Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
71. Permintaan Atau Perintah ?


__ADS_3

Hari itu Bayan dan Rama berniat kembali ke Jakarta. Nathan dan teman-temannya tentu saja merasa kecewa.


"Pekerjaan Kami udah numpuk dan Kami harus segera pulang. Apalagi ada klien Ayahmu yang mau ketemu besok," kata Rama sambil meneguk kopinya perlahan.


"Segitu sibuknya sampe istirahat dua hari aja ga bisa ya Om," kata Mario setengah tak percaya.


"Sebenarnya bisa aja Kami tinggal sehari lagi di sini. Tapi imbasnya bakal banyak orang yang dirugikan karena besok waktunya gajian juga. Sedangkan bendahara ga bisa ngeluarin uang tanpa persetujuan Direktur Utama," sahut Rama sambil melirik kearah Bayan.


Bayan nampak memgangguk mengiyakan ucapan sahabatnya itu. Nathan dan teman-temannya pun akhirnya mengerti mengapa Bayan dan Rama harus pulang hari itu.


Seolah tahu jika ada hal pribadi yang ingin dibicarakan oleh Bayan dengan anaknya, Rama pun mengajak teman-teman Nathan bicara di teras rumah.


"Apa ada yang mau Ayah omongin sama Aku Yah ?" tanya Nathan setelah semua orang berlalu.


"Mmm ..., Ayah cuma mau tanya seberapa seriusnya Kamu sama Ira. Mau deket aja atau ada niat mau sampe pelaminan ?" tanya Bayan sambil menatap Nathan lekat.


"Ayah kok nanyain itu sih. Apa ga terlalu dini ya. Soalnya Aku sama Ira kan belum lulus Yah. Ira aja baru mau tingkat dua. Kayanya Kami juga belum ada omongan ke sana," sahut Nathan malu-malu.


"Ga ada yang namanya terlalu dini. Anak SMP aja ada yang nikah cepet gara-gara penasaran pengen coba-coba, eh ga taunya ceweknya hamil. Kalo udah gitu, mau ga mau ya harus dinikahin biar bayinya punya status," kata Bayan cepat.


"Tapi Aku sama Ira kan bukan anak SMP Yah. Kami udah dewasa dan tau batasan kok," kata Nathan membela diri.


"Justru karena Kamu udah dewasa makanya Ayah jadi lebih khawatir. Biasanya pria yang matang dan dewasa kalo sekali begituan bisa langsung jadi lho Nak," kata Bayan mengingatkan.


"Ck, apaan sih Ayah," sahut Nathan gusar.


Sikap Nathan mau tak mau membuat Bayan tertawa. Ia bahagia anak sulungnya paham apa yang dia bicarakan. Nathan yang semula terlihat tegang pun perlahan ikut tersenyum saat menyadari dirinya ditertawai sang ayah.


"Mmm ... menurut Ayah, Ira itu baik ga untuk Aku ?" tanya Nathan hati-hati.

__ADS_1


"Kamu mau jawaban jujur atau yang menghibur ?" tanya Bayan sambil menatap Nathan dengan tatapan tajam.


"Yang jujur dong Yah. Walau terdengar menyakitkan, tapi itu lebih baik. Daripada menghibur tapi ga enak buntutnya," sahut Nathan cepat.


Bayan pun menganggukkan kepalanya mendengar permintaan Nathan. Karena merasa apa yang akan dibicarakan dengan Nathan terlalu pribadi dan rahasia, Bayan pun mengajak Nathan keluar sambil mengendarai mobil. Dan selama di perjalanan Bayan dan Nathan sama sekali tak bicara. Bayan baru bicara setelah ia menghentikan mobilnya di pinggir ladang sayuran milik warga yang letaknya tak jauh dari rumah kost.


"Putusin Ira. Dia bukan gadis yang tepat untuk Kamu. Terlalu banyak rahasia yang dia simpan dan Ayah ga mau Kamu terluka nanti," kata Bayan tegas hingga membuat Nathan terkejut.


Untuk sejenak Nathan menatap sang ayah dengan tatapan tak mengerti. Ia harus memastikan ucapan sang ayah barusan adalah permintaan atau perintah.


"Maksud Ayah rahasia tentang apa Yah ?, masa lalunya atau kehidupan keluarganya atau ....,"


"Semuanya !" kata Bayan cepat.


Nathan menggelengkan kepala mendengar jawaban sang ayah. Ia tak mengerti mengapa sang ayah memintanya mengakhiri hubungan dengan Ira. Padahal sang ayah tampak menerima Ira saat mereka bertemu pertama kali.


Untuk sejenak Bayan dan Nathan saling menatap. Saat itu lah Bayan menyadari jika Nathan bukan lah anak kecil yang manis yang selalu patuh pada semua ucapannya. Meski ada pemberontakan dalam sinar matanya, Bayan senang karena itu tandanya Nathan adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan memiliki prinsip.


Setelah menghela nafas panjang Bayan pun mengatakan alasannya. Nathan mendengarkan ucapan sang ayah sambil berpikir keras. Sesekali ia ingin menyangkal ucapan sang ayah. Namun ia tahu jika ia harus bersabar mendengarkan hingga sang ayah selesai bicara.


"Aku ga percaya kalo Ira adalah siluman. Ayah jangan mengaitkan Ira karena Nicko cerita pernah ngeliat kuyang di sini. Atau karena Ayah tau ada kematian perempuan melahirkan di sekitar rumah makanya Ayah nuduh Ira lah pelakunya !" kata Nathan tak terima.


"Kamu meragukan penilaian Ayah Nak ?!" tanya Bayan gusar.


"Maaf Yah. Yang Ayah bilang tadi, soal wanita cantik yang memiliki aroma siluman kuyang, itu bukan Ira Yah. Bukannya Ayah udah ketemu sama Ira sebelumnya. Dan kejadian Ayah ketemu wanita itu kan sore setelah paginya Aku ngenalin Ira sama Ayah. Apa Ayah lupa itu ?!" tanya Nathan.


"Ayah ingat Nak. Tapi tolong percaya sama Ayah, Ira bukan manusia. Dia wanita jelmaan kuyang. Dan kuyang itu bisa tampil dalam wujud mirip siapa pun yang dia inginkan. Ayah ga tau kenapa Ira pura-pura jadi orang lain. Entah karena ingin ngetes Ayah atau apa. Tapi tolong jangan ragukan Ayah. Dan Kamu harus inget janji Kamu dulu di Jakarta. Kamu masih inget kan ?" tanya Bayan sambil mengguncang lengan Nathan.


Nathan terdiam. Ia teringat akan janjinya dulu bahwa ia akan percaya pada ayahnya jika sang ayah mengatakan siluman itu ada di sekitarnya.

__ADS_1


Tiba-tiba Nathan teringat jika ayahnya bisa mengenali seseorang yang merupakan siluman kuyang berdasarkan pengalaman pribadi. Meski pun hingga detik ini Nathan tak tahu pengalaman buruk seperti apa yang bisa membuat ayahnya paham dan hapal dengan aroma siluman kepala tanpa tubuh itu.


"Sebentar Yah. Ayah bilang Ayah bisa tau seseorang itu siluman kuyang atau bukan setelah Ayah mencium aroma tubuhnya. Iya kan ?" tanya Nathan.


"Betul. Itu salah satu sebabnya Ayah suruh Kamu putusin Ira," sahut Bayan.


"Tapi waktu Ayah ketemu Ira pagi itu, Ayah ga komentar apa-apa. Wajah Ayah juga biasa aja. Apa menurut Ayah ini ga keterlaluan ?. Tolong bilang aja kalo Ayah ga suka Aku menjalin hubungan sama Ira, ga usah pake alasan kalo Ira itu siluman segala !" kata Nathan ketus dan itu membuat Bayan naik pitam.


"Ayah ga bisa mengendus aroma Ira pagi itu karena tersamar dengan bau mpek-mpek dan kerupuk ikan yang Ira bawa !" kata Bayan kesal.


Ucapan Bayan membuat Nathan terkejut. Dalam hati ia sulit mempercayai ucapan sang ayah meski ia ingin.


Sadar akan sulit membujuk Nathan, Bayan pun mengalah. Toh selagi Nathan tak melakukan hubungan int*m dengan Ira, Nathan akan selamat.


"Baik lah. Ayah ga akan maksa Kamu buat percaya. Ayah ngasih Kamu kesempatan untuk mencari tahu sendiri nanti. Kalo omongan Ayah terbukti benar, putusin Ira saat itu juga. Gimana, deal ga ?" tantang Bayan sambil mengulurkan tangannya.


Nathan bimbang sejenak. Namun mendapat tantangan dari ayahnya membuat jiwa lelakinya bangkit. Nathan tak ingin dianggap pengecut. Karenanya ia pun mengangguk mengiyakan tantangan sang ayah.


"Ok. Kalo ternyata Ira adalah siluman kuyang seperti yang Ayah bilang itu, Aku bakal pindah secepatnya dari kost an itu !" kata Nathan sambil menjabat erat telapak tangan sang ayah.


"Bagus !. Tapi satu yang Ayah minta, simpan rahasia ini untuk dirimu sendiri. Jangan kasih tau siapa pun meski pun itu sahabat terdekatmu !" pinta Bayan.


Saat Nathan hendak membuka mulut untuk protes, Bayan pun memotong cepat.


"Karena Ayah juga ga pernah cerita apa pun tentang siluman kuyang sama Om Rama atau Om Riko !" kata Bayan sambil menstarter mobilnya.


Nathan pun mengangguk sambil mengunci mulutnya. Nathan tetap membisu hingga mereka tiba di depan rumah kost.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2