Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
218. Kecelakaan


__ADS_3

Papa Avin kembali ke kamar rawat inap sang anak tak lama kemudian. Sendiri tanpa dokter Yusuf karena sang dokter harus menangani pasien.


"Jadi gimana pemakaman Rena Pak, Mas. Lancar kah ?" tanya papa Avin saat ia duduk di hadapan Bayan dan Nathan.


"Alhamdulillah lancar. Kami ga ikut ke pemakaman karena harus jagain Bu Rosi tadi. Tapi sayangnya Bu Rosi kabur," sahut Bayan sambil tersenyum kecut.


"Ck, sayang banget. Padahal Saya udah niat mau nanya dia langsung. Apa salah Avin dan Anak-anak itu sama dia. Dan apa salah Kami. Kenapa dia tega menyakiti Anak-anak Kami kaya gini," kata papa Avin.


"Keliatannya Kamu yakin sekali kalo Bu Rosi yang udah melukai Anakmu dan Anak-anak lainnya. Apa Kamu tau sesuatu ?" tanya Bayan curiga.


"Bukan Saya yang tau sesuatu tapi dokter Yusuf. Nah, itu beliau !" kata papa Avin sambil menatap dokter Yusuf yang sedang melangkah kearah mereka.


Bayan dan Nathan ikut menoleh kearah dokter Yusuf. Mereka tersenyum lalu saling memperkenalkan diri dan berjabat tangan. Melihat gelagat tiga pria di hadapannya yang akan bicara serius, papa Avin pun pamit undur diri.


"Saya ke dalam dulu ya dok, mau nemenin Istri dan Anak Saya," kata papa Avin.


"Ga usah kemana-mana, di sini aja Pak. Kalo Papa Avin mau denger juga boleh kok," kata dokter Yusuf.


"Mmm ..., apa Saya ga ganggu ?" tanya papa Avin tak enak hati.


"Ga ganggu kok. Malah Kita bisa kerja sama dan saling bertukar informasi nanti," sahut Bayan cepat.


Papa Avin mengangguk lalu kembali duduk. Kemudian mengalir lah cerita dari mulut dokter Yusuf mengenai keanehan yang ia temui pada tubuh Avin.


"Menurut dokter, itu apa ?" tanya Bayan.


"Ehm, maaf kalo terdengar berlebihan. Tapi Saya juga pernah ngadepin hal kaya gini jauh sebelum Saya jadi dokter. Waktu itu Saya masih mahasiswa Kedokteran yang magang di salah satu Rumah Sakit di daerah. Dan diagnosa dokter kepala waktu itu mengejutkan Kami. Ga banyak yang dikasih tau, hanya Saya dan seorang rekan. Luka yang dialami pasien sama seperti Avin sekarang. Dan itu karena siluman penghisap darah," kata dokter Yusuf.


"Si ... siluman ?" tanya papa Avin tak percaya.

__ADS_1


"Iya. Apa pun wujudnya, apa pun sebutan untuk siluman itu, Saya ga peduli. Yang Saya tau luka itu karena Avin dan teman-temannya jadi korban keganasan siluman. Kalo ga ditangani dengan tepat, Avin dan teman-temannya bisa meninggal dunia. Saya merasa terpanggil dan ga ingin Anak-anak tak berdosa itu terus dimanfaatkan untuk memuaskan para siluman itu. Kita harus bertindak dan hentikan itu segera !" sahut dokter Yusuf.


"Astaghfirullah aladziim ..., terus apa akibatnya kalo Anak-anak itu terus jadi pemuas naf*su siluman itu dok ?" tanya papa Avin.


"Sudah tentu akan sakit-sakitan dan ... bodoh. Meski secara fisik terlihat sehat, tapi mental mereka yang rusak. Biasanya siluman itu menghisap darah Anak-anak melalui puncak kepala yang lembut. Ga heran kalo terus digempur di tempat yang sama, maka akan mempengaruhi otak yang berimbas pada cara berpikir mereka nanti. Kasarnya Anak-anak jadi idiot. Mereka ga akan bisa hidup normal karena terus dibayangi rasa takut, sahut dokter Yusuf.


Ucapan dokter Yusuf mengejutkan papa Avin dan Nathan. Mereka tak bisa membayangkan jika anak-anak mereka akan tumbuh tak normal gara-gara jadi korban siluman kuyang.


"Jangan-jangan Wak Rosi itu jelmaan siluman karena dia melukai Avin dengan cara ga wajar. Apa begitu Pak ?" tanya papa Avin sambil menatap Bayan lekat.


"Saya ga perlu bohong lagi sama Kamu. Itu memang betul," sahut Bayan sambil mengangguk.


"Jadi alasan kalo Wak Rosi pasien Rumah Sakit Jiwa cuma omong kosong ?" tanya papa Avin.


"Itu juga betul. Rosi memang pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena terlibat pembunuhan Suami dari teman baiknya. Karena terlalu shock, dia jadi meracau dan sulit dimintai keterangan. Pihak berwenang memutuskan memasukkan Rosi ke sana karena mentalnya yang terganggu saat itu," sahut Bayan.


Papa Avin nampak mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menyesal karena pernah menitipkan buah hatinya pada orang gila sekaligus penganut ilmu hitam.


"Awasi pergerakan Rosi dan kasih tau sama Saya atau Anak Saya. Dan tolong jangan libatkan Anak dan Istrimu. Jangan biarkan mereka tau karena siluman itu ga segan menyakiti mereka," sahut Bayan yang diangguki papa Avin.


"Dan tolong bawa secepatnya ke Rumah Sakit jika ada Anak yang mengalami luka yang sama kaya Avin," sela dokter Yusuf.


"Harus ke Rumah Sakit ini dan ketemu sama dokter Yusuf," kata Nathan menegaskan.


Ucapan Nathan mau tak mau membuat ketegangan yang sempat tercipta pun mencair. Keempatnya tertawa sejenak lalu kembali menyusun rencana untuk menghadapi Rosi.


\=\=\=\=\=


Rosi terus berpindah-pindah tempat. Ia sulit menemukan tempat tinggal baru karena berita tentangnya telah tersebar di media sosial. Ketua RT juga menggunakan jabatannya sebagai pengurus lingkungan untuk mengingatkan ketua RT lain agar tak menerima Rosi masuk ke lingkungan mereka.

__ADS_1


"Mulai sekarang Kita harus hati-hati kalo punya tetangga baru. Di RW 10 ada kejadian ga masuk akal. Anak-anak di sana jadi korban kekerasan yang dilakukan pendatang," kata seorang pelayan warteg yang didatangi Rosi.


"Kekerasan gimana maksudnya ?" tanya seorang pengunjung.


"Anak-anak dilukai sampe berdarah. Bahkan ada dua orang masuk Rumah Sakit dan yang satu meninggal," sahut pelayan warteg.


"Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Kok bisa ?. Emangnya orangtua Anak-anak itu kemana ?" tanya pengunjung lainnya.


"Orang itu nyamar jadi orang baik. Memanfaatkan keadaan dengan mendekati warga dan menawarkan bantuan untuk menjaga Anak-anak. Terus saat semua orang dewasa lengah, dia menyakiti Anak-anak itu," sahut pelayan warteg.


"Sakit jiwa," kata salah pengunjung kesal.


"Betul Pak. Cuma orang sakit jiwa yang bisa nyakitin Anak-anak yang masih berusia balita," sahut pelayan warteg.


"Dishare ga gimana wajah si pelaku ?. Kalo iya, diprint aja Mbak. Terus tempel di depan warung dan semua tempat yang banyak dilewatin orang biar semua orang tau dan pelaku ga bisa kemana-mana lagi," kata pengunjung warteg berapi-api.


Ucapan pria tersebut diangguki semua orang. Rosi yang berada di tempat itu pun bergegas pergi karena khawatir dikenali oleh warga.


Rosi berhenti melangkah saat tiba di sebuah halte. Rasa lelah dan putus asa nampak tercetak jelas di wajahnya.


"Sia*an. Jauh-jauh menghindar ternyata masih aja denger berita itu. Makin sempit dong ruang gerakku. Kalo kaya gini caranya Aku bisa mati. Harus cari cara supaya bisa bertahan hidup dan mendapatkan mangsa lagi dengan mudah," gumam Rosi kesal sambil menatap ke sekelilingnya.


Wajah Rosi yang semula menegang itu perlahan mengendur saat kedua matanya melihat Rumah Sakit yang berdiri kokoh di seberang jalan. Senyum pun menghias wajahnya. Rupanya Rosi menemukan cara untuk bisa mendapatkan mangsanya lagi.


Rosi bangkit lalu bergegas melangkah. Karena terlalu antusias Rosi tak mengamati sekitarnya saat menyebrang. Dan tiba-tiba Rosi merasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Tatapan matanya menggelap dan sesaat kemudian Rosi jatuh pingsan.


Rupanya Rosi ditabrak mobil saat menyebrang. Akibatnya tubuh Rosi melayang sejauh lima meter lalu jatuh terhempas di jalan beraspal.


Warga yang melihat kejadian itu bergegas mendatangi lokasi kecelakaan dan berusaha memberikan pertolongan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2