
Sementara itu di sebuah ruangan terlihat seorang wanita sedang mengamati pantulan wajahnya di cermin. Wanita itu adalah Rosi. Ia mendesis saat meraba pipinya yang tergores entah karena apa.
"Ini kenapa sih. Rasanya kok perih banget," gumam Rosi sambil mengamati pipinya yang memiliki luka memanjang.
Rosi tersentak saat kilasan peristiwa melintas di kepalanya. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan saat ingat darimana luka itu berasal.
"Itu ... Aku ?" gumam Rosi tak percaya.
Rosi teringat kejadian kemarin sore.
Usai membantu mendudukkan Ayu di kursi roda, Rosi pun bergegas menemui Hilya. Saat itu kebetulan Hilya sedang memeriksa pasiennya.
Rosi mematung di ambang pintu saat melihat perut buncit sang pasien. Entah mengapa ada rasa lapar yang aneh yang mendera Rosi hingga membuatnya menelan saliva. Rosi tersentak saat Hilya memintanya menutup pintu.
"Tolong tutup pintunya Bu. Pasien Saya malu kalo dilihat orang yang ga berkepentingan," kata Hilya.
"Oh i-iya Mbak. Maaf," sahut Rosi gugup.
"Iya gapapa. Sekarang Mbak Ayu udah dibawa ke ruang bersalin kan ?. Saya bakal ke sana setelah ini. Ibu duluan aja," kata Hilya sambil membantu pasiennya duduk.
"Iya Mbak," sahut Rosi lalu segera menutup pintu.
Bukannya menemui Ayu dan Fikri untuk memberi tahu apa yang Hilya katakan, Rosi justru lari ke kamarnya dan sembunyi di sana. Saat itu Rosi berusaha menguasai dirinya. Tubuhnya gemetar, wajahnya memucat, ada rasa aneh di tenggorokannya yang membuat Rosi menggeliat gusar.
Dan setelahnya Rosi tak ingat apa pun karena ia jatuh pingsan. Di dalam pingsannya Rosi seperti melihat dirinya sendiri tengah melayang terbang di langit-langit kamar. Rosi tak mengerti. Apalagi di saat bersamaan ia juga melihat tubuhnya tergeletak tanpa kepala di lantai.
Saat Rosi dilanda kebingungan, tiba-tiba aroma darah yang sangat pekat menyeruak menyapa indra penciuamannya. Rosi menyeringai lalu melesat keluar dengan cepat meninggalkan kamar.
Rosi melayang sambil mengendus aroma darah yang menyeruak di udara. Ia mengikuti arah sumber aroma itu berasal. Dan tak butuh waktu lama Rosi berhasil menyelinap masuk ke dalam ruang bersalin dimana aroma darah itu berasal.
__ADS_1
Rosi melonjak senang saat menyaksikan proses persalinan tengah berlangsung. Saat sang jabang bayi lahir Rosi tak kuasa mengendalikan diri. Aroma darah sang bayi yang manis dan lezat itu memancingnya untuk mendekat.
Seolah alam berpihak padanya. Saat ia hendak menerobos ke bagian bawah tubuh wanita itu tiba-tiba listrik padam. Dan kesempatan itu dimanfaatkan sebaik mungkin olehnya.
Rosi pun dengan leluasa menyeruak masuk ke bawah sana untuk memangsa sang bayi. Bayi yang semula menangis itu pun terkejut lalu terdiam saat Rosi mendekat kearahnya. Untuk sejenak tatapan mereka bertemu. Rosi merasa ada sesuatu yang aneh pada tatapan sang bayi.
Namun Rosi terkejut saat sebuah benda mengenai wajahnya. Rosi melirik kesal kearah benda yang berupa untaian berbentuk bulat dan terbuat dari kayu itu. Apalagi Rosi merasa panas dan perih saat benda itu mengenainya tadi.
Benda yang kemudian Rosi ketahui sebagai tasbih itu tak hanya menimbulkan rasa perih tapi juga mengeluarkan angin panas yang membuat Rosi mundur. Dan sesaat kemudian Rosi terpaksa keluar dari ruangan itu karena merasa tak aman berlama-lama di sana.
Rosi menghela nafas kuat saat ingatannya berlalu. Ia kembali menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Jadi luka ini gara-gara dia. Dia yang melakukannya," gumam Rosi kesal sambil meringis menahan sakit.
Seolah ada yang menuntunnya, Rosi menjilat ujung jarinya lalu menyentuh lukanya. Rupanya Rosi membasahi luka memanjang di wajahnya itu dengan air liurnya. Ajaib. Luka itu hilang dengan cepat dan tak meninggalkan bekas sama sekali.
"Ternyata gampang banget menghilangkan luka ini," gumam Rosi di sela tawanya.
Setelah mematut diri sebentar, Rosi pun keluar dari kamarnya dengan rasa percaya diri yang tinggi.
\=\=\=\=\=
Bayan, Nathan dan Fikri sama sekali tak mencurigai Rosi sebagai wanita siluman. Selain karena mereka tak menemukan luka bekas sabetan tasbih di wajah atau leher Rosi, wanita itu juga tampak tenang seolah tak pernah
Saat Rosi melintas di depan Fikri, ia terlihat tenang. Bahkan ia menyapa beberapa pasien dengan ramah. Dan itu membuat Fikri mencoret namanya dari daftar nama orang yang patut dicurigai.
Fikri hampir frustasi karena gagal menemukan siapa wanita yang menjelma jadi kuyang malam itu. Apalagi Bayan dan Nathan juga tak mendapat petunjuk siapa kah orang yang telah berniat mencelakai Ayu dan bayinya.
"Ini udah seminggu Bang. Aku sama sekali ga nemuin orang yang mencurigakan di Klinik," kata Nathan.
__ADS_1
Nathan bicara seperti itu karena selama seminggu dia kerap datang saat jam makan siang hanya karena ingin memastikan Hilya makan dengan baik. Setelah melihat Hilya makan siang dan minum obat, Nathan akan kembali ke kantor.
"Iya. Abang juga ga nemuin apa-apa selama tiga hari nemenin Ayu di Klinik. Semua keliatan wajar dan berjalan sebagaimana mestinya. Karyawan, pasien, keluarga pasien dan pengunjung semuanya udah Abang amati tapi ga ada sesuatu pun yang aneh," sahut Fikri putus asa.
"Gapapa Anak-anak, ga usah patah semangat. Ini kan baru langkah awal," kata Bayan menenangkan Nathan dan Fikri.
"Tapi Aku khawatir akan banyak korban lain yang berjatuhan kalo siluman itu ga segera dibasmi Yah," sahut Fikri.
"Betul Yah. Hilya kan lagi hamil juga sekarang. Aku ga bisa bayangin siluman itu berkeliaran di sekitar sini dan mencelakai Hilya dan pasiennya nanti," kata Nathan.
Bayan menganggukkan kepala. Ia mengerti kekhawatiran Nathan dan Fikri. Jauh di lubuk hatinya Bayan juga khawatir pada cucu dan menantunya juga semua wanita hamil yang jadi pasien di Klinik Bersalin Hilya. Tapi dia tak mungkin bertindak gegabah bukan ?.
"Ayah ngerti. Tapi Kita ga bisa gegabah menuduh orang sebagai siluman kan. Keliatannya siluman kali ini lebih pintar dan cerdik. Buktinya dia bisa sembunyi di sini tanpa Kita sadari," kata Bayan.
"Maksud Ayah siluman itu tinggal di sekitar Kita ?" tanya Nathan sambil membulatkan mata tak percaya.
"Dugaan Ayah sementara ini ya begitu," sahut Bayan.
"Kenapa Ayah yakin kalo orang itu ada di sekitar Kita ?" tanya Fikri tak mengerti.
"Karena siluman itu bisa langsung bergerak saat ada proses persalinan berlangsung. Sampe di sini Kalian paham kan maksud Ayah?" tanya Bayan sambil menatap Nathan dan Fikri lekat.
Nathan dan Fikri saling menatap. Keduanya tampak bingung sejenak lalu mengangguk kemudian.
"Biar saja dia tertawa sekarang. Dia selamat karena jejaknya tak terendus sama sekali kali ini. Tapi cepat atau lambat Kita pasti bakal tau siapa dia," kata Bayan mantap sambil menatap kedua anaknya.
Ucapan Bayan membuat semangat Nathan dan Fikri yang sempat layu itu kembali berkobar. Keduanya pun mengangguk sambil tersenyum penuh makna.
\=\=\=\=\=
__ADS_1