Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
242. Solusi Untuk Rosi


__ADS_3

Keheningan pun menyelimuti Bayan, Nathan dan Rosi. Mereka terdiam karena masing-masing sibuk dengan pikiran yang sebenarnya tertuju ke titik yang sama yaitu bagaimana cara mengakhiri sepak terjang Rosi alias Rusti.


"Bagaimana ?. Ka-lian ... mau kan mem-ban-tu-ku ...?" tanya Rosi dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Aku ...," ucapan Bayan terputus karena Rosi memotong cepat.


"Aku ... tak pu-nya ala-san untuk hidup dan ber-ta-han lebih la-ma lagi. Ala-san-ku satu-satunya te-lah pergi, jadi ... buat a-pa A-ku terus di si-ni ...?" tanya Rosi sambil menatap Bayan dan Nathan bergantian.


Bayan dan Nathan kembali saling menatap. Meski awalnya mereka ingin menghentikan aksi Rosi selamanya namun melihat kondisi Rosi yang seperti itu mau tak mau membuat keduanya iba. Rupanya sisi kemanusiaan mereka lebih mendominasi saat itu. Bayan yang tersadar lebih dulu pun akhirnya bicara.


"Aku perlu bicara berdua dengan Anakku," kata Bayan setelah terdiam beberapa saat.


"Si-la-kan ...," sahut Rosi sambil mengangguk.


Bayan dan Nathan pun melangkah menjauhi Rosi. Kemudian keduanya terlibat pembicaraan serius. Rosi menatap keduanya dari kejauhan dan berharap semoga Bayan dan Nathan bisa segera mengakhiri penderitaannya.


Bayan dan Nathan memang terlibat pembicaraan yang alot.


"Tapi Kita memang harus memusnahkan siluman itu Nath. Ingat, siluman itu ya bukan manusianya. Sayangnya siluman itu sembunyi di tubuh Rosi. Walau pun Kita kasian sama dia, tapi mau ga mau Kita memang harus melakukannya," kata Bayan mengingatkan.


"Iya, Aku tau Yah," sahut Nathan.


"Kondisinya saat ini bisa dibilang sekarat. Hidup tak mungkin, mati pun sulit. Ayah yakin Rosi sudah mati rasa. Mungkin orang biasa sudah mati daritadi saat mengalami luka separah itu, tapi Kamu liat sendiri kan gimana dia masih bisa bertahan dan bicara walau pun sulit ?. Menurutmu, apa Kita harus menunggu malaikat maut datang menjemputnya atau justru Kita bantu biar bisa lebih cepat ?" tanya Bayan.

__ADS_1


"Kalo Kita kasian sama dia lebih baik Kita bantu dia supaya bisa lebih cepat pergi dan mengakhiri semuanya Yah," sahut Nathan cepat.


"Baik lah. Jadi menurutmu gapapa kalo Kita menuruti keinginannya tadi ?" tanya Bayan.


"Maksud Ayah gimana ya ?" tanya Nathan tak mengerti.


"Bukan apa-apa Nath, Ayah merasa membakar makhluk ciptaan Allah terutama manusia adalah satu bentuk kesombongan. Karena sejatinya hanya Allah yang berhak membakar makhluknya, itu pun sebagai bentuk hukuman karena mereka melanggar aturanNya. Seperti di hari akhir nanti Allah menyediakan neraka yang dipenuhi api untuk menghukum perbuatan hambaNya yang ga patuh itu," kata Bayan.


Nathan pun mengangguk tanda mengerti. Saat ini mereka memang benar-benar dihadapkan pada dilema. Satu sisi mereka harus segera menyelamatkan umat manusia dari serangan siluman kuyang jelmaan Rosi, tapi di sisi lain mereka juga iba dengan kondisi Rosi.


"Kalo gitu biarkan Bu Rosi seperti itu Yah. Kita ga mungkin membakarnya karena itu adalah kezholiman. Kita akan tunggu Bu Rosi meninggal, lalu Kita bawa jasadnya untuk dikremasi di krematorium. Gimana menurut Ayah ?" tanya Nathan.


"Kalo begitu Ayah setuju Nath. Cara itu juga dilakukan umat agama lain terhadap jasad keluarga atau orang yang seiman dengan mereka. Selain itu Ayah merasa tenang karena bukan Kita yang melakukannya," sahut Bayan antusias.


Nathan pun tersenyum melihat reaksi sang ayah akan sarannya tadi.


Bayan nampak berpikir keras sambil mengamati Rosi yang masih bersimpuh di samping 'makam' Senja. Dalam hati ia membenarkan ucapan Nathan tadi. Sejujurnya Bayan juga tak tahu hingga kapan Rosi bertahan hidup. Tapi untuk menunggui Rosi hingga wanita itu wafat rasanya mustahil karena dia juga punya tanggung jawab lain yang harus ia kerjakan.


"Karena Kita ga mungkin menunggui Rosi sampe wafat, Kita bisa tinggalkan dia di sini sementara Nath," kata Bayan kemudian.


"Ga bisa gitu dong Yah. Ntar kalo Bu Rosi menjelma jadi kuyang lagi gimana ?. Bakal banyak korban yang jatuh lagi dong. Padahal kan Kita bertekad untuk segera mengakhiri semuanya hari ini. Ayah tau kan gimana buasnya siluman kuyang jelmaan Bu Rosi ?!" tanya Nathan panik.


"Kamu ga usah khawatir Nath. Rosi ga akan bisa berubah jadi siluman kuyang lagi karena kepalanya nyangkut di lehernya. Kan ada pecahan kaca dan potongan besi yang udah mengikat leher dan kepalanya sedemikian rupa. Itu sulit dilepas lho Nath. Andai dia memaksa pun ga akan bisa," sahut Bayan sambil menatap Rosi lekat.

__ADS_1


Nathan ikut menoleh lalu menatap Rosi lekat. Sesaat kemudian ia menghela nafas panjang dan menganggukkan kepala.


"Betul juga kata Ayah. Apalagi sebagian ususnya juga udah terpotong saat Kita bertempur dengannya di Rumah Sakit tadi," kata Nathan yang diangguki Bayan.


"Kalo gitu biar Ayah bilang dulu sama dia," kata Bayan sambil melangkah mendekati Rosi.


Di luar dugaan Rosi pun menerima keputusan Bayan. Ia mengerti Bayan tak akan mungkin membunuhnya. Mungkin saat ia menjelma jadi siluman kuyang. Bayan tak akan ragu membunuhnya, tapi dengan wujudnya sebagai manusia Rosi paham kenapa Bayan tak berani melakukannya.


"Aku dan Anakku akan datang bergantian setiap hari. Kami juga akan mengunci pintu supaya ga ada orang lain yang bisa masuk ke dalam rumah. Jadi Kamu ga perlu khawatir akan ada yang datang dan melihat wujudmu yang seperti ini," kata Bayan.


"Ma-afkan Aku, bu-kan Aku tak ber-syukur dan tak tau te-rima ka-sih. Ta ... pi, boleh kan kalo Aku min-ta di-tem-pat-kan di tem-pat terakhir Senja be-ru-bah jadi silu-man ku-yang ?. Aku hanya ingin me-nge-nang Anak-ku di sa-na ...," pinta Rosi sambil menatap Bayan penuh harap.


Bayan tercekat. Ia tak menyangka malam itu benar-benar dihadapkan pada semua kenangan tentang Senja. Tempat dimana Senja berakhir adalah tempat yang tak pernah Bayan masuki selama puluhan tahun meski pun ia kerap berkunjung ke peternakan itu.


"Aku mo ... hon ...," kata Rosi lirih dengan mata berkaca-kaca.


Bayan menghela nafas berkali-kali untuk mentralisir perasaan kacau yang tiba-tiba mendera. Dengan gugup Bayan menganggukkan kepala pertanda menyetujui permintaan Rosi.


Nathan nampak iba melihat kondisi sang ayah yang tertekan itu. Ia paham bagaimana sulitnya move on dari masa lalu karena ia pun pernah ada di posisi yang sama dulu.


Nathan tahu kenangan sang ayah bersama mantan istri pertamanya itu bukan kenangan biasa. Ada tragedi di sana dan perlu perjuangan agar bisa keluar dari perangkap masa lalu itu.


"Kalo Ayah ga sanggup biar Aku aja yang anter Bu Rosi ke tempat itu," kata Nathan tiba-tiba.

__ADS_1


Bayan menoleh kearah Nathan lalu menganggukkan kepala tanda mengiyakan keinginan sang anak.


\=\=\=\=\=


__ADS_2