Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
28. Suara Mendesis


__ADS_3

Setelah meninggalkan gedung kantornya, Bayan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah yang dihuninya selama ini. Rumah tempatnya memulai kehidupan baru bersama Anna dan kedua anak mereka.


Saat tiba di halaman rumahnya Bayan pun turun dari mobil dengan enggan. Bayan ingat tak akan menjumpai keluarganya di rumah itu seperti biasanya karena saat ini Anna dan kedua anak mereka masih Bayan 'titipkan' pada mertuanya hingga waktu tak terbatas.


Bayan menoleh saat melihat Yumi membuka pintu. Di belakang Yumi nampak Arti berdiri mengawasi.


"Ternyata beneran Bapak Ar," kata Yumi lirih sambil menoleh kearah Arti.


"Syukur lah," sahut Arti sambil menghela nafas lega.


Percakapan singkat antara Yumi dan Arti menarik perhatian Bayan. Karena curiga mau tak mau Bayan pun bertanya.


"Apa yang terjadi Yum ?. Kenapa Kalian keliatan takut gitu ?" tanya Bayan saat telah menginjakkan kaki di dalam rumah.


Yumi dan Arti saling menatap sejenak sebelum menjawab pertanyaan Bayan. Karena tak sabar Bayan mengulangi pertanyaannya dengan sedikit lantang hingga mengejutkan Yumi dan Arti.


"Ga ada apa-apa Pak. Cuma dua malam ini Kami ga bisa tidur karena denger suara mendesis di balik jendela. Bukan cuma jendela ruang tamu Pak, tapi hampir semua jendela di rumah ini," sahut Yumi cepat.


"Suara mendesis, jangan-jangan itu suara ular. Apa Kamu udah minta Maman supaya cek ke sekitar rumah Yum ?!" tanya Bayan gusar.


Maman adalah tetangga yang tinggal tak jauh dari rumah Bayan dan biasa bekerja serabutan. Bayan sering kali menggunakan jasa Maman untuk membantunya membereskan pekerjaan rumah seperti membuang barang yang tak terpakai di gudang, merapikan taman atau membersihkan selokan yang tersumbat.


"Udah Pak. Kata Pak Maman ga ada apa-apa kok di sekitar jendela," sahut Yumi.

__ADS_1


"Kenapa cuma nyari di sekitar jendela. Harusnya ke sekeliling rumah dong Yum," protes Bayan sedikit kesal.


"Iya Pak, maaf. Soalnya suara mendesis itu cuma terdengar di jendela dan pintu Pak. Makanya Saya cuma minta Pak Maman ngecek ada lubang ga di jendela dan pintu yang bisa dijadiin jalan ular buat keluar masuk rumah," sahut Yumi tak enak hati.


Jawaban Yumi mengejutkan Bayan. Ia pun bergegas melangkah menuju pintu. Untuk beberapa saat Bayan nampak mengamati sekitar pintu dan jendela dengan seksama. Bayan juga mengetuk-ngetuk kusen untuk memastikan jika kondisi kayu masih dalam keadaan baik.


Yumi dan Arti hanya bisa mengamati dari kejauhan sambil menunggu Bayan selesai mengecek pintu dan jendela.


"Gimana Pak ?" tanya Yumi tak sabar.


"Kusen pintu dan jendela baik-baik aja kok. Ga ada tanda bekas binatang atau pencuri yang mencoba mencongkel pintu atau jendela. Jangan-jangan yang Kamu bilang tadi cuma halusinasi Yum," sahut Bayan.


Ucapan Bayan membuat Yumi dan Arti saling menatap sejenak kemudian menggelengkan kepala. Mereka yakin jika suara mendesis yang mereka dengar dua malam berturut-turut itu bukan halusinasi. Jika itu halusinasi, mana mungkin Yumi dan Arti mendengarnya dalam waktu bersamaan. Namun Yumi dan Arti nampaknya takut untuk mengungkapkannya karena melihat wajah Bayan yang sedikit tak bersahabat.


"Kalian tenang aja, ga ada apa-apa kok di luar sana. Kalo gitu besok Saya bakal minta Maman cariin orang buat jaga malam di sekitar rumah supaya Kalian ga ketakutan saat Saya ga pulang ke rumah. Kalo Maman mau, dia juga boleh ikut bantu ngawasin sekitar rumah," kata Bayan.


"Insya Allah Saya akan cari orang yang tepat untuk jadi security nanti. Saya ga bisa sembarangan pilih orang karena Saya harus pikirkan keamanan dan kenyamanan keluarga Saya juga Kalian," kata Bayan hingga membuat Yumi dan Arti senang karena merasa dihargai.


"Iya Pak, makasih udah mikirin Kami," kata Yumi sambil tersenyum.


"Sama-sama. Sekarang tolong siapkan makan malam ya Yum. Saya mau bersih-bersih dulu di kamar," pinta Bayan sambil melangkah menuju kamar.


"Baik Pak," sahut Yumi lalu bergegas melangkah ke dapur diikuti Arti.

__ADS_1


Bertepatan dengan selesainya Yumi dan Arti menyiapkan makan malam, Bayan pun keluar dari kamar. Yumi dan Arti menyingkir dari ruang makan karena tak ingin membuat Bayan tak nyaman.


Malam itu Arti dan Yumi bisa tidur dengan nyenyak setelah dua malam berturut-turut sulit tidur karena suara desisan aneh di jendela. Teramat nyenyak hingga mereka tak menyadari ada sesuatu yang mengintai di balik jendela kamar masing-masing.


Sedangkan malam itu Bayan justru sulit tidur. Ia nampak mondar mandir di dalam kamarnya. Selain karena jauh dari keluarganya, banyak hal yang ia pikirkan yang membuatnya masih terjaga hingga menjelang Subuh.


Bayan mengusak rambutnya karena merasa beban pikirannya terlalu berat. Sejak Anna mengatakan melihat sesuatu di ventilasi rumah mereka, sejak itu lah Bayan merasa tak tenang. Ditambah pengakuan Rama dan Riko yang merasa melihat penampakan hantu tanpa badan di peternakan, ucapan ustadz Mustafa tentang orang baru di sekitar keluarganya, juga suara desisan yang didengar Yumi. Semuanya membuat Bayan ingin marah.


Bayan menghela nafas panjang karena merasa lelah. Kemudian Bayan duduk bersandar di sofa, menengadahkan kepalanya sambil memejamkan mata.


Entah mengapa situasi saat ini membuat Bayan kembali teringat dengan Senja. Bayan ingat dia juga melakukan hal yang sama dulu, yaitu menjauhi Senja sama seperti ia menjauhi Anna sekarang. Itu harus ia lakukan karena ingin menyelamatkan istrinya dari sesuatu yang mengancam jiwa dan masa depan mereka.


Dulu Bayan harus berjuang menahan perasaan rindu dan sakit di saat bersamaan hanya karena tak ingin menyakiti Senja dan bayi dalam kandungannya. Dan sekarang Bayan kembali harus menahan rindu pada istri dan anak-anaknya karena khawatir dengan keselamatan mereka.


Bayan pun ingat betapa malam-malamnya dibayangi rasa cemas berkepanjangan karena hormon kehamilan yang bisa membuat emosi Senja tak stabil. Bayan khawatir jika Senja tanpa sadar melukai diri dan bayinya saat ia menjelma menjadi kuyang. Saat itu Bayan marah karena tak bisa melakukan apa-apa untuk melindungi Senja dan Bayi mereka.


Hingga akhirnya setelah beberapa waktu saling menjaga jarak, Senja menyerah karena tak sanggup bertahan dalam ketakutan tak berujung.


Selain karena lelah, Senja tak ingin menyakiti banyak orang. Dan yang menjadi kekhawatiran terbesar Senja adalah jika ia akan memangsa anaknya sendiri saat ia menjelma jadi kuyang. Senja tak bisa membayangkan jika itu terjadi. Anak yang merupakan buah cintanya dengan Bayan harus mati di tangannya karena kutukan itu.


Senja siap jika kehilangan Bayan dan cintanya, tapi Senja tak siap jika harus kehilangan anaknya. Meski pun Bayan berusaha meyakinkan Senja jika cintanya tak akan pernah berubah, tapi Senja tetap bersikeras mengakhiri semuanya. Hal itu dilakukan bukan karena Senja tak percaya pada Bayan, justru rasa cintanya yang besar pada Bayan lah yang memaksanya menyerah.


"Aku kehilangan Istriku karena siluman kuyang. Dan sekarang Aku ga bakal biarin itu terjadi lagi. Dengan atau tanpa Ustadz Mustafa, Aku bakal melindungi Anak dan Istriku walau pun nyawa taruhannya," gumam Bayan sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Bayan merasa lebih tenang. Ia siap menghadapi segala kemungkinan terburuk demi menyelamatkan Anna dan kedua anak mereka.


\=\=\=\=\=


__ADS_2