Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
92. Ada Gosip ...


__ADS_3

Kemudian Haris mengusap sisa darah yang ada di sekitar mulutnya. Ia meludah sekali lagi karena rasa asin yang memenuhi rongga mulutnya menimbulkan rasa tak nyaman.


"Ada apa ini. Kenapa mendadak Gue muntah-muntah. Dan apaan nih, kaya potongan ular. Tapi kapan Gue makan ular ?. Gue ga pernah merasa makan ular sebelumnya. Jangan-jangan ini pertanda kalo santet yang dikirim ke Mia gagal. Sia*an !. Sia-sia dong Gue keluar uang banyak buat ngerjain dia !" gumam Haris kesal sambil menghentakkan kakinya.


Rupanya Haris sama sekali tak menduga jika orang yang telah selamat dari kiriman santetnya adalah Nathan. Wajar jika Haris berpikir Mia lah yang berhasil selamat karena Mia adalah anak pemilik perusahaan. Haris mengira Marco telah mengeluar uang yang banyak untuk mengobati Mia.


Karena kesal Haris pun mencoba menghubungi dukun yang telah membantunya menyantet Nathan dan Mia. Sang dukun berdalih jika tak ada sesuatu yang terjadi dan ia berhasil mengerjai orang yang dimaksud Haris.


"Gimana nih Mbah. Masa belum apa-apa udah gagal. Katanya ilmu santet Mbah ini paling top dan dipake banyak orang untuk menyingkirkan lawannya. Tapi mana buktinya ?. Yang ada justru Saya yang muntah-muntah barusan. Pake ada ular matinya segala di muntahan itu. Gimana sih ?!" kata Haris marah.


"Sabar dong Ris. Semua juga kan ada prosesnya. Itu hanya permulaan kok. Lagian Kamu salah liat kali. Itu pasti bukan ular, tapi cuma gumpalan darah mati yang bersarang di tubuhmu !" sahut sang dukun.


"Gumpalan darah mati apaan sih maksudnya Mbah ?" tanya Haris tak mengerti.


"Gumpalan darah itu berasal dari peredaran darah yang tersumbat. Karena ga bermanfaat, otomatis keluar saat tubuhmu lagi ga fit. Artinya bagus dong, kan jadi ga ada penyakit lagi di dalam tubuhmu," kata sang dukun berbohong.


"Emang gitu Mbah ?" tanya Haris mulai terpengaruh.


"Iya !" sahut sang dukun dari seberang telephon.


"Kalo gitu Saya tenang sekarang. Tapi Mbah masih ngawasin santetnya bekerja dengan baik kan Mbah ?" tanya Haris.


"Iya, tenang aja. Pokoknya Kamu tinggal tau beres," sahut sang dukun lagi.


Haris pun tersenyum lega. Ia mengakhiri pembicaraan melalui telephon itu lalu memanggil asisten rumah tangganya. Ia menyuruh sang asisten rumah tangga untuk membersihkan bekas muntahnya di lantai.


"Ini ... ular Pak?" tanya sang asisten rumah tangga ragu.


"Bukan, cuma gumpalan darah mati," sahut Haris mirip seperti yang diucapkan sang dukun tadi.

__ADS_1


"Tapi kok bentuknya kaya ular Pak. Dan ini ... kepala ular Pak," kata asisten rumah tangga Haris sambil memperlihatkan kepala ular berwarna hitam.


"Udah ga usah banyak omong. Saya nyuruh Kamu bersihin lantai ya bersihin aja !" kata Haris galak.


"Baik Pak," sahut sang asisten rumah tangga sambil menunduk.


Kemudian Haris bergegas masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Ia sengaja menyembunyikan rasa terkejut dan takutnya mendengar ucapan asisten rumah tangganya tadi. Nampaknya Haris mulai ragu akan kemampuan sang dukun untuk menyingkirkan Nathan.


"Awas aja kalo dia nipu Gue. Sampe ke lobang semut pun bakal Gue kejar tuh dukun," gumam Haris sambil mengepalkan tangannya.


Setelahnya Haris menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia merasa tubuhnya lengket dan berlendir entah karena apa. Semula Haris mengira jika itu efek dari muntah darahnya tadi. Dan Haris terus menyabuni tubuhnya hingga beberapa kali karena rasa lengket itu tak mau pergi.


\=\=\=\=\=


Nathan tiba di kantor saat jam menunjukkan pukul delapan pagi. Kali ini ia datang seorang diri karena Mia masih sakit dan harus beristirahat di rumah.


Nathan tersenyum saat berpapasan dengan rekan-rekan kerjanya.


"Mbak Mianya lagi istirahat di rumah. Gue disuruh ke sini sama Pak Marco untuk ngambil berkas laporan di Bu Sofia," sahut Nathan.


"Oh gitu. Kalo ga buru-buru Kita bisa ngobrol di kantin jam makan siang nanti Nath," kata seorang karyawan.


"Iya. Soalnya ngobrol kaya gini kalo keliatan Pak Haris langsung diomelin," sela karyawan lain hingga membuat Nathan tersenyum.


"Gue sih mau, tapi ga janji ya. Kalo berkas yang diminta Pak Marco udah siap, Gue harus segera pulang. Insya Allah kapan-kapan Kita ngobrol lagi," kata Nathan hingga membuat rekan -rekan kerjanya kecewa.


"Sayang benget ya. Padahal lagi ada gosip panas di kantor ini," kata seorang karyawan sambil berbisik hingga membuat Nathan tertawa.


"Kalian nih kan cowok, kok bisa-bisanya ngegosip di kantor. Bukannya itu kerjaan kaum cewek ya," kata Nathan di sela tawanya.

__ADS_1


"Biasanya sih gitu Nath. Tapi khusus kasus yang satu ini beda. Semua karyawan dan karyawati serempak ngebahasnya. Hampir ga kenal waktu malah," sahut rekan Nathan sambil tertawa.


"Udah ah, Gue ke ruangan Bu Sofia dulu. Ngobrol sama Kalian mah ga ada abisnya," kata Nathan sambil melenggang masuk menuju ruangan sekretaris Marco.


Ternyata saat Nathan tiba di sana Sofia sedang menyiapkan berkas yang diminta Marco. Nathan ingin membantu namun urung karena ia ingat posisinya.


"Pak Marco barusan telephon Saya Nath. Beliau bilang Saya ga perlu buru-buru nyiapin berkasnya. Jadi daripada Kamu bete di sini, lebih baik Kamu ke kantin aja gih. Saya traktir Kamu makan dan minum apa aja yang Kamu mau deh," kata Sofia dengan mimik wajah lucu.


"Ah Ibu, jadi enak dong Sayanya !" gurau Nathan sambil tertawa.


"Iya. Situ enak, Saya yang bangkrut," sahut Sofia sambil memasang wajah sedih hingga membuat Nathan kembali tertawa.


"Kalo gitu, daripada Bu Sofia rugi, gimana kalo Saya bantuin aja ?" tanya Nathan sungguh-sungguh.


"Ga usah Nath, Kamu tunggu aja di luar. Ga sampe sore juga selesai kok," sahut Sofia sambil tersenyum.


Bukan tanpa alasan Sofia meminta Nathan pergi. Mengingat posisi Nathan yang hanya body guard Mia sekarang, Sofia ragu jika Nathan akan mampu membantunya menyelesaikan pekerjaannya.


Nathan yang sadar jika kemampuannya diragukan pun hanya mengangguk pasrah lalu bergegas keluar dari ruangan Sofia.


Nathan pun menuruti permintaan Sofia untuk menunggu di kantin perusahaan karena tak mungkin ia mengganggu rekan-rekannya di jam kerja. Saat melangkah menuju kantin tak sengaja Nathan melihat Haris yang baru saja keluar dari toilet. Nathan mengerutkan keningnya karena melihat sikap cleaning servis yang menghindar saat akan berpapasan dengan Haris.


Dari tempatnya berdiri Nathan melihat jika cleaning servis bernama Agus itu nampak pura-pura mengerjakan sesuatu hingga tak perlu menyapa Haris. Setelah Haris berlalu, Agus nampak mengusap dadanya sambil mengibaskan telapak tangan di depan wajahnya.


Sadar jika aksinya terlihat oleh Nathan, Agus pun tersenyum kearah Nathan lalu bergegas pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Ada apa sih, kenapa si Agus kaya ga mau ketemu Pak Haris gitu. Jangan-jangan ini gosip yang mau diomongin sama temen-temen tadi," gumam Nathan sambil menatap Haris yang menjauh.


Nathan pun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi. Ia berniat menunggu Sofia menyelesaikan pekerjaannya di kantin sambil menikmati kopi dan cemilan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2