Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
122. Jati Diri Fikri


__ADS_3

Nathan kembali ke rumah saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Di teras rumah ia disambut Nicko dan teman-teman sesama pemain bola di club yang sama.


"Assalamualaikum !" sapa Nathan sambil menutup pintu mobil lalu adu toast dengan teman-temannya.


"Wa alaikumsalam !" sahut semua orang.


"Gimana hasilnya ?" tanya Nathan.


"Imbang Nath. Tapi Kita masuk final karena score Kita lebih banyak," sahut salah seorang teman Nathan.


"Alhamdulillah ...," sahut Nathan sambil tersenyum.


"Terus gimana urusannya Bang ?" tanya Nicko tak sabar.


"Alhamdulillah beres. Anak-anak itu cuma luka lecet aja kok. Tapi tetep Abang yang tanggung biaya pengobatannya," sahut Nathan lalu menceritakan apa yang baru saja ia alami.


Tiba di kantor polisi Nathan dan Hilya, sebagai wali ketiga anak itu memutuskan untuk berdamai mengingat kesalahan bukan seratus persen berada di pihak Nathan.


Setelah menandatangani kesepakatan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan, Nathan membawa ketiga pelajar itu ke Rumah Sakit untuk diobati. Dan saat itu lah Nathan tahu jika Hilya adalah Kakak sepupu tiga pelajar itu.


Rupanya Hilya dan tiga sepupunya berasal dari keluarga yang broken home. Orangtua mereka sudah bercerai dan kini mereka tinggal di rumah sang Kakek. Sebagai cucu tertua maka Hilya bertanggung jawab pada semua sepupunya itu karena Kakek dan neneknya juga sibuk mengurus toko mereka di pasar Tanah Abang.


"Kalo sekiranya luka mereka infeksi, tolong hubungi Saya. Saya akan membayar biaya pengobatan luka mereka sampe sembuh," kata Nathan sambil menyodorkan kartu namanya.


"Ok, makasih," sahut Hilya cepat.


"Sama-sama. Sekarang biar Saya antar Adik-adik Kamu sampe rumah," kata Nathan menawarkan diri.


"Ga usah, biar mereka naik Taxi aja," sahut Hilya cepat.


Namun wajah Hilya nampak merona malu karena ternyata tiga sepupunya telah masuk lebih dulu ke dalam mobil Nathan. Rupanya mereka merasa lebih nyaman diantar dengan mobil Nathan daripada diantar Taxi.


Nathan pun tak bisa menyembunyikan tawanya melihat tingkah ketiga ABG di hadapannya itu.


"Heeii ... Kalian ngapain di sana. Turun sekarang !" kata Hilya sambil melotot.


"Biar aja Mbak. Saya ga keberatan kok nganterin mereka," kata Nathan menengahi.


"Ck, terserah deh. Pokoknya kalo mereka minta apa-apa jangan dikasih ya," pinta Hilya.

__ADS_1


Nathan hanya mengangguk lalu melajukan mobilnya setelah Hilya melaju meninggalkan kantor polisi.


"Wah, kayanya jodoh Lo udah deket tuh Nath," kata teman Nathan.


"Bisa aja Lo. Cewek judes kaya gitu siapa yang mau deketin," sahut Nathan sambil menggelengkan kepalanya.


"Justru itu uniknya. Siapa tau sama Lo cewek itu luluh dan ga judes lagi. Udah ga usah kebanyakan mikir. Udah waktunya juga Lo move on dari masa lalu," nasehat teman lainnya.


"Nanti lah. Sekarang Gue masuk duluan ya, gerah banget nih mau mandi," kata Nathan.


"Iya deh. Mandi, makan, tidur, terus mimpi indah yaa ...," kata teman Nathan disambut tawa teman-temannya.


Nathan mengabaikan ucapan temannya dan memilih masuk ke dalam rumah. Dalam hati Nathan membenarkan ucapan temannya tadi.


"Mungkin emang udah saatnya move on," gumam sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=


Sejak Mak Ejah menghilang tanpa kabar, otomatis Bayan pun kesulitan untuk mencari keponakannya. Padahal Bayan yakin jika Mak Ejah tahu dimana anaknya dan Alan berada.


"Apa Rosiana juga ga kenal sama Anak kandungnya Mak Ejah Nath ?" tanya Bayan suatu sore.


"Saba ?" ulang Bayan.


"Iya Yah. Rosiana cuma bilang kalo Mak Ejah selalu mimpi buruk tentang Anak laki-laki yang dikasih nama Saba itu," sahut Nathan.


"Kalo gitu Kita bisa mulai pencarian dengan nama itu," kata Bayan sambil tersenyum.


Tiba-tiba terdengar suara orang menyapa di teras rumah. Rupanya Fikri dan keluarganya datang bertamu. Sejak pindah ke lingkungan itu baru kali ini Fikri bisa menyapa para tetangga termasuk Bayan dan keluarganya. Meski pun telah mengenal Bayan dan keluarganya, namun Fikri sengaja datang berkunjung sebagai bentuk kesopanan.


Anna pun menyambut kedatangan Fikri dan keluarganya dengan gembira. Ia langsung meraih Arafah dan menggendongnya lalu membawanya masuk ke dapur untuk mengambil makanan ringan.


\=\=\=\=\=


Sekeras apa pun Mak Ejah mencoba menjauhkan Bayan dari keponakannya, toh takdir tetap membawa mereka untuk bertemu. Lama kelamaan Bayan pun menyadari jika ia memiliki hubungan darah dengan Fikri.


Saat itu perusahaan Bayan mengadakan kerjasama dengan pihak PMI untuk membantu menyalurkan darah bagi para korban bencana alam. Semua karyawan yang ingin menyumbangkan darah bisa mendaftar.


Nathan sebagai panitya pun menawarkan pada teman-temannya termasuk Fikri agar menyumbangkan darah untuk membantu mereka yang memerlukan darah.

__ADS_1


"Kapan Nath ?" tanya Fikri.


"Lusa Bang. Gimana, Abang mau gabung ga ?" tanya Nathan.


"Boleh deh. Abang pernah donor darah dulu, tapi udah lama banget. Ada kesempatan kaya gini harus dimanfaatkan sebaik mungkin dong. Iya kan Mi ?" tanya Fikri sambil menatap istrinya.


"Iya Bi. Aku juga mau kalo diijinin," sahut Ayu.


Sebenarnya Fikri keberatan dengan keinginan Ayu karena sang istri belum lama keguguran. Beruntung Nathan menengahi dan memberitahu Ayu hingga Fikri merasa terbantu.


"Buat Mbak Ayu sebaiknya jangan dulu ya. Kan Mbak Ayu baru selesai nifas, kondisi Mbak Ayu juga masih lemes. Insya Allah kalo perusahaan Ayah ngadain acara kaya gini lagi, Aku pasti daftarin Mbak Ayu jadi calon pendonor," kata Nathan.


"Iya deh. Tapi janji jangan bohong ya," pinta Ayu.


"Siap ...!" sahut Nathan lantang hingga membuat Fikri dan Nicko tertawa.


Dan di hari acara donor darah massal di perusahaan Bayan berlangsung, jati diri Fikri pun terkuak.


Saat itu bagian pendaftaran mendata nama calon pendonor berdasarkan KTP atau kartu pengenal lainnya. Saat tiba giliran nama Fikri dipanggil, Bayan dan Nathan pun terkejut. Keduanya bergegas mendatangi tempat pendaftaran dan meminta sang petugas menyebut ulang nama lengkap Fikri.


"Muhammad Fikri Saba. Jenis kelamin laki-laki, umur dua puluh delapan tahun, golongan darah B resus negatif ...," kata sang petugas.


Tubuh Bayan pun bergetar hebat saat mendengar penjelasan petugas PMI itu. Nathan yang berdiri di sampingnya pun tak kalah terkejut. Ia tak menyangka jika saudara sepupu yang dicarinya selama ini ternyata sudah berada dekat dengannya.


"Ayah gapapa kan ?" tanya Nathan sambil merengkuh bahu sang ayah.


"Iya Nath. Tolong bawa Ayah pergi dari sini," pinta Bayan dengan suara bergetar.


Nathan mengangguk lalu membawa sang ayah menjauh dari tempat itu. Di taman perusahaan Bayan dan Nathan duduk untuk bicara.


"Kita ga boleh gegabah Yah. Bang Fikri belum tentu orang yang Kita cari," kata Nathan membuka pembicaraan.


"Ayah tau. Walau golongan darahnya sama kaya Ayah dan Om Alan, Kita harus pastikan dulu melalui tes DNA. Tapi lepas dari semuanya, Ayah yakin kalo Fikri itu Anak Alan yang hilang dulu," kata Bayan dengan suara tercekat.


"Aku juga berharap begitu Yah. Pantes aja hubungan Kami mengalir begitu aja layaknya saudara. Ternyata memang ada darah yang sama mengalir di tubuh Kami," kata Nathan sambil tersenyum.


Meski pun kepastian Fikri sebagai keluarga mereka masih harus dibuktikan melalui tes DNA, namun Bayan dan Nathan tampak tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka. Keduanya selalu tersenyum sepanjang hari itu hingga acara donor darah selesai.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2