
Riko tiba lebih dulu di rumah, sedangkan Bayan dan Rama menyusul kemudian. Rama memang tak membawa kendaraan hingga ia ikut Bayan menuju rumah Riko.
Sebelum ke rumah Riko, Bayan mampir ke toko kue langganannya untuk mengambil kue pesanan istrinya. Melihat sikap Bayan yang begitu penurut pada Anna membuat Rama iri.
"Apa Lo ga merasa harga diri Lo tercabik-cabik saat Anna minta Lo melakukan sesuatu yang ga cocok untuk dikerjain laki-laki Yan ?" tanya Rama saat mereka selesai mengambil kue pesanan Anna.
"Ga tuh. Kenapa harus tercabik-cabik sih, Gue malah seneng karena bisa bantuin Anna karena itu artinya Anna mengandalkan Gue dan percaya sama Gue," sahut Bayan santai.
"Lebay !" sungut Rama hingga membuat Bayan tertawa.
"Ga lebay lah. Ini mah wajar dilakukan Suami terhadap Istrinya. Kan Kita saling mencintai dan percaya satu sama lain. Emangnya Lo ga gitu sama Dita ?" tanya Bayan.
"Ga pernah. Dita itu cuma fokus sama uang Gue. Dia ga peduli Gue mau bantuin dia atau ga. Asal uang udah di tangan, Gue bisa ngapain aja semau Gue. Dita baru minta bantuan Gue kalo uang di tangannya udah abis," sahut Rama ketus.
"Aneh juga ya. Jadi selama ini gimana cara Lo menjalani rumah tangga sama Dita ?" tanya Bayan.
"Ya ga gimana-gimana, pokoknya Gue cuma harus kasih uang sama Dita. Jumlahnya variatif tiap bulannya tergantung kebutuhan. Belakangan Gue baru tau kalo Dita yang ngurusin keuangan keluarganya juga. Kalo uang Gue dipake sama orangtuanya aja sih Gue ga keberatan. Tapi kalo uang Gue dipake untuk bantuin dua Kakak laki-lakinya yang udah berkeluarga jelas Gue ga terima. Ternyata tanpa sepengetahuan Gue Dita ngasih uang sama Kakaknya untuk beli motor dan perbaikan rumah. Ini jelas gila dan ga masuk akal kan !" kata Rama gusar.
Bayan pun mengangguk. Kini ia mengerti mengapa Rama lelah dan ingin bercerai dengan Dita. Ternyata selama menikah dengan Dita, Rama dijadikan ATM berjalan oleh Dita dan keluarganya.
Saat Bayan menasehati agar Rama mengikhlaskan semuanya, Rama menolak. Ia bersikeras akan menuntut uang yang telah digunakan kedua Kakak Dita untuk dikembalikan.
"Gue punya bukti transfer dan Gue rasa itu cukup buat membungkam mulut sombong dua Kakak Dita itu. Selama ini mereka terus menyangkal udah make uang Gue. Kita liat gimana ekspresi mereka pas liat bukti yang Gue punya !" kata Rama sambil tersenyum penuh makna.
Bayan pun terdiam karena tahu Rama tetap akan memperjuangkan uangnya yang hilang itu.
__ADS_1
"Mungkin Gue terlihat konyol. Tapi ini Gue lakukan karena Dita memberikan terlalu banyak untuk keluarganya dan melupakan kewajibannya sebagai Ibu kandung Kayla. Hak Kayla diabaikan karena dia fokus ngurus keluarganya. Padahal Kayla lebih berhak make uang Gue daripada keluarganya !" kata Rama geram.
Ucapan Rama kali ini mengejutkan Bayan. Dalam hati Bayan setuju Rama menuntut uangnya kembali karena keluarga Dita memang keterlaluan.
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah Riko. Saat itu Riko tampak sedang bermain dengan Nathan di halaman rumahnya sedangkan di teras terlihat Mona dan Anna yang sedang berbincang hangat.
Mengetahui kedatangan ayahnya, Nathan yang sedang ada di gendongan Riko pun meluncur turun lalu berlari kearah ayahnya.
"Ayaaahh ... !" panggil Nathan sambil merentangkan kedua tangannya.
"Hai Boy !" sahut Bayan lalu membawa sang anak ke dalam pelukannya.
Aksi Nathan dan Bayan membuat semua orang tertawa. Rama pun membawa kue pesanan Anna dan meletakkannya di meja.
"Selamat ya Mon, akhirnya Lo hamil juga. Dan kue ini bukan dari Gue ya, ini dari Bayan dan Anna. Lo tau kan kalo Gue ga seromantis mereka," kata Rama sambil mencibir namun membuat Anna dan Mona tertawa.
Bayan pun mendekat kearah Mona sambil menggendong Nathan. Ia memberi selamat atas kehamilan Mona dan berpesan agar Mona berhati-hati. Setelah mengatakan itu Bayan menghampiri Anna lalu mendaratkan ciuman di kening istrinya itu hingga membuat Rama kesal.
Tawa pun menggema saat melihat aksi Rama yang mencibir lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan semua orang sambil terus mengomel.
\=\=\=\=\=
Rama terkejut saat melihat Dita berdiri di teras rumahnya. Hari itu Rama memang sengaja bangun lebih siang karena lelah. Setelah menunaikan sholat Subuh tadi, Rama memilih tidur dan bangun saat jam menunjukkan pukul sebelas siang.
Untuk sejenak Rama dan Dita terdiam sambil saling menatap. Wajah pucat Dita sempat membuat Rama iba. Namun saat Rama teringat apa yang telah Dita lakukan, itu membuat rasa ibanya memudar.
__ADS_1
"Mau apa ke sini ?!" tanya Rama kemudian.
"Mau ngobrol penting sama Abang," sahut Dita cepat.
"Ga ada lagi yang perlu diobrolin. Semuanya udah jelas kan. Kita bakal pisah dan semua selesai," kata Rama ketus.
"Tolong jangan kaya gini Bang. Aku ga mau dicerai. Aku ....,"
"Takut miskin !. Iya kan ?" tanya Rama sinis.
Dita menggeleng lalu mulai menangis. Saat Dita bicara, Rama hanya membisu entah mendengarkan atau tidak. Dita menyatakan penyesalannya yang karena kelalaiannya telah membuat Kayla hilang. Dita juga meminta agar Rama mencabut gugatan cerai dan merelakan uang yang telah ia berikan pada kakaknya.
"Udah nangisnya ?" tanya Rama setelah Dita meluapkan semua uneg-unegnya.
Dita mengangguk. Ia berharap Rama akan luluh dan mau memaafkannya. Dita juga berharap Rama akan kembali padanya. Namun harapan Dita sia-sia. Rama justru mengusirnya.
"Silakan keluar dari rumah Saya sekarang. Kita urus semuanya di pengadilan. Selamat siang !" kata Rama tegas lalu menutup pintu dengan keras.
Dita terkejut. Selama ini ia mengira Rama hanya marah dan kecewa karena anak mereka hilang. Tapi melihat sikap Rama tadi membuat Dita sadar jika ia telah kehilangan Rama. Entah mengapa jauh di lubuk hatinya Dita merasa nyeri yang amat sangat.
Dita masih duduk menunggu beberapa saat di teras rumah dan berharap Rama berubah pikiran. Ia mengamati seluruh rumah sambil mengingat kebersamaannya dengan Kayla dan Rama di sana. Ia ingat betapa bahagianya dia dan Rama dulu. Namun semua hilang karena sikapnya yang terlalu banyak menuntut itu.
Dita sadar telah mengusik sesuatu yang berharga milik Rama. Saat ia merengek agar Rama mengganti mobilnya dengan mobil keluaran terbaru, saat itu Rama sudah tak ingin bertahan. Selain menyimpan banyak kenangan, toh kondisi mobil itu masih bagus dan layak pakai. Dan kemarahan Rama makin memuncak saat Dita menjadi penyebab hilangnya anak semata wayang mereka.
"Dua hal berharga di hidupnya diusik, wajar kalo Bang Rama marah dan membenci Gue," gumam Dita dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Dan saat melihat Rama pergi meninggalkan rumah tanpa menoleh padanya, Dita pun sadar jika Rama tak ingin lagi melihatnya. Ia pun pergi setelah Rama melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah
\=\=\=\=\=