
Selama hampir sebulan kematian Diana, suasana di sekitar rumah kost menjadi sedikit lebih menyeramkan dibanding biasanya. Tak hanya di sekitar rumah kost yang ditempati almarhumah Diana, tapi juga semua jalan yang biasa dilalui Diana. Dan jalan di depan rumah kost Nathan juga termasuk jalan yang sering dilalui Diana semasa hidupnya.
Biasanya Diana akan lewat jalan di depan kost saat malam hari. Itu karena Diana turun di jalan kecil atau jalan setapak di belakang rumah kost Nathan. Dan jalan itu juga dijadikan jalan alternatif alias jalan tikus yang hanya diketahui oleh warga yang tinggal di wilayah itu.
Dan kali ini Nathan dan teman-temannya duduk santai di teras sambil berbincang seperti biasanya.
"Eh, jadi inget Diana. Biasanya dia lewat depan ya jam segini," kata Mario membuka percakapan.
"Iya. Terus Lo pada heboh deh manggilin Diana," sahut salah seorang teman kost Nathan sambil tertawa.
"Tapi Gue ga ikutan ya. Kan Gue baru tau yang namanya Diana ya baru seminggu sebelum kematiannya," sela Nathan mengingatkan.
Ucapan Nathan membuat semua teman-temannya menoleh lalu tertawa. Buat mereka apa yang diucapkan Nathan terdengar lucu. Entah karena terlanjur menjalin kasih dengan Ira atau karena Nathan menjaga perasaan Ira hingga sama sekali tak tertarik dengan Diana dan sama sekali tak tahu siapa Diana.
"Nathan nih bucin abis sama Ira. Makanya dia ga sadar kalo ada cewek cantik lain selain Ira di sekitar Kita," kata Ferdi sambil tertawa.
"Bucin sama takut tuh bedanya tipis lho Fer," sela Mario hingga kembali membuat semua teman mereka tertawa.
"Sia*an Lo. Gue ga takut kok sama Ira. Gue emang ga kenal sama Diana. Kan Gue emang belum pernah ngeliat Diana yang kata Lo super cantik itu !" sahut Nathan membela diri.
"Terus gimana, cantik kan ?" tanya Mario.
"Iya sih. Tapi sayangnya bukan type Gue," sahut Nathan mantap hingga membuat semua temannya terdiam.
Kemudian cerita tentang Diana pun mengalir dari mulut Ferdi.
__ADS_1
Ferdi mengatakan ia bertemu Diana di depan rumah kost. Saat itu malam hari sekitar pukul sebelas. Ferdi yang memang bekerja sambil kuliah baru saja kembali dari luar kota setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Saat hendak membuka pintu pagar, Ferdi dikejutkan dengan kehadiran Diana yang keluar dari gang sempit di samping rumah kost.
"Astaghfirullah aladziim ..., woooii !. Orang apa hantu Lo ?!" tanya Ferdi lantang.
"I-ini Sa-Saya Mas. Diana. Sa-Saya manusia kok," sahut Diana gugup.
"Oh gitu. Diana siapa ya, saudaranya Ira ?" tanya Ferdi kala itu.
"Oh bukan Mas. Saya Diana yang kost di rumah oren dekat jalan besar itu Mas," sahut Diana cepat.
Ferdi pun mengangguk paham karena siapa pun tahu jika rumah yang dimaksud Diana adalah rumah kost khusus wanita yang harga sewa kamarnya terbilang mahal untuk kantong mahasiswa perantau sekelas dirinya. Namun Ferdi mengerutkan keningnya saat melihat kondisi Diana saat itu.
Diana tampil dengan pakaian yang kusut dan sebagian robek. Diana pun berusaha menutupinya dengan telapak tangan. Wajah Diana saat itu juga terlihat sembab pertanda habis menangis. Rambut Diana juga berantakan dan itu membuat Ferdi bingung.
"Ada apa Mas ?" tanya Diana cemas.
"Ini, pake jaket Saya buat nutupin baju Kamu yang sobek. Kamu ga mau jadi pusat perhatian orang kan. Apalagi jarak dari sini ke rumah kostmu masih harus melewati beberapa rumah lagi lho," kata Ferdi mengingatkan sambil mengulurkan jaketnya kearah Diana.
Ucapan Ferdi membuat Diana terharu. Ia menganggukkan kepala lalu bergegas mengenakan jaket Ferdi.
"Saya kembalikan kalo udah Saya cuci ya Mas ...?" Diana sengaja menggantung ucapannya karena ia memang tak mengenal pria di hadapannya itu.
"Ferdi. Nama Saya Ferdi," sahut Ferdi cepat.
__ADS_1
"Iya. Makasih Mas Ferdi. Permisi," kata Diana sambil bergegas melangkah meninggalkan Ferdi yang mematung di depan rumah.
Setelah cerita Ferdi berakhir, teman-teman Nathan pun bergantian menceritakan awal pertemuan mereka dengan Diana.
Ada yang mengaku bertemu Diana pertama kali di mini market, di halte dan kedai baso. Bahkan ada yang mengaku memang sengaja lewat depan rumah kost khusus wanita itu hanya untuk melihat penghuni kost yang memang semuanya wanita. Dan Diana adalah salah satu gadis yang mereka favoritkan karena Diana memang penghuni paling cantik di sana.
Namun pembicaraan kembali mengerucut kepada Ferdi. Teman-teman Ferdi bertanya bagaimana reaksi Ferdi saat bertemu Diana pertama kali. Karena diantara mereka hanya Ferdi yang bertemu dengan Diana di waktu tak lazim dan dalam kondisi tak layak.
"Apa Lo ga curiga kenapa Diana berantakan waktu itu Fer ?" tanya Nathan tiba-tiba mewakili rasa penasaran teman-temannya.
"Sempet curiga juga. Mmm ... mungkin ga sih kalo sebenernya saat itu Diana abis diperk*sa sama seseorang ?" tanya Ferdi ragu.
"Keliatannya sih gitu. Kan Lo bilang kondisinya berantakan dan kusut banget. Terus dia sengaja lewat jalan belakang karena di sana kan sepi dan jarang dilewatin orang. Mungkin Diana emang sengaja menyembunyikan kondisinya karena takut atau malu ketauan orang," kata Mario.
"Dan jangan-jangan yang merk*sa Diana adalah orang yang dihormati sama Diana. Makanya Diana ga ngomong apa-apa waktu itu sama Gue. Kalo Diana takut, harusnya kan dia minta tolong. Dan kalo dia minta tolong pasti Gue tolong dong. Mungkin Gue bakal langsung nganterin Diana ke kantor Polisi buat bikin laporan," kata Ferdi gusar.
"Dan semua baru kebongkar pas Diana melahirkan di kamar mandi. Jujur waktu itu Gue langsung ilfeel sama dia. Yah ... Wajar kan kalo Gue negatif thingking sama dia. Bukannya selama ini Diana selalu nolak cowok-cowok yang naksir sama dia ?. Tapi kok tau-tau melahirkan. Itu berarti Diana cewek ga bener. Iya kan ?. Pantesan aja nolakin semua cowok kost yang uang jajannya pas-pasan, ga taunya udah jadi piaraan orang !" kata salah seorang teman Nathan sambil mencibir.
"Hush, jangan suudzon !. Kan itu baru katanya. Jangan nyebar gosip kalo ga tau kebenarannya. Kasian Diana !" kata Mario kesal.
"Betul. Mungkin Diana punya alasan sendiri kenapa dia ga ngomong apa-apa sama Ferdi waktu itu. Tapi apa pun alasannya, itu urusan pribadi Diana. Kita ga berhak ikut campur. Sekarang Diana udah pergi walau pun dengan cara yang ga wajar. Kita doain aja supaya dia tenang di alamnya," kata Nathan bijak.
"Setuju ...!" sahut Ferdi, Mario dan teman-teman lainnya bersamaan.
Setelah mengatakan itu, Nathan dan teman-temannya pun membubarkan diri satu per satu. Mereka kembali ke kamar masing-masing karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul dua belas lebih sepuluh menit.
__ADS_1
\=\=\=\=\=