
Bayan pun masih sibuk dengan lamunannya meski pun saat itu telah berada di dalam mobil. Bayan berharap jika wanita yang ia yakini sebagai jelmaan kuyang itu tak mengenal Nathan. Bayan tak ingin Nathan terlibat dengan makhluk siluman kepala tanpa tubuh itu.
Rama yang tahu Bayan sedang memikirkan sesuatu itu pun tak ingin mengganggu. Ia memilih diam sambil terus mengemudi dan mengamati jalan di depannya.
Lamunan Bayan buyar saat mendengar suara Nathan dan teman-temannya. Rupanya saat itu mobil yang dikendarai Rama telah tiba di depan rumah kost yang ditempati Nathan.
\=\=\=\=\=
Malam itu Nathan sengaja mengajak Bayan dan Rama keluar untuk menikmati malam di kota Semarang. Karena jarak yang tak terlalu jauh, mereka pun memilih berjalan kaki. Namun sedikit mengejutkan karena ternyata semua teman sekost Nathan ikut mengekor di belakang mereka. Nathan pun berhenti melangkah lalu mengatakan sesuatu yang membuat teman-temannya salah tingkah.
"Kenapa waktu Nicko di sini Lo semua ga kaya gini. Apa karena tau Bokap Gue bawa uang banyak terus Lo semua ikutan keluar ?" tanya Nathan sambil menatap teman-temannya satu per satu.
Pertanyaan Nathan membuat semua temannya tersipu malu sedangkan Bayan dan Rama tertawa geli.
"Udah gapapa, Ayah tahu kok gimana rasanya jadi Anak kost. Sekarang mumpung Ayah sama Om Rama di sini, Kamu dan teman-temanmu boleh makan apa pun yang Kalian mau. Ga usah khawatir, Kami yang bayar nanti," kata Bayan yang diangguki Rama.
"Alhamdulillah ..., makasih Om !" kata teman-teman Nathan bersamaan.
"Sama-sama !" sahut Bayan dan Rama sambil tertawa.
Kemudian Nathan dan teman-temannya mulai berdiskusi membicarakan beberapa tempat yang akan mereka datangi malam itu. Bayan dan Rama hanya mengekor dari belakang seolah sedang mengasuh anak-anak balita.
Setelah diskusi yang lumayan alot, akhirnya Nathan memutuskan mengajak Bayan dan Rama mampir ke kota tua di Semarang. Alasannya hanya satu yaitu karena di sana terdapat semua jenis makanan yang diinginkan teman-temannya hingga mereka tak perlu berpindah-pindah tempat.
Dan tak butuh waktu lama, kini Bayan dan Rama telah berada di kawasan kota tua.
Saat sedang menikmati keindahan dan keunikan kota tua, tiba-tiba Bayan melihat wanita yang berpapasan dengannya di restoran tadi siang. Meski pun dari jarak jauh, namun Bayan masih bisa mengenali wanita itu.
Wanita itu nampak berjalan seorang diri dan berkali-kali menatap ke sekelilingnya dengan gelisah. Yang membuat Bayan curiga adalah karena wanita itu mengenakan pakaian yang menutupi tubuh dan kepalanya seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
"Jangan-jangan sekarang waktunya," batin Bayan sambil menatap ke atas langit.
Namun saat Bayan tak menjumpai bulan purnama selain bulan yang bersinar separuh di langit sana, Bayan pun menghela nafas lega. Itu berarti dugaannya jika wanita itu akan berubah menjadi kuyang adalah salah.
__ADS_1
Dan Bayan masih terus mengamati gerak gerik wanita itu karena tampak tak biasa. Di dalam keramaian, wanita itu nampak sibuk dengan dunianya sendiri. Dan saat wanita itu menyelinap masuk ke sebuah gang kecil yang jauh dari keramaian, Bayan pun bergegas bangkit untuk mengikutinya.
"Mau kemana Yah ?!" tanya Nathan saat dilihatnya sang ayah pergi meninggalkan meja.
"Ayah ke toilet sebentar !" sahut Bayan tanpa menoleh.
"Udah ga usah ikut. Ayah Kamu ga bakal nyasar," kata Rama saat Nathan akan bangkit untuk mengikuti Bayan.
"Oh iya. Aku lupa kalo Ayah bukan Bunda yang selalu nyasar tiap kali balik dari toilet umum," sahut Nathan sambil mengulum senyum.
Ucapan Nathan mau tak mau membuat Rama tertawa. Kemudian Nathan dan Rama pun mulai menikmati makanan yang disajikan di atas meja.
Sementara itu Bayan telah tiba di mulut gang sempit tempat wanita itu menghilang. Bayan tak bisa melihat ke dalam gang karena kondisi di dalam gang yang gelap gulita. Bayan nampak ragu, namun ia nekad masuk ke dalam gang karena penasaran.
Dengan meraba dinding di kanan dan kirinya, Bayan pun masuk ke dalam gang yang hanya selebar lima puluh senti meter itu. Saat kakinya masuk ke dalam gang, Bayan bisa mencium aroma tak sedap dan lembab khas tempat yang becek, sempit dan basah.
"Kalo ngeliat tempatnya yang kaya gini, Gue yakin kalo cewek itu bukan manusia biasa. Cuma manusia jadi-jadian yang mau masuk ke tempat begini," kata Bayan dalam hati.
Tiba-tiba Bayan mendengar suara menggeram yang aneh dan itu berasal dari depan. Karena terlalu gelap, Bayan memutuskan menggunakan senter yang ada di ponselnya agar bisa melihat sesuatu yang menggeram itu.
"Astaghfirullah aladziim ...," kata Bayan sambil mengusap dadanya.
Setelah terdiam beberapa saat, Bayan pun memberanikan diri mendekati tubuh wanita tanpa kepala itu. Bayan mencoba menyoroti wanita di depannya dengan senter untuk mencari ciri khusus pada tubuh wanita itu. Dan setelah berhasil mendapatkan apa yang dicarinya, Bayan pun mundur lalu keluar dari dalam gang.
Namun Bayan sedikit berdecak sebal saat menyadari pakaian yang ia kenakan kotor dan bau.
Bayan tak kehilangan akal, ia membeli kaos dari pedagang kaki lima yang menjual beberapa kaos dan berganti pakaian di tempat. Agar tak menimbulkan kecurigaan, Bayan sengaja membeli dua lusin kaos yang akan ia berikan pada Nathan dan teman-temannya nanti.
Tentu saja teman-teman Nathan antusias menerima pemberian Bayan. Di saat Nathan dan teman-temannya sibuk memilih kaos, Rama nampak menatap Bayan lekat.
"Darimana Lo, kemana baju Lo ?" tanya Rama sambil menatap Bayan dengan tatapan curiga.
"Ga dari mana-mana," sahut Bayan cepat.
__ADS_1
"Jangan bohong !. Lo ga mungkin borong baju cuma untuk nutupin kelakuan minus Lo kan ?" tanya Rama kesal.
"Astaghfirullah aladziim. Lo pikir Gue ngapain Ram, main sama pelac*r ?. Lo tau kan gimana Gue ?!" sahut Bayan sambil menatap Rama penuh makna.
"Makanya jelasin kemana aja Lo menghilang mendadak kaya tadi biar Gue ga suudzon sama Lo !" kata Rama setengah memaksa.
"Nanti Gue ceritain. Tapi ga sekarang dan ga di sini," sahut Bayan cepat hingga membuat Rama terdiam.
Dan malam itu dilalui dengan kebahagiaan. Hingga akhirnya mereka harus kembali ke rumah kost karena hari telah larut.
Karena pulang terlalu larut, kendaraan umum pun sulit ditemui. Dengan terpaksa mereka berjalan kaki seperti saat berangkat tadi. Namun mereka harus berhenti beberapa kali karena letak kota tua dengan rumah kost yang lumayan jauh.
Akhirnya mereka berhasil tiba di rumah kost tepat saat jam menunjukkan pukul dua dini hari.
Saat akan mengunci pagar, tak sengaja Bayan melihat Taxi melintas di depan rumah. Yang mengejutkan Bayan karena penumpangnya adalah wanita yang ia yakini sebagai jelmaan kuyang.
Bayan pun urung menutup pintu pagar. Ia bergegas keluar untuk melihat dimana Taxi itu menurunkan penumpangnya. Namun usaha Bayan untuk mengetahui dimana wanita itu tinggal pun gagal karena Rama menyusulnya keluar.
"Ada apaan sih Yan ?" tanya Rama sambil ikut menatap kearah yang sama.
"Ga ada apa-apa," sahut Bayan ketus hingga membuat Rama bingung.
"Ga ada apa-apa kok Lo kesel gitu ?" tanya Rama sambil mengekori Bayan yang masuk ke dalam rumah setelah mengunci pintu pagar.
"Harusnya Gue tau sesuatu, tapi gara-gara Lo semua buyar," sahut Bayan.
"Tau apaan Yan ?, penting ga, bahaya ga ?" tanya Rama sambil menahan lengan Bayan.
Pertanyaan Rama membuat Bayan menghela nafas panjang. Ia menggeleng karena tak ingin menceritakan sesuatu yang masih belum pasti.
"Semoga ga bahaya. Udah yuk, Kita harus istirahat sekarang," kata Bayan.
Pernyataan ambigu Bayan membuat Rama terus berpikir hingga mereka masuk ke dalam kamar dan berbaring di sana.
__ADS_1
\=\=\=\=\=