
Sesuai dugaan Hilya, siluman kuyang itu memang kebingungan menentukan pilihan. Dari ketinggian ia bisa melihat rombongan Bayan terpecah menjadi empat. Ada yang lari kearah Utara, Selatan, Barat dan Timur.
Tapi dari keempat pria yang memegang calon mangsanya, siluman kuyang nampak lebih condong kepada dokter Yusuf. Itu karena siluman kuyang jelmaan Rosi mengira dokter Yusuf hanya orang yang dipilih secara acak oleh Bayan untuk membantunya.
Setelah menentukan pilihan siapa yang akan ia mangsa lebih dulu, siluman kuyang jelmaan Rosi itu melesat cepat mengikuti dokter Yusuf.
Di waktu yang sama Bayan, Nathan, dokter Yusuf dan dokter Abraham sama-sama fokus pada satu tujuan yaitu kamar rawat inap Rosi dimana tubuh Rosi yang tanpa kepala itu tergeletak di lantai. Mereka berlari dengan cepat menuju ke sana. Meski pun jalan yang mereka tempuh berbeda namun mereka berhasil tiba di kamar rawat inap Rosi di waktu yang hampir bersamaan.
Bayan tiba lebih dulu. Tapi terpaksa harus menunggu dokter Yusuf yang tiba kemudian karena dia lah yang memegang kunci ruangan. Setelah dokter Yusuf membuka pintu, keduanya pun bergegas masuk ke dalam ruangan. Di belakang mereka Nathan datang menyusul. Kemudian dokter Abraham tiba paling akhir bersama Anna dan Hilya.
Dokter Abraham bergegas mengunci pintu karena tak ingin orang lain tahu apa yang akan mereka lakukan.
"Kok dikunci dok ?. Kalo kaya gitu siluman itu ga bisa masuk dong. Kan Kita di sini untuk menjebak dia !" kata Nathan bingung.
"Ga usah khawatir Nath. Siluman itu akan menemukan jalan masuk ke sini cepat atau lambat. Sambil menunggu siluman itu masuk ke dalam jebakan, Kita bisa gunakan waktu yang ada untuk istirahat," sela Bayan.
"Cepat atau lambat. Artinya siluman itu emang pasti ke sini Yah ?" tanya Anna tiba-tiba.
"Betul Bund," sahut Bayan sambil mengangguk cepat.
"Kenapa Ayah yakin banget ?" tanya Hilya tak mengerti.
"Karena tubuh asli siluman kuyang itu kan masih tertinggal di sini," sahut Bayan sambil melirik kearah tubuh tanpa kepala milik Rosi yang tergeletak di lantai kamar.
Anna dan Hilya refleks menoleh kearah yang dilirik Bayan. Sesaat kemudian keduanya menjerit saking takutnya.
"Mayaattt ...?!" jerit Anna tertahan sedangkan Hilya nampak memejamkan mata saking ngerinya.
"Iya Bund. Itu tubuh aslinya orang yang menjelma jadi siluman kuyang," kata Bayan sambil menepuk punggung sang istri dengan lembut untuk menenangkannya.
"Maksud Ayah apa sih ?. Jangan bilang Ayah juga kenal sama pemilik tubuh itu ?" tanya Anna sambil menatap curiga kearah suaminya.
"Bunda kenal kok sama dia. Kamu juga lho Sayang," sela Nathan tiba-tiba sambil mengusap kepala Hilya dengan lembut.
__ADS_1
Hilya membuka mata lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap sang suami yang kini berdiri di sampingnya sambil menggendong bayi mereka.
"Masa sih. Emangnya dia siapa ?" tanya Anna tak sabar.
"Bu Rosi," sahut Nathan dengan singkat dan jelas.
"Apa ?!" tanya Anna dan Hilya bersamaan dengan suara lantang.
"Sssttt ..., ga usah teriak juga kali. Kasian nih Anak Kita jadi nangis karena kaget lho Sayang," kata Nathan sambil menimang bayinya.
"Cup cup ..., maafin Mama ya Nak ...," kata Hilya sambil menepuk pelan punggung sang bayi yang berada di gendongan Nathan.
"Kok bisa Bu Rosi, Kamu ga lagi bohongin Bunda kan Nath ?" tanya Anna kemudian setelah rasa terkejutnya berkurang.
"Aku ga bohong Bund. Semua orang yang ada di sini selain Bunda, Hilya dan ketiga bayiku udah tau siapa Bu Rosi sebenernya. Makanya Kami menyusun rencana untuk menjebaknya dan mengakhiri petualangan jahatnya hari ini juga," sahut Nathan sambil mengayun bayinya perlahan.
Anna menatap Bayan lekat dan menghela nafas pasrah saat melihat sang suami menganggukkan kepala pertanda mengiyakan ucapan Nathan.
Kemudian dokter Abraham mendekati Nathan untuk mengecek kondisi bayi laki-laki di dalam gendongannya itu.
"Jadi Gapapa disusui sekarang dok ?" tanya Hilya antusias.
"Iya," sahut dokter Abraham sambil tersenyum.
Hilya pun ikut tersenyum lalu menoleh kearah Nathan. Ia menjulurkan kedua lengannya kearah sang suami.
"Siniin bayinya Sayang, Aku mau susui dia sekarang," pinta Hilya.
Nathan pun mengangguk lalu bergegas menyerahkan bayinya pada Hilya untuk disusui.
Karena baru pertama kali menyusui, Hilya mengalami sedikit kendala. Beruntung ada Anna yang setia mendampingi dan mengarahkannya hingga ia bisa menyusui ketiga bayinya dengan baik.
Setelah mendapatkan makanan pertamanya, ketiga bayi itu nampak kembali terlelap di pelukan Bayan, Nathan dan dokter Yusuf.
__ADS_1
"Kita sholat Maghrib di sini aja ya," kata Bayan saat mendengar kumandang adzan Maghrib yang menggema di kejauhan.
"Ok," sahut semua orang sambil menganggukkan kepala.
Kemudian Anna dan para pria menunaikan sholat Maghrib berjamaah di kamar itu. Sedangkan Hilya menemani ketiga bayinya yang berbaring di tempat tidur sambil mengawasi keadaan.
Di luar sana siluman kuyang nampak menjerit marah karena gagal mendapatkan mangsanya.
Sebelumnya siluman kuyang itu hampir berhasil menggapai dokter Yusuf yang berlari dengan cepat, tapi sayang ia terhalang atap dimana kamar yang dituju berada. Saat ia sibuk mencari jalan, saat itu pula rombongan Bayan telah berada di depan kamar rawat inap tempat tubuh Rosi berada dan masuk ke dalam sana.
Siluman kuyang jelmaan Rosi pun hanya bisa berputar-putar di atas atap karena kesulitan untuk masuk. Jika ia memaksa menerobos masuk, maka ia hanya punya satu jalan masuk yaitu jendela yang kusennya telah disemprotkan cairan bawang putih. Nampaknya siluman kuyang itu tak mau mengulang rasa sakit yang sama seperti saat menerobos keluar tadi.
Siluman kuyang makin panik saat mendengar kumandang adzan Maghrib di kejauhan. Itu artinya sudah cukup lama ia belum berhasil mendapatkan mangsa.
Karena tak nyaman mendengar kumandang adzan Maghrib yang saling bersahutan itu, siluman kuyang pun melesat pergi meninggalkan tempat itu untuk sementara waktu.
Saat melintas di dekat kamar bayi, siluman kuyang berhenti lalu menukik turun. Seringai lebar menghias wajahnya saat menatap deretan box bayi berisi bayi-bayi yang baru lahir di dalam sana. Siluman kuyang pun menggeram beberapa kali saat mengamati gerakan bayi-bayi tak berdosa di balik jendela kaca itu. Merasa menemukan oase di padang pasir, siluman kuyang itu berencana masuk ke sana.
Saat seorang perawat membuka pintu ruang bayi, dengan cepat siluman itu melesat masuk dan sembunyi di bawah box bayi di sudut ruangan untuk beberapa waktu.
Dan saat perawat itu pergi, siluman kuyang pun melancarkan aksinya memangsa para bayi tak berdosa itu.
Jerit tangis bayi-bayi itu terdengar memecah keheningan senja dan mengejutkan semua orang. Apalagi para bayi menangis secara bersamaan.
"Ada apa, kenapa para bayi menangis bersamaan ?" tanya seorang perawat yang baru saja tiba.
"Mungkin pipis atau pup, kan bayi biasa begitu," sahut perawat yang baru saja keluar dari ruang bayi.
"Tapi aneh ga sih ?. Kok bisa-bisanya mereka nangis bersamaan kaya gitu," kata seorang perawat.
"Kalo tau aneh ya diliat dong. Kok malah diem aja sih ?!" sahut perawat lain sambil bergegas lari menuju ruang bayi.
Para perawat seperti tersadar, saling menatap sejenak lalu bergegas keluar mengikuti rekannya yang lari ke ruang bayi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=