Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
174. Drama Keluarga Heri


__ADS_3

Pemakaman Heri dan istrinya dilakukan secara terpisah. Rupanya orangtua Heri tak mau mengurus jenasah istri Heri karena kecewa dengan apa yang telah dilakukan wanita itu semasa hidupnya.


Mereka marah besar saat mengetahui tiga anak laki-laki yang dilahirkan istri Heri bukan lah cucu kandung mereka karena tak lahir dari benih Heri.


Istri Heri, yang merupakan wanita pilihan orangtua Heri, ternyata main api dengan pria lain hingga melahirkan anak. Mirisnya lagi itu ia lakukan tak hanya dengan satu pria tapi dengan beberapa pria sekaligus. Hingga saat anak-anak itu lahir, ketiganya memiliki wajah, warna kulit, rambut dan darah yang berbeda dengan Heri.


Sayangnya hal itu terlambat diketahui. Mereka marah dan meminta Heri menceraikan istrinya itu. Kali ini Heri menolak keinginan kedua orangtuanya. Bukan karena ia mencintai istrinya, tapi karena ia lelah menghadapi sikap kedua orangtuanya.


"Jadi Kamu mau dibodohi Sari dan membiayai tiga orang Anak hasil selingkuhnya itu Her ?!" tanya ibu Heri kala itu.


"Iya. Anggap aja Aku lagi sedekah sama Anak-anak malang itu," sahut Heri santai.


"Kamu yang malang, bukan mereka !. Mereka harusnya bersyukur karena hidup bahagia di rumah ini dengan uang Kamu yang bukan Ayah mereka !" kata ibu Heri ketus.


Heri hanya diam dan tak menggubris ucapan ibunya hingga membuat wanita itu meradang.


"Ceraikan Sari secepatnya Her. Cari wanita lain yang bisa melahirkan Anak laki-laki untuk keluarga Kita dan usir mereka keluar dari rumah ini !" kata ibu Heri lantang.


"Ga Bu. Aku ga akan menceraikan Sari. Aku capek jadi alat untuk memuaskan keinginan Kalian yang ga masuk akal. Kalian yang memilihkan Sari untukku, jadi Kalian terima saja resikonya. Sari dan ketiga Anaknya akan tetap tinggal di sini sampe Aku mati. Setelah Aku mati, terserah Ibu bagaimana mengurusnya. Mau mengusir mereka silakan, atau mau membiarkan mereka di sini ya terserah. Pokoknya mereka ga akan kemana-mana selama Aku hidup," sahut Heri tegas hingga membuat sang ibu mengamuk.


Dan dua hari setelah mengatakan itu Heri meninggal dunia. Kedua orangtua Heri sangat terpukul. Meski mereka tahu Heri meninggal bersama dengan Sari dalam sebuah kecelakaan, tapi mereka menolak mengurus jenasah Sari.


Jenasah Sari pun dibawa pulang oleh keluarganya untuk dimakamkan di kampung halaman. Tiga anak Sari dari hasil perselingkuhannya pun ikut serta mengantar sang ibu ke peristirahatan terakhirnya.


Sempat terjadi ketegangan saat ketiga anak Sari berpamitan. Kedua orangtua Heri nampak menepis tangan ketiga remaja itu dengan kasar hingga membuat mereka kecewa. Tiga remaja itu tak menyangka jika orang yang pernah sangat menyayangi mereka kini berubah sikap. Mereka merasa bingung karena harus menanggung kebencian kedua orangtua Heri yang salah alamat itu.


Sikap tak layak itu dipertontonkan kedua orangtua Heri di depan para pelayat termasuk Bayan dan keluarganya. Dan itu membuat mereka menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Untung Hilya ga tinggal di sini ya Kek. Aku ga bisa bayangin gimana hidup Hilya saat tinggal sama orang kejam kaya mereka," kata nenek Hilya sedih.


"Iya Nek. Untung Ibu Hilya meninggal saat tinggal sama Kita. Kalo ga, Aku khawatir jangan-jangan jenasahnya juga ga bakal diurusin kaya si Sari itu," sahut kakek Hilya.


"Iya Kek," kata nenek Hilya cepat.


"Setidaknya Anak-anak itu kan pernah memberi kebahagiaan untuk mereka. Masa iya ga tersisa sedikit saja kenangan bahagia dan kasih sayang di hati mereka untuk Anak-anak itu," kata Anna prihatin.


"Hati mereka udah lama mati Nak. Mereka merasa bisa mengatur semuanya dengan uang yang mereka miliki termasuk mengatur takdir. Mereka lupa kalo Allah sudah menentukan hidup manusia lengkap dengan jodoh, jalan hidup dan rezeqinya masing-masing. Kita liat aja apa uang yang mereka banggakan itu bisa membawa kebahagiaan buat mereka nanti," sahut nenek Hilya kesal.


Anna pun terdiam sambil menatap sedih kearah ketiga remaja yang melangkah lesu kearah Ambulans yang terparkir di halaman.


Tak lama kemudian Ambulans yang membawa jasad Sari itu pun bergerak meninggalkan tempat itu diiringi kasak kusuk warga.


Setelah Ambulans itu pergi, giliran jenasah Heri yang diangkat lalu dibawa ke masjid untuk disholati. Banyaknya warga yang memadati masjid membuat Bayan dan keluarganya terharu.


"Pasti semasa hidupnya Pak Heri ini orang yang baik ya Mak. Buktinya jenasahnya disholati banyak orang," kata Anna.


Ucapan nenek Hilya membuat Anna menggeleng tak percaya. Tapi tak lama kemudian Anna membuktikan sendiri ucapan nenek Hilya. Ia melihat ibu Heri sedang memanggil beberapa orang yang melintas di dekat masjid. Ibu Heri nampak memberi mereka amplop sambil menunjuk ke dalam masjid dimana jenasah Heri disholati. Hilya yang ikut menyaksikan aksi sang oma pun hanya bisa mendengus kesal.


\=\=\=\=\=


Setelah mengikuti pemakaman Heri hingga selesai, Bayan dan keluarganya memutuskan kembali ke Jakarta. Saat mendengar keputusan Bayan, kedua orangtua Heri nampak terkejut.


"Kami kira Kalian bakal menginap di sini hingga tujuh hari ke depan," kata opa Hilya sedikit kecewa.


"Maaf Pak. Tapi Kami juga masih lelah dan butuh istirahat. Kemarin kan Kami juga baru saja menggelar acara pernikahan Hilya dan Nathan," kata Bayan tak enak hati.

__ADS_1


"Kalian kan bisa istirahat di sini. Atau kalo perlu Saya akan pesankan kamar di hotel bintang lima agar Kalian bisa istirahat lebih nyaman. Gimana, mau kan ?" tanya opa Hilya penuh harap.


"Maaf Opa. Waktu cutiku habis lusa. Aku harus pulang ke Jakarta karena ga bisa cuti lebih lama lagi. Masih banyak yang harus Aku urus usai pernikahanku kemarin," kata Hilya.


"Kenapa menikah ga ngundang Kami Hilya ?. Kami kan juga keluargamu," kata oma Hilya ketus.


Hilya tak menjawab begitu pun semua orang.


Karena tak mungkin menahan Bayan dan keluarganya lebih lama, opa dan oma Hilya akhirnya mengalah. Mereka melepas kepergian Bayan dan keluarganya dengan berat hati.


Saat mobil mulai bergerak meninggalkan kediaman orangtua Heri, saat itu lah nenek Hilya teringat pesan almarhum Heri.


"Astaghfirullah aladziim ...," kata nenek Hilya tiba-tiba.


"Ada apa Nek ?" tanya Hilya.


"Nenek inget pesan Ayahmu. Apa Kamu ga mau ngambil uang titipan Ayahmu di brankas itu Hilya ?!" tanya nenek Hilya sambil menatap Hilya lekat.


"Ga usah Nek," sahut Hilya.


"Lho kenapa ?. Itu kan hak Kamu Hilya. Hak sebagai anak kandung Heri yang tak dinafkahi selama bertahun-tahun," kata nenek Hilya gusar.


"Aku ga butuh uang itu Nek. Mengetahui apa yang terjadi di rumah itu udah bikin Aku muak. Lagipula selama ini Aku juga bisa hidup tanpa uang mereka karena ada Kakek dan Nenek yang membiayai Aku. Aku ga mau uang itu malah membebaniku di masa depan dan bikin Aku sulit melangkah nanti. Aku juga ga mau Opa dan Oma merasa berjasa pada hidupku yang sudah baik-baik saja tanpa mereka," sahut Hilya santai.


"Apa Kamu ga menyesal dengan keputusan Kamu ini Nak ?" tanya kakek Hilya.


"Insya Allah Aku ga bakal nyesel Kek," sahut Hilya sambil tersenyum.

__ADS_1


Jawaban Hilya yang diucapkan dengan santai membuat semua orang yang ada di dalam mobil ikut tersenyum. Mereka yakin Hilya akan baik-baik saja setelah menyaksikan pemakaman ayahnya tadi. Nampaknya beban Hilya lepas bersama perginya sang ayah ke haribaan Sang Kholiq.


\=\=\=\=\=


__ADS_2