Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
176. Pasien Hilya


__ADS_3

Setelah menikah kehidupan Nathan dan Hilya semakin bahagia. Meski keduanya jarang menunjukkan kemesraan di depan umum, tapi semua orang percaya jika mereka bahagia.


Bayan menawarkan Hilya untuk membuka klinik agar bisa lebih optimal membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan.


"Klinik yang bakal Kita buka ya sesuai dengan kemampuan Kamu sebagai bidan Hilya. Ayah liat kinerja Kamu bagus dan Kamu juga punya inisiatif tinggi. Sayangnya kadang ide brilianmu itu terbentur SOP yang berlaku di Rumah Sakit tempatmu bekerja. Nah di klinik ini, Kamu lah yang pegang kendali. Kamu bisa pilih sendiri siapa saja yang akan membantumu nanti," kata Bayan.


"Apa boleh begitu Yah ?" tanya Hilya.


"Boleh dong. Tapi tentu Kamu juga harus melibatkan orang yang ahli di bidangnya supaya Kamu ga keteteran saat menangani pasien nanti," sahut Bayan.


"Keliatannya Istriku masih ragu Yah. Gimana kalo Kita mulai dari tempat yang kecil dan sederhana dulu. Misalnya buka praktek kebidanan di sekitar sini. Ajak Mbak Ayu untuk bantu-bantu jadi admin biar Mbak Ayu punya kegiatan. Buka prakteknya setelah Hilya pulang kerja di Rumah Sakit atau diatur gimana baiknya. Hilya juga boleh ngajak rekannya sesama bidan supaya ada tenaga profesional yang standby di sana," kata Nathan.


"Begitu juga boleh. Gimana Hilya, apa Kamu mau?. Ayah cuma nawarin aja ya, kalo Kamu ga nyaman atau belum siap, Kita bisa tunda atau batalin aja," kata Bayan.


"Aku mau Yah. Ini emang jadi impian Aku sejak lama. Tapi Aku bakal sibuk lho nanti, apa Kamu ga keberatan Sayang ?" tanya Hilya sambil menatap Nathan.


"Selagi Kamu bisa bagi waktu dengan baik, Aku ga keberatan sama sekali. Makanya Kita cari tempat yang ga jauh dari rumah biar bisa bolak-balik ke rumah dengan mudah," sahut Nathan santai.


"Kalo Kalian mau, di teras depan juga bisa dibangun tempat untuk Hilya buka praktek," kata Anna tiba-tiba.


"Jangan Bund. Akan banyak orang asing yang datang ke sini dan itu bikin ga nyaman. Apalagi kalo Aku harus menangani pasien yang melahirkan. Aku cuma ga mau bikin rumah ini jadi ga indah lagi. Biar lah rumah ini jadi rumah pribadi dan jauh dari kesan komersil. Soalnya jujur Aku suka suasana rumah ini dan sekitarnya karena cocok buat melepas lelah," sahut Hilya.


Jawaban Hilya membuat Anna dan Bayan terharu. Mereka saling menatap sejenak kemudian mengangguk.


"Kalo gitu besok Kita liat-liat rumah yang disewakan di depan komplek sana yuk. Aku rasa itu cocok untuk tempat praktek Kamu," kata Nathan.


"Ok," sahut Hilya antusias.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Dua bulan kemudian Hilya tampak mulai sibuk di klinik pribadinya itu. Bahkan saking sibuknya Hilya terpaksa mengundurkan diri dari Rumah Sakit tempatnya bekerja. Meski Klinik Bersalin Hilya baru dibuka, tapi banyak pasien yang datang ke sana untuk memeriksakan kehamilan atau hanya sekedar berkonsultasi.


Hilya tak sendiri di sana. Ia mengajak rekannya sesama bidan untuk bekerja sama. Seperti saran sang suami, Hilya juga mengajak Ayu bergabung. Tawaran Hilya pun disambut dengan senang hati oleh Ayu. Jam kerja Ayu yang fleksibel membuat Fikri tak keberatan karena Ayu tetap bisa fokus dengan urusan rumah tangga mereka.


Hingga suatu malam Klinik Bersalin Hilya kedatangan seorang wanita yang hendak melahirkan. Wanita itu bukan lah pasien yang selama ini memeriksakan kehamilannya di tempat itu. Rekan Hilya sesama bidan bernama Ersa pun menolak membantu.


"Saya udah ga tahan lagi Bu Bidan. Tolong bantu Saya ...," kata wanita itu menghiba.


"Maaf Bu. Tapi Saya ga berani ambil resiko. Karena Ibu bukan pasien di sini jadi Kami ga punya catatan medis tentang kondisi Ibu dan bayi selama ini. Kalo terjadi masalah saat persalinan karena penyakit atau hal lain yang Ibu derita, Kami akan kesulitan mencari obatnya nanti," sahut Ersa dengan lembut.


Saat genting itu lah Hilya pun turun dari lantai dua. Rupanya Hilya baru saja selesai menunaikan sholat Maghrib. Rumah yang disewa Hilya itu memang dilengkapi musholla mini dan toilet di lantai dua.


"Ada apa Bu Ersa ?!" tanya Hilya dengan lantang hingga membuat Ersa dan wanita itu menoleh.


Saat Ersa menceritakan apa yang terjadi, Hilya nampak mendengarkan dengan seksama sambil kedua matanya mengamati wanita itu dengan lekat.


Saat itu Hilya mencium gelagat mencurigakan pada wanita itu. Seolah sadar dirinya diamati, wanita itu pun membuang pandangannya kearah lain seolah menghindar untuk bertatap mata dengan Hilya.


Belum sempat Hilya menjawab, tiba-tiba wanita itu menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. Karena khawatir dengan keselamatan wanita itu beserta bayinya, Hilya dan Ersa pun terpaksa membawa wanita itu masuk ke dalam klinik.


Bisa ditebak bagaimana persalinan itu berjalan. Karena tak punya info apa-apa tentang kondisi pasien, maka Hilya dan Ersa hanya bisa membantu sebisanya. Beruntung kondisi wanita yang kemudian diketahui bernama Lupita itu sehat begitu pun dengan bayinya.


Tak sampai setengah jam Lupita berhasil melahirkan bayinya dengan selamat. Lupita nampak bahagia. Bahkan wanita itu menangis keras saking bahagianya.


"Sekarang bayimu sudah lahir Lupita. Dia cantik dan sehat. Jadi, apa Kami bisa menghubungi keluargamu untuk mengabari persalinanmu ini ?" tanya Ersa.


"Jangan Bu Bidan. Biar Saya yang telephon mereka nanti. Sekarang Saya mau kasih ini untuk Bu Bidan berdua. Ini sebagai ungkapan terima kasih karena Bu Bidan berdua telah membantu Saya," kata Lupita sambil menyodorkan sebuah amplop coklat berukuran besar yang diyakini berisi uang.


Ersa menggeleng. Sebelumnya ia dan Hilya telah sepakat membantu Lupita dengan cuma-cuma alias gratis. Mendengar ucapan Ersa membuat Lupita terharu. Ia pun mengucapkan terima kasih berulang kali kepada Ersa.

__ADS_1


Tak lama kemudian Hilya masuk sambil membawa bayi yang telah dibersihkan lalu menyerahkannya kepada Lupita untuk disusui.


Melihat cara Lupita menyusui, Hilya dan Ersa yakin jika Lupita pernah melahirkan ssbelumnya. Keduanya saling menatap sejenak lalu mengangguk. Kemudian Hilya dan Ersa menyingkir untuk memberikan ruang pada Lupita agar lebih leluasa menyusui bayinya.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga. Gimana Bu Ersa, apa Bu Lupita memberi nomor telephon yang bisa Kita hubungi ?" tanya Hilya.


"Belum Bu," sahut Ersa sambil menggeleng.


"Kenapa ya. Sejak awal Saya kok merasa Bu Lupita itu menyembunyikan sesuatu," kata Hilya gusar.


Tiba-tiba terdengar suara benturan keras di jalan raya yang ada di depan klinik. Rupanya ada kecelakaan lalu lintas yang terjadi di sana. Saat suara benturan terdengar, bersamaan itu bayi Lupita pun menangis dengan keras.


Hilya pun refleks berlari ke ruangan dimana Lupita dan bayinya berada, sedangkan Ersa berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Saat tiba di ruangan Hilya terkejut karena tak menjumpai Lupita di sana. Ia segera menggendong sang bayi sambil mencari Lupita.


"Kemana dia. Bisa-bisanya ninggalin bayinya kaya gini," gumam Hilya kesal.


Tiba-tiba Ersa berlari masuk ke dalam klinik sambil memanggil Hilya. Suaranya yang lantang membuat Hilya terkejut.


"Ada apa Bu Ersa. Kenapa lari-lari kaya gitu ?!" tanya Hilya saking terkejutnya.


"I-itu. Lu-Lupita ...," kata Ersa terbata-bata sambil menunjuk keluar.


"Oh syukur lah akhirnya dia sadar juga dan ga jadi ninggalin bayinya. Dimana dia Bu Ersa ?" tanya Hilya.


"Lu-Lupita kecelakaan Bu Hilya. Banyak saksi yang bilang kalo dia menabrakkan diri ke mobil dan me-ninggal ...!" sahut Ersa gugup.


Jawaban Ersa membuat Hilya terkejut bukan kepalang. Ia tak menyangka jika Lupita akan nekad mengakhiri hidup setelah melahirkan bayinya.

__ADS_1


Rupanya suara bising tadi berasal dari suara tabrakan antara dua mobil yang menghindari Lupita. Tapi sayang dari belakang sebuah pick up berisi besi menabraknya dengan keras hingga wanita itu terpental beberapa meter. Lupita pun meninggal dunia sesaat kemudian dengan kondisi yang mengenaskan.


\=\=\=\=\=


__ADS_2