Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
21. Bayangan Di Jendela


__ADS_3

Malam itu terlewati dengan tenang. Bayan menghela nafas lega saat semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Menjelang dini hari baru lah sang bayi diantar ke ruangan untuk kembali disusui ibunya.


Kali ini sang bayi nampak lebih antusias dibanding sebelumnya. Dengan lahap ia menyusu hingga membuat Anna sedikit meringis.


"Kenapa Sayang, sakit ?" tanya Bayan.


"Iya," sahut Anna sambil menggigit bibirnya untuk menahan nyeri.


Bayan tersenyum kemudian duduk di samping Anna untuk mensuport sang istri saat menyusui bayi mereka. Dengan lembut Bayan mengusap punggung sang istri sambil mengamati bayinya.


"Ck, dasar anak nakal. Tadi aja nolak, sok ga mau dan ga butuh. Eh begitu tau rasanya, sekarang malah gercep dan ga sabar. Liat tuh Bunda sampe kesakitan gara-gara Kamu," kata Bayan sambil menjawil gemas pipi sang bayi.


Ucapan Bayan mau tak mau membuat Anna tersenyum. Seolah mengerti ucapan sang ayah, bayi itu pun perlahan mengurangi intensitas menyusunya hingga Anna tak lagi merasa kesakitan. Bahkan Anna nampak relaks saat menyusui si kecil.


Setelah meletakkan bayinya di box bayi di samping tempat tidur Anna, Bayan pun menghubungi kedua sahabatnya dan memberi tahu tentang kelahiran anak keduanya. Riko dan Rama tentu saja gembira mendengarnya.


Kini Riko dan Rama juga telah menikah. Namun Riko kurang beruntung karena belum dikaruniai keturunan meski pun usia pernikahannya memasuki usia enam tahun.


"Cewek atau cowok Yan?" tanya Riko.


"Alhamdulillah cowok lagi Rik," sahut Bayan sambil tersenyum.


"Kalo gitu ntar sore Gue sama Mona jengukin Anna dan bayi Kalian ya," kata Riko antusias.


"Boleh, makasih ya Rik," kata Bayan.


Perbincangan mereka pun berakhir saat Nathan menangis. Bayan bergegas mendekati dan membujuk sang anak agar kembali tidur. Sedikit sulit apalagi saat itu Bayan tak memiliki persediaan susu yang biasa diminum Nathan. Yumi yang terlelap pun terbangun karena suara tangis Nathan.


"Bawa ke sini aja Yah," pinta Anna sambil menepuk tempat di sampingnya.


"Nathan tidur sama Kamu ?. Emangnya gapapa Bund, Kamu kan abis operasi ?" tanya Bayan.


"Gapapa Yah, ini kan darurat. Kasian, Nathan pasti capek nangis terus daritadi," sahut Anna.

__ADS_1


Bayan pun mengangguk kemudian membawa Nathan pada istrinya. Ajaib. Saat menyentuh ibunya, Nathan berhenti menangis. Bahkan bocah tiga tahun itu bersedia minum air putih yang ditawarkan sang bunda.


"Sekarang Nathan bobo lagi ya. Liat Adik bayi juga bobo tuh," kata Anna sambil menunjuk kearah box bayi.


Nathan terkejut saat melihat bayi mungil itu. Ia mengamati Anna dan bayi itu bergantian dan sesaat kemudian ia tersenyum.


"Adik ?" tanya Nathan.


"Iya," sahut Anna dan Bayan bersamaan.


"Mau main sama Adik," kata Nathan antusias.


"Besok aja ya, Adiknya juga capek, ngantuk. Sekarang Nathan bobo dulu, besok baru main lagi," bujuk Bayan.


Nathan mengangguk lalu masuk ke pelukan ibunya dan mulai memejamkan mata. Tak butuh waktu lama Nathan telah tertidur yang ditandai dengan dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Anna dan Bayan saling menatap sambil tersenyum melihat sikap patuh Nathan.


"Udah siapin nama buat si kecil Yah ?" tanya Anna sambil menepuk lembut punggung Nathan.


"Nama belakangnya sama kaya nama belakang Nathan Yah," kata Anna.


"Iya Bund, sengaja. Nama pahlawan kan artinya bagus, tapi punya makna khusus buat Aku pribadi. Aku inget perjuangan seseorang yang rela mengorbankan hidupnya dan juga anaknya demi kemaslahatan umat. Gimana, Kamu setuju ga ?. Kalo Kamu punya ide nama lain boleh kok," kata Bayan.


"Ga usah Yah. Aku setuju nama itu, bagus dan simple, enak juga didengar telinga," sahut Anna sambil tersenyum hingga membuat Bayan menghela nafas lega.


\=\=\=\=\=


Tiga hari kemudian Bayan memboyong Anna dan bayi mereka pulang ke rumah. Rama dan Riko mempersiapkan acara penyambutan sederhana di rumah Bayan dibantu Arti dan Yumi. Rencananya acara akan dihadiri oleh orang terdekat saja.


Melihat rumah telah didekorasi dengan cantik membuat Anna tersenyum bahagia.


Nathan yang masih tak percaya jika dirinya telah menjadi seorang kakak, berkali-kali mendekati box bayi untuk sekedar menatap sang adik. Setelah menyentuh pipi sang adik sedikit, Nathan akan lari secepat mungkin. Tingkah Nathan tentu saja membuat semua orang tertawa.


Menjelang sore sebagian tamu pamit pulang. Hanya tersisa Riko dan Rama beserta keluarga mereka. Bayan pun memapah sang istri masuk ke kamar untuk beristirahat. Arti membawa Nathan yang tertidur ke kamar, sedangkan Yumi menggendong Nicko dan membawanya ke kamar.

__ADS_1


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Anna pun berbaring di atas tempat tidur.


Bayan nampak repot keluar masuk kamar dibantu Yumi untuk memastikan semua kebutuhan Anna telah tersedia.


Saat adzan Maghrib berkumandang, Bayan dan kedua sahabatnya pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Sedangkan Anna menggendong Nicko karena begitu lah yang ia lakukan saat Nathan bayi dulu.


Anna ingat pesan ibunya yang mengatakan untuk menggendong bayi mereka saat Maghrib untuk menghindari makhluk halus yang akan mengganggu.


"Bayi itu punya aroma yang khas. Kita yang manusia biasa aja suka, apalagi makhluk halus. Bedanya kita mengekspresikan kasih sayang Kita sama bayi dengan cara mencium atau memeluk, tapi kalo makhluk halus ya dengan cara menampakkan diri atau bahkan menakuti bayi. Karena wujudnya yang berbeda itu lah makanya bikin bayi sawan kadang sampe sakit segala. Kasian kalo bayi sawan, kan dia ga bisa bilang dimana yang sakit, apa yang ga nyaman dan takut sama apa. Makanya bayi rewel dan cuma bisa nangis untuk memberitahu orang di sekitarnya kalo dia ga nyaman sama kehadiran makhluk halus," kata ibu Anna kala itu.


"Iya Bu," sahut Anna sambil mendekap erat bayi Nathan dulu.


Dan kini saat menggendong Nicko, Anna teringat kembali dengan ucapan ibunya itu. Saat Anna mendekap bayinya sambil bersholawat lirih, Anna terusik dengan bayangan hitam yang melintas di luar jendela. Anna terkejut dan mendekap bayinya lebih erat. Apalagi bayangan hitam itu seolah berhenti di dekat jendela dan menatap kearahnya.


Meski takut Anna memberanikan diri menatap ke jendela dan ia melihat sosok bayangan itu mirip menyerupai wujud manusia. Hanya bayangan tubuh bagian atas yang terlihat jelas dan itu membuat Anna gusar.


"Kok bayangannya cuma separo ya. Yang bagian atas keliatan jelas, tapi makin ke bawah makin ngeblur. Itu apaan sih, manusia atau bukan ?. Mana ada manusia yang melayang ?. Kalo bukan manusia jangan-jangan itu hantu," batin Anna.


Karena takut Anna pun memilih keluar dari kamar untuk bergabung dengan Arti dan Nathan di ruang tengah.


Melihat sang bunda keluar sambil menggendong adiknya, Nathan pun bersorak gembira. Ia menghambur kearah Anna yang duduk di atas sofa dan mulai berceloteh riang.


Arti yang melihat wajah pucat Anna pun memberanikan diri bertanya.


"Ibu kenapa, kok muka Ibu pucet banget kaya abis ngeliat sesuatu ?" tanya Arti.


"Mmm... Saya ngeliat bayangan aneh di jendela kamar Ti. Saya takut, makanya Saya ke sini," sahut Anna.


"Ya Allah, mudah-mudahan bukan apa-apa ya Bu. Kalo di kampung Saya, wanita yang baru melahirkan kaya Ibu memang ga pernah ditinggal sendirian karena masih mengalami pendarahan. Kan darah nifas itu jadi inceran penganut ilmu hitam dan makhluk halus Bu. Makanya supaya tetap aman ya harus ditemani kemana pun," kata Arti.


Ucapan Arti membuat Anna makin takut. Ia terdiam sambil terus melantunkan dzikir dalam hati.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2