
Malam itu Hilya kembali mendapat jatah shift malam. Karena sedang tak akur dengan Ranti, akhirnya Hilya memilih taman Rumah Sakit untuk tempatnya beristirahat daripada ruang ganti karyawan yang pasti lebih nyaman itu.
"Gapapa Hilya. Lo ngalah bukan berarti kalah. Sabar aja dulu, sebentar lagi semuanya pasti balik normal kaya dulu lagi," kata Hilya menyemangati diri.
Hilya meraih tas berisi bekal makanan yang disiapkan sang nenek. Dengan lahap Hilya memakan makanan buatan sang nenek. Saat sedang menyantap makanan, tak sengaja Hilya melihat sosok makhluk berbulu hitam tengah mengoyak sesuatu di tanah tak jauh dari tempatnya duduk.
Awalnya Hilya mengira itu kucing atau musang yang baru saja mendapat makanan dari tempat sampah. Ternyata saat diamati dengan seksama Hilya merasa jika sosok berbulu itu bukan kucing atau musang tapi kepala manusia. Belum hilang rasa terkejut Hilya melihat sosok kepala manusia yang bergerak itu, Hilya kembali dibuat terkejut saat melihat apa yang tengah dimakan oleh potongan kepala manusia tanpa tubuh itu. Ternyata kepala tanpa tubuh itu tengah mengoyak janin manusia yang berlumuran darah.
Menyaksikan itu membuat perut Hilya mendadak terasa mual. Ia tak menyangka akan meyaksikan makhluk berwujud kepala tanpa tubuh itu memangsa janin manusia.
"Hoeekk ... hoeekk ...,"
Menyadari ada manusia lain di sana, siluman tanpa tubuh itu pun terkejut. Ia menoleh lalu melesat pergi meninggalkan sebagian janin yang terkoyak itu di tanah begitu saja.
Dari atas ketinggian siluman itu melihat Hilya yang muntah hebat sambil menutup mata. Siluman itu mendengus kesal melihat beberapa orang mendekat ke tempat dimana ia meninggalkan santapannya tadi. Dengan geram siluman itu melesat pergi meninggalkan tempat itu setelah gagal menuntaskan hasratnya.
Akibat suara Hilya yang muntah hebat di taman, beberapa perawat yang kebetulan melintas pun penasaran lalu bergegas mendatangi asal suara. Mereka terkejut sekaligus bingung mendapati Hilya muntah di taman. Dan mereka juga melihat janin manusia teronggok tak jauh dari tempat Hilya berada.
Tanpa aba-aba kedua perawat terdepan pun menjerit sekencang-kencangnya hingga mengejutkan semua orang termasuk Hilya. Gadis itu bergegas menghampiri dua perawat yang menjerit itu setelah mengusap mulutnya.
"Ada apa ?, kenapa Kalian menjerit ?!" tanya Hilya sambil mengguncang bahu salah seorang perawat.
"Lepasin !. Jadi ternyata Bu Hilya yang telah menculik bayi-bayi yang hilang itu dan memakannya !" kata salah seorang perawat sambil menjauh dari Hilya.
"Eh, apa maksud Kamu Suster ?!" tanya Hilya tak mengerti.
"Ga usah pura-pura lagi Bu Hilya. Kami liat janin itu dan Bu Hilya di sini !" sahut sang perawat dengan sengit.
Dua security yang baru datang ke taman pun terkejut melihat apa yang terjadi. Apalagi dua perawat yang menuduh Hilya nampak berusaha meyakinkan mereka. Hilya tak kuasa membela diri karena ia tak punya saksi.
"Maaf Bu Bidan. Terpaksa Kami membawa Anda ke pos," kata salah seorang security sambil mencekal tangan Hilya.
Tak ingin ribut, Hilya pun mengalah. Ia mengikuti langkah security yang membawanya ke pos security. Sepanjang jalan Hilya terus menunduk mendengar tuduhan semua orang. Ia tak bisa membela diri karena tak ada saksi di sana.
__ADS_1
Saat tiba di pos security, Hilya disambut seorang polisi wanita. Rupanya security telah menghubungi kepolisian sebelumnya. Hingga saat Hilya tiba di sana Hilya langsung digelandang ke kantor polisi.
Di dalam mobil Hilya nampak terdiam karena tak menyangka dirinya dijadikan tersangka penculikan janin bayi yang baru saja dilahirkan seorang wanita di Rumah Sakit itu.
Polisi wanita yang duduk di sampingnya nampak prihatin karena ia yakin Hilya tak bersalah.
"Sabar ya Bu Hilya. Kita tunggu hasil penyelidikan nanti. Mudah-mudahan Bu Hilya ga terbukti bersalah," kata polisi wanita bernama Nabila itu sambil tersenyum.
"Iya Bu Polwan. Saya cuma khawatir sama Nenek dan Kakek Saya. Kasian mereka kalo sampe tau Saya ditahan gara-gara kesalahan yang ga pernah Saya lakukan," kata Hilya lirih.
"Bu Hilya bisa hubungi seseorang. Yah, semacam pemberi jaminan untuk kebebasan Bu Hilya supaya bisa menjalani pemeriksaan tanpa perlu ditahan," kata Nabila.
"Apa harus ?" tanya Hilya.
"Tentu saja," sahut Nabila cepat.
Hilya nampak berpikir kemudian mengangguk.
Meski ragu namun akhirnya Hilya memberanikan diri menghubungi Nathan via WhatsApp.
Baru saja mengirim pesan, Nathan tampak menghubungi Hilya kembali. Bukan bertanya sesuatu atau memarahinya, Nathan justru meminta Hilya tenang.
"Ga usah panik Hilya. Kamu tenang aja dan ga usah banyak ngomong yang ga perlu. Sebentar lagi Aku ke sana," kata Nathan dari seberang telephon.
"Iya Nath, makasih. Maaf ngerepotin," kata Hilya tak enak hati.
"Santai aja. Aku tutup ya, sekarang Aku otw nih," kata Nathan.
Hilya pun tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Ada rasa hangat di hatinya mendengar ucapan Nathan tadi. Entah mengapa Hilya sedikit menyesal telah mengabaikan Nathan selama ini.
"Gimana Bu Hilya ?" tanya Nabila.
"Iya Bu Polwan. Sebentar lagi Abang Saya datang ke sini," sahut Hilya.
__ADS_1
"Baik lah. Sekarang Bu Hilya bisa ikut Saya ke dalam untuk menjawab beberapa pertanyaan," kata Nabila sambil tersenyum.
Hilya pun mengangguk. Ia turun dari mobil lalu mengikuti Nabila masuk ke dalam kantor polisi. Saat itu kedua tangan Hilya dalam kondisi bebas dan tak diborgol sama sekali. Itu karena Hilya bersikap kooperatif dan tak menolak saat dibawa ke dalam mobil polisi.
\=\=\=\=\=
Nathan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor polisi. Di sampingnya Bayan nampak duduk dengan tenang. Keduanya membisu dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sebelumnya Nathan, Bayan dan Nicko sedang menonton tayangan berita malam di televisi.
Nathan menoleh kearah poneslnya lalu bergegas meraihnya karena melihat ada pesan masuk di sana. Matanya membulat saat membaca pesan yang dikirim Hilya. Ekspresi wajah Nathan yang tak biasa itu memancing keingin tahuan Bayan.
"Ada apa Nath ?" tanya Bayan.
"Hilya ditangkap Polisi dan sekarang dibawa ke kantor Polisi Yah," sahut Nathan gusar.
"Lho kenapa ?" tanya Bayan.
"Katanya dia dituduh jadi penculik dan pembunuh bayi di Rumah Sakit," sahut Nathan.
"Kok bisa. Bukannya beberapa hari yang lalu Hilya baru aja dimintain keterangan karena kasus pembunuhan bayi di Rumah Sakit ?" tanya Bayan tak mengerti.
"Aku juga ga tau. Sebentar Yah, Aku telephon Hilya dulu biar dia ga panik," kata Nathan sambil menjauh dari ruang tengah.
Dan setelah menghubungi Hilya dan memberi suport pada gadis itu, Nathan pun bergegas mengambil jaket di kamar. Kemudian ia pamit pada sang ayah untuk membantu Hilya.
"Ayah ikut Nath !" kata Bayan.
"Iya Yah," sahut Nathan cepat karena ia yakin sang Ayah pasti bisa membantu membebaskan Hilya dari tuduhan tak berdasar itu.
Tak lama kemudian Nathan dan Bayan tiba di kantor polisi. Dengan tenang keduanya masuk dan diarahkan menemui Hilya di dalam sebuah ruangan.
\=\=\=\=\=
__ADS_1