Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
205. Pengakuan Rosi


__ADS_3

Rosi mengerjapkan matanya sesaat setelah kepalanya kembali menyatu dengan tubuhnya. Kemudian Rosi menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menyesuaikan diri.


Rosi pun terkejut saat melihat dua tubuh tergolek di lantai. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi namun sulit.


Perlahan Rosi bangkit lalu melangkah mendekati dua tubuh yang tergolek itu.


"Ini Suro. Lalu siapa wanita ini ?" tanya Rosi sambil berusaha membalikkan tubuh wanita itu.


Alangkah terkejutnya Rosi saat mengenali wanita itu.


"Minar ?. Kenapa dia di sini ?. Dan kenapa perutnya ?" tanya Rosi sambil menatap wajah Minar dan luka menganga di perut wanita itu dengan bingung.


Namun sesaat kemudian Rosi nampak tersenyum lalu tertawa. Nampaknya Rosi mulai paham apa yang terjadi.


"Jadi begitu rupanya. Kamu mengganggu kesenanganku seperti biasa. Tapi kali ini Kamu salah langkah Minar. Kamu tak hanya mengangguku tapi juga mengantarkan nyawa plus santapan lezat," gumam Rosi ketus.


Rosi memang tak menyukai Suro dan pernikahan mereka. Tapi Rosi tetap tak suka saat kebersamaannya dengan Suro diganggu.


Rosi ingat saat Suro mendatanginya dan mengatakan baru saja menikahi seorang wanita yang usianya jauh lebih muda darinya. Saat itu Rosi tak peduli karena baginya Suro cuma pemilik tubuh tapi bukan cinta dan jiwanya. Jadi dia tak ingin peduli.


Namun saat Suro membawa Minar ke hadapannya dan memperkenalkannya sebagai istri kelima, Rosi kesal. Bukan karena dia cemburu tapi karena Minar menunjukkan rasa kepemilikan yang besar pada Suro. Minar tak melepaskan lengan Suro dan terus menempel pada pria itu sepanjang pertemuan mereka di restoran waktu itu.


"Lepaskan tanganmu Minar. Kau membuatku tak nyaman," kata Suro kala itu.


"Aku begini kan ada sebabnya Pak. Aku takut seseorang akan menyakiti Aku," sahut Minar manja sambil melirik kearah Rosi.


"Siapa yang akan menyakitimu, Rosi ?. Dia tak seperti yang Kamu pikirkan Minar. Rosi tak pernah mencintaiku. Aku lah yang tergila-gila padanya. Itu karena hanya dia yang bisa memuaskan Aku saat Kami bercinta di tempat tidur," kata Suro lugas.


Ucapan Suro membuat wajah Minar membesi. Jelas wanita itu marah dan tak terima karena dibandingkan dengan Rosi yang usia dan penampilannya sebaya dengan tantenya. Di sisi lain Rosi nampak tersenyum mengejek lalu mengatakan sesuatu yang membuat Minar makin marah.


"Jadi Kau tau siapa pemenangnya kan Minar ?. Suro menikahimu hanya karena ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Tapi sayangnya tak seorang pun diantara Kalian yang bisa memuaskannya seperti Aku. Dan khusus untukmu, Suro menikahimu karena ia ingin Anak. Sesuatu yang tak bisa Aku berikan karena Aku tak ingin repot di usiaku sekarang !" kata Rosi sambil berlalu.


Minar menjerit marah lalu menangis. Suro pun berusaha membujuknya lalu membawanya pergi.

__ADS_1


Sejak saat itu Rosi tak pernah bertemu dengan Minar lagi. Meski pun begitu Minar masih terus mengganggu Rosi saat ia sedang bersama Suro. Biasanya Minar akan menelephon Suro dan merengek minta ditemani dengan berbagai alasan. Beruntung Minar tak tahu dimana rumahnya hingga ia tak datang untuk mengacau.


"Aku harus pulang sekarang. Minar lebih membutuhkan Aku dibanding yang lain," kata Suro sambil mengenakan pakaiannya karena baru saja menuntaskan hasratnya kepada Rosi.


"Lalu kenapa Kau datang ke sini kalo tau Minar tak ingin ditinggal sendirian ?" tanya Rosi.


"Kau tau alasannya Rosi. Lagian Minar tak sekuat Kamu. Dan Aku tak ingin menyakitinya karena dia sedang hamil Anakku," sahut Suro sambil membanting pintu.


Ucapan Suro membuat Rosi tersenyum lebar.


"Jadi dia hamil sekarang. Ini bagus. Aku akan membuatmu kehilangan bayimu lagi Minar," gumam Rosi lalu tertawa.


Dan seperti biasa, beberapa hari kemudian Rosi akan mendengar berita duka. Minar kehilangan bayinya.


"Lagi ?" tanya Rosi pura-pura tak tahu.


"Iya. Dan ini Anak keempat. Aku ga tau bagaimana cara Minar menjaga kehamilannya. Empat Anakku di rahimnya raib begitu saja tanpa sempat lahir ke dunia !" kata Suro kesal.


"Sekarang apa sebabnya Minar kehilangan bayinya ?" tanya Rosi.


"Oh ya ?. Bukannya karena lari menghindari Aku ?" tanya Rosi sinis.


"Apa maksudmu ?" tanya Suro sambil menatap Rosi lekat.


"Aku tak sengaja melihat perempuan mirip Minar yang sedang ciuman di bawah pohon. Saat Aku dekati, Minar kaget dan lari. Mungkin karena panik dan takut ketauan Minar jadi ga merhatiin jalan. Dia jatuh di trotoar dan keguguran," sahut Rosi santai.


"Ck, ga usah menebar fitnah Rosi. Aku tak akan terpengaruh !" kata Suro sambil mencibir.


Rosi tertawa lepas. Sesungguhnya apa yang dia katakan adalah kenyataan.


Rosi memang melihat Minar sedang bermesraan dengan pria lain di dalam mobil tepat di bawah pohon. Dan Minar lari ketakutan saat melihat Rosi dalam wujud siluman kuyang yang melayang di luar mobil. Minar memilih lari karena pria yang bersamanya telah lebih dulu jatuh pingsan saking takutnya.


"Jadi setelah sekian lama dia baru hamil lagi. Dan sayangnya yang kelima pun tetap menjadi milikku," kata Rosi sambil tersenyum mengejek.

__ADS_1


Ucapan Rosi juga didengar oleh Suro yang baru saja siuman. Pria tua itu menggelengkan kepala seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Jadi ... Kau penyebab Minar kehilangan bayinya selama ini Rosi ?" tanya Suro sambil berusaha bangkit.


Rosi terkejut lalu menoleh cepat kearah Suro. Saat itu Suro nampak berusaha duduk dan bersandar di dinding kamar. Meski melihat wajah Suro yang pucat dengan tubuh berlumuran darah, Rosi tampak biasa saja.


"Iya. Aku yang memangsa semua bayinya," sahut Minar.


"Harusnya Aku tau," gumam Suro sambil meringis.


"Bukannya Kau tau Aku ini siluman pemangsa bayi ?. Rasanya aneh kalo Kau tak tau apa pun," kata Rosi kesal.


"Aku tak menyangka Kau tega memangsa mereka. Apa tak ada rasa sayang di hatimu ?. Bagaimana pun mereka adalah darah dagingku, darah daging suamimu !" kata Suro dengan suara bergetar.


"Cih. Kau ini bodoh atau pura-pura bodoh Suro. Minar bukan mengandung Anakmu tapi Anak laki-laki lain. Dan salah satu laki-laki itu adalah Anak buahmu sendiri !" kata Rosi lantang.


"Apa ?!. Jangan memfitnah Minar. Apa membunuhnya ga membuatmu puas Rosi ?!" tanya Suro.


"Terserah mau percaya atau ga. Aku ga peduli. Urusan Kita selesai dan jangan mencariku lagi !" kata Rosi sambil melangkah menuju kamar mandi.


"Mau kemana Kamu ?" tanya Suro saat Rosi telah selesai berganti pakaian.


"Pergi," sahut Rosi cepat.


"Bisa tolong panggilkan dokter untukku. Aku kesakitan," pinta Suro saat Rosi mencapai pintu.


"Kau pikir Aku masih mau mengurusmu ?. Kau mimpi Suro !. Mati saja bersama jal*ngmu itu !" kata Rosi sambil membanting pintu.


Suro menjerit marah. Ia memanggil Rosi, menghiba memohon pertolongan. Tapi Rosi tak peduli. Wanita itu keluar dari rumah dan pergi begitu saja.


Tak seorang pun datang membantu Suro karena tak seorang pun yang bisa mendengar suara Suro di kamar kedap suara itu. Suro ditemukan keesokan harinya dalam kondisi tewas berlumuran darah.


Dari kejauhan Rosi melihat iring-iringan mobil polisi dan Ambulans keluar dari rumah. Rosi tersenyum puas karena akhirnya bisa lepas dari belenggu Suro.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2