
Karena merasa terganggu dengan suara ketukan di pintu yang berulang-ulang, Nathan pun keluar dari kamar. Ia berjalan menuju pintu sambil menggerutu dalam hati.
"Siapa sih yang bertamu malam-malam begini ?. Ga sopan," gumam Nathan kesal.
Saat Nathan membuka mulut untuk mendamprat tamu tak sopan itu, Nathan pun terkejut dan urung melakukan itu. Kini di di hadapan Nathan berdiri seorang wanita dengan gaun selutut berwarna kuning. Wajah wanita itu terlihat murung.
"Mbak Iis ?!" panggil Nathan tak percaya.
Perlahan wanita itu mengangkat wajahnya agar bisa menatap Nathan yang berdiri di hadapannya.
Saat itu lah Nathan bisa melihat wajah Iis yang pucat dan terluka. Kulit wajahnya sebagian terkelupas. Ada darah yang mengering di sudut bibirnya. Kondisi Iis membuat Nathan yakin jika Iis baru saja mengalami penganiayaan. Apalagi saat itu gaun di bagian samping tampak koyak dan berwarna merah kecoklatan. Nathan menduga jika noda yang mengotori pakaian Iis adalah noda darah.
Nathan kembali menatap wajah Iis saat wanita itu memanggil namanya.
"Nathan ... tolong Saya," pinta Iis lirih.
"Iya Mbak. Saya pasti tolong Mbak. Tapi maaf, Saya ga bisa ngajak Mbak masuk ke dalam rumah karena Saya tinggal sendirian di sini. Saya khawatir ada fitnah kalo ngajak perempuan masuk ke rumah malam buta kaya gini," kata Nathan tak enak hati.
Iis hanya menggeleng lemah seolah tak peduli dengan ucapan Nathan tadi.
"Tolong Saya Nathan ...," pinta Iis sekali lagi.
"Saya bakal to ...," ucapan Nathan terputus karena Iis tiba-tiba menghilang, lenyap tanpa bekas.
Nathan pun membuka matanya lalu duduk. Ia mengamati sekelilingnya dan sadar jika telah berada di kamar. Rupanya Nathan baru saja bermimpi.
"Jadi itu cuma mimpi. Tapi kenapa terasa nyata banget ya," gumam Nathan sambil mengusap wajahnya.
Karena tak bisa tidur, Nathan mencoba menghubungi Ferdi. Saat itu jam menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Itu artinya Nathan baru saja terlelap beberapa menit usai menelepon ayahnya tadi.
"Assalamualaikum Fer," sapa Nathan.
"Wa alaikumsalam. Iya Nath, ada apaan nelephon jam segini ?" tanya Ferdi sambil menguap.
"Sorry ganggu. Tapi Gue ga bisa nunggu sampe besok," kata Nathan cepat.
__ADS_1
"Iya gapapa. Ada apaan Nath ?" tanya Ferdi sambil mengucek matanya.
"Lo ... pernah ketemu sama Mbak Iis ga Fer?" tanya Nathan ragu.
Pertanyaan Nathan membuat Ferdi mengerutkan kening. Ia merasa pertanyaan Nathan terdengar aneh mengingat mereka tak terlalu dekat dengan Iis.
"Mbak Iis ?" ulang Ferdi.
"Iya, Mbak Iis. Lo ada denger kebar Mbak Iis ga. Apa aja kegiatannya dan gimana keadaannya ?" tanya Nathan tak sabar.
"Tunggu sebentar, kenapa Lo nanyain dia. Lo ... ga ganti selera tiba-tiba kan Nath ?. Maksud Gue, setelah kecewa sama Ira, Lo ga langsung putar haluan terus cari wanita dewasa buat Lo pacarin ?!" kata Ferdi gusar.
"Sia*an Lo. Gue ga gitu ya. Udah jawab aja kenapa sih !" kata Nathan kesal.
"Ok. Gue sama Mario udah lama ga ketemu Mbak Iis. Ga pernah ngeliat dia juga biar pun dari jauh. Pas Kita coba nanya sama Mbok Ti, justru Mbok Ti bilang kalo Mbak Iis pergi dari rumah tanpa pamit. Sampe sekarang ga pernah balik lagi ke rumah kost Oren itu. Padahal semua pakaian dan barang pribadinya masih ada di dalam kamarnya !" sahut Ferdi.
Jawaban Ferdi mengejutkan Nathan. Ia mencoba mengaitkan mimpinya dengan sosok yang ia kira adalah Iis di trotoar tadi, juga berita menghilangnya Iis.
"Aneh !" kata Nathan lirih namun masih terdengar oleh Ferdi di seberang telephon.
Kemudian Nathan menceritakan pengalamannya tadi termasuk mimpinya barusan. Ferdi terkejut hingga terduduk.
"Jangan-jangan Mbak Iis emang udah meninggal Nath !" kata Ferdi lantang.
"Sssttt ... ga usah teriak bisa ga sih. Kuping Gue sakit nih !" protes Nathan sambil mengusap telinganya.
"Sorry Nath. Tapi Gue serius. Jangan-jangan Mbak Iis sengaja datangin Lo karena mau minta tolong supaya jasadnya diurus dengan layak," kata Ferdi.
"Sok tau Lo !" kata Nathan.
"Ck, bukan sok tau. Tapi kata orang kan emang gitu. Sosok hantu itu datang karena dua hal, mau ngasih tau keberadaannya atau justru mau minta tolong. Kan Lo juga ngomong gitu dulu," sahut Ferdi mengingatkan.
"Emang Gue pernah ngomong gitu ?" tanya Nathan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Terserah deh Lo inget atau ga. Tapi menurut Gue masalah ini harus disikapi serius Nath. Kasian kalo ternyata Mbak Iis emang benar-benar perlu bantuan tapi Kita ga melakukan sesuatu," kata Ferdi.
__ADS_1
Nathan pun mengangguk mengiyakan ucapan Ferdi. Setelahnya mereka sepakat untuk bertemu untuk membahas hilangnya Iis.
\=\=\=\=\=
Saat bertemu keesokan harinya, Nathan dan Ferdi sepakat untuk mulai mencari Iis. Meski Ferdi dan Mario baru mengenal Iis, namun mereka tak keberatan karena tahu wanita itu adalah sosok yang baik.
Ferdi dan Mario mulai mencari informasi tentang Iis. Dan kini mereka sedang berbincang dengan Atik, teman almarhumah Diana yang juga teman sekost Iis.
"Saya juga ga tau Iis pergi kemana. Udah sebulan lebih ga keliatan," kata Atik.
"Tapi barang-barangnya masih ada di kamarnya Mbak ?" tanya Mario.
"Iya," sahut Atik cepat.
"Udah coba lapor Polisi Mbak ?" tanya Ferdi.
"Kok lapor Polisi. Kalo Mbak Iis ga hilang tapi pergi ke rumah sodaranya gimana Mas. Kan nanti Kita yang disalahin sama Polisi karena membuat laporan palsu," kata Atik gusar.
"Tapi kalo ga ada kabar setelah sebulan lebih kan boleh lapor Mbak. Kalo emang Mbak Iis pergi ke rumah sodaranya, tapi kenapa ga pamit sama pemilik kost atau teman-temannya. Sedangkan ini udah waktunya bayar kost. Anggap aja pemilik kost takut rugi karena Iis ga bayar kost sebulan lebih," kata Ferdi.
Atik nampak berpikir sebentar lalu mengangguk setuju. Atik juga membicarakan hal itu dengan teman-teman kostnya untuk meminta persetujuan. Ternyata mereka semua mendukung niat Atik yang ingin membuat laporan orang hilang ke polisi.
Diantar Ferdi dan Mario, Atik pun melapor ke polisi tentang hilangnya Iis.
Saat polisi menanyakan pakaian terakhir yang dikenakan Iis, Atik nampak bingung.
"Pake baju selutut warna kuning Pak," kata Ferdi tiba-tiba hingga mengejutkan Mario, Atik dan polisi yang mencatat laporan.
"Kok Lo tau Mbak Iis pake baju warna kuning Fer ?" bisik Mario.
"Gue tau dari Nathan. Dia yang bilang kalo Mbak Iis pake baju warna kuning waktu datengin dia kemarin," sahut Ferdi.
Mario pun mengangguk lalu mendukung ucapan Ferdi dengan mengatakan hal yang sama.
Setelah membuat laporan, Ferdi, Mario dan Atik pun pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
\=\=\=\=\=