
Saat keluar dari rumah ustadz Mustafa, Bayan masih sempat menoleh ke belakang. Mirza yang mengantar Bayan hingga ke halaman pun hanya tersenyum maklum. Mirza paham mengapa Bayan terlihat gusar setelah bertemu ayahnya tadi.
"Apa masih ada yang ingin Mas Bayan sampaikan ?, kalo ada biar Saya sampaikan nanti sama Bapak," kata Mirza dengan santun.
"Sebenernya banyak Mas, tapi ga usah deh. Bukan karena ga percaya sama Mas Mirza, tapi Saya ragu apa Ustadz Mustafa paham apa yang Saya inginkan," sahut Bayan sambil tersenyum.
"Iya Mas. Maafin Bapak kalo punya salah ya Mas," pinta Mirza yang diangguki Bayan.
" Sama-sama, Saya juga minta maaf kalo punya salah. Ngomong-ngomong apa Ustadz Mustafa dibawa berobat juga Mas ?" tanya Bayan pura-pura tak tahu.
"Oh tentu Mas. Biasanya Kami membawa Bapak berobat rutin ke Rumah Sakit J. Di sana Bapak menjalani therapy bicara dan berjalan," sahut Mirza.
"Therapy bicara dan berjalan. Bukannya Ustadz cuma sedikit pikun aja Mas, kenapa harus therapy jalan dan bicara segala ?" tanya Bayan tak mengerti.
"Kami juga ga paham Mas. Tapi begitu lah anjuran dokter yang merawat Bapak. Kami sebagai keluarga hanya berusaha memberikan yang terbaik. Jika itu baik dan menunjang kesembuhan Bapak, Kami ga keberatan kok," sahut Mirza.
"Mas Mirza betul. Semoga Ustadz Mustafa cepat sembuh ya. Oh iya, ini ada sedikit uang, mudah-mudahan bisa membantu beli buah-buahan kesukaan Ustadz Mustafa," kata Bayan sambil meletakkan amplop berisi uang di telapak tangan Mirza.
"Masya Allah, Alhamdullilah ..., makasih ya Mas Bayan. Semoga Allah melipat gandakan pahala dan membalas kebaikan Mas Bayan," kata Mirza dengan tulus.
"Aamiin ..., sama-sama Mas. Sekarang Saya pamit ya, Assalamualaikum," pamit Bayan lalu mulai melajukan kendaraannya meninggalkan pekarangan rumah ustadz Mustafa.
Kali ini Bayan melajukan mobilnya menuju Rumah sang mertua. Rupanya Bayan rindu pada istri dan kedua anak mereka.
Tiba di rumah sang mertua Bayan melihat Anna tengah duduk sambil menyusui Nicko. Dan Anna tampak menjerit kesal saat Nathan mengejutkannya. Itu karena bukan hanya Anna yang terkejut tapi juga Nicko yang tengah menyusu. Bahkan saking terkejutnya Nicko pun tersedak.
"Abang Nathaaannn !" panggil Anna gemas hingga membuat Bayan tertawa sambil menggelengkan kepala.
Nathan nampak tertawa lalu berlari menjauh karena mengira sang bunda akan mengejarnya. Namun suara Bayan yang memanggil namanya menghentikan aksi Nathan. Bocah tiga tahun itu pun menoleh lalu berlari sambil merentangkan kedua tangannya saat melihat Bayan berdiri di teras rumah.
"Ayaahh ...!" panggil Nathan lantang hingga membuat Anna ikut menoleh kearah teras.
__ADS_1
Saat melihat sang suami berdiri sambil merentangkan kedua tangannya, Anna pun tersenyum. Ia tetap tersenyum saat Bayan menghampiri sambil menggendong Nathan.
"Assalamualaikum, apa kabar Bund ?" tanya Bayan sambil mendaratkan kecupan sayang di kening Anna.
"Wa alaikumsalam, Alhamdulillah baik Yah," sahut Anna dengan wajah berbinar.
"Gimana anak-anak, rewel ga ?" tanya Bayan sambil menatap Nicko yang tengah menyusu.
"Ga Yah. Nicko anteng seperti biasa, cuma Abang Nathan sekarang jadi suka isengin Adiknya," sahut Anna sambil melirik kearah sang anak sulung.
Bayan pun menatap Nathan yang meringis di dalam gendongannya. Ia mencubit pipi Nathan dengan gemas hingga sang anak tertawa.
\=\=\=\=\=
Setelah melepas rindu pada anak dan istrinya, keesokan harinya Bayan pun kembali menitipkan mereka pada mertuanya.
Saat Bayan pamit, Nathan sempat menangis dan merengek ingin ikut ayahnya. Namun Anna berhasil membujuknya dan mengatakan jika sang ayah harus memperbaiki rumah mereka.
"Kan rumah Kita ga rusak Bunda ...," rengek Nathan.
"Iya. Tapi Ayah mau bikinin kamar baru buat Adik supaya Adik punya kamar sendiri kaya Nathan. Gimana, boleh ga?" tanya Anna.
"Kalo udah punya kamar, Adik ga bobo sama Bunda lagi kaya Aku ya ?" tanya Nathan.
"Iya," sahut Anna sambil menahan tawa.
"Mmm ... boleh. Tapi nanti kalo Adik haus gimana ?" tanya Nathan sambil menyeka ingusnya.
"Kita gantian jaga Adik, jadi kalo Adik haus kasih tau Bunda biar Bunda samperin nanti," sahut Anna.
Nathan nampak terdiam seolah berpikir sejenak. Aksi Nathan membuat Bayan dan Anna tertawa. Sesaat kemudian Nathan menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
__ADS_1
"Anak pinter, sini peluk Ayah dulu," kata Bayan sambil meraih Nathan ke dalam pelukannya.
Nathan pun nampak patuh meski masih sedikit terisak. Sebelum Bayan mengurai pelukannya, Anna pun ikut memeluk Nathan hingga membuat bocah itu tertawa. Ibu Anna yang menyaksikan aksi mereka pun ikut tersenyum bahagia.
Tak lama kemudian Bayan nampak melajukan mobilnya meninggalkan rumah sang mertua. Bayan pergi dengan perasaan tenang diiringi lambaian tangan anak dan istrinya. Kali ini ia berencana pergi ke Rumah Sakit J untuk menemui ustadz Mustafa.
Bayan tiba tepat waktu. Ia berhasil menemui ustadz Mustafa saat hendak dibawa ke ruang therapy. Ustadz Bayan nampak tersenyum lebar menyambut kehadiran Bayan.
Perawat pria yang sedang mendorong kursi roda ustadz Mustafa pun nampak terheran-heran saat menyaksikan reaksi ustadz Mustafa yang luar biasa itu. Sebab selama ia membantu ustadz Mustafa menjalani therapy, baru kali ini ia melihat sang ustadz tersenyum bahagia seperti itu.
Ustadz Mustafa memberi kode pada Bayan agar memperkenalkan diri sekaligus minta ijin mendampinginya menjalani therapy. Sang perawat tak keberatan karena sebenarnya pasien boleh didampingi keluarga saat menjalani therapy.
Pagi itu Bayan menyaksikan ustadz Mustafa menjalani therapy agar bisa kembali berjalan normal. Bayan terkejut saat melihat kondisi kaki sang ustadz yang tak bisa berdiri dengan baik. Karena penasaran Bayan pun bertanya apa yang terjadi dengan kaki sang ustadz.
Sambil membantu ustadz Mustafa berlatih berdiri dan berjalan di jalur khusus dengan dua penyangga besi yang memanjang, sang perawat pun mulai bercerita.
"Dua tahun yang lalu Ustadz mengalami kecelakaan saat kembali dari luar kota Pak. Saat itu lukanya sangat parah. Terlalu parah bahkan sampe mengenai pita suara segala. Makanya selain mengalami kelumpuhan, ustadz Mustafa juga kehilangan kemampuan bicara untuk sementara waktu," kata sang perawat.
Ucapan sang perawat mengejutkan Bayan. Jika luka di kaki membuat sang ustadz tak bisa berjalan, Bayan masih bisa terima. Tapi saat ustadz Mustafa dikatakan kehilangan kemampuan bicara, Bayan nampak sedikit kesal. Sebab dia tahu betul jika sang ustadz bisa bicara dengan baik dan jelas. Bahkan ustadz Mustafa juga memintanya datang hari itu. Bayan siap menyangkal ucapan sang perawat namun ustadz Mustafa nampak memberi isyarat dengan menggelengkan kepala. Meski bingung, Bayan pun mengangguk untuk mengiyakan permintaan ustadz Mustafa.
"Terus perkembangannya gimana Mas?" tanya Bayan basa basi.
"Untuk berjalan, Alhamdulillah udah ada kemajuan. Meski pun saat berdiri dan awal berjalan masih harus dibantu Pak," sahut sang perawat.
"Oh gitu. Terus masalah kesulitan bicara, apa Ustadz Mustafa juga harus ikut therapy khusus Mas ?" tanya Bayan.
"Iya Pak. Setelah ini selesai, istirahat sebentar terus lanjut therapy untuk latihan bicara. Apa Bapak masih mau nemenin sampe selesai ?" tanya sang perawat.
"Insya Allah Saya bakal nemenin Ustadz sampe selesai Mas," sahut Bayan cepat hingga membuat sang perawat tersenyum senang.
\=\=\=\=\=
__ADS_1