
Mobil berhenti tepat di samping rumah nenek dan kakek Hilya. Bayan nampak mengerutkan keningnya karena tak menyangka jika Nathan telah mengetahui alamat rumah Hilya. Rupanya sejak tadi Bayan mengamati Nathan yang mengemudi dengan santai seolah tak khawatir tersesat.
"Kita udah sampe Hilya," kata Nathan sambil menoleh ke kursi tengah.
Tak ada jawaban. Rupanya Hilya tertidur karena kelelahan. Bayan dan Nathan saling menatap sejenak kemudian tersenyum.
"Gimana nih Yah ?" tanya Nathan.
"Apanya ?" tanya Bayan pura-pura tak mengerti.
"Hilya," sahut Nathan cepat sambil melirik kearah gadis itu.
"Bangunin dong. Ga mungkin Kita nunggu dia bangun sampe pagi kan ?. Atau jangan bilang Kamu mau menggendongnya masuk ke dalam rumah ?" tanya Bayan sambil menatap sang anak dengan tatapan tajam.
"Ck, ya ga mungkin lah Yah. Aku juga masih punya batasan kok. Kecuali Hilya udah jadi Istriku, mungkin Aku ga usah minta pendapat Ayah tadi," sahut Nathan sambil melengos.
Sikap Nathan membuat Bayan tersenyum.
Tiba-tiba pintu pagar rumah terbuka lalu keluar lah seorang pria yang dikenal Nathan sebagai Kakek Hilya. Pria berambut putih itu nampak mendekati mobil Nathan lalu mengetuk kaca mobil karena ingin tahu siapa orang yang memarkirkan kendaraan di samping rumahnya di pagi buta.
"Nathan ?" panggil Kakek Hilya ragu.
"Iya Kek, ini Saya. Saya mau nganter Hilya pulang," kata Nathan usai mencium punggung tangan Kakek Hilya.
"Selarut ini ?" tanya Kakek Hilya.
Mendengar suara sang Kakek membuat Hilya terbangun. Ia mengucek matanya lalu bergegas turun karena khawatir sang Kakek akan memukul Nathan. Bayan pun menyusul turun lalu melangkah di belakang Hilya.
"Kakek !" panggil Hilya sambil memegang lengan Kakeknya.
"Ada apa ini Hilya ?" tanya sang Kakek.
__ADS_1
"Maaf kalo terdengar lancang. Bisa ga Kita ngobrol sebentar di dalam Kek ?. Ga enak kalo ngobrol di luar kaya gini," pinta Nathan.
Kakek Hilya pun mengangguk lalu bergegas masuk ke pekarangan rumahnya diikuti Hilya, Bayan dan Nathan.
Kemudian Nathan menjelaskan apa yang terjadi hingga ia dan ayahnya mengantar Hilya selarut ini. Mendengar penjelasan Nathan membuat kakek Hilya mengerti. Ia berterima kasih karena Bayan dan Nathan telah membantu cucu perempuannya itu.
"Makasih Nak Bayan. Makasih telah menggantikan tugas Ayah Hilya," kata Kakek Hilya dengan suara bergetar.
"Sama-sama Pak. Saya cuma bantu sedikit aja tadi," sahut Bayan merendah.
"Sedikit tapi berarti ...," kata Kakek Hilya dengan mata berkaca-kaca.
Bayan dan Nathan saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Sedangkan Hilya nampak mengusap lembut lengan sang kakek berharap pria tua itu tak menangis.
"Kalo gitu Kami pamit ya Kek. Udah hampir pagi, Kakek dan Hilya kan juga harus istirahat," pamit Nathan.
"Iya Nak. Makasih ya sekali lagi," kata Kakek Hilya.
"Iya Kek. Biar Saya atau Ayah yang dampingi Hilya saat dipanggil Polisi lagi nanti. Kakek ga usah khawatir, insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Dan kalo memang diperlukan, Ayah bakal pake pengacara keluarga untuk membantu Hilya," kata Nathan yang diangguki Bayan.
Setelahnya Nathan dan Bayan pamit undur diri. Hilya urung mengantar keluar karena dilarang oleh Nathan.
"Ga usah keluar Hilya, Kamu kunci pintu aja," pinta Nathan.
"Iya," sahut Hilya dengan perasaan berkecamuk.
Dan tak lama kemudian suara deru mobil milik Nathan terdengar menjauh dari rumah Kakek Hilya.
Saat Hilya membalikkan tubuhnya, ia melihat sang Kakek sedang mengusap matanya yang basah berkali-kali.
"Kakek menangis ...?" tanya Hilya ragu.
__ADS_1
"Kakek merasa gagal melindungi Kamu Hilya. Kakek terlalu sibuk cari uang sampe ga tau apa yang terjadi sama Kamu," kata sang Kakek.
"Ga Kek. Kakek adalah Kakek dan Ayah terbaik yang Aku punya," sahut Hilya.
"Buktinya Kamu malah menghubungi Ayahnya Nathan dan bukan Kakek saat Kamu dibawa ke kantor Polisi tadi," kata Kakek Hilya kecewa.
Hilya menghela nafas panjang kemudian menceritakan apa yang terjadi. Bahwa ia tak minta Bayan datang dan jadi penjaminnya. Ia hanya meminta Nathan datang karena hanya pria itu yang ada di kepalanya saat itu. Ternyata Nathan datang bersama ayahnya yang akhirnya turun tangan membantu tanpa Hilya minta.
Selain itu Hilya tak ingin merepotkan sang Kakek karena mengira kasusnya akan selesai dengan cepat. Tapi ternyata kasusnya berlanjut karena polisi harus menyelidiki temuan sidik jari atau DNA di sisa janin yang ditemukan tak jauh darinya itu.
"Aku panik Kek. Aku cuma ga mau melibatkan Kakek. Aku khawatir sama Nenek, Varel, Angga dan Bima. Kalo sampe Kakek ikut terlibat dan repot gimana nasib mereka. Kan selama ini mereka bergantung sama Kakek," kata Hilya sambil menundukkan wajahnya.
Kakek Hilya terharu mendengar ucapan Hilya. Ia memeluk Hilya erat sambil menciumi kepala gadis itu berkali-kali.
"Anak pintar. Bodohnya mereka yang mengabaikan Anak semanis Kamu Hilya. Kakek beruntung karena bisa melihat Kamu tumbuh jadi gadis yang hebat dan tangguh seperti ini. Baik lah. Keputusanmu untuk melibatkan Pak Bayan dan Anaknya memang yang terbaik. Kakek percaya mereka pasti bisa membantu Kamu nanti," kata Kakek Hilya sambil mengurai pelukannya.
Hilya pun tersenyum sambil mengusap air matanya. Setelahnya ia mengajak sang Kakek masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk ke kamarnya Hilya meminta sang Kakek merahasiakan apa yang terjadi dari nenek dan ketiga sepupunya itu. Kakek Hilya mengangguk setuju lalu menutup pintu kamar.
Hilya masuk ke dalam kamar lalu membasuh wajahnya dan berganti pakaian. Saat berbaring di tempat tidur Hilya tak bisa memejamkan mata karena teringat dengan kebaikan Nathan dan Ayahnya.
"Andai Kita ketemu lebih awal pasti semuanya bakal berbeda Nath. Sekarang Kamu Suami orang dan sialnya Aku malah tertarik sama Kamu. Tapi Kamu juga salah karena terus memberi perhatian yang bikin Aku baper. Kayanya Kamu lupa kalo udah nikah atau Kamu pura-pura lupa udah punya Istri yang cantik. Ngeliat penampilan Istrimu aja Aku tau kalo dia wanita sholehah yang baik. Aku ngerasa jadi orang jahat kalo memberi kesempatan sama Kamu untuk selingkuh darinya," gumam Hilya gusar.
Hilya menutupi wajahnya dengan bantal untuk beberapa saat lalu membukanya kembali. Matanya nampak mengembun pertanda ia hampir menangis.
"Ya Allah, kirim lah laki-laki lain sebaik Nathan supaya Aku bisa melupakan dia," doa Hilya dengan suara bergetar.
Setelah mengucapkan harapannya Hilya mencoba memejamkan mata. Agak sulit karena bayangan saat siluman kepala tanpa tubuh itu mengoyak janin bayi berlumuran darah kembali melintas di kepala Hilya. Dan rasa mual kembali mendera hingga membuat Hilya bangkit lalu lari ke kamar mandi. Hilya muntah di sana.
Hilya kembali berbaring dengan tubuh lemas. Semakin lemas karena Hilya ingat semua makanan yang dimakannya telah keluar melalui muntah sejak ia melihat makhluk kepala tanpa tubuh itu.
"Dasar makhluk sia*an. Siluman apa sih dia, bisa-bisanya makan janin manusia. Tapi siluman kan makannya emang aneh ya. Terus mukanya juga serem banget. Kalo diinget-inget kok mirip sama siluman babi yang ada di film horror itu. Ok, fix deh bakal Gue kasih nama dia siluman babi. Si-lu-man ba-bi. Hiiiyy ...," ulang Hilya sambil bergidik ngeri.
__ADS_1
Hilya kembali memejamkan mata dan kali ini berhasil. Hilya tertidur setelah lelah muntah dan berpikir.
\=\=\=\=\=