
Sejak Hilya dilaporkan ke pihak kepolisian, pihak Rumah Sakit pun memberi Hilya cuti untuk beberapa waktu. Meski keberatan karena Hilya sangat mencintai pekerjaannya, namun Hilya tak bisa berbuat apa-apa.
Hilya berjalan gontai saat keluar dari ruang manager HRD. Ranti yang setia menemani dan menunggu Hilya di luar ruangan pun nampak cemas.
"Kenapa Hilya, apa kata Pak Manager ?" tanya Ranti penasaran.
"Nih ...," sahut Hilya sambil menyodorkan amplop berisi surat ijin cuti yang ditandatangani sang manager tadi.
"Apaan nih ?" tanya Ranti
"Baca aja sendiri," sahut Hilya sambil melangkah lebih dulu meninggalkan Ranti.
Ranti menatap punggung Hilya yang menjauh sambil membuka amplop lalu membaca isinya. Ia terkejut lalu mengejar Hilya.
"Apa-apaan nih. Ayo Kita protes Hil. Kan semua masih dugaan belum jelas Lo yang terbukti bersalah," kata Ranti gusar.
"Gue udah ngomong kaya gitu tadi, tapi Pak Manager ga mau dengar. Katanya Gue cuma diistirahatkan sebentar dan bukan selamanya. Tapi sama aja kan. Itu artinya dia nuduh Gue sebagai pelaku penculikan dan pembunuhan bayi itu !" kata Hilya dengan mata berkaca-kaca.
Ranti pun memeluk Hilya karena tahu bagaimana sedihnya Hilya saat itu. Beberapa saat kemudian mereka saling mengurai pelukan.
"Gapapa Ran. Anggep aja ini waktu buat Gue refreshing," kata Hilya menghibur diri.
"Ga bisa Hil !. Waktu refreshing Lo cuma bisa Lo abisin bareng Gue. Kalo gitu Gue ngajuin cuti juga deh biar bisa nemenin Lo," kata Ranti sambil membalikkan tubuhnya lalu melangkah cepat menuju ruang manager HRD.
"Ranti jangan !. Ck, dasar keras kepala. Lo bakal malu karena usaha Lo gagal Ran !" kata Hilya lantang namun diabaikan oleh Ranti.
Dengan kesal Hilya terpaksa menunggu Ranti tak jauh dari ruang manager HRD. Tak lama kemudian Ranti keluar dari ruangan manager HRD dengan wajah ditekuk. Hilya bisa menebak apa yang terjadi dan hanya bisa tersenyum kecut.
"Udah Gue bilang jangan tapi Lo ngeyel. Liat kan hasilnya. Lo ditolak dan malu," kata Hilya sambil mencibir.
"Tapi Gue kan udah berusaha," sahut Ranti tak mau kalah.
"Iya iya. Makasih ya Ranti cantik. Sekarang Gue pamit pulang. Dan Lo, tolong tetep kerja sekaligus ngawasin keadaan. Kasih tau Gue kabar apa aja yang beredar selama Gue cuti," pinta Hilya.
"Ok. Selamat liburan Hilya. Salam ya buat Nathan," kata Ranti sambil tersenyum genit.
__ADS_1
"Ga usah genit !. Suami orang tuh," kata Hilya ketus.
"Dih, ngaku-ngaku. Kapan nikahnya coba. Gue liat Lo masih gini-gini aja. Kalo emang Lo nikah sama Nathan, ga mungkin Lo pusing melulu Hil ...," kata Ranti sambil berlalu.
"Maksud Gue Nathan bukan nikah sama Gue dodol," gumam Hilya sambil menatap kesal kearah Ranti yang kian menjauh.
Mengetahui Ranti kembali melanjutkan tugasnya, Hilya pun memilih pergi kearah ruang karyawan untuk mengambil perlengkapan miliknya di sana.
Setelah berganti pakaian Hilya merapikan sebagian barangnya lalu memasukkan ke dalam tas. Hilya pun bergegas keluar karena tak mau berlama-lama di ruangan itu. Ia tak ingin menangisi kenangan yang ada di sana. Beruntung semua karyawan yang bekerja satu shift dengannya sedang sibuk hingga ia bisa pergi tanpa membuat keributan.
Hilya mengenakan jaketnya agar kehadirannya tak terlalu mencolok. Dan berhasil. Hilya bisa melewati semuanya tanpa seorang pun sadar jika Hilya baru saja melintas.
Hilya tiba di parkiran Rumah Sakit dan melangkah menuju motornya. Rasa melilit di perutnya kian terasa sekarang. Rupanya Hilya sedang datang bulan. Dan biasanya perutnya akan terasa nyeri saat gelisah atau panik.
Sambil meringis menahan sakit, Hilya pun menstarter motornya. Namun karena rasa sakit kian memuncak membuat Hilya menunda kepergiannya. Ia berjongkok di samping motornya sambil memegangi perutnya.
"Selamat malam, ada yang bisa Kami bantu Bu ?" tanya seorang security.
Rupanya security itu mengamati gerak-gerik Hilya dari kejauhan dan terkejut melihat Hilya berjongkok di samping motor. Karena khawatir ia mendekati Hilya untuk menawarkan bantuan.
"Bu Hilya. Kenapa jongkok di sini ?" tanya sang security.
"Perut Saya sakit Pak. Biasa, lagi datang bulan. Sekarang Saya mau pulang tapi ga kuat nahan sakitnya," sahut Hilya lirih.
"Sebaiknya Bu Hilya istirahat aja di dalam. Ga baik di sini sendirian, apalagi ini hampir Maghrib. Atau Saya ambilin kursi roda aja ya biar Bu Hilya ga oerlu jalan kaki ke dalam," kata sang security sambil bersiap melangkah.
"Ga usah Pak. Ini udah enakan kok. Tuh udah adzan, bukannya Bapak harus sholat Maghrib sekarang ?" kata Hilya mengingatkan.
Security itu mengangguk karena tahu tak akan bisa membujuk Hilya. Setelah memastikan Hilya baik-baik saja, security itu bergegas pergi meninggalkan Hilya di parkiran seorang diri.
Tak lama kemudian Hilya pun melajukan motornya meninggalkan parkiran Rumah Sakit.
Tanpa Hilya sadari sejak tadi ia diawasi oleh sesuatu yang melayang-layang di udara. Sesuatu yang melayang itu adalah sosok kepala tanpa tubuh dengan organ dalam yang menggantung di bagian bawahnya.
Kepala tanpa tubuh itu menatap Hilya dengan tatapan marah. Rupanya itu adalah sosok kepala yang dilihat Hilya kemarin malam. Sambil menyeringai siluman itu mengikuti pergerakan Hilya kemana pun gadis itu pergi. Sesekali siluman kepala tanpa tubuh itu menjilati bibirnya seolah merasa sangat berhasrat pada Hilya.
__ADS_1
Hilya yang tak menyadari dirinya diikuti siluman pun dengan tenang berhenti di sebuah mini market. Di sana Hilya membeli pembalut dan obat pereda nyeri. Setelah mendapatkan apa yang dicari, Hilya pun kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini Hilya berhenti untuk membeli baso di kios penjual baso langganannya.
Sambil menunggu pesanannya dibuat, Hilya keluar dari kios untuk menerima panggilan telepon. Hilya nampak bicara beberapa saat lalu menoleh saat sang penjual baso menyerahkan plastik berisi beberapa bungkus baso.
Setelah membayar baso Hilya kembali menuju motornya yang diparkir tak jauh dari kios baso. Sebelum mengenakan helm Hilya mengibaskan rambutnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat itu lah Hilya menangkap sosok bayangan mencurigakan di balik dinding kios yang terletak persis di sebelah kiri kios baso.
Hilya menajamkan penglihatannya dan terkejut saat mengenali sosok bayangan kepala tanpa tubuh itu. Dengan panik Hilya menstarter motornya lalu meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.
Hilya terus melajukan motornya tanpa menghiraukan makian para pengguna jalan lainnya. Rasa takut menderanya. Beberapa kali Hilya menoleh ke belakang untuk memastikan siluman itu tak mengejarnya. Akibatnya Hilya pun menabrak pembatas jalan lalu jatuh tersungkur tepat di belokan jalan menuju perumahan dimana Kakeknya tinggal.
Hilya pun menjerit takut sekaligus sakit. Apalagi tempat dimana ia terjatuh sangat gelap dan sepi. Dan sesaat kemudian lampu motornya juga padam. Hilya mengutuk dalam hati karena kesal harus mengalami kejadian tak menyenangkan di tempat yang tak menyenangkan.
"Sia*an. Gara-gara siluman babi Gue jadi nyungsep di sini. Mana sepi banget lagi. Ya Allah, tolong kirim orang baik hati plus ganteng ke sini untuk menolong Hamba ya Allah ...," pinta Hilya sungguh-sungguh.
Dan baru saja Hilya mengusap wajahnya usai berdoa, tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang. Hilya pun terkejut dan refleks menjerit.
"Si-siluman babiii ... !" kata Hilya lantang sambil menjauh.
"Eh sembarangan kalo ngomong. Gue bukan siluman babi ya, Gue manusia !" kata seorang pemuda sambil melotot.
"Eh, ma-maaf. Lagian ga ada suara kok tau-tau nyapa. Kan Gue jadi kaget ...," kata Hilya sambil nyengir.
"Ck, Gue cuma mau bantuin Lo. Keliatannya Lo lagi apes ya, kok bisa-bisanya jatoh di tempat gelap dan sepi kaya gini ?" tanya pemuda itu yang ternyata adalah Nicko.
"Iya. Terima kasih karena udah mau bantuin Gue. Motor Gue kayanya mogok. Mmm ..., bisa tolong diidupin lagi ga ?" pinta Hilya ragu.
"Gue coba ya. Tapi ga bisa di sini, gelap banget soalnya. Kita geser ke sana sedikit kan lebih terang tempatnya. Biar ga jadi fitnah juga nanti," kata Nicko yang diangguki Hilya.
Kemudian Hilya dan Nicko bergeser ke bawah lampu penerang jalan. Di sana Hilya bisa melihat wajah Nicko dengan jelas. Melihat Nicko yang tengah mengotak-atik motornya Hilya pun tersenyum. Ia merasa doa nyelenehnya tadi terkabul.
"Allah Maha Baik karena ngirim cowok baik plus ganteng buat nolongin Gue. Tapi sebentar, kenapa wajahnya mirip sama Nathan ya. Ya Allah, jangan bilang Gue beneran naksir sama Nathan sampe ngeliat orang lain juga mirip sama dia ...," batin Hilya gusar.
Nicko pun melirik kearah Hilya. Gadis itu segera membuang pandangannya kearah lain karena gugup.
\=\=\=\=\=
__ADS_1