Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
212. Kembar Tiga


__ADS_3

Setibanya di Rumah Sakit Nathan bergegas menemui Hilya di kamar rawat inap. Saat itu Hilya ditemani tiga sepupu laki-lakinya yaitu Varel, Angga dan Bima. Mereka menyambut Nathan dan mencium punggung tangannya dengan takzim.


"Makasih ya udah nemenin Kak Hilya," kata Nathan sambil tersenyum pada tiga sepupu Hilya itu.


"Sama-sama Bang. Ini mah bukan apa-apa. Kami sanggup kok kalo disuruh jagain Anak Kalian juga nanti. Iya kan Rel, Bim ?" tanya Angga sambil menatap Varel dan Bima bergantian.


"Dih, ngaco Lo. Siapa yamg mau jadi baby sitter sih. Kalo mau cari muka tuh kira-kira lah Ga. Lagian Bang Nathan mana percaya Anaknya dijagain sama Kita yang begajulan kaya gini !" sahut Bima ketus.


Jawaban Bima tentu ssja membuat Nathan dan Hilya tertawa. Sedangkan wajah Angga nampak merona karena malu.


"Gimana kondisimu Sayang, apa dokter Abraham ada bilang sesuatu tadi ?" tanya Nathan usai mengecup kening Hilya.


"Alhamdulillah baik. Tadi dokter Abraham cari Kamu sih. Mumgkin ada baiknya Kamu nemuin beliau secepatnya," kata Hilya.


"Ok, Aku ke ruangan dokter Abraham dulu sekarang. Dan Kalian tolong jaga Kak Hilya lagi ya," kata Nathan sambil melangkah menuju pintu.


"Siap Bang !" sahut tiga sepupu Hilya bersamaan.


Nathan pun tersenyum lalu bergegas menemui dokter Abraham di ruangannya.


Kedatangan Nathan disambut senyum lebar sang dokter. Pria tersebut mempersilakan Nathan duduk.


"Ada apa dok. Apa ada masalah sama kehamilan Istri Saya ?" tanya Nathan cemas.


"Begini Mas Nathan. Hari ini Saya terpaksa melakukan USG karena Mbak Hilya sempat ngedrop tadi," kata dokter Abraham.


"Iya dok, Saya tau. Maaf kalo ga bisa dateng tadi. Ada hal penting yang harus Saya lakukan dulu. Pas Saya mau jalan ke sini Hilya malah ngelarang. Katanya semua udah ok," sahut Nathan tak enak hati.


"Gapapa Mas. Saya ngerti kok. Untungnya Mbak Hilya juga ga rewel tadi. Jadi waktu Saya bilang akan melakukan USG, Mbak Hilya langsung setuju," kata dokter Abraham sambil tersenyum.


"Terus kenapa dok ?" tanya Nathan tak sabar.


"Ada dua kantong janin lainnya yang sedang berkembang di rahim Mbak Hilya," sahut dokter Abraham sambil memperlihatkan video rekaman hasil USG kepada Nathan.


Nathan mengamati video rekaman USG dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat bayinya tumbuh besar dan tampak mulai terbentuk sempurna sedangkan dua lainnya masih berupa gumpalan yang berdenyut.


"Masya Allah. Ini ... artinya apa dok ?" tanya Nathan beberapa saat kemudian.

__ADS_1


"Artinya Mbak Hilya hamil anak kembar Mas. Kemungkinan kembar tiga, tapi sayangnya dua janin lain perkembangannya terlambat," sahut dokter Abraham.


Ucapan dokter Abraham membuat Nathan tersenyum bahagia. Ia tak menyangka jika akan memiliki anak kembar dan itu tiga sekaligus. Namun sesaat kemudian senyum Nathan memudar karena ingat ancaman yang berkeliaran di sekitar Hilya.


"Gimana Mas Nathan ?" tanya dokter Abraham.


"Saya senang dok. Tapi ..., apa itu ga bahaya buat Hilya. Apalagi dia baru aja jatuh beberapa hari yang lalu. Dan dua bayi lainnya itu, apa bisa berkembang dengan baik jika kondisi fisik dan mental Ibunya ga stabil dok ?. Apa kehadirannya juga ga membahayakan bayi pertama yang udah tumbuh itu ?" tanya Nathan hati-hati.


Pertanyaan beruntun Nathan membuat dokter Abraham tersenyum. Awalnya ia mengira Nathan akan meminta agar mereka fokus pada satu bayi saja. Tapi ternyata Nathan memikirkan keselamatan istri dan ketiga bayinya itu sekaligus.


"Insya Allah ga membahayakan Mbak Hilya. Sebelumnya banyak juga wanita yang mengalami hal kaya gini Mas. Mereka baru tau sedang hamil bayi kembar justru saat kehamilan mulai besar. Jangan khawatir sama fisik Mbak Hilya. Fisiknya cukup kuat untuk membesarkan tiga bayi di dalam rahimnya. Cuma dia harus istirahat total karena gerakan sekecil apa pun bisa membuat posisi salah satu bayinya ga aman. Kami akan membantu mengawasi agar perkembangan tiga bayi bisa seimbang dan normal. Yang penting sekarang menjaga ketiga bayi tersebut agar tetap hidup dan mendapat asupan makanan yang cukup dari Ibunya," kata dokter Abraham menjelaskan.


"Jadi dua bayi lainnya bisa ikut tumbuh bersama bayi pertama dok ?. Terus apa waktu kelahiran mereka juga sama ?" tanya Nathan tak mengerti.


"Kita liat nanti ya Mas. Harusnya bayi lahir di hari yang sama. Tapi bisa saja dua bayi lainnya memilih sendiri hari lahirnya," gurau dokter Abraham untuk mencairkan suasana.


Nathan pun tertawa. Ketegangan di wajahnya memudar karena mendengar penuturan dokter Abraham yang tenang itu.


Rupanya penjelasan dokter Abraham membuat Nathan tenang sekaligus bahagia. Ia nampak mengusap wajahnya perlahan lalu tersenyum.


"Baik Mas Nathan. Insya Allah Saya dan team akan bekerja keras mengawal Mbak Hilya hingga proses persalinan nanti. Dan Kami perlu kerja sama dari Mas Nathan dan keluarga untuk ikut menjaga Mbak Hilya nanti," kata dokter Abraham.


"Makasih dok," kata Nathan sambil memeluk sang dokter saking bahagianya.


"Sama-sama Mas," sahut dokter Abraham sambil mengusap punggung Nathan dengan lembut.


Setelahnya Nathan keluar dari ruangan dokter Abraham. Ia berlari kecil karena tak sabar ingin memberi tahu kabar gembira ini pada Hilya. Namun kumandang adzan Maghrib menghentikan langkahnya. Nathan pun mengubah haluan. Ia mengayun langkahnya menuju masjid untuk menunaikan sholat Maghrib berjamaah lebih dulu.


Setelahnya Nathan kembali ke kamar dan melihat hanya Varel yang ada di sana. Remaja itu sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Lho kemana Kak Hilya ?" tanya Nathan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan sang istri.


"Lagi pipis Bang. Kalo Bima sama Angga lagi sholat," sahut Varel.


"Oh gitu. Terus ngapain Kamu berdiri di sini ?" tanya Nathan.


"Nungguin Kak Hilya lah. Aku khawatir Kakak jatuh," sahut Varel cepat hingga membuat Nathan tersenyum.

__ADS_1


"Biar Abang yang nungguin Kak Hilya. Sekarang Kamu sholat dulu gih," kata Nathan sambil menepuk pipi Varel.


"Ok Bang. Aku sekalian mau makan juga ya Bang, lapar nih ...," kata Varel sambil mengusap perutnya.


"Iya Iya. Nih, tolong beliin Abang makan sekalian ya. Apa aja yang penting enak," kata Nathan sambil menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah.


"Banyak banget Bang," kata Varel sambil mengerutkan keningnya.


"Itu buat bayarin makannya Angga sama Bima juga Rel," sahut Nathan.


Varel nampak membulatkan mulutnya sambil mengangguk. Kemudian Varel bergegas keluar dari ruangan itu.


Pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan wajah Hilya. Ia tersenyum melihat Nathan yang berdiri menunggunya.


"Eh, udah ganti ya. Tadi Varel sekarang Kamu," kata Hilya.


"Iya. Varel biar sholat Maghrib dulu. Waktunya udah hampir habis tuh," sahut Nathan sambil menggendong Hilya ke tempat tidur.


"Terus apa kata dokter Abraham Bang ?" tanya Hilya kemudian.


"Emangnya dokter ga ngomong apa-apa sama Kamu tadi ?" tanya Nathan.


"Ga sempet. Ada pasien yang mau operasi Caesar tadi," sahut Hilya.


Nathan pun menyampaikan isi pembicaraannya dengan dokter Abraham tadi. Hilya mendengarkan dengan serius hingga tak sadar air mata turun menganak sungai di pipinya. Melihat itu membuat Nathan iba lalu bergegas menarik Hilya ke dalam pelukannya.


"Kamu nangis, apa Kamu sedih Sayang ?. Bilang sama Aku kalo Kamu ga mau mereka. Biar nanti Aku bilang sama dokter Abraham untuk mencegah mereka tumbuh," kata Nathan sambil mengusap kepala Hilya.


"Jangan Bang, Aku mau mereka !" sahut Hilya sambil melepaskan pelukan suaminya.


"Yakin ?" tanya Nathan sambil menatap Hilya lekat.


"Yakin Sayang. Aku nangis karena bahagia. Anakku ga akan sendirian seperti Aku dulu. Sebelum Varel, Angga dan Bima datang, Aku sendirian dan kesepian di rumah. Makanya Aku selalu berdoa supaya bisa punya Anak banyak nanti. Dan Allah mengabulkan doaku sekarang," sahut Hilya malu-malu.


Jawaban Hilya membuat Nathan tertawa. Kini ia tak ragu lagi untuk menyambut ketiga bayinya karena Hilya bersedia melahirkan mereka.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2