
Hari-hari berikutnya dilalui Rusti dengan penuh kegembiraan. Hidupnya terasa lebih berwarna sejak kehadiran Senja. Kehadiran Senja juga mampu mengajarkan Rusti tentang arti kasih sayang seorang ibu yang tak pernah Rusti rasakan selama ini.
Telah lama Rusti kehilangan simpati pada wanita hamil dan bayi. Rusti tak menyukai mereka dan terus memburu mereka. Namun semua berubah sejak kelahiran Senja. Rasa iba selalu membayangi. Apalagi jika Rusti membayangkan bayi yang dimangsanya itu adalah anak kandungnya sendiri.
Dan selama beberapa tahun kebiasaan Rusti memangsa bayi dan wanita hamil pun seolah menguap entah kemana.
Tapi saat usia Senja lima tahun, keinginan iblis itu datang lagi dan memaksa Rusti untuk 'berburu' lagi. Awalnya Rusti menolak, tapi keinginan itu sangat menggebu dan membuatnya tak berdaya. Hingga suatu malam akhirnya Rusti kalah dan kembali menuruti hawa na*sunya.
Saat itu Rusti sedang sakit. Tubuhnya lemah dan tak bertenaga. Berbagai macam cara dilakukan Genta untuk mengobati istrinya tapi gagal. Padahal sudah berhari-hari Rusti berbaring di tempat tidur hingga membuat sang anak bersedih hati.
Malam harinya saat semua tertidur, Rusti pun bangun lalu berjalan keluar rumah dengan tertatih-tatih. Semula Rusti hanya ingin mencari udara segar sambil duduk di teras rumah. Namun tak lama kemudian ia mendengar suara tangis bayi di kejauhan.
"Bayi siapa sih yang nangis malam-malam begini ?" tanya Rusti dalam hati sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.
Tiba-tiba aroma darah yang pekat menyeruak di udara dan mampir ke indra penciumannya hingga membuat Rusti tersentak lalu menegakkan tubuhnya. Beberapa kali Rusti nampak menelan salivanya pertanda aroma itu membuat 'selera makannya' bangkit.
Lalu tanpa bisa dicegah Rusti pun lari ke samping rumah. Sesaat kemudian siluman kuyang jelmaan Rusti pun nampak melesat cepat di kegelapan malam dan meninggalkan tubuhnya begitu saja.
Rusti kembali tak lama kemudian dengan wajah, yang berbinar bahagia. Setelahnya ia masuk ke dalam rumah, mengunci pintu lalu tidur. Dan bangun keesokan harinya dengan memasang wajah terkejut saat mendengar kabar terjadinya tragedi berdarah di salah satu rumah warga.
Rusti kira ia bisa berhenti setelahnya. Namun Rusti salah.
Setelah mengonsumsi darah bayi tetangganya yang baru lahir malam itu, Rusti kembali pada jati dirinya semula yaitu menjadi siluman kuyang. Dan di kali keenam ia menjadi siluman kuyang, aksinya terpergok oleh Genta.
Rusti panik saat Genta berhasil menjumpainya lalu menatap lekat kearahnya yang saat itu sedang sembunyi di balik rimbunan daun. Setelahnya Rusti melesat cepat meninggalkan tempat itu dan berniat kembali ke rumah. Namun sayang niatnya terhenti karena harus menghadapi beberapa orang yang mengejarnya.
__ADS_1
Dan saat Rusti tiba di rumah, ia tak melihat Genta di sana. Semula Rusti merasa tenang karena merasa Genta belum mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Namun saat keesokan harinya Rusti tak melihat suaminya, Rusti pun panik.
Dan sejak itu Rusti tak pernah lagi bertemu dengan Genta. Berhari-hari Rusti mencari suaminya dan berniat menjelaskan semuanya. Namun Genta bak raib ditelan bumi, hilang entah kemana. Rusti baru bertemu Genta lagi belasan tahun kemudian saat Genta mencarinya ke hutan untuk menyampaikan kondisi Senja saat itu. Itu pun Rusti hanya berani mengamati Genta dari balik pohon karena malu untuk bertatap muka secara langsung.
Rusti mengakhiri lamunannya saat teringat dengan Genta. Ia menoleh kearah Bayan dan Nathan yang berdiri di belakangnya sambil terus mengawasinya.
"Gen ... taaa ...!" kata Rusti alias Rosi dengan suara parau.
Nathan menoleh kearah Bayan untuk melihat reaksi sang ayah. Nathan melihat wajah ayahnya yang sedih saat mendengar nama itu.
"Pak Genta udah meninggal sepuluh tahun yang lalu," sahut Bayan sedih.
Jawaban Bayan membuat Rosi kembali menjerit histeris hingga mengejutkan Bayan dan Nathan. Untuk sesaat sepasang ayah dan anak itu kembali saling menatap karena iba dengan kondisi Rosi.
Rosi sedih saat merasa dirinya sebatang kara di dunia ini karena dua orang yang ia cintai dan paling berarti di hidupnya telah pergi.
"Aku tak punya apa-apa lagi sekarang. Semua yang Aku lakukan salah. Apalagi Aku melakukannya di saat Aku juga sedang menunggu Senja dan Ayahnya kembali," batin Rosi sambil mengusap air matanya.
Setelahnya Rosi mendongakkan kepalanya untuk menatap langit. Ia menghela nafas panjang seolah ingin melepaskan beban di hatinya.
Rosi kembali menghela nafas panjang lalu menoleh kearah Bayan.
"Bi-sa ... Kita bi-cara ber-dua saja ...?" tanya Rosi tiba-tiba.
Permintaan Rosi membuat Bayan dan Nathan saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Nathan pun mempersilakan sang ayah untuk mendekati Rosi sedangkan dia mundur beberapa langkah untuk menjauh karena ingin memberi kesempatan Bayan dan Rosi bicara.
__ADS_1
"Aku akan mengawasi dari jauh Yah," bisik Nathan sebelum menjauh.
"Iya Nath," sahut Bayan sambil mengangguk kemudian melangkah mendekati Rosi.
Setelah jarak Nathan cukup jauh dari Rosi dan Bayan, wanita itu pun meminta sesuatu yang lain kepada Bayan.
"Tolong ... ce-ri-ta-kan bagai-ma-na cara Sen ... ja me ... ninggal," pinta Rosi terbata-bata.
Bayan terkejut. Hal yang paling ingin ia hindari adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan Senja. Dan ternyata kini ia harus menghadapi permintaan wanita yang melahirkan Senja.
Datang ke peternakan saat itu saja butuh tekad dan perjuangan tersendiri. Tapi saat dipaksa untuk mengulang kisah Senja, Bayan pun tak sanggup. Rasa enggan jelas tersirat di wajahnya.
"Tolong ka-takan pada-ku se-ka-li ini saja. Aku mo ... hon ...," kata Rosi menghiba.
"Maaf Aku ga bisa. Itu terlalu menyedihkan untukku," sahut Bayan sambil menggelengkan kepala.
"Aku jan-ji se ... te-lah ini Aku akan per ... gi jauh dan selama ... nya," kata Rosi sungguh-sungguh.
Bayan menatap Rosi lekat. Wanita itu terlihat mengenaskan. Meski masih bisa bicara tapi Bayan tahu jika kondisi Rosi tidak baik-baik saja. Kepala Rosi menjuntai jatuh di pundaknya ibarat tanaman yang layu, luka menganga di lehernya terlihat mengerikan karena dipenuhi pecahan kaca dan sebatang besi yang menyembul keluar. Jangan lupakan darah yang terus mengalir dari luka menganga itu makin menderas hingga membasahi pakaiannya.
Bayan juga menatap lekat kedua mata Rosi. Tak ada kebohongan di kedua mata wanita yang kondisinya mengenaskan itu. Karena iba Bayan pun mengangguk lalu mulai menceritakan kisahnya bersama Senja. Mulai awal pertemuan hingga akhir yang mengenaskan di peternakan itu.
Selama Bayan bercerita Rosi hanya membisu sambil menatap kejauhan. Sesekali ia menoleh saat Bayan menceritakan tingkah lucu Senja yang membuatnya tertawa. Dan jika Bayan tertawa Rosi merasa jantungnya berdenyut nyeri karena ia tahu bagaimana ekspresi Senja saat itu.
\=\=\=\=\=
__ADS_1