Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
90. Ke Klinik


__ADS_3

Nathan tetap bertahan di luar ruangan hingga waktu Subuh. Ia sama sekali tak masuk ke dalam kamar rawat inap Mia meski pun dokter dan perawat memintanya masuk.


"Saya ga punya hubungan apa-apa sama pasien. Saya hanya karyawan yang disuruh menjaga gadis itu dok. Jika ada yang ingin disampaikan, sampaikan saja langsung sama orangtuanya nanti," kata Nathan saat dokter mengatakan ada hal penting mengenai Mia yang harus dibicarakan.


"Baik lah. Saya akan kembali nanti," sahut sang dokter sambil berlalu.


Nathan mengangguk lalu melangkah menuju musholla yang terletak di belakang Rumah Sakit untuk menunaikan sholat Subuh berjamaah.


Saat ia kembali ke kamar rawat inap Mia, ia melihat Marco dan istrinya sedang duduk di depan kamar.


"Apa dokter udah ngecek ke sini lagi tadi ?" tanya Marco.


"Sudah Pak. Katanya ada hal penting yang mau disampaikan," sahut Nathan.


"Kalo gitu Kami titip Mia lagi ya, Kami mau nemuin dokter dulu sebentar," kata Marko sambil menggandeng tangan istrinya.


Nathan melepas kepergian bos dan istrinya itu dengan senyum. Ia bahagia melihat Marco dan istrinya masih hidup rukun meski pun telah berumur seperti ayah dan ibunya. Nathan yakin, jika banyak wanita yang mencoba untuk menggoyahkan cinta Marco pada istrinya itu. Namun nampaknya Marco dan istrinya punya cinta yang besar hingga tak lekang ditelan waktu.


\=\=\=\=\=


Nathan sedang bercermin sambil mengenakan pakaiannya. Entah mengapa bayangan kulit putih Mia yang tersingkap kembali melintas di kepalanya dan itu membuat Nathan gusar.


"Astaghfirullah aladziim ..., apaan sih ini. Kenapa terus keinget sama Mia ?. Udah ga beres nih...," kata Nathan sambil membuka pintu untuk keluar dari kamar.


"Apanya yang ga beres Bang ?" tanya Nicko saat pintu terbuka. Rupanya Nicko mendengar ucapan sang kakak tadi.


"Bukan apa-apa," sahut Nathan sambil melangkah menuju ruang makan.


"Masa sih. Tapi udah berapa hari ini Aku denger Abang nyebut nama Mia terus. Emang siapa Mia, pacar Abang ya ?" tanya Nicko.


"Bukan. Mia tuh anak Bos yang Abang jagain," sahut Nathan.


"Cantik Bang ?" tanya Nicko lagi.


"Cantik lah. Ngapain sih nanya terus ?. Kaya wartawan aja," kata Nathan kesal namun membuat Nicko tertawa.

__ADS_1


Perbincangan Nathan dan Nicko menarik perhatian Bayan dan Anna. Keduanya saling menatap sejenak lalu mengangguk. Malam sebelumnya Bayan dan Anna telah sepakat mengobati Nathan karena gangguan yang diderita sang anak membuat mereka khawatir.


Bayan dan Anna melihat gelagat aneh dan mencurigakan Nathan yang sering bicara ssndiri dan tampak gelisah. Sesuatu yang tak pernah terjadi meski pun saat Nathan diikuti makhluk kuyang beberapa tahun yang lalu.


"Hari ini Kamu ikut Ayah ya Nak. Udah lama kan Kita ga jalan bareng," kata Bayan tiba-tiba sambil menatap kearah Nathan lekat.


"Boleh Yah. Kebetulan Aku juga lagi ga sibuk," sahut Nathan cepat.


"Aku ga diajak Yah ?" protes Nicko hingga membuat Bayan tersenyum.


"Kalo Kamu sama Bunda mau ikutan juga boleh. Kayanya seru kalo bisa hang out bareng," sahut Bayan.


Nicko pun mengangguk lalu segera menghabiskan makannya.


Tak lama kemudian mobil Bayan telah melaju di atas jalan raya. Nathan lah yang mengemudi kali ini. Bayan yang jadi penunjuk arah kemana mobil harus melaju.


"Kita mau kemana sih Yah ?" tanya Nathan karena merasa mereka menuju tempat yang asing.


"Kita mau ke klinik kenalan Ayah. Namanya Klinik Tibbun Nabawi Ustadz Zul," sahut Bayan santai.


"Klinik yang menggunakan metode ruqyah, bekam dan pengobatan herbal ala Rasulullah," sahut Bayan.


"Ngapain Kita ke sana Yah ?" tanya Nicko.


"Mau mengecek kondisi Abang Kamu," sahut Bayan.


"Tapi Aku sehat Yah, Aku ga sakit," kata Nathan.


"Ayah tau. Kita cuma mau cek aja kok. Ayah merasa beberapa hari ini Kamu kaya orang bingung, ga fokus dan sering menyebut nama Mia berulang kali. Kalo Kamu jatuh cinta sama gadis itu sih wajar. Tapi Kamu kan selalu menyangkal. Daripada terjadi sesuatu yang tak diinginkan, lebih baik Kita pastikan nanti. Pokoknya Kamu tenang aja. Ini ga sakit sama sekali," kata Bayan panjang lebar.


Nathan pun mengangguk pasrah karena ia sendiri memang butuh bantuan. Ia tak mau keinginan menyetub*hi Mia datang lagi dan membuatnya hilang kendali nanti. Apalagi mereka kerap pergi kemana-mana berdua saja karena Nathan adalah body guard Mia. Nathan merasa masih cukup waras untuk tak melakukan hal mesum itu pada Mia.


Tak lama kemudian mereka pun tiba di tempat yang dimaksud Bayan. Sebuah klinik sederhana. Tak terlalu besar namun nyaman. Di depan klinik nampak berjajar tiga kendaraan lain pertanda sudah ada pasien yang mengantri di dalam sana.


"Ayo Kita masuk," ajak Bayan.

__ADS_1


"Apa Aku juga boleh masuk Yah ?" tanya Anna sambil mengamati klinik sejenak.


"Tentu boleh. Kamu kan Ibunya Anak-anak. Ini sama aja kaya klinik lainnya Bund. Pria dan wanita boleh masuk, tapi saat pengobatan dilakukan oleh orang yang sesuai dengan gender pasien," sahut Bayan sambil tersenyum.


Anna pun tersenyum lalu masuk ke dalam klinik mengikuti suaminya. Sedangkan Nathan dan Nicko berjalan di belakang Anna.


Sudah ada beberapa pasien yang duduk di ruang tunggu. Sambil menunggu Bayan mendaftar di bagian pendaftaran, Nathan dan Nicko memilih berkeliling klinik. Sedangkan Anna nampak berbincang dengan salah seorang wanita yang menunggui anak dan suaminya menjalani pengobatan bekam.


Tak lama kemudian seorang pria bertubuh jangkung keluar dari ruangan. Ia langsung menghampiri Bayan yang tengah mengisi formulir.


"Assalamualaikum Pak Bayan. Alhamdulillah ...., akhirnya Antum mampir juga ke tempat ini," sapa pria jangkung itu.


"Wa alaikumsalam. Iya Pak Ustadz," sahut Bayan sambil berjabat tangan dan berpelukan dengan pria itu.


"Siapa yang sakit ?. Jangan bilang Antum yang sakit, soalnya Ana liat Antum baik-baik aja," kata pria yang kemudian diketahui bernama Zulkifli itu.


Bayan tersenyum mendengar ucapan ustadz Zulkifli. Kemudian ia menjelaskan tujuannya datang ke klinik itu.


"Saya ke sini bukan untuk Saya tapi karena Anak Saya Ustadz. Keliatannya dia ga sehat. Mmm ...mungkin sakit atau seperti sakit, Saya ga yakin juga. Pokoknya Saya datang mau minta bantuan Ustadaz. Tolong diliat-liat. Kalo ada penyakit yang ga terdekteksi secara medis, ya tolong dikeluarin. Kalo ga ada, ya Alhamdulillah," kata Bayan hingga membuat ustadz Zulkifli manggut-manggut.


"Begitu ya. Dimana Anak Antum, laki-laki kan ?" tanya ustadz Zulkifli.


"Iya Ustadz," sahut Bayan cepat.


"Oh bagus. Kalo ahwat, Ana bakal panggil therapys ahwat juga buat ngecek. Karena Ana ga mungkin pegang wanita selain Istri, Anak dan orang yang semuhrim sama Ana," kata ustadz Zulkifli.


"Iya Ustadz, Saya paham kok. Nah itu dia Anak Saya," kata Bayan sambil menunjuk Nathan dan Nicko yang sedang berkeliling klinik sambil berbincang.


Ustadz Zulkifli menoleh lalu mengangguk. Sekali melihat saja ia tahu siapa yang sedang mengalami gangguan.


Kemudian Bayan memanggil kedua anaknya itu. Nathan dan Nicko bergegas menghampiri sang ayah.


Saat Nathan dan Nicko mencium punggung tangannya dengan takzim, ustadz Zulkifli nampak tersenyum penuh makna.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2