Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
98. Lamaran Sepihak


__ADS_3

Nathan memilih menyimpan cerita yang disampaikan Mia hingga ia lulus kuliah dan kembali ke Indonesia.


Beruntung Mia tak menuntut penjelasan apa pun dari Nathan karena Nathan memang tak punya jawaban tentang siapa wanita bergaun kuning yang dilihat Mia itu.


Di hari Nathan kembali ke Jakarta, saat itu bertepatan dengan pertemuan penting di Bali. Marco hadir di sana dan Mia selaku wakil direktur pun harus ikut mendampingi sang ayah hingga ia tak bisa menjemput Nathan.


"Kak Mia ga bisa ikut jemput Bang. Katanya lagi ada meeting di Bali," kata Nicko setelah mengurai pelukan.


"Iya Abang tau," sahut Nathan.


"Ayah juga ga bisa jemput karena ada kerjaan yang ga bisa ditinggal Bang," kata Nicko.


"Iya gapapa. Terus Bunda mana ?. Jangan bilang Bunda ga bisa jemput Abang gara-gara meeting sama Ibu-ibu arisan komplek," kata Nathan hingga membuat Nicko tertawa.


"Ga lah Bang. Bunda bilang mau tunggu di rumah aja karena Bunda lagi kurang enak badan sekarang," sahut Nicko.


"Bunda sakit ?" tanya Nathan.


"Iya," sahut Nicko sambil mengangguk.


"Kalo gitu Kita cepet balik ke rumah. Abang khawatir sama Bunda," ajak Nathan sambil mempercepat langkahnya.


Nicko pun mengangguk lalu mengikuti langkah Nathan yang bergegas masuk ke dalam Taxi.


\=\=\=\=\=


Pagi itu Nathan baru saja kembali usai jogging di sekitar komplek. Ia mengerutkan keningnya saat melihat Mia tengah berdiri di depan rumah sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sesuatu.


"Mia !" panggil Nathan lantang.


Mia menoleh dan tersenyum lalu bergegas menghampiri Nathan. Gadis itu nampak merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar. Nathan pun berkelit saat tahu Mia akan memeluknya. Melihat sang kekasih menghindar, Mia pun kesal.


"Kenapa malah menghindar sih ?. Kamu ga kangen ya sama Aku. Kita kan udah lama ga ketemu. Jangan-jangan Kamu marah karena Aku ga bisa jemput Kamu kemarin," kata Mia sambil cemberut.


"Bukan begitu. Badanku keringetan, gerah, bau juga. Yang ada bajumu ikutan basah dan bau nanti. Emangnya Kamu ga malu keluar dari sini tapi baju Kamu bau keringet ?" tanya Nathan.


Mia nampak tersenyum mendengar ucapan Nathan.


"Oh kirain kenapa. Ya udah, sekarang Kamu mandi gih. Ganti baju, pake minyak wangi yang banyak biar semerbak," kata Mia dengan mimik wajah lucu.


Sikap Mia membuat Nathan tertawa. Ia mengusak rambut Mia dengan gemas lalu masuk ke dalam rumah. Mia pun ikut tertawa lalu mengekori sang kekasih.

__ADS_1


"Udah lama sampe sini Mi ?" tanya Nathan sambil melepas sepatunya.


"Lumayan, setengah jam lah," sahut Mia sambil mengamati aktifitas Nathan membuka sepatu.


"Udah ketemu Ayah sama Bunda belum ?" tanya Nathan.


"Udah dong. Aku juga tau dari Bunda kalo Kamu lagi jogging keliling komplek. Tadinya sih mau nyusulin, tapi ga jadi gara-gara Kamu keburu nongol," sahut Mia sambil tersenyum.


Tiba-tiba dari dalam rumah Anna keluar sambil membawa nampan berisi secangkir kopi dan seteko teh manis hangat pus gorengan. Dengan sigap Mia membantu Anna dengan mengambil alih nampan yang dibawa Anna dan meletakkanya di atas meja teras.


"Kita duduk di sini aja ya Mi," kata Anna.


"Iya Bund," sahut Mia cepat.


Mendengar cara Mia memanggil ibunya membuat Nathan tersenyum. Ia bersyukur mengetahui dua wanita yang ia cintai bisa akrab meski pun tanpa dirinya karena dia jauh di luar negeri sana.


Tak lama kemudian Bayan dan Nicko pun ikut keluar dari dalam rumah.


"Kamu ga bakal duduk sama Kita dengan badan bau keringet gitu kan Nath ?" tegur Bayan.


Seolah tersadar Nathan pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Lima belas menit kemudian Nathan kembali bergabung dan duduk di samping Mia.


"Ga terbalik ya. Kan Kamu yang dari luar negeri. Harusnya Kamu yang bawa oleh-oleh untuk Aku," sahut Mia hingga membuat Bayan, Anna dan Nicko tertawa.


"Kalo itu sih tenang aja. Aku bawa hadiah khusus buat Kamu. Dan dijamin Kamu pasti suka," kata Nathan sambil tersenyum penuh makna.


"Apaan sih, kok Aku jadi penasaran ya," kata Mia sambil pura-pura berpikir.


Nathan pun merogoh saku bajunya lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru warna biru berukuran kecil. Dengan antusias Mia menerimanya. Ia melirik kearah Anna seolah ingin memberitahu jika ia bisa menebak apa isi kotak itu.


Anna pun mengangguk lalu meminta Mia untuk membukanya.


"Dari ukuran dan warna kotaknya sih Bunda tau kalo itu perhiasan. Tapi perhiasan apa Bunda ga tau. Buka dong Mi. Kami kan juga penasaran," pinta Anna.


Mia mengangguk lalu mengeluarkan isi dari kotak berwarna biru itu. Ternyata sebuah gelang terbuat dari emas putih berukir huruf N dan M yang merupakan inisial nama Nathan dan Mia. Meski bentuk gelang itu sederhana, namun Mia tahu jika gelang itu dipesan secara khusus oleh Nathan. Kedua mata gadis itu nampak berkaca-kaca karena terharu.


"Gimana, suka ga ?" tanya Nathan.


"Suka banget," sahut Mia sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sini Aku bantu pakein," kata Nathan menawarkan diri.


Mia mengangguk lalu membiarkan Nathan membantu memakaikan gelang itu di tangan kirinya.


Anna dan Bayan nampak ikut bahagia melihat kebahagiaan Nathan dan Mia. Sedang Nicko hanya diam sambil mengamati seolah sedang berpikir.


"Kok suasananya mirip kaya lagi lamaran sih," celetuk Nicko hingga mengejutkan semua orang.


Mia pun teraentak lalu menatap Nathan yang tampak salah tingkah.


"Jadi Kamu lagi ngelamar Aku Nath ?" tanya Mia dengan suara bergetar.


"Iya, Kamu mau kan menikah sama Aku Mi ?" tanya Nathan.


"Tunggu sebentar. Kenapa Aku merasa ini lamaran sepihak ya. Cuma ada Bunda, Ayah sama Nicko. Papa sama Mamaku ga ada lho Nath. Aku ga mau terima kalo kaya gini. Aku maunya tuh lamaran resmi, bukan kaya gini," kata Mia pura-pura marah.


"Aku bakal lamar Kamu secara resmi setelah Kamu terima Aku Mi. Karena Aku ga mungkin melamar cewek yang ga bersedia nikah sama Aku kan ?" tanya Nathan.


"Dasar curang. Ini pemaksaan namanya," kata Mia kesal.


"Kok pemaksaan sih. Siapa yang maksa Kamu Mia Sayang," sahut Nathan.


"Tapi Kamu barusan ngasih Aku gelang. Secara ga langsung Kamu udah ngasih DP. Dimana-mana kalo udah ngasih DP kan artinya menerima kesepakatan. Jadi karena Aku nerima gelang ini sama aja Kamu maksa Aku supaya terima lamaran Kamu. Iya kan ?" tanya Mia sambil melotot.


"Ayo lah Mia. Jawab aja iya atau ga. Please ...," pinta Nathan sungguh-sungguh.


"Kalo Aku bilang iya, Kamu harus segera lamar Aku ke orangtua Aku ya !" kata Mia.


"Iya," sahut Nathan.


"Janji ?" tanya Mia.


"Ck, iya Mia ...," sahut Nathan sambil berdecak sebal.


Bayan, Anna dan Nicko yang menjadi saksi lamaran tak resmi Nathan pada kekasihnya itu hanya diam karena tak ingin ikut campur.


Tak lama kemudian Mia pun tersenyum lalu mengangguk.


"Iya. Aku mau nikah sama Kamu," kata Mia malu-malu hingga membuat Nathan tersenyum bahagia.


Nathan pun memeluk Mia sambil mengucapkan terima kasih berulang kali. Bayan, Anna dan Nicko ikut tersenyum bahagia melihat Mia menerima lamaran Nathan. Ketiganya berdiri lalu memeluk Nathan dan Mia bergantian.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2