
Sepanjang acara lamaran berlangsung Hilya nampak tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Berkali-kali ia mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangannya. Hilya juga tak mengerti mengapa keringat itu tak mau berhenti membanjiri wajah dan sekujur tubuhnya.
Di saat Hilya akan kembali mengusap wajahnya, tiba-tiba sehelai saputangan terbuat dari bahan katun nampak terulur kearahnya. Hilya pun mendongak untuk mencari tahu siapa pemilik saputangan itu.
"Pake ini jangan pake tangan. Kalo ga, make upmu bisa luntur dan wajahmu kaya lenong nanti," kata Nathan tanpa menoleh.
Hilya nampak berpikir sejenak lalu meraih saputangan itu. Dengan hati-hati ia menepukkan saputangan itu pada wajah dan lehernya untuk mengeringkan keringatnya. Nathan yang melihat Hilya menggunakan saputangan miliknya pun nampak tersenyum.
Di depan sana Nicko dan Ramadhanti nampak salah tingkah karena terus digoda oleh perwakilan keluarga.
"Kata orang, diamnya Anak gadis saat dilamar artinya mau. Tapi kali ini Saya ga mau pake yang kata orang. Saya justru mau mewakili semua orang yang hadir di sini, Kami minta agar Ananda Ramadhanti bersedia menjawab langsung pernyĆ taan Mas Nicko tadi," kata pria tersebut dengan mimik wajah lucu.
Ucapan perwakilan keluarga tersebut disambut tepuk tangan dan sorak sorai para tamu. Semua setuju dengan apa yang diucapkan pria itu.
Dengan malu-malu Ramadhanti berdiri lalu menyatakan kesediannya menerima pinangan Nicko dan keluarga. Jawaban Ramadhanti itu tentu saja membuat suasana makin ramai.
Setelah proses serah terima beberapa barang 'seserahan', acara pun dilanjutkan dengan makan bersama. Semua tamu dipersilakan mencicipi hidangan yang telah disediakan. Pada kesempatan itu Anna memanggil Hilya agar mau menemaninya makan.
Dengan ragu Hilya pun melangkah mendekati Anna.
"Oh iya Danti, kenalin ini Hilya temennya Bang Nathan," kata Anna memperkenalkan Hilya pada calon menantunya.
"Salam kenal Kak Hilya. Mas Nicko pernah cerita tentang Kakak lho," sapa Ramadhanti sambil tersenyum.
"Masa sih, apa yang bisa diceritain ?. Kan Kami baru ketemu sekali dan ini kali kedua lho," sahut Hilya.
"Ada kok. Tapi apa Kakak mau denger di sini ?" tantang Ramadhanti sambil melirik Anna yang sedang mengambil makanan di meja.
Hilya nampak mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ramadhanti. Sesaat kemudian Hilya tersenyum sambil menggeleng karena yakin jika yang diucapkan Ramadhanti bisa membuatnya malu di depan Anna.
Dari kejauhan Nathan nampak mengamati interaksi Hilya dengan ibu dan calon adik iparnya itu. Ia tersenyum bangga melihat Hilya dengan mudah membaur diantara keluarganya.
"Jangan diliatin doang Bang. Cepetan diiket biar ga lepas," sindir Nicko sambil membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.
__ADS_1
Di samping Nicko tampak Fikri duduk dengan tenang sambil menyuapi Arafah.
"Yang ini harus sabar Nick. Justru kalo dikejar-kejar malah kabur," sahut Nathan sambil tersenyum penuh makna.
"Ga usah dikejar juga, ntar malah jatuh kan kasian. Paling ga Kamu bisa tunjukin sama dia kalo posisinya di hatimu tetap aman," sela Fikri sambil mengusap pipi Arafah yang terkena bumbu.
Ucapan Fikri membuat Nathan terkejut sedangkan Nicko nampak terbatuk-batuk. Keduanya tak menyangka jika Fikri yang kalem itu punya perbendaharaan kata yang lumayan memukau. Dan sesaat kemudian ketiga bersaudara itu tertawa terbahak-bahak.
"Ga usah ketawa Nath. Abang serius lho," kata Fikri kemudian.
"Iya Bang. Aku tau kok," sahut Nathan sambil tersenyum penuh makna.
"Kalo tau ngapain masih di sini ?. Sana temenin Hilya makan !" kata Fikri gemas.
Nathan pun bangkit karena tak tahan mendapat tatapan tajam Fikri. Perlahan ia mendekati Hilya yang sedang makan seorang diri karena Ramadhanti harus menemani Anna mengambil hidangan pencuci mulut di meja makan.
Tanpa suara Nathan duduk di samping Hilya. Tetap seperti itu selama beberapa waktu. Hilya baru menyadari kehadiran Nathan karena Ramadhanti tak kunjung duduk di sampingnya usai menemani Anna tadi.
"Ngapain ngeliatin terus sih ?" kata Hilya ketus namun membuat Nathan tersenyum.
"Gapapa. Cuma mau bilang ada ini di pipi Kamu," sahut Nathan sambil mengambil sebutir nasi di pipi Hilya.
Wajah Hilya pun merona karena malu. Gadis itu ikut mengusap pipinya yang tadi disentuh Nathan dengan jemarinya.
"Makasih," kata Hilya lirih.
"Sama-sama," sahut Nathan sambil tersenyum.
"Jadi Nicko itu Adikmu, pantesan Kalian mirip," kata Hilya.
"Iya. Adik satu-satunya. Kesayangan keluarga yang ternyata tega ngelangkahin Kakaknya cuma karena Kakaknya belum bisa meyakinkan wanita yang disukainya selama ini," kata Nathan yang lebih mirip sindiran daripada jawaban.
"Siapa ?" tanya Hilya tak mengerti.
__ADS_1
"Apanya ?" tanya Nathan sambil menatap Hilya.
"Ck, ya wanita yang disukai Kakaknya Nicko," sahut Hilya dengan enggan.
Nathan mengerutkan keningnya karena tak menyangka Hilya akan bertanya seperti itu. Nampaknya Hilya belum menyadari jika yang mereka bicarakan ada di hadapannya.
"Penasaran ?" tanya Nicko sambil tersenyum simpul.
"Ga juga. Ga usah dikasih tau karena itu ga penting buatku," kata Hilya sambil bangkit dari duduknya lalu bergegas menyusul Anna dan Ramadhanti.
Nathan nampak menganga sambil menatap Hilya yang menjauh darinya. Sedangkan di sisi lain terlihat Fikri dan Nicko yang tertawa terbahak-bahak melihat Nathan ditinggalkan begitu saja oleh Hilya.
\=\=\=\=\=
Fikri dan Ayu nampak berbaring di tempat tidur mereka. Sedangkan Arafah telah terlelap di tempat tidur lain yang ada di sisi sebelah kiri tempat tidur.
Sejak malam dimana Fikri 'bertempur' dengan hantu kuyang itu, sejak malam itu pula kekhawatiran Fikri jika makhluk itu kembali semakin besar. Ia tak ingin jauh dari anak dan istrinya karena khawatir dengan keselamatan mereka. Karenanya ia memutuskan tidur satu kamar dengan mereka di kamar yang sama walau beda tempat tidur.
Namun hingga jauh malam Fikri tak bisa memejamkan mata. Pikirannya terus mengembara pada masa lalunya yang pahit.
Fikri ingat peristiwa saat ia mulai menyadari dirinya berbeda karena tinggal di panti asuhan. Fikri kecil, yang saat itu masih bernama Saba, kerap bingung melihat dirinya ada di sebuah tempat dengan jumlah penghuni yang banyak dan semuanya tak memiliki hubungan darah satu sama lain. Sedangkan di saat yang sama ia menyaksikan anak seusianya hidup dan tinggal di rumah dengan kedua orangtuanya dan dua saudaranya.
Semuanya berubah saat sepasang suami istri datang dan mengadopsinya. Mereka memberi kasih sayang yang Fikri butuhkan selama ini. Dan sejak usia tujuh tahun saat mendaftar Sekolah Dasar, Fikri memiliki nama lengkap yaitu Muhammad Fikri Saba, yang merupakan nama gabungan dari pemberian orangtua angkatnya dan nama lahirnya.
Namun kebahagiaan Fikri kembali terenggut saat ia remaja. Kedua orangtua angkatnya meninggal dunia dalam ssbuah kecelakaan.
Beruntung ustadz Zulkifli yang merupakan sahabat ayah angkatnya hadir menjadi penyelamat hidupnya. Ustadz Zulkifli memberi kasih sayang tulus. Merawat, mendidik dan mensuport Fikri hingga ia bisa meraih gelar Sarjana Agama. Bahkan ustad Zulkifli memberinya pekerjaan dan membantu mempersiapkan pernikahannya dengan Ayu. Fikri menganggap ustadz Zulkifli sebagai ayah yang disambut dengan senang hati oleh sang ustadz.
Hingga kemudian Bayan dan keluarganya datang menyempurnakan hidupnya. Fikri pun makin bahagia.
Namun sejak menghadiri lamaran Nicko dan Ramadhanti, Fikri merasa ada sesuatu yang kurang. Jika ia memiliki ayah yang juga kembaran Bayan, lalu dimanakah ibunya. Pertanyaan itu terus menggema di kepala Fikri dan membuatnya gelisah.
\=\=\=\=\=
__ADS_1