
Acara aqiqah Akbar untuk ketiga anak kembar Nathan dan Hilya yang digelar di aula bersama milik warga itu berjalan lancar.
Banyak tamu yang hadir untuk memberikan doa dan suport kepada Nathan dan keluarga kecilnya itu. Rata-rata mereka takjub dengan Hilal, Hilman dan Hanfa yang tak menangis selama acara berlangsung.
"Kok bisa sih mereka seanteng itu. Jadi gemes kan Nenek," kata nenek Hilya sambil menatap gemas kearah tiga buyutnya yang ada di tengah ruangan.
"Iya Nek. Jadi pengen nyubit deh rasanya," sahut Varel sambil tersenyum.
"Kalo dipikir-pikir, Hilya melahirkan tiga bayi sekaligus seolah mereka emang diperuntukkan untuk Kalian. Iya ga sih ?" tanya nenek Hilya sambil menatap Varel, Angga dan Bima bergantian.
"Betul Nek. Kakek juga berpikir kaya gitu. Allah tau kelakuan Kalian yang selalu berebut. Makanya Allah langsung kirim tiga bayi sekaligus ke dalam rahimnya Hilya. Tujuannya ya biar Kalian ga berebut keponakan," kata Kakek Hilya sambil menatap tiga cucu laki-lakinya itu bergantian.
"Masuk akal sih Nek, Kek. Aku juga ngerasanya begitu. Secara ga sadar Kami juga punya keponakan favorit lho. Keponakan favorit Aku ya Hanfa dong, si cantik yang paling imut dan menggemaskan. Kalo Varel lebih milih Hilal dan Bima milih Hilman," sahut Angga antusias.
"Tapi jangan bedain kasih sayang diantara mereka bertiga ya. Ga baik !" kata Kakek Hilya.
"Siap Kek. Kalo kasih sayang mah dijamin adil seadil-adilnya kaya sila kelima Pancasila," sahut Bima sambil menaik turunkan alisnya.
Jawaban Bima membuat semua orang tertawa. Hilya yang tak sengaja mendengar pembicaraan Kakek, nenek dan ketiga sepupunya itu pun ikut tertawa.
"Kenapa ketawa sendiri Sayang ?" tanya Nathan heran.
"Aku ngetawain Varel, Angga sama Bima. Ternyata mereka sekarang punya keponakan favorit lho," sahut Hilya.
"Keponakan favorit, maksudnya gimana sih ?" tanya Nathan tak mengerti.
"Jadi keponakan favoritnya Angga si Hanfa, kalo Varel sama Hilal dan Bima sama Hilman. Pas banget kan ?" kata Hilya sambil tertawa hingga Nathan pun ikut tertawa.
"Ada-ada aja sih mereka," kata Nathan sambil menggelengkan kepala.
Tiba-tiba sang MC meminta ketiga bayi dibawa berkeliling untuk menyapa para tamu. Nathan pun meminta Hilya tetap duduk karena kondisinya yang belum benar-benar pulih. Kemudian Nathan memanggil Fikri dan Nicko untuk membantunya menggendong si kembar.
__ADS_1
Diiringi bacaan sholawat oleh team hadroh, ketiga pria dewasa itu pun membawa ketiga bayi mungil Nathan untuk menyapa para tamu. Lagi-lagi semua orang memuji paras tampan dan cantik anak-anak kembar itu hingga membuat Nathan tersenyum bangga.
Banyak doa dilantunkan, banyak harapan disemai hari itu. Aqiqah Akbar itu memang menyita banyak perhatian warga karena selama ini belum pernah ada aqiqah yang digelar secara besar-besaran di wilayah tempat tinggal mereka.
Hingga menjelang Dzuhur acara pun selesai. Semua orang pun membubarkan diri lalu kembali ke rumah masing-masing. Hilya nampak ditemani Anna dan semua keluarga masih bertahan di sana sambil menunggu para pria menunaikan sholat Dzuhur berjamaah di musholla.
Setelahnya mereka kembali ke rumah. Karena siang itu panas terik, mau tak mau mereka menggunakan mobil untuk kembali ke rumah.
Saat tiba di rumah Hilya dan ketiga bayinya langsung dibawa ke kamar untuk istirahat. Sementara yang lain masih berkumpul sambil berbincang.
Tiba-tiba ponsel Bayan berdering. Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat nama seseorang di layar ponselnya. Nathan yang sedang menatap ayahnya pun ikut cemas karena sang ayah memilih menyingkir untuk menjawab telephon. Karena penasaran, Nathan pun mengikuti ayahnya yang berjalan ke teras samping. Ia terus mengamati wajah sang ayah yang sedang bicara dengan seseorang di seberang telephon.
"Kenapa Pon ?" tanya Bayan.
" ... "
"Saya memang sengaja mengunci pintu karena naro sesuatu di sana. Gapapa, ga usah dibersihin. Lain kali aja Pon. Kamu cukup bersihin rumah besar aja ya," kata Bayan.
" ... "
" ... "
"Iya, iya. Insya Allah Saya sama Nathan ke sana sore ini. Pokoknya inget pesan Saya ya Pon. Jangan buka pintu rumah lama meski suara apa pun yang Kamu dengar nanti. Abaikan aja dan segera menjauh dari sana. Kalo udah selesai bersih-bersih, langsung pulang ya Pon !" kata Bayan di akhir kalimatnya.
Setelahnya Bayan memutus sambungan telephon. Ia nampak mengepalkan tangannya dengan kuat seolah sedang dilanda kecemasan yang amat sangat.
"Ada apa Yah ?!" tanya Nathan tiba-tiba hingga mengejutkan Bayan.
"Eh, Kamu Nath, ngagetin aja. Si Ponco yang telephon barusan," sahut Bayan sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku baju.
"Pak Ponco penjaga peternakan itu Yah ?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Iya," sahut Bayan cepat.
"Ada apa Yah, apa terjadi sesuatu sama Bu Rosi ?" tanya Nathan cemas.
"Itu yang Ayah khawatirkan. Sore ini Kita ke sana yuk Nath. Tapi ga enak sama yang lain ya. Ayah ga mau mereka curiga dan mikir macam-macam nanti. Soalnya ini kan hari penting Anak-anak Kamu Nath," kata Bayan gusar.
"Ayah tenang aja. Biar Aku yang bilang sama mereka nanti. Kalo Hilya sih insya Allah ngerti kok Yah. Kan dia juga tau kalo beberapa hari ini Kita sibuk dan pulang malam terus," kata Nathan menenangkan ayahnya.
Bayan pun mengangguk lalu masuk ke dalam rumah untuk bergabung dengan keluarga dan kerabat.
\=\=\=\=\=
Setelah menunaikan sholat Ashar di musholla, Bayan dan Nathan langsung meluncur ke peternakan tanpa kembali ke rumah lebih dulu. Hal itu mereka lakukan karena tak ingin menimbulkan banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat yang masih berkumpul di rumah.
"Ga usah ngebut Nath, santai aja. Kita udah siapin semua sejak beberapa hari yang lalu kan," kata Bayan mengingatkan karena melihat Nathan sedikit panik.
"Iya Yah. Tapi ...," Nathan sengaja menggantung ucapannya karena ragu.
"Tapi apa ?" tanya Bayan tak sabar.
"Mmm ..., Aku cuma merasa sedikit aneh Yah. Kaya sedih karena mau kehilangan sesuatu gitu. Waktu Bu Rosi untuk pergi, cepat atau lambat bakal tiba juga. Tapi mengawasinya selama beberapa hari dari dekat tuh bikin Aku merasa dekat dan punya ikatan batin sama dia. Aku tau ini salah, makanya Aku bingung. Apa jangan-jangan Aku mulai terpengaruh sama siluman itu ya Yah ?" tanya Nathan gusar.
Bayan tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar pengakuan sang anak.
"Mudah-mudahan itu bukan apa-apa Nath. Mungkin Kamu merasa dekat karena Rosi itu kan Ibu kandung Mama Senja. Mungkin perasaan itu timbul karena Kamu merasa sedikit bersalah pada almarhumah Mama Senja. Tapi percaya lah, apa yang Kita lakukan sudah benar kok," kata Bayan mantap.
Nathan pun menganggukkan kepala mendengar ucapan sang ayah. Setelahnya Nathan membisu sambil mengemudikan mobil. Dalam hati ia terus berdzikir. Dan dzikir Nathan makin kuat saat melihat atap 'rumah lama' dimana Rosi mereka tinggalkan sudah terlihat.
Entah mengapa semakin dekat ke lokasi peternakan, perasaan Bayan dan Nathan semakin gelisah.
\=\=\=\=\=
__ADS_1