
Saat tiba di Rumah Sakit Polri, Ayu dan Anna segera masuk ke ruang IGD. Di sana mereka bertemu dengan seorang polwan yang duduk di samping brankar tempat Arafah berbaring.
"Arafah Sayang ...!" panggil Ayu lantang sambil menghambur memeluk sang anak yang tengah terlelap itu.
Arafah pun membuka matanya lalu menangis saat mengetahui sang ibu lah yang memeluknya.
"Ummiii ...," rengek Arafah lirih.
"Iya Sayang. Ini Ummi Nak. Arafah sama Ummi sekarang," kata Ayu sambil menciumi wajah dan kepala anak balita itu.
"Akiiitt ..., akuuttt ...," keluh Arafah sambil membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu.
Ucapan Arafah membuat hati Ayu berdenyut nyeri. Anna yang berdiri di sampingnya pun ikut menangis mendengar keluhan Arafah. Ia membelai kepala Arafah dengan lembut sambil mengucap hamdalah berkali-kali. Saat itu Anna tak kuasa membayangkan apa yang dialami Arafah selama lima hari jauh dari kedua orangtuanya.
Tak lama kemudian Fikri, Bayan dan Nathan datang menghampiri. Melihat kondisi Arafah yang lemah membuat Fikri tak kuasa lagi menahan tangis. Ia bergegas memeluk anak dan istrinya bersamaan sambil mengucap syukur.
\=\=\=\=\=
Setelah memastikan Arafah tidur, Fikri pun keluar untuk menemui Bayan, Nathan dan polisi yang masih berbincang di luar ruang rawat inap Arafah.
"Jadi gimana ceritanya Polisi bisa nemuin Anak Saya Pak ?" tanya Fikri.
Polisi tersenyum lalu mulai menjelaskan kronologi penemuan Arafah.
Sebelumnya polisi mendapat informasi dari warga di sebuah perumahan padat penduduk tentang suara jerit tangis anak-anak di sebuah bangunan tua. Warga yang melapor mengatakan mereka terganggu dengan suara tangis yang terdengar hanya saat malam hari itu.
Saat siang hari warga mencoba datang untuk mencari tahu suara apa yang ada di dalam bangunan tua itu. Namun warga tak melihat apa pun di sana selain sisa makanan dan bekas bungkus makanan yang berserakan di lantai. Dari bungkus makanan diketahui jika makanan itu adalah makanan anak-anak.
Karena khawatir wilayah mereka dijadikan tempat persembunyian penjahat yang menyasar anak-anak sebagai korbannya, warga pun berinisiatif melapor ke polisi.
Setelah menerima laporan warga, beberapa polisi turun ke lapangan untuk memantau situasi. Persis seperti yang dikatakan warga jika bangunan tua itu kosong saat pagi hingga sore hari.
__ADS_1
Namun saat menjelang malam, polisi yang menyamar melihat dua orang pria mencurigakan turun dari motor tepat di samping bangunan tua itu. Salah satu pria tampak menggendong seorang anak kecil yang sedang tertidur.
Polisi yang memang sembunyi di salah satu sudut halaman Rumah pun merangsek maju saat kedua pria itu lengah. Namun kedua pria itu berhasil kabur sambil membawa Arafah menggunakan motor. Kejar kejaran pun terjadi antara polisi dan dua penjahat itu. Karena digendong dengan posisi tak semestinya membuat balita cantik itu terbangun lalu menangis keras di sepanjang jalan.
Tiba di sebuah persimpangan, penjahat itu tak bisa mengendalikan motornya. Motor beserta tiga penumpangnya pun terpelanting jatuh tepat saat akan berbelok. Benturan keras pun terdengar namun tangis Arafah terhenti. Semua mengira jika Arafah berhenti menangis karena pingsan usai terbentur tadi.
Polisi pun berhamburan untuk menyergap penjahat itu. Setelah memaksa dua pria itu menyerah, polisi pun meraih Arafah dari gendongan salah satu pria. Tepat seperti dugaan, Arafah pingsan akibat jatuh dan terbentur tadi.
Setelah polisi melarikan Arafah ke Rumah Sakit, mereka mencoba mencari informasi mengenai laporan anak hilang dari beberapa Polsek dan Polres. Dan saat menemukan kesamaan dari ciri-ciri anak yang hilang itu, mereka pun menghubungi orangtua Arafah.
"Saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas bantuannya ya Pak," kata Fikri sambil menjabat tangan sang polisi.
"Sama-sama Pak Fikri. Ini sudah jadi kewajiban Kami membantu warga. Dan Kami minta kerja samanya agar Pak Fikri bersedia datang ke kantor Polisi untuk memberi beberapa keterangan besok," kata sang polisi.
"Insya Allah Saya datang besok Pak," sahut Fikri.
"Terima kasih. Kalo gitu Saya pamit ya, Assalamualaikum ...," kata sang polisi usai menjabat tangan Bayan dan Nathan.
"Wa Alaikumsalam ...," sahut Bayan, Fikri dan Nathan bersamaan.
\=\=\=\=\=
Malam itu tepat bulan purnama bersinar penuh. Bayan yang bertugas menjaga Arafah tampak gelisah. Sebelumnya Bayan sengaja meminta anak dan istrinya untuk sholat Isya berjamaah di musholla Rumah Sakit.
"Biar Ayah yang nemenin Arafah, Kalian sholat dulu sana," kata Bayan saat masuk ke dalam ruang rawat inap Arafah.
"Emangnya Ayah udah sholat ?" tanya Anna.
"Udah. Karena kelewatan sholat Maghrib berjamaah, terpaksa Ayah sholat sendiri tadi. Pas liat jam kok nanggung udah hampir Isya. Makanya Ayah bertahan aja biar sekalian sholat Isya," sahut Bayan.
"Oh gitu. Kalo gitu Kita sholat bareng yuk Bund. Biar Arafah dijagain sama Ayah dulu," ajak Fikri sambil menoleh kearah Anna dan Ayu.
__ADS_1
"Ok," sahut Anna dan Ayu bersamaan.
"Nanti Bunda juga mau mampir beli makan malam buat Kita. Kamu temenin Bunda kan Yu ?" tanya Anna.
"Siap Bund," sahut Ayu cepat.
Kemudian ketiganya pun bergegas keluar dari kamar untuk menunaikan sholat Isya.
Bayan pun menghela nafas panjang lalu menutup pintu. Setelahnya ia melangkah perlahan mendekati Arafah yang terlelap. Bayan menatap Arafah sejenak lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala balita itu.
"Maafin Opa ya Nak ...," bisik Bayan sambil mencium kepala Arafah beberapa saat.
Setelah mengucapkan permohonan maaf, Bayan mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sebuah kantong plastik berisi bubuk berwarna putih kecoklatan yang isinya ia tuangkan ke dalam wadah makanan Arafah.
Setelahnya Bayan duduk di samping Arafah lalu mulai berdzikir. Saat Fikri kembali ia melihat sang ayah tengah menunggui Arafah yang nampak tersenyum dalam tidurnya.
Bayan berdiri dan memberi kesempatan pada Fikri untuk menunggui Arafah. Fikri pun duduk menggantikan ayahnya lalu mulai membaca Al Qur'an. Suara merdu Fikri membuat suasana di dalam kamar terasa sejuk.
Anna dan Ayu kembali tak lama kemudian sambil membawa beberapa box nasi untuk makan malam. Makan malam pun berjalan dalam keheningan karena semua memilih tak bersuara agar tak mengganggu tidur Arafah.
Saat jam menunjukkan pukul sebelas malam Arafah terbangun dan merengek minta makan. Dengan sigap Ayu menyuapi makanan yang ia siapkan dari rumah itu ke mulut Arafah.
Diam-diam Bayan mengamati ekspresi Arafah saat menelan makanan yang telah ia bubuhi bubuk putih kecoklatan itu. Bayan senang melihat Arafah baik-baik saja. Bahkan Arafah mampu menghabiskan semua makanan yang disiapkan Ayu hingga tandas.
"Anak pinter. Kalo kaya gini insya Allah Arafah bisa cepet pulang ke rumah. Iya kan Bi ?" tanya Ayu sambil menoleh kearah suaminya.
"Iya Mi. Arafah mau sembuh dan pulang ke rumah kan ?" tanya Fikri.
Arafah nampak mengangguk lemah sambil menguap. Nampaknya pengaruh obat membuatnya mengantuk. Ayu dan Fikri tersenyum lalu kembali membujuk Arafah agar tidur. Balita itu mengangguk lalu berbaring dan mulai memejamkan matanya.
Satu jam kemudian semua orang dewasa di ruangan itu tampak tertidur. Entah mengapa rasa kantuk datang menyerang hingga membuat Fikri, Anna dan Ayu tertidur dalam posisi duduk. Hanya Bayan yang terjaga. Nampaknya ia selamat dari pengaruh ilmu hitam yang dihembuskan seseorang agar semua orang tertidur.
__ADS_1
Bayan duduk sambil mengamati Arafah dengan lekat seolah sedang menunggu sesuatu. Ia tersentak kaget saat melihat Arafah menggeliat. Yang membuat Bayan makin terkejut adalah wajah Arafah nampak berubah. Bayan segera berdiri sambil memasang sikap siaga dengan tatapan yang tak lepas dari Arafah.
\=\=\=\=\=