tak ingin banyak berkomentar karena khawatir salah omong nanti.


Tak lama kemudian beberapa polisi juga kembali bergabung di depan gerbang pemakaman. Mereka menyampaikan laporan yang sama yaitu tak menemukan apa pun di sekitar pemakaman.


"Baik, Kita istirahat sebentar. Setelah istirahat, Kita berpencar lagi untuk mencari jasad Ananda Arafah. Kali ini Kita tukar posisi. Yang tadi mencari ke Barat, tukar posisi dengan kelompok yang mencari ke timur. Begitu pun dengan kelompok yang lain. Apa Kalian paham ?!" tanya polisi yang merupakan pimpinan dari para polisi itu.


"Siap Pak !" sahut para polisi dengan suara lantang.


"Apa Kami masih boleh membantu Pak ?" tanya Bayan.


"Boleh. Tapi kalo Bapak lelah, ada baiknya Bapak istirahat aja. Bapak juga boleh pulang dulu kalo mau. Kalo ada apa-apa akan Kami kabari nanti. Gimana Pak ?" tanya sang polisi dengan santun.


"Gapapa Pak. Saya masih kuat kok. Daripada pulang ke rumah tapi pikiran Saya ga di rumah, lebih baik Saya di sini aja," sahut Bayan.


"Terserah Bapak kalo gitu. Tapi kalo Bapak lelah, Bapak boleh mundur dan tunggu di mobil aja," kata sang polisi sambil tersenyum.


Bayan pun mengangguk setuju.


Setelah istirahat selama sepuluh menit, pencarian pun kembali dilanjutkan. Polisi menyebar di berbagai tempat, sedangkan Bayan, Nathan dan Fikri memilih pergi ke bagian utara.


Waktu terus merambat naik hingga mendekati tengah malam. Tiba-tiba suara lantang seorang polisi terdengar dari sebelah barat pemakaman.

__ADS_1


"Ada sesuatu di sini !. Kami menemukan sesuatu di sini !" kata sang polisi sambil memberi kode dengan lampu senter.


"Baik, Kami segera ke sana !" sahut beberapa polisi bersamaan.


Bayan, Nathan dan Fikri pun bergegas mendatangi tempat yang dimaksud. Mereka terkejut melihat seonggok tubuh yang diselimuti kafan putih lusuh tergeletak di tanah. Dari ukuran tubuhnya, semua orang di sana yakin jika jenasah itu adalah jenasah anak kecil.


"Ini ... Kalian nemu ini di sebelah mana ?" tanya seorang polisi.


"Di sini dan tergeletak begitu aja," sahut polisi yang tadi berteriak.


"Aneh. Padahal tadi Kami ngubek-ngubek di sini sampe ke pojokan segala. Tapi Kami ga nemuin apa-apa tadi," kata sang polisi.


"Masa sih ?" tanya beberapa polisi seolah tak percaya.


"Iya," sahut polisi lainnya bersamaan.


"Udah ga usah berdebat. Ga penting siapa yang nemuin jenasah ini. Anggap aja ini keberuntungan karena akhirnya Kita bisa menemukan jenasah yang Kita cari," kata ketua regu polisi menengahi.


"Kita bawa ke tempat terang aja biar gampang dikenali. Jangan lupa panggil Pak Hermawan buat ngecek kondisi jenasah," kata sang ketua regu.


"Siap Pak !" sahut para polisi sambil mulai bergerak meninggalkan tempat itu.


Seorang polisi nampak menggendong jenasah sedangkan Bayan, Nathan dan Fikri mengekori dari belakang.


Saat Bayan hendak melangkah, tak sengaja ia menoleh ke belakang tepat di pojok pemakaman. Di sana ia melihat satu sosok hitam tengah berdiri menjulang seolah sedang mengamati semua orang. Bayan mengabaikan apa yang dilihatnya itu karena menganggap itu adalah hal yang wajar.


"Namanya juga area pemakaman. Pasti banyak penampakan dong," batin Bayan sambil tersenyum kecut.


Tak lama kemudian mereka pun tiba di gerbang pemakaman. Kali ini polisi tidak berkumpul di luar pemakaman melainkan di dalam area pemakaman. Itu dilakukan karena mereka tak ingin menarik perhatian warga dan membuat warga berdatangan ke sana. Sebab jika itu terjadi, pekerjaan polisi akan semakin berat.


Bayan, Nathan dan Fikri tiba paling akhir di sana. Saat itu pria bernama Hermawan yang merupakan petugas dari Rumah Sakit nampak sedang mengecek kondisi jenasah. Dari tempatnya berdiri Fikri bisa mengenali jasad yang tengah diperiksa itu adalah jasad Arafah.

__ADS_1


"Anakku Arafah ... !" panggil Fikri dengan suara bergetar hingga membuat Hermawan dan semua polisi yang ada di sana menoleh kearahnya.


"Apa ... ini ... putri Bapak yang hilang itu ?" tanya Hermawan ragu.


"Iya Pak," sahut Fikri mantap.


"Jadi ini Arafah yang meninggal seminggu yang lalu Pak ?" tanya Hermawan lagi.


"Iya. Kenapa nanya terus sih. Bisa tolong dipercepat kan urusannya. Saya mau Anak Saya kembali dimakamkan biar dia bisa tenang di sisi Allah," sahut Fikri gusar.


"Fikri, tenang lah Nak ...," bisik Bayan sambil menepuk punggung Fikri dengan lembut.


"Maaf Yah, tapi ini keterlaluan. Mereka meragukan Aku. Mereka pikir Aku ga bisa mengenali jasad Anakku sendiri. Padahal jelas kalo Aku Ayah kandung Arafah. Biar pun jasad Arafah lebih busuk dari ini, Aku pasti bisa mengenalinya Yah !" kata Fikri kesal.


Semua orang di sana saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Mereka paham dengan perasaan Fikri tapi mereka juga tak bisa mengabaikan prosedur yang harus dijalani.


"Maafkan Saya kalo terkesan meragukan Bapak tadi. Tapi Kami harus membawa jasad ini ke Rumah Sakit. Kami harus melakukan serangkaian pemeriksaan untuk meyakini kalo ini memang putri Bapak yang raib itu. Setelah Kami mendapat kepastian jika ini putri Bapak, Kami janji akan menghubungi Bapak saat akan pemakaman ulang," kata Hermawan hati-hati.


Ucapan Hermawan membuat Fikri bertambah gusar. Nathan pun bergegas mengajak Fikri menjauh sebelum Fikri 'meledak'. Hanya Bayan yang berhadapan dengan Hermawan dan para Polisi.


"Maafkan Anak Saya ya Pak. Dia terlalu shock dengan kematian Anaknya. Sebelumnya dia juga kehilangan calon Anak keduanya yang masih di dalam kandungan karena Istrinya mengalami keguguran. Ditambah kabar jasad Arafah yang hilang ini bikin dia jadi sedikit ga sabaran. Saya pribadi setuju jika memang itu prosedur yang harus dilalui. Jujur Saya juga berharap jika jasad ini adalah jasad Cucu Saya. Tolong kabari Kami apa pun hasil pemeriksaannya nanti. " pinta Bayan sungguh-sungguh.


Ucapan Bayan membuat Hermawan dan para polisi menghela nafas lega. Mereka nampak saling menatap sambil tersenyum.


"Baik. Terima kasih atas kerja samanya ya Pak," kata Hermawan sambil menjabat tangan Bayan erat.


"Sama-sama," sahut Bayan sambil tersenyum.


Tak lama kemudian jasad anak kecil yang baru saja ditemukan itu dibawa ke Rumah Sakit untuk menjalani serangkaian tes. Rupanya polisi ingin memastikan jasad itu jasad Arafah atau bukan.


Dari kejauhan Fikri hanya bisa menahan marah melihat kepergian polisi dan team dari Rumah Sakit itu. Kedua matanya nampak basah karena rasa sedih yang memuncak.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2