
Sesaat kemudian Anna dan Hilya berhasil menguasai diri dan bersiap dengan segala kemungkinan. Entah karena terlalu tegang atau memang begitu lah seharusnya, bagian perut Hilya mengeluarkan darah segar tepat di atas luka sayatan saat melahirkan tadi.
Hilya meringis sambil menyentuh perutnya. Anna dan dokter Abraham pun menoleh dan bertanya.
"Kamu kenapa Hil ?" tanya Anna.
"Ga tau Bund, ini ... perutku kenapa tiba-tiba rasanya sakit banget ya," sahut Hilya lirih.
"Sakit di sebelah mana Mbak Hilya, sakitnya gimana ?" tanya dokter Abraham.
"Mmm ... rasanya perih di permukaan kulit dan sakit di dalam sana. Pokoknya campur aduk dok," sahut Hilya ragu.
"Seperti dire*as-r*mas gitu ya ?" tanya dokter Abraham lagi.
"Iya," sahut Hilya mengangguk.
Dan saat Hilya mengangguk, Anna melihat ada bercak kemerahan di bagian depan pakaian yang Hilya kenakan. Semula kecil tapi lama kelamaan melebar dan itu membuat Anna penasaran. Wanita itu pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh bercak merah kecoklatan itu.
"Baju Kamu kenapa Hil ?" tanya Anna.
Belum sempat Hilya menjawab, Anna sudah terlanjur terkejut karena ujung jemarinya terasa basah saat menyentuh pakaian Hilya.
"Darah ?. Kamu berdarah Hilya. Gimana nih dokter ?!" tanya Anna panik.
Dokter Abraham nampak menghela nafas panjang. Ia tahu itu adalah resiko yang harus dihadapi Hilya usai operasi.
"Keliatannya luka sayatan saat melahirkan si kembar tadi terbuka dan mengeluarkan darah," sahut dokter Abraham.
"Kok bisa sih dok. Jangan-jangan lukanya belum tertutup sempurna tadi," kata Anna.
Ucapan Anna membuat dokter Abraham sedikit tersinggung. Ia merasa kredibilitasnya sebagai dokter senior diragukan oleh Anna. Padahal itu terjadi karena sesuatu yang di luar kehendak mereka dan bukan murni kesalahannya.
"Bukan ga tertutup sempurna Bu. Pasien seperti Mbak Hilya yang baru saja melakukan operasi Caesar kan seharusnya berbaring dan istirahat. Bukan malah duduk dan menghadapi sesuatu yang menegangkan seperti ini. Posisi Mbak Hilya aja udah salah. Dari yang seharusnya berbaring malah duduk dan itu menekan perut hingga membuat lukanya terbuka lagi. Selain itu sekarang Mbak Hilya juga dalam kondisi tertekan," kata dokter Abraham dengan sabar.
"Berbahaya ga dok ?" tanya Anna.
"Kalo cepat ditangani insya Allah ga bahaya Bu. Saya harap Kita bisa cepat keluar dari situasi yang ga menguntungkan ini," sahut dokter Abraham.
__ADS_1
Percakapan Anna dan dokter Abraham membuat konsentrasi Nathan buyar. Ia benar-benar khawatir pada istrinya yang baru saja melahirkan tiga bayinya itu.
Rupanya Bayan yang juga mendengar percakapan tiga orang di belakangnya itu tahu jika anaknya sedikit lengah. Saat Nathan akan menoleh Bayan pun bergegas mengingatkan.
"Jangan nengok ke belakang Nath !. Tetap fokus ke depan karena siluman itu sedang mengamatimu sekarang dan menunggu lengahmu !" kata Bayan.
"I-iya Yah. Aku cuma mau ngeliat Hilya aja sebentar," sahut Nathan.
"Ga bisa !. Kamu lengah sedikit maka bahaya bukan hanya mengancam bayimu tapi juga Istrimu. Siluman itu bisa dengan cepat menarik bayimu atau justru menyerang Istrimu. Jadi jangan sekali-kali lakukan hal kecil yang bakal Kamu sesali nanti," kata Bayan setengah mengancam.
Mendengar ucapan sang ayah membuat Nathan terkejut. Tentu saja ia tak mau kehilangan bayinya yang susah payah diperjuangkan oleh Hilya. Tanpa sadar Nathan pun mengeratkan pelukannya dan itu membuat sang bayi merasa tak nyaman. Bayi itu pun merintih dengan suara khasnya dan membuat siluman kuyang di depan sana melebarkan mata.
"Aaarrgghh ...!"
Suara geraman siluman kuyang itu membuat semua orang di dalam rombongan Bayan terkejut.
Dan setelah menggeram, siluman kuyang itu merangsek maju menyerang Bayan dan rombongan.
Melihat serangan siluman kuyang yang terarah padanya dan rombongan, Bayan pun berteriak lantang untuk mengingatkan semuanya.
"Berpencar sekarang !" kata Bayan sambil menundukkan tubuhnya untuk melindungi cucu perempuannya.
Mengetahui dirinya gagal mendapatkan mangsa, siluman kuyang itu menggeram marah. Apalagi saat itu ia hampir terkena sabetan besi yang dipegang dokter Abraham.
Siluman kuyang melesat setinggi mungkin ke atas lalu menukik turun dengan cepat. Bayan memanfaatkan kesempatan saat siluman kuyang melesat ke atas untuk menanyakan kondisi semua anggota rombongannya.
"Apa Kalian baik-baik aja ?" tanya Bayan sambil terus menatap ke langit untuk mengamati pergerakan siluman kuyang itu.
"Aman ...!" sahut dokter Abraham, dokter Yusuf dan Nathan bersamaan sedangkan Anna dan Hilya hanya mengangguk karena masih berusaha menetralkan rasa takut.
"Bagus. Sekarang Kita balik ke kamar itu !" ajak Bayan sambil berlari cepat menuju kamar rawat inap Rosi.
Nathan dan kedua dokter nampak menganggukkan kepala lalu berpencar untuk melarikan diri. Jika Bayan berlari lurus ke depan, maka Nathan berlari kearah kiri sedangkan dokter Yusuf lari kearah kanan.
Melihat anak dan suaminya berpencar membuat Anna terkejut dan bingung. Ia khawatir dokter Abraham tak akan mampu melindungi dia dan Hilya sekaligus. Anna makin bingung melihat dokter Abraham memutar arah kursi roda Hilya lalu mendorongnya dengan cepat.
"Ayo ikuti Saya Bu Anna !" panggil dokter Abraham lantang.
__ADS_1
Suara lantang sang dokter mengejutkan Anna yang sedang mematung bingung menyaksikan semuanya.
"Ayo Bund, kearah sini !" panggil Hilya histeris.
Seolah tersadar, Anna pun mengangguk lalu bergegas lari mengikuti dokter Abraham. Saat berhasil mencapai dokter Abraham, Anna pun membantu mendorong kursi roda Hilya hingga bisa bergerak lebih cepat.
"Maafin Saya ya dok," kata Anna tiba-tiba hingga membuat dokter Abraham terkejut lalu menoleh kearahnya.
"Maaf untuk apa Bu ?" tanya dokter Abraham tak mengerti.
"Maaf karena sempat meragukan kemampuan dokter tadi. Saya ga bermaksud begitu. Saya cuma panik aja," sahut Anna tak enak hati.
Jawaban Anna membuat dokter Abraham tersenyum. Pria itu pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya Bu, Saya udah maafin Ibu. Saya tau Bu Anna orang baik. Jadi mana mungkin orang sebaik Ibu tega mengatakan hal yang membuat Saya sakit hati. Iya kan ?" kata dokter Abraham sambil tertawa.
Anna pun mengangguk sedangkan Hilya yang mendengar percakapan dokter Abraham dan mertuanya ikut tertawa. Ia senang karena kesalah pahaman diantara dua orang yang dihormatinya itu telah berakhir.
"Ngomong-ngomong Kita mau kemana dok ?" tanya Hilya sambil menoleh ke belakang.
Saat itu dokter Abraham dan Anna mendorong kursi roda dengan cepat hingga membuat Hilya khawatir tersungkur. Karenanya Hilya berpegang erat di lengan kursi.
"Kita mau ke kamar rawat inap siluman itu Mbak !" sahut dokter Abraham.
"Apa yang lain juga ke sana dok ?" tanya Anna.
"Betul Bu," sahut dokter Abraham sambil mengangguk cepat.
"Kalo tujuannya sama, kenapa harus berpencar segala. Kita kan bisa pergi sama-sama dok," kata Anna tak mengerti.
"Justru Kita berpencar untuk mengecoh siluman itu Bu," sahut dokter Abraham.
"Oh, tujuannya pasti bikin siluman itu bingung kan dok. Sekarang semua punya sesuatu yang disukai oleh siluman itu. Kalo Ayah, dokter Yusuf dan Bang Nathan punya bayiku, maka dokter Abraham punya Aku. Maka siluman itu harus memilih mana yang mau lebih dulu dia mangsa. Bukan begitu dok ?" tanya Hilya.
"Ck ck ck ..., Saya ga nyangka Bu Anna punya menantu sepintar ini. Analisa Mbak Hilya tepat seratus persen. Kita memang lagi bikin siluman itu bingung untuk memilih," sahut dokter Abraham takjub.
Ucapan dokter Abraham membuat Anna dan Hilya saling menatap lalu tersenyum bangga.
__ADS_1
\=\=\=\=\=