
Tak lama kemudian sebuah Ambulans nampak memasuki halaman rumah kost khusus wanita berwarna orange itu. Warga panik karena mengira ada yang terluka di dalam sana.
Ternyata bukan orang yang terluka yang dimasukkan ke dalam Ambulans, melainkan sebuah kantong jenazah. Dan itu membuat warga kian gempar.
"Apalagi ini ?"
"Siapa yang meninggal ?"
"Lagi-lagi jatuh korban. Apa aja sih dilakukan perempuan-perempuan itu di dalam sana ?!"
Kalimat tanya disertai kemarahan pun terus bergema di sekitar TKP.
Dari dalam rumah pemilik kost polisi nampak menggelandang seorang pria lalu memintanya masuk ke dalam mobil. Warga yang mengenali pria itu sebagai ayah Yudha yang bernama Yon itu pun terkejut.
Semula Yon nampak meronta. Ia bahkan memaki para polisi karena keberatan ditangkap tanpa bukti dan tanpa didampingi pengacara keluarga.
"Saya cuma minta tunggu pengacara pribadi Saya. Saya mau pergi kalo didampingi pengacara Saya. Masa gitu aja ga ngerti sih ?!" kata Yon dengan suara lantang.
"Bapak sudah Kami kasih kesempatan untuk menghubungi pengacara Bapak tadi. Tapi Kita semua dengar sendiri kalo saat ini pengacara Bapak masih di Bali. Jadi sebaiknya Bapak ikut Kami ke kantor dan menunggu pengacara Bapak di sana," sahut seorang polisi dengan tegas.
"Saya ga mau !" kata Yon galak.
"Kalo gitu Kami harus bertindak tegas. Kami tetap memaksa Bapak ikut karena dikhawatirkan Bapak melarikan diri atau menghilangkan barang bukti nanti," kata sang polisi sambil mendorong pria itu agar masuk ke dalam mobil.
Dari teras rumah kost, terlihat para penghuni kost yang semuanya wanita nampak membisu sambil menatap interaksi polisi dengan ayah Yudha itu.
Sementara itu di dalam rumah pemilik kost terdengar jeritan histeris ibu Yudha. Wanita itu shock saat mengetahui suaminya terlibat dengan kematian Diana dan hilangnya Iis.
Tak lama kemudian iring-iringan mobil polisi dan Ambulans terlibat meninggalkan lokasi. Ahmad yang menggunakan motor patroli nampak keluar paling akhir. Nathan, Mario dan Ferdi pun memberanikan diri menghadang Ahmad dengan cara menunggu di ujung jalan jauh dari TKP.
"Pak Ahmad !" panggil Nathan sambil merentangkan kedua tangannya di depan motor Ahmad yang melaju pelan.
Ahmad tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat aksi nekad Nathan.
"Saya tau apa yang Kalian inginkan," kata Ahmad.
"Alhamdulillah kalo Pak Ahmad tau. Gimana Pak, apa yang terjadi. Kenapa pemilik kost yang ditangkap ?" tanya Nathan tak sabar.
__ADS_1
"Jadi begini Mas Nathan. Ternyata Pak Yon adalah laki-laki yang udah menghamili Diana. Dia memperk*sa Diana beberapa kali. Dia juga mengancam gadis itu supaya ga buka mulut. Terbukti Diana memang menyembunyikan kehamilannya hingga saat dia melahirkan di kamar mandi waktu itu. Polisi belum berhasil mengorek keterangan dari Diana karena gadis itu keburu meninggal," kata Ahmad.
"Astaghfirullah aladziim ...," sahut Nathan sambil menggeleng tak percaya.
"Terus kantong jenasah tadi isinya jasad siapa Pak ?" tanya Mario tak sabar.
"Itu jasadnya Iis. Wanita yang Kalian laporkan hilang itu," sahut Ahmad.
"Apa ...?!" kata Nathan, Ferdi dan Mario tak percaya.
Kemudian Ahmad menjelaskan bagaimana akhirnya jasad Iis ditemukan.
Ternyata laporan orang hilang yang dibuat Atik, Ferdi, Mario dan Nathan membuat polisi membuka lagi berkas kematian Diana. Menurut mereka kematian Diana sangat janggal.
Apalagi saat Nathan menyerahkan bukti berupa surat ancaman dan kain lusuh berwarna kuning itu. Setelah ditelusuri, diketahui jika surat ancaman itu ditulis oleh Yon dan ditujukan kepada Diana. Sedangkan kain kuning lusuh itu adalah sobekan gaun milik Iis yang tewas karena dibunuh.
Rupanya Iis mengetahui rahasia besar yang disimpan Yon. Karena itu lah Yon membunuh Iis dengan cara menikam perutnya. Lalu jasad Iis dikubur di taman dekat pintu penghubung kost yang terbuat dari besi itu.
Awalnya Iis menemukan gumpalan kertas di bawah jendela kamar almarhumah Diana saat ia sedang membersihkan tanaman. Iis memang suka sekali berkebun. Dan ia menanami taman di halaman dengan aneka tanaman hias. Pemilik kost tak keberatan karena itu membuat rumah kost terlihat lebih asri.
Iis yang cerdas bisa menebak dengan tepat apa yang terjadi. Di saat bersamaan Yon melintas dan melihat Iis yang mematung di depan jendela kamar Diana.
Iis langsung mengungkapkan kecurigaannya dan berniat melaporkan kejahatan yang Yon lakukan pada istri Yon. Karena panik, Yon membekap mulut Iis lalu membawanya ke gudang belakang. Dan di sana lah Yon menghabisi Iis. Kemudian Yon menguburkan jasad Iis saat malam hari tepat ketika hujan deras mengguyur Semarang.
Karena hujan deras disertai petir, ditambah situasi yang gelap membuat Yon bisa menjalankan aksinya dengan lancar. Yon menyeret tubuh Iis dari gudang ke taman. Darah yang keluar dari luka di perut Iis pun langsung hanyut terbawa air hujan. Namun Yon tak sadar, saat menyeret tubuh Iis ada sebagian gaunnya yang tersangkut ranting pohon dan sobek. Dan sobekan kain itu lah yang kemudian hari 'diserahkan' hantu Iis kepada Nathan.
Usai menceritakan seklumit kronologi kejadian yang menimpa Iis, Ahmad pun pamit. Nathan, Mario dan Ferdi pun berterima kasih lalu melepas kepergian Ahmad dengan senyum mengembang.
"Akhirnya jasad Mbak Iis bisa ditemukan. Semoga bisa dikuburkan dengan layak setelah ini," kata Ferdi.
"Aamiin ...," sahut Nathan dan Mario bersamaan.
"Dan semoga Pak Yon bisa mendapatkan hukuman yang setimpal karena telah menyakiti Diana dan Mbak Iis," kata Nathan.
"Aamiin lagi. Harusnya dia melindungi anak kost yang tinggal di rumah kost miliknya dan bukan malah menjadikan mereka sebagai media pemuas hasrat," kata Mario kesal.
"Betul," sahut Nathan dan Ferdi bersamaan.
__ADS_1
Kemudian ketiga pemuda itu melangkah meninggalkan tempat itu.
\=\=\=\=\=
Setelah kasus kejahatan Yon terungkap, rumah kost berwarna oren itu pun disegel oleh polisi. Para penghuni kost yang semuanya wanita itu dengan berat hati meninggalkan rumah tempat mereka bernaung selama ini.
Ternyata tak hanya Diana dan Iis yang menjadi korban. Ada wanita lain yang turut menjadi korban kebej*tan Yon. Dan jumlahnya pun sangat mencengangkan karena mencapai belasan orang.
Rupanya Yon memperdaya para wanita yang kesulitan membayar uang kost. Ia meminta mereka melayani hasratnya sebagai ganti biaya kost yang tak bisa mereka bayar itu. Saat mereka hamil dan menuntut pertanggungjawaban, Yon pun marah lalu membunuh mereka. Kemudian Yon mengubur beberapa diantara korbannya di sekitar rumah yang ia dan keluarganya tempati.
Yudha dan kedua adiknya pun terkejut sekaligus malu atas sepak terjang sang ayah. Mereka mengajak ibu mereka hijrah ke tempat lain dan membiarkan rumah itu kosong tanpa penghuni.
"Saya mewakili keluarga Saya mohon maaf karena telah membuat kegaduhan hingga mengganggu kenyamanan warga di sini. Sekarang Saya akan bawa Ibu dan Adik-adik Saya pindah untuk menenangkan diri," kata Yudha saat berpamitan pada tetangga dan pengurus lingkungan.
"Kami mengerti Mas. Kami juga prihatin dengan kejadian yang menimpa keluarga Mas Yudha. Semoga di tempat yang baru Kalian bisa hidup lebih baik dan bahagia," sahut warga.
"Terima kasih," sahut Yudha sambil tersenyum.
Kemudian Yudha, beserta ibu dan dua adiknya masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian mobil Yudha meninggalkan rumah diiringi tatapan iba semua orang.
"Yudha, ibunya dan adiknya hanya korban. Pak Yon lah yang bersalah. Jadi ga sepantasnya Kita membenci mereka," kata ketua RT.
"Iya Pak !" sahut warga bersamaan.
"Sekarang semua bubar. Jangan bikin gosip baru lagi di sini. Cerita tentang kost oren itu udah selesai dan jangan diungkit lagi !" pinta ketua RT.
Warga pun mengangguk lalu membubarkan diri satu per satu. Nathan yang kebetulan berkunjung dan menyaksikan semuanya pun tersenyum melihat warga bubar dengan tertib.
Saat hendak menyusul Ferdi dan Mario yang melangkah lebih dulu, Nathan melihat penampakan tiga perempuan di halaman rumah kost berwarna orange itu. Mereka adalah Ira, Diana dan Iis yang berdiri di tempat yang berbeda.
Jika arwah Diana berdiri tepat di depan jendela kamarnya, arwah Iis di dekat pintu penghubung kost, sedangkan arwah Ira berdiri di depan pagar. Dan ketiganya sama-sama menatap kearah Nathan.
"Sudah selesai. Sekarang Kalian bisa pergi dengan tenang. Selamat jalan," gumam Nathan sambil tersenyum.
Setelah mendengar ucapan Nathan, arwah Ira, Diana dan Iis pun mengangguk lalu lenyap tak berbekas.
\=\=\=\=\=
__ADS_1