
Setelah Bayan membawa Nathan keluar dari kamar, tangis bocah itu pun berhenti. Melihat tangis sang anak reda membuat Bayan menghela nafas lega. Namun Bayan sama sekali tak berminat untuk menanyai Nathan lagi tentang apa yang dilihatnya tadi.
Rama dan Riko pun menyusul Bayan dan mengamati Nathan dengan intens. Keduanya terheran-heran melihat sikap Nathan yang berubah 180 derajat. Padahal baru sesaat yang lalu Nathan menangis sambil menjerit histeris tapi sekarang bocah itu tampak tenang di pangkuan ayahnya. Hal itu membuat Riko dan Rama saling menatap bingung.
"Sebentar deh Yan. Ini Nathan yang aneh atau emang Lo yang punya kemampuan lain sampe bisa bikin Nathan yang heboh tadi jadi setenang ini," kata Rama.
"Ini namanya naluri Ram. Seorang anak pasti refleks jadi tenang dalam pelukan Ayahnya. Itu karena Ayah kan memang memiliki aura pemimpin yang mengayomi dan melindungi. Mungkin secara ga sadar dia menemukan rasa aman dan yakin sesuatu yang dilihatnya tadi ga akan ngejar dia karena ada orangtuanya," sahut Bayan santai.
Meski tak mengerti dengan ucapan Bayan, Rama dan Riko nampak menganggukkan kepala.
"Jadi apa menurut Lo sikap Nathan tadi sebagai pertanda buruk buat Gue Yan ?" tanya Rama khawatir.
"Maksud Lo gimana ya Ram ?" tanya Bayan tak mengerti.
"Maksud Gue, anak kecil kan jujur ya terhadap sesuatu. Mungkin ga sih kalo Nathan ngeliat sesuatu yang menakutkan tadi. Dan kira-kira sesuatu itu berbahaya ga sih buat Gue nanti ?" tanya Rama ragu.
"Insya Allah ga Ram. Asal sering Lo ngajiin dan Lo pake sholat, apa yang diliat Nathan ga bakal membawa pengaruh buruk buat Lo dan siapa pun yang tinggal sama Lo nanti," sahut Bayan.
" Syukur lah, itu artinya Gue ga harus pusing nyari rumah lagi cuma gara-gara Nathan liat sesuatu di luar sana," kata Rama sambil menghela nafas lega.
Setelah kejadian itu, Nathan selalu menangis jika diajak berkunjung ke rumah Rama. Selain itu, untuk beberapa waktu Nathan juga enggan berdekatan dengan Arti, pengasuh yang selama ini selalu menemaninya. Beruntung Arti adalah orang yang sabar dan pantang menyerah, ia gigih membujuk Nathan dan meyakinkan bocah itu jika dia bukan lah sesuatu yang dilihat Nathan itu.
Bayan dan Anna pun membantu membujuk Nathan untuk menerima Arti. Nathan yang awalnya enggan bercerita pun mulai mau bicara jujur tentang apa yang dilihatnya di rumah Rama itu.
"Abang yakin kalo itu Bi Arti ?" tanya Anna usai Nathan bercerita.
"Iya Bund. Dia juga gendong Adik lho, sama kaya Bi Arti yang suka gendong Adik. Tapi mukanya itu serem banget Bund. Waktu liatin Aku, mulutnya tuh tau-tau terbuka lebar banget. Aku kan kaget Bund," sahut Nathan gusar.
Anna pun menarik Nathan ke dalam pelukannya lalu menciuminya dengan sayang. Ia menatap Bayan yang saat itu juga menganggukkan kepalanya.
"Keliatannya dia ngeliat penunggu pohon rambutan itu Bund. Mungkin sejenis Miss K," kata Bayan setengah berbisik.
"Iya Yah," sahut Anna mengerti.
"Tapi sekarang Abang ga usah takut lagi ya. Yang Abang liat itu bukan apa-apa kok. Dia cuma ada di sana dan ga bakal ngikutin Abang sampe di rumah. Biar Abang ga takut terus, belajar sholat dan ngajinya diterusin ya," kata Bayan sambil mengusap kepala sang anak dengan lembut.
__ADS_1
"Iya Yah," sahut Nathan sambil membenamkan wajahnya di pelukan sang bunda.
Bayan dan Anna saling menatap sambil tersenyum lega karena sejak itu Nathan rajin belajar mengaji dan sholat.
Bahkan saat usia Nathan empat tahun, Bayan memanggilkan guru ngaji ke rumah agar Nathan bisa belajar dengan baik. Awalnya Anna keberatan karena merasa Nathan masih terlalu kecil untuk belajar. Tapi melihat kegigihan Nathan dalam belajar, mau tak mau membuat Anna bangga. Apalagi di usianya yang menjelang lima tahun Nathan sudah hapal beberapa surah Al Qur'an.
Dan saat Nathan usia lima tahun, Bayan mendaftarkan Nathan di TPQ yang ada di lingkungan mereka tinggal agar Nathan bisa membaur dengan anak lainnya.
\=\=\=\=\=
Tahun-tahun pun berlalu dengan cepat. Kini Nathan telah berusia dua belas tahun sedangkan Nicko berusia sembilan tahun.
Nathan duduk di bangku kelas enam, sedangkan Nicko di kelas tiga. Mereka sekolah di tempat yang sama untuk memudahkan Anna mengawasi mereka.
Kini Nathan tengah sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian kelulusan. Karenanya Bayan pun sengaja meluangkan waktu untuk menemani anak sulungnya belajar.
"Ayah, yang ini gimana sih ?" tanya Nicko sambil memperlihatkan soal matematika di bukunya.
Bayan tersenyum diam-diam. Ia tahu Nicko sedang menunjukkan rasa cemburu karena sang ayah lebih peduli pada sang kakak dibanding dirinya.
"Bilang aja Kamu juga pengen belajar sama Ayah. Kamu iri kan liat Abang belajar ditemenin Ayah," kata Nathan sambil mencibir.
"Ga kok. Aku seneng ngeliat Ayah nemenin Abang belajar. Karena Abang jadi serius ga mainan terus," sahut Nicko sambil berlalu.
"Kapan Abang belajar sambil main ?, jangan ngaco Kamu ya !" kata Nathan sambil melotot.
"Ya kalo ga diawasin Ayah lah. Kapan lagi emangnya," sahut Nicko cepat.
"Nickooo ...!" panggil Nathan kesal sambil bersiap mengejar Nicko yang nampak mengejeknya dengan menjulurkan lidah.
"Stop Nathan !.Sekarang waktunya Kita tanya jawab. Ayah mau tau seberapa konsentrasinya Kamu baca buku daritadi !" kata Bayan tegas.
Nathan pun kembali duduk lalu mulai bersiap menghadapi pertanyaan ayahnya. Sedangkan Nicko nampak tersenyum lebar melihat bagaimana patuhnya sang kakak.
Saat malam makin larut, Nathan dan Nicko pun kembali ke kamar masing-masing. Meski sang ayah sudah memintanya tidur, namun Nathan masih belajar hingga jam sebelas malam.
__ADS_1
"Ini udah malam Bang, udah waktunya tidur," tegur Anna saat ia mengecek kedua anaknya.
"Iya Bund, sebentar lagi," sahut Nathan.
"Kalo terlalu capek belajar justru Kamu malah ga bisa konsentrasi saat ujian. Lebih baik belajarnya dilanjut besok pagi setelah sholat Subuh. Bunda yakin bakal banyak yang nyangkut daripada dipaksain belajar sekarang padahal Kamu udah ngantuk dan lelah," kata Anna.
"Gitu ya Bund. Ok deh, Aku tidur sekarang," sahut Nathan sambil menguap.
"Bagus. Selamat malam ya Nak," kata Anna sambil mengecup kening Nathan sebelum keluar dari kamar sang anak.
"Iya, selamat malam Bund. Mimpi indah ya," sahut Nathan sambil tersenyum.
Anna mengangguk sambil tersenyum lalu menutup pintu kamar. Kemudian Anna beralih ke kamar Nicko yang berada tepat di samping kamar Nathan. Anna nampak tersenyum melihat Nicko yang tertidur di lantai usai menggambar.
Anna pun bergegas memindahkan tubuh Nicko ke tempat tidur lalu menyelimutinya. Setelahnya Anna merapikan alat gambar Nicko yang berserakan di lantai. Rupanya Nicko ketiduran saat menggambar.
Sebelum keluar dari kamar Anna juga mengecup kening anak bungsunya itu. Kemudian ia keluar dari kamar dan bertemu suaminya di depan kamar.
"Udah tidur semua Bund ?" tanya Bayan.
"Udah. Seperti biasa, Nicko berantakin kamar dulu sebelum tidur," sahut Anna sambil tersenyum.
"Oh ya. Gambar apalagi yang dia buat kali ini ?" tanya Bayan.
"Masih gambar kartun kaya biasa Yah," sahut Anna cepat.
"Gitu ya. Ayah rasa gambar Nicko lumayan bagus Bund. Keliatannya dia berbakat melukis. Ayah ada rencana masukin dia ke sanggar lukis biar bisa belajar lebih banyak tentang cara melukis dan mewarnai. Gimana, Bunda setuju ga ?" tanya Bayan sambil merengkuh bahu sang istri.
"Setuju Yah !" sahut Anna sambil menguap hingga membuat Bayan tersenyum.
Bayan tahu Anna lelah setelah seharian mengurus rumah mereka seorang diri karena Yumi sedang ijin pulang kampung. Sedangkan Arti sudah tak lagi mengasuh Nathan sejak Nathan duduk di kelas tiga SD.
Setelah memadamkan lampu, Bayan dan Anna pun masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
\=\=\=\=\=
__ADS_1