Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
57. Lukisan Di Ruang Tamu


__ADS_3

Kemudian Nathan menyodorkan segelas air kepada Nicko yang langsung meneguknya hingga tandas. Nathan nampak menatap iba kearah sang adik.


"Makasih Bang," kata Nicko sambil menyerahkan gelas kosong kepada sang kakak.


"Iya. Sekarang tidur lagi ya. Kalo ga nyaman gelap, lampunya dinyalain aja," kata Nathan sambil meletakkan gelas di atas meja.


"Gapapa Bang. Aku juga nyaman kok tidur gelap-gelapan," sahut Nicko lalu kembali berbaring.


Nathan pun mengangguk lalu kembali memadamkan lampu. Saat berbaring di atas kasur lipat, Nathan mendengar Nicko masih bergumam.


"Tidur Nick !" kata Nathan mengingatkan.


"Iya Bang. Aku cuma lagi mikir nih. Kayanya Aku pernah ngeliat cewek itu, tapi dimana ya. Mukanya tuh familiar banget," kata Nicko.


"Pikirin besok aja. Sekarang tidur dulu," sahut Nathan sambil menguap.


Nicko pun mengangguk pasrah lalu kembali memejamkan matanya.


\=\=\=\=\=


Keesokan harinya Nathan dan Nicko nampak duduk di teras rumah bersama teman-teman Nathan sesama penghuni kost. Mereka tampak berbincang hangat sambil bersenda gurau. Tawa mereka terhenti saat Ira datang sambil membawa kantong plastik berisi makanan.


"Eit, jangan diambil !. Ini khusus buat Nicko !" kata Ira lantang saat seorang teman Nathan mengulurkan tangannya kearah plastik yang dibawanya.


Ucapan Ira mengejutkan semua orang kecuali Nathan. Ia nampak tersenyum simpul mengetahui sang kekasih sedang berusaha mendekati adiknya. Nicko terlihat kikuk saat menerima pemberian Ira.


Setelah memberikan makanan untuk Nicko, Ira pun pamit. Semua teman Nathan pun memaksa Nicko membuka plastik berisi makanan pemberian Ira setelah gadis itu berlalu.


"Oh itu emang makanan khas daerah sini Nick. Dimakan deh, enak lho," kata teman Nathan.

__ADS_1


"Nanti aja Mas. Aku masih kenyang. Kalo ga ada yang mau, Aku taro di kamar dulu ya," kata Nicko.


"Iya. Kami udah sering makan itu jadi ga terlalu ngiler kok Nick," gurau teman Nathan yang lain disambut tawa Nathan dan teman-temannya.


Nicko pun mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam kamar untuk meletakkan makanan ringan pemberian Ira tadi. Saat melintas di ruang tamu yang kosong, tak sengaja ekor mata Nicko melihat ke sudut ruangan dimana lukisan antik yang dilihatnya pertama kali berada.


Nicko pun terkejut bukan kepalang hingga plastik di tangannya terjatuh. Bagaimana tidak. Nicko melihat gadis di lukisan antik itu mirip atau mungkin sama dengan gadis yang ada di mimpinya semalam.


Nicko pun bergegas meraih plastik berisi makanan yang terjatuh di lantai lalu meletakkannya di kamar sang kakak. Setelahnya ia melangkah cepat menuju ruang tamu lalu berhenti tepat di depan lukisan itu.


Melihat Nicko yang tengah mengamati lukisan di ruang tamu tak membuat Nathan dan teman-temannya curiga. Mereka mengaggap itu hal wajar karena Nicko juga seorang pelukis. Mereka mengira jika Nicko sedang mempelajari detail garis atau cara penerapan cat di atas kanvas hingga membuat lukisan itu terasa hidup.


Seorang teman kost Nathan yang baru saja keluar dari kamar pun menyapa Nicko.


"Kenapa Nick, bagus ya lukisannya ?" tanya Ferdi.


"Iya Mas. Bagus sampe terkesan hidup," sahut Nicko sambil menoleh kearah Ferdi.


"Maksudnya gimana ya Mas ?" tanya Nicko tak mengerti.


"Pernah nih ya, mmm ... sering malah. Pas pulang malam, Gue kaget ngeliat lukisan ini karena kaya orang yang lagi berdiri ngawasin Kita. Seolah kaya ada Ibu kost di sini yang siap marahin Kita karena pulang terlambat. Apalagi posisi lukisan ini kan di sudut ruangan yang penerangannya juga minim. Jadi wajar kalo Gue kaget setengah mati," sahut Ferdi sambil tertawa.


"Apa yang lain juga ngerasa kaget Mas ?" tanya Nicko.


"Ga tau. Coba aja tanya sama yang lain. By the way, selamat ya udah jadi pemenang lomba melukis kemarin. Walau bukan juara satu, itu tetap hal yang membanggakan lho," kata Ferdi sambil menepuk punggung Nicko dengan lembut.


"Alhamdulillah, iya Mas. Makasih," sahut Nicko sambil tersenyum.


Ferdi pun mengangguk lalu melangkah ke teras untuk bergabung dengan teman-temannya.

__ADS_1


Nicko kembali menatap lukisan di depannya. Di sana terlihat seorang gadis bergaun putih tengah duduk diapit dua orang yang berdiri di sampingnya. Wajah gadis itu terlihat sendu meski pun senyum menghias bibirnya. Tatapan matanya juga sedih seolah menyiratkan kekecewaan.


Jika gadis yang dilihat di dalam mimpinya menggerai rambutnya, di lukisan itu Nicko melihat jika rambut gadis itu tersanggul. Meski tak rapi namun justru terkesan eksotis dengan sebagian helaian rambut yang jatuh di atas pundaknya.


Nicko pun tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh lukisan itu. Saat ujung jarinya menyentuh wajah gadis itu, Nicko merasa terkejut karena merasa ada sengatan listrik yang menerpa jemarinya. Nicko pun menarik jemarinya dengan cepat.


"Apaan tuh tadi, kok terasa nyeri gitu," gumam Nicko sambil mengamati ujing jemarinya yang tiba-tiba terasa perih.


Nicko pun mengerutkan keningnya saat mendapati ujung jemarinya tergores dan menimbulkan garis berwarna merah. Dari garis berwarna merah itu keluar setitik darah seperti saat tertusuk jarum. Tak banyak namun menimbulkan tanda tanya di benak Nicko.


Refleks Nicko mengusap jemarinya ke pakaiannya untuk menghilangkan noda darah tadi. Saat Nicko hendak menjauh dari lukisan itu, ia melihat sebuah tanda kemerahan yang melingkari leher gadis dalam lukisan. Nicko pun berhenti lalu kembali mengamati lukisan antik itu.


Sesaat kemudian Nicko nampak menggaruk kepalanya yang tak gatal karena tak menemukan apa yang dicarinya.


"Masa Gue salah liat sih. Tadi jelas-jelas ada warna kemerahan kaya benang yang melingkar di leher cewek ini. Tapi pas diperhatiin kok ga ada. Jangan-jangan Gue berhalusinasi. Tapi kenapa harus berhalusinasi segala," gumam Nicko bingung.


Karena tak menjumpai apa yang dicarinya, Nicko memutuskan meninggalkan lukisan antik itu. Ia kembali melangkah ke teras untuk bergabung dengan Nathan dan teman-temannya.


Di ambang pintu Nicko kembali menoleh dan terkejut saat mendapati lukisan itu kosong. Tiga orang wanita yang ada di lukisan itu raib entah kemana.


Nicko menajamkan penglihatannya untuk meyakinkan diri jika lukisan itu benar-benar koskng. Sesaat kemudian Nicko tersentak kaget saat Ferdi menepuk pundaknya sambil memanggil namanya.


"Kenapa Nick ?!" tanya Ferdi.


"Eh, gapapa Mas. Cuma ....,"


"Cuma apa ?" tanya Ferdi sambil ikut menatap kearah lukisan antik di sudut ruang tamu itu.


Saat Nicko mengedipkan mata, lukisan itu kembali seperti semula. Gadis bergaun putih yang duduk di tengah beserta dua wanita yang berdiri mengapitnya tampak kembali mengisi lukisan.

__ADS_1


Jantung Nicko berdetak cepat karena yakin telah terjadi sesuatu yang aneh di rumah itu. Namun Nicko memilih mengabaikannya lalu mengikuti Ferdi yang menarik tangannya ke teras rumah.


\=\=\=\=\=


__ADS_2