Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
191. Kenapa Rosi ?


__ADS_3

Anna pun ikut menatap kearah yang dilihat Rosi. Ia langsung memasang wajah tak suka melihat Bayan tengah tertegun menatap Rosi. Anna masih cemburu dan marah. Karenanya Anna langsung masuk ke dalam klinik untuk menghindari Bayan.


"Ternyata benar. Rosi adalah selingkuhannya. Buktinya dia sampe ga bisa bergerak saking kagetnya tadi," batin Anna kesal.


Melihat Anna menyingkir membuat Bayan yang sempat mematung tadi bergegas mengejar Anna.


"Tunggu Bund ...!" panggil Bayan sambil mengejar Anna.


Anna tak peduli. Ia terus melangkah ke dalam klinik dan menghilang diantara kerumunan orang sambil terus menggendong Afiah.


Rosi hanya menggelengkan kepala melihat aksi kejar-kejaran antara Bayan dan Anna. Tampaknya Rosi tahu jika Bayan dan Anna adalah pasangan suami istri. Karena tak ingin ikut campur, Rosi pun menyingkir dari tempat itu.


Bayan duduk sambil mengamati pergerakan semua orang. Ia tersenyum saat Ayu menyapanya.


"Ayah mau jemput Bunda ya ?" tanya Ayu.


"Iya. Dimana Bunda sekarang ?" tanya Bayan.


"Ada di ruangannya Hilya," sahut Ayu.


"Oh gitu. Makasih ya Nak," kata Bayan sambil tersenyum lalu bergegas melangkah ke ruangan Hilya.


Hilya tersenyum menyambut Bayan. Namun sesaat kemudian ia paham jika tengah terjadi sesuatu antara Anna dan Bayan. Dan Anna tak bisa berkutik saat Hilya meninggalkan ruangan.


"Kenapa lari Bund ?" tanya Bayan sambil mendekati sang istri.


"Gapapa, iseng aja," sahut Anna asal.


"Jangan bohong. Kamu masih marah kan ?" desak Bayan.


Anna diam saja. Ia enggan membahas Rosi karena ia sudah bisa menduga apa jawaban suaminya saat melihat tatapan Bayan pada Rosi tadi.


"Aku ga kenal sama Rosi. Dia bukan siapa-siapa. Aku kaget ngeliat dia karena wajahnya mirip sama almarhumah Senja," kata Bayan tiba-tiba.

__ADS_1


Tentu saja ucapan Bayan mengejutkan Anna. Ia menatap Bayan lekat karena tak percaya dengan pengakuannya tadi. Tapi saat Bayan balas menatap matanya, Anna tahu jika saat itu Bayan berkata jujur.


"Senja ...," ulang Anna lirih.


"Iya. Tapi Aku yakin itu bukan Senja. Aku cuma bingung kenapa mereka begitu mirip. Padahal setau Aku Senja ga punya saudara kembar," kata Bayan gusar.


"Kenapa Kamu ga tanya aja langsung sama dia ?" tanya Anna kemudian.


"Emangnya boleh ?. Baru ngeliatin dia aja Kamu udah marah dan cuekin Aku dua hari, apalagi kalo Aku sampe ngobrol sama dia," kata Bayan sambil mendengus kesal.


Wajah Anna merona mendengar ucapan suaminya. Ia pun berdiri lalu memeluk Bayan dengan erat sebagai ungkapan permintaan maaf. Bayan pun tersenyum mengetahui kemarahan Anna telah mereda. Perlahan Bayan membalas pelukan Anna sambil mengusap punggungnya dengan lembut.


"Maaf," kata Anna.


"Iya," sahut Bayan.


"Ayo Aku temenin Kamu," kata Anna sambil mengurai pelukan.


"Katanya Kamu mau ngobrol sama Bu Rosi. Bukannya Kamu juga penasaran kenapa wajahnya mirip sama almarhumah Mbak Senja ?" tanya Anna.


"Ga usah. Aku ga mau bikin Kamu cemburu lagi. Ga enak tau," sahut Bayan cepat namun membuat Anna tertawa.


"Terus gimana ?" tanya Anna kemudian.


"Ya ga gimana-gimana. Biarin aja. Mungkin ini cuma kebetulan," sahut Bayan cepat hingga membuat Anna tersenyum.


Akhirnya Anna dan Bayan pun berdamai.


Dan sejak hari itu Bayan tak lagi berupaya mencari tahu jati diri Rosi yang sebenarnya. Bayan berpikir jika di dunia ini banyak orang yamg memiliki kemiripan dengan orang lain tak terkecuali Rosi. Karena konon katanya Allah memang menciptakan tujuh orang dengan kemiripan raga mendekati 99% dan tersebar di seluruh belahan dunia.


Selain itu Bayan merasa jika Senja adalah masa lalunya yang sudah seharusnya dilupakan karena masa kini dan masa depannya adalah Anna.


Mengetahui cara berpikir Bayan yang logis itu membuat Anna bahagia. Ia tak lagi mencurigai Bayan dan Rosi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Selama beberapa bulan tinggal di klinik, Rosi merasa aman dari sesuatu yang terus mengejarnya. Rosi tak tahu seperti apa wujudnya, tapi sesuatu itu membuatnya takut.


Namun malam itu, sesuatu yang sangat ingin Rosi hindari pun terjadi.


Kebetulan malam itu bulan purnama bersinar penuh di atas sana. Rosi nampak mondar-mandir di dalam kamar dengan gelisah. Sejak sore Rosi memang merasa ada sesuatu yang tak beres pada tubuhnya. Entah mengapa tubuhnya bereaksi berbeda pada pasien yang datang untuk memeriksakan kondisi kehamilannya di klinik Hilya tadi.


Seperti biasa Rosi memang membantu pasien yang hamil besar dengan menyodorkan sebuah kursi roda. Itu dilakukan pada pasien yang terlihat kepayahan saat berjalan. Dan kali ini Rosi melakukannya lagi pada pasien yang datang ditemani suaminya.


"Silakan pake kursi roda aja Pak," kata Rosi menawarkan.


"Oh iya, makasih Bu. Kebetulan Istri Saya emang lagi ga sehat sekarang. Makanya kondisinya jadi keliatan lebih lemah dari biasanya," sahut suami sang pasien.


Rosi pun tersenyum lalu membantu menahan kursi roda agar tak bergerak saat diduduki oleh sang pasien. Namun saat Rosi tak sengaja menghirup aroma tubuh pasien itu, Rosi nampak terkejut. Rosi merasa aroma tubuh sang pasien membuatnya 'ngiler' seolah sedang dihadapkan pada hidangan lezat yang menggugah selera.


Beberapa kali Rosi nampak menelan saliva karena merasa benar-benar tersiksa dengan perasaan aneh itu. Dan aroma sang pasien terus membayang di benak Rosi hingga malam. Rosi tak mengerti mengapa itu terjadi. Padahal jelas pasien yang dimaksud sudah meninggalkan klinik usai memeriksakan kehamilannya tadi.


Sekali lagi Rosi mendengus kesal. Ia berhenti melangkah sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang tergantung di dinding kamar.


Betapa terkejutnya Rosi saat mendapati sesuatu di cermin. Rosi melihat pantulan dirinya bukan lah dirinya. Ia tak mengenal sosok bayangan di cermin itu. Meski pun mengenakan out fit yang sama saat itu, tapi pantulannya di cermin terlihat sangat menakutkan untuk Rosi.


Saat itu Rosi melihat wajah yang menyeringai dengan lipatan kulit yang menebal di seluruh permukaan kulit. Rambut pada sosok mirip dirinya itu juga tampak berantakan. Saat Rosi amati, ia juga melihat ada semacam gigi taring yang mencuat di sela bibirnya. Tak hanya satu tapi ada dua pasang yang terletak di sudut atas kanan dan kiri bibirnya.


"Apa ini. Kenapa wajahku jadi begini ?" gumam Rosi panik sambil mendekatkan wajahnya ke cermin.


Dan sesaat kemudian sesuatu pun terjadi. Perlahan Rosi menyaksikan kepalanya lepas dari lehernya lalu melayang-layang di udara. Tak ada rasa sakit namun tetap saja Rosi ketakutan saat melihat pantulan bayangannya di cermin.


Sebuah kepala disertai organ tubuh bagian dalam yang menggantung di bawahnya tampak meninggalkan tubuh Rosi begitu saja lalu melesat keluar dengan cepat seolah ada sebuah kekuatan tak kasat mata yang memanggilnya. Rosi menangis. Bukan, Rosi menjerit lebih tepatnya. Namun Rosi terkejut saat menyadari suara jeritannya berbeda dari biasanya. Kali ini suara jeritan itu lebih mirip.suara geraman binatang buas.


Rosi ketakutan karena sesuatu yang memanggilnya terus menuntunnya pergi jauh meninggalkan raganya. Dari ketinggian Rosi bisa menyaksikan raganya yang tanpa kepala itu jatuh tersungkur ke lantai.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2