
Setelah pertemuan pertama dengan Usman dan mak Ejah, Bayan merasa hidupnya tak lagi sama. Ada sesuatu yang membuatnya gelisah berkepanjangan tapi ia tak tahu apa sebabnya.
Entah mengapa kadang Bayan teringat dengan sorot mata mak Ejah kala menatapnya. Bayan merasa tatapan mata mak Ejah sangat menghipnotis seolah ingin membawanya ke suatu masa yang mungkin pernah ia lalui.
Berkali-kali mencoba mengingat namun gagal. Akhirnya Bayan menyerah dan pasrah.
"Aku benar-benar lupa dimana pernah melihat sorot mata itu. Dan kenapa ada kesedihan saat mata itu menatap kearahku. Harusnya Aku cari tau siapa wanita itu biar ga penasaran kaya gini," gumam Bayan sambil menghembuskan asap rokoknya dengan kuat.
"Ada apa Yah. Kok keliatannya gelisah banget ?" tanya Anna saat masuk ke ruang kerja suaminya.
Bayan menoleh lalu tersenyum melihat Anna meletakkan secangkir kopi di meja.
"Itu apa Bund ?" tanya Bayan sambil melirik kearah cangkir yang tadi Anna letakkan.
"Kopi. Kan biasanya Ayah minta kopi," sahut Anna sambil mendekati suaminya.
"Tapi Aku lagi ga pengen ngopi Bund. Bisa tolong diganti ga ?" tanya Bayan.
"Tumben. Ayah gapapa kan ?" tanya Anna sambil menyentuh dahi sang suami.
"Gapapa Sayang. Aku cuma lagi ga pengen kopi aja," sahut Bayan sambil tersenyum.
"Ok. Teh atau susu ?" tanya Anna menawarkan.
"Susu jahe kalo ada," sahut Bayan asal.
Bayan mengatakan itu hanya ingin membuat Anna sibuk agar tak berlama-lama di sisinya.
"Tenang aja. Bunda bikinin sebentar ya," kata Anna sambil mengecup pipi sang suami dengan lembut.
"Makasih ya Bund. Maaf ngerepotin," kata Bayan sambil menyentuh punggung sang istri.
__ADS_1
Anna mengangguk sambil tersenyum lalu segera berlalu sambil membawa cangkir berisi kopi itu bersamanya.
Bayan menatap punggung Anna yang menjauh dengan perasaan yang campur aduk. Setelah menjalani rumah tangga selama dua puluh delapan tahun, baru kali ini Bayan merasa tak nyaman saat Anna mendekatinya.
"Maafin Aku ya Bund. Aku ga bermaksud jauhin Kamu. Tapi Aku ga ngerti sama perasaan ini. Ada sesuatu yang menggangguku dan ini bikin Aku ga nyaman. Keliatannya menjauh dari Kamu adalah jalan terbaik untuk saat ini," gumam Bayan.
Setelah mengatakan itu Bayan keluar dari ruang kerjanya. Ia melangkah ke dalam kamar lalu berbaring dan memejamkan mata. Tak lama kemudian Anna masuk ke ruang kerja sambil membawa secangkir susu jahe pesanan suaminya tadi. Tapi Anna bingung karena tak melihat Bayan di sana. Setelah mencari ke sekeliling rumah, akhirnya Anna tersenyum saat mendapati suaminya tertidur di atas tempat tidur.
Perlahan Anna menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya. Bayan yang memang pura-pura tidur itu pun tahu jika Anna tengah menatapnya namun ia mengabaikannya. Dan ia menggeliat saat Anna hendak mengecup keningnya. Anna pun mengurungkan niatnya karena khawatir mengganggu tidur Bayan.
Sesaat kemudian Anna ikut berbaring di samping suaminya. Perlahan kantuk pun menyerang dan Anna pun terlelap.
Saat suara dengkuran halus terdengar, Bayan membuka matanya.
"Maafin Aku Sayang," gumam Bayan sambil menatap Anna lekat.
Kemudian Bayan bangkit lalu melangkah menuju lemari pakaian. Bayan mengemasi beberapa pakaiannya ke dalam koper. Setelahnya ia memasukkan koper berisi pakaian itu ke dalam bagasi mobil. Nampaknya tekad Bayan untuk menjauhi istrinya untuk sementara waktu sudah bulat. Bayan hanya ingin sendiri, tanpa istri, anak dan sahabat.
\=\=\=\=\=
"Masa Ayah ga bilang apa-apa sama Kamu tadi Nath. Kalian kan satu kantor. Kalo ada apa-apa Ayah pasti ngomong kan sama Kamu?" tanya Anna gusar.
"Iya Bund. Biasanya juga gitu kok. Tapi hari ini Ayah emang ga bilang apa-apa. Makanya Aku ga tau Ayah pergi kemana. Coba tanya sama Om Rama atau Om Riko Bund," kata Nathan.
"Kamu aja yang tanya sana," kata Anna.
"Ok," sahut Nathan lalu bergegas menghubungi dua sahsbat ayahnya itu.
Setelah beberapa saat Nathan pun kembali mendekati sang bunda. Ia mengatakan jika Rama dan Riko juga tak tahu kemana Bayan pergi. Tentu saja itu membuat Anna makin cemas.
"Udah deh Bund. Tunggu aja ssbentar lagi. Ayah pasti pulang," bujuk Nathan.
__ADS_1
"Tapi ini ga kaya biasanya Nath," sahut Anna.
Nathan pun memeluk sang ibu untuk menenangkannya dan berhasil. Anna pun terlihat jauh lebih tenang. Kemudian Nathan meminta sang ibu istirahat sedang dia dan Nicko tetap duduk menunggu sang ayah pulang.
Saat jam menunjukkan pukul satu dini hari, Bayan menghubungi Nathan.
"Ayah dimana sekarang ?. Ayah tau kan gimana cemasnya Bunda ?" tanya Nathan kesal.
"Iya. Ayah minta tolong sampaikan salam Ayah buat Bunda. Ayah lagi di luar kota, ada urusan pribadi. Untuk sementara ponsel ga Ayah aktifin karena Ayah mau fokus menyelesaikan masalah Ayah dulu," sahut Bayan.
Ucapan sang ayah membuat Nathan terkejut. Nathan menghela nafas panjang karena paham situasi yang tengah dihadapi ayahnya saat itu. Meski pun ia belum tahu bentuk masalah yang membuat sang ayah pergi menepi dari keluarganya.
"Ada apa Yah ?. Masalah pribadi apa yang Ayah maksud, kenapa ga pulang dan cerita dulu baru Kita cari jalan keluarnya sama-sama nanti," kata Nathan dengan sabar.
"Maaf Nak. Ayah hanya butuh sendiri. Tolong jaga Bunda dan adikmu. Dan perusahaan Kita, tolong jaga baik-baik ya. Minta bantuan Om Rama dan Om Riko untuk menghandlenya. Ayah percaya Kamu pasti mampu memegang amanat ini," kata Bayan di akhir kalimatnya.
"Ayah ...!" panggil Nathan namun sayang sambungan telephon telah diputus secara sepihak oleh Bayan.
Kemudian Nathan menoleh kearah Nicko yang duduk di sampingnya. Keduanya nampak saling menatap dengan gusar. Keduanya khawatir sang ayah disandera dan ada dalam tekanan orang jahat. Kekhawatiran mereka kian bertambah saat Anna keluar dari kamar karena mendengar Nathan memanggil ayahnya tadi.
"Mana Ayah ?. Ayah udah pulang ya. Ayah ...!" panggil Anna dengan lantang sambil melangkah menuju pintu.
Nathan dan Nicko saling menatap sejenak lalu bergegas mengejar Anna.
"Ayah belum pulang Bund. Barusan Ayah telephon Abang. Karena ga ada suaranya lagi makanya Abang manggil-manggil tadi. Sayangnya pas coba ditelephon lagi ga bisa karena ponsel Ayah mati. Kayanya kehabisan baterai Bund," kata Nicko sambil merengkuh bahu Anna dan membawanya kembali ke ruang tengah.
"Iya Bund. Ayah bilang Ayah baik-baik aja kok. Ayah emang belum bisa pulang karena ada urusan mendadak di luar kota. Bukan urusan kerjaan tapi urusan sama temannya. Kemungkinan sekarang Ayah ada di tempat terpencil yang susah sinyal, makanya suara di telephon putus-putus ga jelas, dan pas ditelephon lagi malah ga nyambung," kata Nathan menambahkan.
Ucapan kedua anaknya membuat Anna berhenti melangkah. Wajahnya yang semula cemas terlihat agak tenang. Ia tersenyum dan mengangguk hingga membuat Nathan dan Nicko merasa lega.
\=\=\=\=\=
__ADS_1