
Bayan dan Nathan tiba di peternakan setelah Maghrib. Mereka sempat menunaikan sholat Maghrib berjamaah di salah satu masjid yang mereka lewati tadi. Letak masjid memang tak terlalu jauh dari peternakan. Dan dari masjid mereka bisa melihat atap rumah milik keluarga Bayan yang makin jelas terlihat.
Usai sholat keduanya memanjatkan doa secara khusus, memohon kepada Allah agar diberi kelancaran dalam menyelesaikan semuanya.
"Apa Kamu siap Nath ?" tanya Bayan saat mereka sedang mengenakan alas kaki.
"Insya Allah siap Yah," sahut Nathan mantap.
"Bagus. Terus gimana sama perasaan ga enakmu tadi, apa masih ada ?" tanya Bayan.
"Aku usahakan untuk menepisnya Yah. Aku sadar jika yang akan Kita lakukan lebih utama dibanding perasaan melankolisku itu," sahut Nathan cepat.
Bayan mengangguk sambil tersenyum mendengar jawaban sang anak.
Kemudian Bayan dan Nathan bergegas masuk ke dalam mobil lalu melaju menuju peternakan. Tiba di sana Nathan memarkirkan mobil cukup jauh dari rumah. Bayan pun tak keberatan karena saat ini kedua matanya tengah fokus menatap rumah lama dimana mereka meninggalkan Rosi.
Saat itu kedua rumah nampak gelap gulita. Hanya ada penerangan di teras depan dan samping rumah. Biasanya sebagian lampu di dalam rumah baru akan dibiarkan menyala oleh Ponco. Namun nampaknya pria itu lupa sehingga membiarkan rumah besar itu dalam kondisi gelap.
"Kenapa gelap banget Yah. Bukannya Pak Ponco bersih-bersih tadi ?" tanya Nathan tanpa menatap sang ayah.
"Iya. Mungkin Ponco lupa atau justru takut karena Ayah memang memintanya menjauh dari tempat ini segera," sahut Bayan.
Nathan pun terdiam sambil terus menatap ke sekelilingnya. Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang melengking disertai geraman aneh. Ditilik dari asal suara diduga berasal dari rumah lama tempat dimana Rosi tinggal beberapa hari ini.
Mendengar suara itu Bayan dan Nathan bergegas lari menuju rumah lama. Namun langkah mereka terhenti karena Ponco tiba-tiba muncul dari samping rumah besar lalu menghadang mereka.
"Jangan ke sana Pak, Mas. Bahaya !" kata Ponco sambil merentangkan kedua tangannya.
"Ponco ?!. Kenapa Kamu masih di sini. Saya kan udah minta Kamu pulang tadi ?" tanya Bayan gusar.
"Maafin Saya Pak. Saya khawatir sama Bapak dan Mas Nathan, makanya Saya sengaja nunggu Bapak dan Mas di belakang rumah besar," sahut Ponco.
__ADS_1
"Kalo emang nunggu di sini daritadi, kenapa lampu di rumah besar ga dinyalakan kaya biasanya Pak ?" tanya Nathan tak mengerti.
"Oohh ... itu. Mmm ..., soalnya Saya takut Mas. Waktu mau nyalain lampu, mendadak Saya denger suara menggeram aneh di rumah lama. Lebih menyeramkan dibanding pertama kali Saya dengar. Pas siang hari datang ke sini, Saya juga sempet kaget denger suara itu. Karena Saya inget pesen Bapak yang bilang ga usah terpengaruh sama suara itu, ya Saya tenang aja. Saya pikir Bapak lagi nyimpen hewan langka di rumah itu. Soalnya suaranya aneh banget," sahut Ponco.
"Aneh gimana maksudnya Pak ?" tanya Nathan.
"Ya aneh Mas. Sebentar mendesis, sebentar menggeram, sebentar lagi melengking. Karena suaranya yang berganti-ganti itu justru bikin merinding Mas. Biar pun siang hari dan terang benderang, entah kenapa Saya jadi takut dengernya. Serem ...," sahut Ponco sambil bergidik.
Bayan dan Nathan saling menatap dalam diam. Mereka tak mungkin melanjutkan aksi mereka jika Ponco tetap berada di sana. Sedangkan Ponco nampaknya terlalu sayang pada tuannya hingga rela menahan takut hanya untuk melindungi Bayan dan Nathan.
"Saya emang memelihara hewan langka Pon. Hewan reptil sejenis komodo. Itu hadiah dari rekan bisnis Saya. Karena baru dikirim dan khawatir membahayakan Cucu-cucu Saya, makanya Saya bawa ke sini. Rekan Saya juga bilang, sebelum dilepas harus dibiasain sama lingkungan. Saya pikir lingkungan yang cocok untuk reptil ya di sini. Saya ga mungkin taro di luar karena khawatir bikin kuda-kuda takut kan," kata Bayan sesantai mungkin.
"Oh gitu. Terus sekarang Bapak sama Mas Nathan mau ngapain ?" tanya Ponco.
"Ngasih makan dong. Apalagi emangnya. Udah deh, sekarang lebih baik Kamu pulang. Biar Saya sama Nathan di sini sebentar," pinta Bayan.
"Yakin ga butuh bantuan Saya Pak ?" tanya Ponco setengah memaksa.
"Iya deh. Tapi maaf Pak, harusnya Bapak pake pawang khusus buat nanganin reptil itu. Keliatannya buas banget lho Pak," kata Ponco.
"Masuk akal. Ok, Saya bakal cari orang buat ngawasin reptil itu nanti," sahut Bayan tak sabar.
Ponco pun mengangguk lalu melangkah kearah rumah besar.
"Eh, mau kemana Pak ?" tanya Nathan.
"Mau nyalain lampu Mas," sahut Ponco.
"Ga usah. Biar Saya yang nyalain nanti. Sekarang Pak Ponco pulang aja ya," kata Nathan sambil mendorong tubuh Ponco agar menjauh dari dia dan ayahnya.
Melihat wajah Bayan dan Nathan yang tegang itu membuat Ponco tak nyaman. Apalagi secara tersirat kedua tuannya itu terus berusaha 'mengusirnya' sejak tadi.
__ADS_1
"Iya Mas. Saya ambil sepeda dulu ya," kata Ponco.
Nathan mengangguk lalu membiarkan Ponco berlari ke samping rumah. Tak lama kemudian terlihat Ponco mengayuh sepedanya keluar menuju gerbang peternakan tanpa menoleh lagi.
"Kunci gerbangnya Nath !" kata Bayan.
"Iya Yah," sahut Nathan lalu berlari menuju gerbang peternakan yang jaraknya lumayan jauh dari lokasi mereka berdiri.
Saat Nathan berlari menuju gerbang, Bayan pun melangkah mendekati rumah lama. Ia berhenti tepat di depan pintu sejenak. Setelah menghela nafas panjang Bayan memberanikan diri mendekati jendela lalu 'mengintip' ke dalam rumah.
Bayan menahan nafas saat melihat kondisi di dalam rumah. Suasana di dalam rumah terlihat sama persis seperti saat Senja berakhir di sana. Ternyata semua perabotan yang ada di rumah itu masih menempati posisi yang sama dan tak bergeser sedikit pun.
Saat itu lah Bayan teringat dengan Anna. Ia yakin sang istri lah yang telah mengatur semuanya agar tetap seperti saat Senja tinggalkan karena dia sendiri sudah lama tak pernah masuk ke sana. Nampaknya Anna tak ingin merusak kenangan terakhir Bayan bersama Senja.
"Makasih Sayang. Kamu memang wanita yang hebat," gumam Bayan sambil tersenyum.
Tiba-tiba Bayan terkejut saat melihat sosok tubuh yang berlari kearahnya lalu jatuh tepat di bawah jendela. Bayan tahu itu adalah Rosi. Dari tempatnya berdiri Bayan terus mengawasi pergerakan Rosi.
Jantung Bayan seolah berhenti berdetak saat Rosi mendongakkan kepalanya dan menatap kearahnya. Dari jarak sedekat itu Bayan bisa melihat kondisi Rosi yang sangat mengerikan.
Entah mengapa melihat wajah Rosi yang menyiratkan kesakitan itu membuat Bayan refleks menoleh ke langit.
Bayan terkejut saat melihat bulan purnama penuh di atas sana. Meski pun siluman kuyang bisa memangsa korbannya kapan pun dia mau, tapi saat bulan purnama penuh kekuatan mereka akan bertambah. Dan mau tak mau itu membuat Bayan gusar.
"Bulan purnama ...," gumam Bayan seolah baru menyadari kehadiran bulan yang bersinar indah menghias langit malam itu.
"Pasti siluman kaya dia bisa jadi lebih kuat sekarang. Iya kan Yah ?" tanya Nathan yang diangguki sang ayah.
Di tanah lapang yang luas itu bulan purnama bak magnet yang menyita seluruh perhatian. Bentuknya bulat besar, berwarna kuning semu oranye yang cantik. Cahayanya yang lembut menerpa semua benda yang ada di permukaan bumi hingga membuat semua terlihat makin cantik.
Pemandangan itu juga menyita perhatian Bayan dan Nathan. Keduanya nampak berdiri sambil menatap karya Sang Pencipta dengan tatapan takjub.
__ADS_1
\=\=\=\=\=