
Security nampak mulai lelah. Setelah beberapa menit mencari, namun musang itu tak juga ditemukan, dia pun menyerah dan memutuskan kembali ke pos di depan klinik.
"Kayanya udah kabur. Kalo gitu Saya balik lagi ke depan ya Pak, Mas," kata security.
"Jangan-jangan musangnya masuk ke dalam dan sembunyi di sana Pak ?" tanya Nathan.
"Saya yakin musang itu ga bakal berani masuk Mas. Di dalam kan banyak orang, musang itu pasti takut. Saya cuma khawatir musang itu binatang jadi-jadian yang dikirim untuk mengalihkan perhatian," kata sang security sambil tersenyum kecut.
"Maksudnya gimana ya Pak ?" tanya Nathan tak mengerti.
"Maksud Saya, Klinik ini kan lumayan ngetop Mas. Belum ada Klinik yang pelayanannya. sebagus Klinik Hilya di sekitar sini. Nah, Saya yakin pasti bakal banyak yang iri sama pencapaian Klinik Hilya. Yang iri dengki artinya ga puas dan bisa berbuat nekad untuk menghancurkan reputasi Klinik Hilya. Dengan ngirim binatang ga lazim kaya gitu kan bikin para pengunjung yang kebanyakan perempuan akan merasa takut. Apalagi musang kan termasuk hewan buas. Imbasnya Klinik bakal sepi dan ditinggalin pasien. Kalo itu terjadi, artinya niat mereka terwujud. Dan Saya ga mau itu terjadi karena bisa berakibat buruk buat semua orang yang bergantung sama Klinik Hilya," sahut security panjang lebar.
"Masuk akal, " sahut Nathan sambil mengangguk.
"Saya harap apa yang Saya liat tadi salah. Makanya setelah cukup mencari tapi ga ketemu juga, lebih baik Saya balik ke posisi semula," kata sang security sambil tersenyum.
"Betul juga. Biar Saya dan Ayah Saya yang ngelanjutin pencarian. Nanti kalo ada apa-apa Saya kasih tau deh," kata Nathan yang diangguki Bayan.
"Ok Mas, begitu juga boleh. Makasih ya," kata sang security sambil melangkah meninggalkan tempat itu menuju pos depan.
Setelah security tak terlihat, Bayan dan Nathan bergerak menyebar. Mereka bergerak ke sisi yang berbeda untuk mencari keberadaan siluman kuyang yang diyakini Bayan masih sembunyi di sekitar klinik.
"Itu dia Yah !" kata Nathan setengah berteriak.
Bayan menoleh kearah yang ditunjuk Nathan lalu mengangguk. Di atas atap tepat di atas kamar bersalin nampak seonggok benda berwarna hitam berdiam di sana. Benda mirip bola itu lalu menggelinding ke sana kemari seolah sedang mencari celah untuk bisa masuk.
"Gimana cara nangkepnya Yah ?" tanya Nathan bingung.
"Sulit Nath. Tempatnya terlalu tinggi dan jauh dari pohon. Kita ga mungkin pake tangga karena itu menarik perhatian orang-orang. Lagian sebelum sampe bisa-bisa dia tau dan kabur nanti," sahut Bayan gusar.
"Kalo Kita tau dimana tubuhnya pasti bakal lebih gampang ya Yah," kata Nathan.
__ADS_1
"Betul. Tapi sekarang Kita ga punya waktu untuk mencari tubuhnya. Apalagi di dalam sana sedang ada proses persalinan Nath," sahut Bayan.
Ucapan Bayan tentu saja membuat Nathan panik. Ia tak bisa membayangkan bayi yang baru melihat dunia itu tewas di mulut siluman kuyang.
"Ngomong-ngomong Kamu bawa yang Ayah pesen tadi kan Nath ?" tanya Bayan tiba-tiba.
Nathan mengangguk lalu bergegas mengeluarkan dua botol cairan yang diraciknya dari rumah tadi.
"Ini Yah. Sebenernya Aku ga yakin ini bakal bisa bikin dia mati, tapi setidaknya dia bakal pergi karena cairan ini kan lumayan memabukkan," kata Nathan sambil tersenyum.
Bayan ikut tersenyum. Ia setuju dengan ucapan Nathan. Saat ini yang terpenting adalah mengusir siluman kuyang itu agar menjauh dari klinik.
Kemudian Bayan dan Nathan mulai bergerak mengelilingi klinik. Mereka menyemprotkan cairan itu ke semua ventilasi di Klinik Bersalin Hilya terutama di sekitar kamar mandi yang berdekatan dengan ruang bersalin.
Aroma pekat dari cairan itu menguar di udara. Tak mengganggu manusia sama sekali namun membuat siluman kuyang yang sembunyi di atas atap klinik marah. Siluman kuyang marah karena kesenangannya terganggu.
Siluman kuyang yang sembunyi di atap itu nampak mendengus kesal. Niatnya memangsa bayi yang sedang dilahirkan di dalam sana terancam gagal.
Meski pun begitu siluman itu tak menyerah. Ia mencoba peruntungan dengan mencari jalan masuk melalui area belakang klinik. Nampaknya siluman kuyang yang bisa dipastikan adalah jelmaan Rosi itu ingat ada celah di sana yang memungkinkan untuknya menyelinap masuk.
Kemudian siluman kuyang jelmaan Rosi melesat cepat ke langit lalu kembali lagi. Nampaknya siluman itu masih tak ingin menyerah. Apalagi tangisan bayi yang baru saja dilahirkan di dalam sana kian memancing hasratnya untuk membunuh sang bayi.
"Aaarrrggghh ... aarrrggghhh ...,"
Siluman kuyang jelmaan Rosi nampak berputar-putar di atas Klinik Bersalin Hilya. Dalam gelap siluman itu terus bergerak mencari celah untuk masuk. Namun beberapa saat mencoba, siluman itu tak berhasil menemukan celah untuk masuk. Dengan terpaksa siluman itu mundur karena tak tahan dengan aroma cairan yang disemprotkan Bayan dan Nathan tadi.
Bayan dan Nathan mengucap hamdalah sambil adu toast saat melihat siluman kuyang itu melesat pergi meninggalkan klinik.
Sementara itu dalam ruang bersalin terlihat wajah-wajah yang berbinar bahagia. Rupanya wanita yang tadi dibantu Bayan berhasil melahirkan bayinya. Meski pun bayi sempat terjebak di jalan lahir karena terlilit tali pusat, namun berkat bantuan bidan Intan yang ulet, bayi pun bisa lahir selamat.
"Alhamdulillah ..., cewek Bu !" kata bidan Intan sambil tertawa.
__ADS_1
"Alhamdulillah ..., makasih Bu Bidan," sahut ibu sang bayi dengan suara bergetar.
"Tapi dijahit sedikit gapapa ya Bu," kata bidan Intan sambil tersenyum penuh makna.
"Sakit ga Bu Bidan ?" tanya ibu sang bayi.
"Lebih sakit melahirkan kok Bu," sahut bidan Intan.
Ibu sang bayi pun mengangguk lalu membiarkan bidan Intan melakukan tugasnya. Sesekali wanita itu nampak meringis saat merasakan sakit di area organ int*mnya yang dijahit itu.
Untuk mengalihkan rasa sakit, wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia tersenyum melihat bayinya sedang dibersihkan oleh perawat. Namun senyum wanita itu memudar saat melihat ada segumpal rambut di langit-langit ruangan tepat dimana bayinya berada.
"Itu ... apa ya Bu Bidan ?" tanya wanita itu sambil menunjuk ke atas tepat di plafond ruangan.
Semua orang menoleh kearah yang ditunjuk ibu sang bayi dan terkejut melihat ada segumpal rambut di sana.
"Bu Bidan itu ...," ucapan sang perawat terputus karena bidan Intan memotong cepat.
"Rupanya musang yang dicari Pak Satpam sembunyi di situ," kata bidan Intan sambil tersenyum.
"Musang ?" tanya perawat dan ibu sang bayi bersamaan.
"Iya. Waktu Saya mau masuk ke sini Pak Satpam lagi nyenterin plafond. Katanya ada musang di atap. Dia khawatir musang itu masuk ke sini dan mengganggu pasien," sahut Bidan Intan setenang mungkin.
"Oh gitu. Jadi sesuatu yang mirip rambut itu ekornya musang ya Bu," kata ibu sang bayi sambil menghela nafas lega.
"Iya Bu," sahut bidan Intan cepat sambil berusaha menyelesaikan tugasnya.
Suasana di dalam ruang bersalin kembali kondusif. Semua orang berpikir positif dan fokus menyelesaikan tugas masing-masing.
Meski pun ibu sang bayi sempat khawatir karena menduga didatangi kuntilanak, namun wanita itu nampak tenang karena bidan dan perawat terlihat tenang. Rupanya wanita itu menduga gumpalan rambut di plafond ruangan itu adalah rambut kuntilanak. Sang ibu berpikir seperti itu karena kuntilanak memang menyukai darah. Apalagi saat ini banyak darah di dalam ruang bersalin.
__ADS_1
Tak lama kemudian bayi yang selesai dibersihkan itu telah berada di pelukan sang ibu. Bidan Intan nampak tersenyum puas karena berhasil menyelesaikan tugasnya membantu ibu dan sang bayi.
\=\=\=\=\=