
Bayan pun mundur saat Nathan mengulurkan tangannya untuk membantu Rosi. Ia hanya menatap Nathan dan Rosi masuk ke dalam rumah tanpa berniat membantu sedikit pun meski saat itu Nathan sedikit kesulitan memapah Rosi.
Setelah mengantar Rosi ke dalam rumah, Nathan pun bergegas kembali menemui ayahnya yang menunggu di dalam mobil.
"Alhamdulillah beres. Kita bisa pulang sekarang Yah," kata Nathan sambil menutup pintu mobil.
"Ke Rumah Sakit Nath !" kata Bayan mengingatkan.
"Iya Yah, itu maksudku," sahut Nathan sambil tersenyum.
"Gimana, apa dia mau ditinggal sendirian ?" tanya Bayan kemudian.
"Mau banget Yah. Pas Aku buka pintu aja wajahnya Bu Rosi keliatan antusias. Dia setuju ditinggal di sana karena merasa bertemu sama Mama Senja katanya," sahut Nathan sambil tersenyum getir.
Jawaban Nathan membuat Bayan menghela nafas panjang. Bayan memang meminta Nathan mengantar Rosi ke 'rumah lama' yang berada tepat di samping rumah baru yang biasa dia dan keluarganya kunjungi. Meski pun begitu rumah lama itu masih terawat dengan baik dan sering digunakan untuk tidur oleh Nathan dan Nicko saat mereka bermalam di sana dengan teman-teman mereka.
Bayan memang tak pernah masuk ke rumah lama dimana hidup Senja berakhir karena tak ingin mengingat luka lama. Biasanya Bayan hanya menatap rumah itu dari luar seperti sekarang atau dari jendela rumah baru.
Bayan sengaja membangun rumah lain di peternakan dengan ukuran yang lebih besar daripada rumah lama.
"Kita membutuhkan rumah yang lebih besar untuk keluarga kecil Kita agar kedua jagoanku itu bisa leluasa bermain," kata Nathan saat Anna bertanya mengapa ia membangun rumah baru di peternakan itu.
Suatu saat Anna bertanya mengapa Bayan tak pernah mau masuk ke rumah lama, jawaban Bayan pun membuat Anna tersentuh.
"Kaya orang yang ga pandai bersyukur aja. Allah udah kasih Aku Istri yang cantik dan Anak-anak yang hebat, tapi Aku masih meratapi Senja berkepanjangan. Jujur Aku memang ga bisa membohongi hatiku. Tiap kali masuk ke rumah itu justru ingatanku pada kenangan terakhir Kami semakin membayang. Aku khawatir itu mempengaruhi mentalku sebagai Suami sekaligus Ayah. Aku ga mau menyakiti Kamu dan Anak-anak, makanya Aku memilih ga masuk ke sana," sahut Bayan kala itu.
Dan malam ini Bayan merasa lelah karena berkali-kali dipaksa mengingat semua kenangannya bersama Senja.
"Ayah gapapa kan ?. Apa Ayah sakit ?" tanya Nathan saat melihat sang ayah menyandarkan tubuh sambil memejamkan mata.
"Insya Allah Ayah gapapa Nath. Fokus lah mengemudi, ga usah peduliin Ayah. Ayah cuma capek aja dan butuh istirahat," sahut Bayan.
__ADS_1
"Ga bisa begitu dong Yah. Aku harus peduli karena itu kan hakku. Gini aja, di depan sana Kita berhenti sebentar buat makan malam ya Yah. Ga boleh nolak karena Aku ga mau Ayah sakit nanti. Lagian kalo diinget-inget Ayah kan emang belum makan malan. Jadi wajar kalo Ayah merasa ga enak badan," kata Nathan.
"Iya, terserah Kamu Nath," sahut Bayan sambil terus memejamkan mata.
Nathan mengangguk lalu melajukan mobil lebih cepat ke tempat yang dimaksud.
Setelah makan malam yang tertunda itu, Bayan dan Nathan pun bergegas kembali ke Rumah Sakit untuk menemui Anna, Hilya dan ketiga anggota keluarga baru mereka di sana.
\=\=\=\=\=
Selama enam hari berturut-turut Bayan dan Nathan bergantian pergi ke peternakan untuk 'menjenguk' Rosi. Dan tiap kembali ke rumah, Bayan dan Nathan akan saling memberi kode lewat tatapan mata dan gelengan kepala. Tak seorang pun menyadari kode yang Bayan dan Nathan gunakan karena semua sibuk mengamati perkembangan si kembar.
Tiga bayi kembar Hilya dan Nathan memang sudah dibawa pulang ke rumah Bayan. Dan keluarga berencana menggelar aqiqah untuk ketiga bayi itu di hari ketujuh kelahiran si kembar.
Aqiqah akan digelar di aula bersama milik warga karena keluarga Bayan mengundang banyak tamu kali ini.
"Aqiqah tiga Anak sekaligus artinya bakal ada lima ekor kambing yang disembelih. Bisa dibilang ini aqiqah akbar karena digelar besar-besaran. Jadi bakal banyak hidangan juga kan. Ga ada salahnya Kita ngundang tamu lebih banyak kali ini. Selain grup pengajian dan warga di lingkungan Kita, Ayah juga mau ngundang Anak-anak dari panti asuhan untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka," kata Bayan tiga hari sebelum acara digelar.
"Aku setuju Yah," sahut Nathan antusias.
"Kalo gitu acara aqiqah ga bisa digelar di rumah Yah," kata Nathan.
"Ayah tau. Kita pake aula bersama milik warga aja. Sebelum dan setelah acara, Anak-anak dan Istrimu kan bisa tetap istirahat. Jadi mereka ga perlu terganggu sama hiruk pikuk orang yang beberes nanti," sahut Bayan.
"Iya Yah. Makasih," kata Nathan sambil memeluk sang ayah erat.
Bayan pun tersenyum lalu membalas pelukan Nathan.
"Tapi setelah ini jangan paksa Hilya untuk hamil lagi ya Nath. Kasian dia," gurau Bayan sambil mengurai pelukan.
"Iya Yah. Tiga Anak ini sudah mewakili keinginanku. Aku dan Hilya bakal tutup pabrik alias stop berproduksi setelah ini. Iya kan Sayang ?!" kata Nathan sambil menatap Hilya dengan tatapan lembut.
__ADS_1
"Iya," sahut Hilya malu-malu.
Semua orang di ruangan itu pun ikut tertawa mendengar ucapan Nathan dan Hilya.
"Jadi nama apa yang Kamu sematkan untuk ketiga bayimu Nath ?" tanya Bayan.
"Karena Hilya banyak berkorban selama kehamilan dan berjuang untuk melahirkan Anak-anakku, maka Aku menyematkan nama dengan awal huruf yang sama dengan nama Istriku ini Yah," sahut Nathan sambil merengkuh bahu Hilya dengan lembut.
"Oh ya, bagus itu !. Ayah setuju, sebagai laki-laki Kita memang ga boleh mengabaikan pengorbanan Istri Kita Nath," kata Bayan sambil mengacungkan jempolnya.
"Iya Yah. Nama si kembar cowok Hilal dan Hilman. Nah, untuk yang paling cantik ini Aku kasih nama Hanfa," sahut Nathan sambil tersenyum menatap ketiga bayinya yang terlelap di box masing-masing.
"Nama yang indah. Kalo boleh tau apa artinya Nath ?" tanya Anna.
"Hilal artinya bulan sabit Bund. Kan malam setelah mereka lahir Aku ngeliat ada bulan sabit di langit. Kalo Hilman artinya sabar dan bijaksana. Nah kalo Hanfa itu nama Istrinya Nabi Ismail. Wanita yang Sholehah yang dipilih Allah untuk mendampingi Nabi yang mulia itu. Harapanku tentu saja setinggi langit Bund. Intinya semoga mereka bisa sukses di dunia dan akherat, jadi orang yang bijak dan sabar menjalani semua proses kehidupan dan selalu Istiqomah di jalan Allah," sahut Nathan sambil tersenyum.
"Aamiin ...," kata semua orang bersamaan.
"Nama indah untuk Cucuku, tentu saja Aku suka ...," gumam Anna kemudian.
\=\=\=\=\=
Sejak pagi semua orang terlihat sibuk. Karena kondisinya yang masih tak memungkinkan untuk mengurus bayinya seorang diri, maka Hilya dan Nathan sepakat menggunakan jasa baby sitter. Tujuan mereka hanya satu yaitu tak ingin merepotkan Anna atau nenek Hilya.
Tepat jam sembilan pagi ketiga bayi telah siap dengan pakaian kembar mereka yang berwarna biru laut. Hilya yang masih mengenakan kursi roda pun tampak telah rapi dengan gaun berwarna sama dengan ketiga bayinya. Di belakang Hilya terlihat Nathan yang juga mengenakan out fit berwarna biru laut. Nathan berdiri dengan gagah dan siap mendorong kursi roda sang istri.
"Gapapa kalo Kita jalan kaki aja ke sana kan Sayang ?" tanya Nathan.
"Gapapa dong. Aku juga mau Anak-anak kenal sama lingkungannya sejak dini. Lagian ini masih pagi, cahaya matahari pagi kan bagus untuk bayi," sahut Hilya sambil tersenyum.
"Ok deh. Kalo gitu Kita berangkat sekarang ya Ibu-ibu !" kata Nathan sambil menatap ketiga baby sitter di hadapannya bergantian.
__ADS_1
"Siap Pak !" sahut ketiga baby sitter bersamaan.
\=\=\=\=\=