Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
156. Arafah Hilang


__ADS_3

Hari itu suasana di dalam rumah Fikri tampak tak biasa. Terlihat banyak warga berkerumun di sana. Jerit tangis terdengar membahana di dalam rumah hingga membuat warga prihatin.


Usut punya usut ternyata yang menjerit dan menangis itu adalah Ayu yang histeris karena anak semata wayangnya hilang. Ya, Arafah hilang.


Semua warga yang biasa bermain bersama Arafah pun bicara banyak hal untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Tapi Saya yakin Arafah udah masuk ke dalam rumah tadi," kata salah seorang wanita yang merupakan pengasuh balita di rumah tetangga Fikri.


"Iya. Saya juga liat kok," sahut warga lainnya bersahutan.


"Tapi Arafah ga pernah masuk ke rumah. Dia ga ada di rumah !" jerit Ayu sambil menangis.


"Sssttt ..., tenang Yu. Ga usah marah-marah. Mereka kan cuma ngasih info," kata Anna sambil memeluk Ayu erat.


"Tapi Aku ga pernah liat Arafah masuk ke dalam rumah Bund. Aku ga percaya Arafah dibawa orang tanpa ketauan karena Aku tau ada mereka di sana. Aku cuma masuk sebentar buat naro piring bekas makan Arafah tadi ...," sahut Ayu di sela tangisnya.


Semua warga saling menatap bingung karena mereka yakin Arafah masuk ke dalam rumah itu tadi.


Tiba-tiba Fikri masuk ke dalam rumah. Wajahnya nampak tegang. Dan saat melihat sang suami, Ayu pun kembali menangis histeris.


Fikri berusaha menenangkan istrinya sambil terus berdzikir. Sikap Fikri yang tetap tenang membuat semua orang yang ada di rumah itu kagum. Apalagi setelahnya ia berhasil membawa Ayu masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


"Maaf Bund. Bisa tolong temenin Ayu sebentar di kamar ?. Aku khawatir Ayu ngamuk lagi nanti," kata Fikri.


"Iya Nak," sahut Anna cepat.


"Makasih Bund," kata Fikri sambil tersenyum.


Anna mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam kamar untuk menemani Ayu. Kemudian Fikri menatap warga yang berkerumun di rumahnya dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi karena sebelumnya Fikri hanya tahu Arafah hilang. Warga pun bercerita silih berganti hingga membuat Fikri paham apa yang terjadi.


Saat sedang mendengarkan penuturan warga, Bayan dan Nathan pun menerobos masuk. Ketegangan jelas terlihat di wajah mereka.


"Sebaiknya Kita lapor Polisi Bang," kata Nathan tak sabar.

__ADS_1


"Ga semudah itu Nath. Setau Abang laporan orang hilang cuma ditanggapi setelah korban hilang lebih dari dua puluh empat jam. Arafah kan belum sejam ilang. Abang pikir Abang bakal cari di sekitar rumah dulu. Nanti malam baru Abang buat laporan ke kantor Polisi," sahut Fikri.


"Itu betul. Ayo Kita bagi tugas sekarang. Ada yang cari di sekitar rumah, yang lain cari sampe radius satu kilo meter dari rumah ini. Kalo ga ketemu, area pencarian bisa diperluas nanti," kata Bayan sambil menatap semua orang.


"Setuju Pak Bayan. Ayo Kita cari sekarang !" sahut beberapa warga dengan lantang.


Kemudian warga pun membubarkan diri. Bayan dan beberapa warga mencari di sekitar rumah, sisanya menyebar ke berbagai penjuru komplek.


Saat adzan Maghrib berkumandang, semua orang berhenti mencari dan lanjut kembali usai menunaikan sholat Isya berjamaah.


Bayan pulang ke rumah lebih dulu untuk mengganti sarungnya dengan celana panjang. Tak lama kemudian Anna menyusul karena ingin membantu suaminya.


Bayan pun menoleh lalu tersenyum melihat Anna membuka pintu kamar.


"Gimana kondisi Ayu Bund ?" tanya Bayan sambil merapikan pakaiannya.


"Alhamdulillah lebih tenang Yah. Cuma kalo inget Arafah dia nangis lagi. Aku hampir ga kuat nemenin dia tadi. Ga kebayang aja rasanya kehilangan Anak untuk kedua kalinya," sahut Anna dengan suara tercekat.


"Tapi Bunda jangan memperlihatkan kesedihan di depan Ayu ya. Kasih motivasi positif aja biar Ayu ga larut dalam pikiran nyeleneh. Jangan lupa ingetin dia untuk makan," kata Bayan.


"Iya Yah," sahut Anna.


"Kalo gitu Ayah pergi cari Arafah lagi sekarang," kata Bayan yang diangguki Anna.


Tak lama kemudian Bayan dan Anna nampak keluar dari rumah lalu melangkah cepat menuju rumah Fikri. Di sana mereka disambut warga yang memang sudah bersiap untuk mencari Arafah.


"Jadi sekarang Kita perluas area pencarian Pak Bayan ?" tanya salah seorang warga.


"Betul Pak. Kita nyebar ke empat penjuru jalan di depan sana nanti," sahut Bayan.


Warga pun mengangguk lalu mulai melangkah meninggalkan rumah Fikri.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Pencarian Arafah oleh Bayan, Nathan dan Fikri terus dilakukan meski pun mereka telah melaporkan hilangnya Arafah kepada Polisi. Nicko yang tak bisa membantu mencari Arafah di hari pertama kini juga ikut serta mencari. Dan ini adalah hari kelima hilangnya Arafah.


"Aku merasa pesimis Arafah bisa kembali dalam keadaan hidup Bund ...," kata Ayu tiba-tiba hingga mengejutkan Anna.


"Istighfar Yu. Jangan ngomong kaya gitu. Ingat, ucapan adalah doa. Apalagi kalo keluar dari mulut seorang Ibu," kata Anna tak suka.


"Aku ga nyumpahin Arafah Bund, Aku cuma ngomong kemungkinan terburuknya. Ini udah hari kelima. Apa Arafah bisa hidup normal selama lima hari ini. Tinggal di tempat asing, mungkin kedinginan dan tanpa susu, juga tanpa pelukan Aku dan Abinya," sahut Ayu gusar sambil mengusap matanya yang basah.


Anna pun menghela nafas panjang lalu meraih Ayu ke dalam pelukannya. Anna mengusap lembut punggung Ayu agar wanita itu sabar dan kuat menghadapi sesuatu yang tak terduga nanti. Ayu hanya bisa menangis sambil memeluk pakaian kesayangan Arafah.


Saat sedang saling memeluk, Anna dan Ayu dikejutkan dengan suara bel yang berdering nyaring pertanda ada orang yang datang bertamu. Keduanya mengurai pelukan lalu saling menatap bingung.


"Ada tamu Bund," kata Ayu.


"Iya. Cepat buka pintunya. Siapa tau tamu penting yang bawa kabar baik tentang Arafah," kata Anna antusias.


"Iya Bund. Ayo Kita ke depan bareng," ajak Ayu sambil mengeringkan wajahnya yang basah itu dengan tissu.


Kemudian Anna dan Ayu bergegas keluar untuk membuka pintu pagar. Saat itu mereka terkejut melihat kehadiran dua orang pria berseragam polisi.


"Selamat siang Ibu-ibu," sapa salah seorang polisi dengan ramah.


"Selamat siang Pak. Apa ada yang bisa Kami bantu ?" tanya Anna sambil membuka kunci pintu pagar.


"Kami dari kepolisian bawa berita penting untuk keluarga Ananda Arafah. Bisa Kami bicara dengan orangtua kandung atau wali dari Ananda Arafah ?" tanya sang polisi.


"Saya orangtuanya Arafah Pak, Saya Ibunya !" sahut Ayu cepat hingga membuat kedua polisi itu tersenyum.


"Baik lah. Begini Bu, Anak Ibu yang bernama Ananda Arafah, yang dilaporkan hilang beberapa hari kemarin telah Kami temukan. Tapi sayang, kondisinya tak baik-baik saja. Keliatannya Ananda Arafah mengalami dehidrasi dan sedikit shock. Sekarang Ananda Arafah sudah dibawa ke Rumah Sakit Polri untuk mendapat pertolongan. Kami harap Ibu cepat datang ke sana karena Ananda Arafah terus menangis dan memanggil-manggil Ibunya," kata sang polisi.


Ucapan sang polisi membuat jantung Ayu dan Anna berdetak lebih cepat. Mereka bahagia sekaligus panik. Tanpa membuang waktu mereka segera meluncur ke Rumah Sakit Polri usai kedua polisi itu pergi untuk melanjutkan tugasnya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2