Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
182. Test Pack


__ADS_3

Nicko dan Fikri nampak berbincang di teras rumah, sedangkan Ayu mengajak Ramadhanti ke kamar Afiah agar kedua bayi mereka bisa istirahat.


"Jadi kenapa bisa minum kopi mendidih Bang. Emangnya udah lama ga dapet jatah dari Mbak Ayu ya, kok pake akting kepanasan segala ?" goda Nicko.


"Ck, apaan sih Kamu. Aku refleks aja tadi. Ga sengaja dan ga ngeh kalo kopinya masih panas," sahut Fikri sambil menepuk bibirnya yang terasa melepuh itu.


"Tapi gapapa Bang. Bagus juga keliatannya. Lebih merah dan se*i," kata Nicko sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Bagus apanya sih Nick. Bibir jontor gini kok dibilang bagus," sahut Fikri ketus namun justru membuat Nicko tertawa.


Fikri pun ikut tertawa saat melihat pantulan dirinya di kaca jendela. Namun tawa Fikri terhenti saat teringat mimpi buruknya.


"Menurut Kamu, sebesar apa sih pengaruh mimpi dalam kehidupan Kita Nick ?" tanya Fikri tiba-tiba.


"Tergantung mimpinya Bang. Kalo buruk banget dan terasa membahayakan jiwa, ga jarang bikin Kita jadi parno sama sekitar," sahut Nicko santai.


"Oh gitu ya," kata Fikri.


"Emangnya Abang mimpi buruk ya, mimpi apaan Bang ?" tanya Nicko.


"Cuma masa lalu yang pengen dilupain tapi kok belakangan malah hadir terus lewat mimpi," sahut Fikri dengan enggan.


"Terus ?" tanya Nicko penasaran.


"Ga ada terusannya karena Abang berniat buat mengabaikan aja," sahut Fikri cepat.


"Setuju Bang. Hal buruk yang ga pasti kaya gitu jangan dijadiin beban. Kita fokus aja sama orang-orang yang Kita sayangi dan menyayangi Kita," kata Nicko bijak hingga membuat Fikri tersenyum.


\=\=\=\=\=


Tapi ternyata kesabaran Fikri hanya setipis tissu. Ia tak sanggup menyimpan kegelisahannya seorang diri. Ia terlalu takut membayangkan dirinya kehilangan Ayu.


Karenanya Fikri sengaja datang menemui Bayan di kantornya untuk sekedar curhat. Tentu saja kedatangannya yang di luar kebiasaan itu membuat Bayan terkejut.


"Ada apa Nak, kok kusut gitu mukanya ?" tanya Bayan usai Fikri mencium punggung tangannya.


Ada sedikit masalah Yah. Apa Ayah punya waktu untuk dengerin ceritaku ini ?" tanya Fikri.


"Bicara lah. Masih ada waktu sampe makan siang kok," sahut Bayan sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


Fikri tersenyum senang. Ia merasa waktu dua jam lebih dari cukup untuknya bicara dengan sang ayah.

__ADS_1


"Ini tentang ... Ibu," kata Fikri ragu.


"Ibumu ?" tanya Bayan tepat sasaran.


"Iya," sahut Fikri sambil mengangguk cepat.


"Ada apa lagi. Mak Ejah udah meninggal Fikri. Kita sepakat untuk menutup kisahnya bukan ?" tanya Bayan tak mengerti.


"Aku tau. Tapi belakangan Ibuku datang lewat mimpi Yah," sahut Fikri gusar.


Bayan menghela nafas berat. Ia bangkit lalu duduk di samping Fikri yang nampak kacau itu. Kemudian Fikri menceritakan mimpinya dan kekhawatirannya akan kehilangan Ayu.


Bayan yang mendengar cerita Fikri pun terkejut.


"Itu bukan sembarang mimpi Fikri. Itu pertanda jika siluman itu sedang mencari wadah baru untuknya menitis," kata Bayan hingga mengejutkan Fikri.


"Menitis kemana Yah. Afiah kan bukan Anak kandungku. Bukan kah Ayah bilang kutukan hanya bisa diteruskan ke anak cucu siluman itu," kata Fikri mengingatkan.


"Jangan-jangan saat ini Ayu sedang hamil Fikri. Karena siluman kuyang kan cuma mau menyerang bayi, ibu hamil dan janin. Diantara ketiga kemungkinan itu, kemungkinan kedua lah yang cocok dengan mimpimu, kondisimu dan Ayu sekarang," kata Bayan sambil menatap Fikri lekat.


Ucapan Bayan membuat Fikri senang sekaligus takut. Ia senang karena akhirnya akan memiliki keturunan lagi setelah kepergian Arafah. Tapi di saat yang sama Fikri juga takut jika calon Anaknya akan mengemban kutukan itu.


"Apakah kutukan itu juga berlaku untuk Anak laki-laki Yah ?" tanya Fikri hati-hati.


Fikri termenung sejenak lau menghela nafas panjang.


"Terus Aku harus gimana Yah ?" tanya Fikri putus asa.


"Jangan cemas Fik. Bersikap biasa aja supaya Ayu ga ikutan panik apalagi sampe depresi. Insya Allah Ayah akan cari cara untuk menanggulangi itu nanti. Jujur saat ini Ayah juga ga tau apa yang harus Kita lakukan karena kabar ini benar-benar di luar dugaan," sahut Bayan.


"Baik Yah," kata Fikri sambil mengusap wajahnya.


"Tolong pastikan kehamilan Ayu dulu ya Fik. Dan seperti biasa, kalo hasilnya positif, minta Ayu untuk hati-hati dan jangan melakukan pekerjaan berat," pesan Bayan sungguh-sungguh.


"Iya Yah," sahut Fikri.


Fikri meninggalkan kantor sang ayah dengan perasaan berkecamuk. Ada bahagia dan cemas yang memenuhi benaknya. Ia memang berharap rumah tangganya akan kembali berwarna setelah kehilangan Arafah. Dan itu benar-benar terwujud dengan kehadiran Afiah. Tapi mendengar ucapan ayahnya tadi membuat Fikri bahagia sekaligus bingung.


\=\=\=\=\=


Sore itu Fikri pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Sebelumnya ia sempat mampir ke apotik untuk membeli testpack. Fikri berencana meminta istrinya untuk melakukan tes kehamilan mandiri nanti.

__ADS_1


"Assalamualaikum ...!" sapa Fikri saat memasuki halaman rumah.


"Wa alaikumsalam. Liat Nak, Abi udah pulang tuh. Yuk, Kita sambut Abi," ajak Ayu sambil mengecup pipi Afiah yang melonjak gembira dalam gendongannya.


Fikri tersenyum melihat tingkah Afiah. Setelah Ayu mencium punggung tangannya, Fikri pun melangkah masuk ke dalam rumah diikuti Ayu.


"Obat apa ini Bi, apa Kamu sakit ...?" tanya Ayu saat melihat plastik berlogo apotik yang diletakkan Fikri di atas meja.


"Alhamdulillah Aku sehat kok Mi," sahut Fikri.


"Kalo sehat kenapa beli obat ?" tanya Ayu.


"Itu bukan obat kok. Liat aja kalo penasaran," sahut Fikri sambil masuk ke dalam kamar.


Ayu pun meraih plastik lalu melihat isinya. Ia terkejut saat melihat tiga alat tes kehamilan di sana. Untuk sejenak Ayu mematung sambil menahan tangis karena mengira suaminya punya anak dari wanita lain.


"Udah liat Mi ?" tanya Fikri tiba-tiba.


Saat itu Fikri keluar dari kamar dengan penampilan yang lebih santai. Ayu tak menjawab selain menatap suaminya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Ini ... apa maksudnya Bi ?" tanya Ayu dengan suara bergetar.


"Lho kok malah tanya. Aku sengaja beli ini buat Kamu Mi !" kata Fikri gemas.


"Aku ?" tanya Ayu tak percaya.


"Iya. Kalo Aku ga salah duga, harusnya Kamu lagi isi sekarang Mi. Kan udah lama Kamu ga menstruasi," sahut Fikri.


Ayu tersentak kaget lalu tersenyum kemudian menghapus air matanya yang jatuh menitik tanpa bisa dicegah. Melihat hal itu Fikri terkejut. Ia bergegas meraih Afiah dari gendongan sang istri lalu meletakkannya di atas sofa. Setelahnya ia memeluk Ayu erat.


"Jangan bilang Kamu suudzon sama Suamimu ini ya Mi," kata Fikri.


"Iya. Aku kira Kamu mau ngasih kode kalo punya Anak lain di luar sana," sahut Ayu di sela tangisnya.


"Astaghfirullah aladziim ..., Aku ga segila itu ya Mi. Sekarang hapus air matamu dan simpan ini. Besok pagi, Kita cek bareng-bareng. Mudah-mudahan Kamu beneran hamil ya Mi," kata Fikri penuh harap.


"Kalo Aku beneran hamil, gimana sama Afiah Bi ?" tanya Ayu.


"Lho kenapa sama Afiah ?. Dia tetap jadi Anak Kita dan akan dapat hak yang sama dengan Adik-adiknya nanti," sahut Fikri tegas.


Senyum pun mengembang di wajah Ayu mendengar jawaban suaminya itu. Ia kembali membenamkan diri dalam pelukan Fikri dan tersadar saat Afiah menangis.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2