
Hari dimana Rusti melahirkan Senja menjadi hari yang tak terlupakan untuk Rusti. Selain itu adalah peristiwa besar selama hidupnya, Rusti juga mengalami rasa khawatir yang berlebihan. Ya, Rusti khawatir wujud anak yang dilahirkan tak sempurna seperti bayi pada umumnya.
Kekhawatiran Rusti beralasan. Itu karena ia kerap mendengar apa yang dilakukan wanita saat hamil akan berimbas pada bayinya. Jika yang dilakukan baik, maka sang bayi akan lahir selamat dan dalam kondisi baik-baik saja, begitu pun sebaliknya.
Masalahnya adalah Rusti baru tahu dirinya mengandung ketika usia kehamilan memasuki empat bulan. Dan sebelumnya Rusti masih memangsa para bayi dan wanita hamil. Meski pun saat mengetahui dirinya hamil, Rusti berhenti memangsa mereka, namun Rusti tetap khawatir apa yang pernah ia lakukan sebelum akan berakibat buruk pada bayi yang dikandungnya.
Hari itu Rusti terlihat gelisah. Sejak pagi ia menyaksikan sekelompok burung gagak melintas di atas rumahnya. Beberapa ekor burung gagak malah bertengger di pohon yang ada di sekitar rumah Rusti dan Genta seolah sedang menunggu sesuatu.
Selain itu Rusti juga mendengar suara menggeram yang aneh di sekitar rumah. Tak jelas seperti apa wujudnya namun suara itu sangat mengganggu Rusti.
Menjelang sore, saat Rusti mulai merasakan kontraksi, langit mendadak gelap seperti akan turun hujan. Angin pun berhembus kencang seolah akan menumbangkan pohon dan menerbangkan benda ringan yang ada di sekitarnya. Bahkan burung-burung gagak yang bertengger di atas pohon sejak pagi hari pun beterbangan lalu pergi begitu saja.
Saat itu Rusti merasa takut. Apalagi ia hanya sendiri di rumah karena Genta sedang pergi menjemput paraji. Rusti makin panik saat melihat air mengalir keluar dari organ int*mnya.
Rusti menjerit ketakutan. Ia tahu jika itu adalah tanda dirinya akan segera melahirkan. Dan Rusti tak kuasa menahan rasa sakit yang mendera hingga tubuhnya jatuh terjengkang di lantai.
Beruntung di saat genting itu Genta dan paraji datang. Keduanya langsung membantu Rusti dan memindahkan tubuhnya ke atas dipan kayu.
Proses kelahiran Senja berlangsung dramatis. Karena menurut pengakuan sang paraji seperti ada sesuatu yang menahan sang bayi untuk keluar dari rahim Rusti. Sang paraji nampak duduk sambil menatap kearah jalan lahir dengan tatapan cemas.
Melihat paraji hanya diam tanpa melakukan sesuatu membuat Genta panik. Apalagi ia melihat Rusti sudah menggeliat kesakitan.
"Apalagi yang ditunggu Mak ?. Cepat bantu Istriku agar bisa melahirkan lebih cepat !" kata Genta panik.
"Iya iya, sebentar Gen. Aku juga lagi bingung kenapa bayinya malah ngumpet," sahut sang paraji.
"Ngumpet gimana maksudnya Mak ?" tanya Genta tak mengerti.
"Ya ngumpet, bayinya ga mau keluar Gen !" sahut paraji sambil menggelengkan kepala.
"Terus Kita harus gimana Mak ?" tanya Genta putus asa karena khawatir pada keselamatan istri dan bayinya.
__ADS_1
"Jangan panik Gen. Biarkan Mak berpikir sebentar. Jangan berisik dan nanya ini itu lagi karena itu bikin otakku mampet !" sahut sang paraji kesal.
Genta pun terpaksa diam. Ia hanya bisa duduk dekat kepala Rusti sambil berusaha menghiburnya.
"Kenapa lama banget Sayang. Aku ga kuat lagi, ini sakit banget ...," rengek Rusti.
"Maafin Aku ya. Aku juga ga bisa ngomong lagi karena khawatir si Mak marah dan malah ga mau bantuin Kamu nanti," sahut Genta setengah berbisik.
Tiba-tiba terdengar jeritan sang paraji. Tentu saja itu mengejutkan Genta dan Rusti. Keduanya menoleh kearah paraji dan melihat wanita tua itu sedang memegangi tangannya yang terluka.
"Kenapa Mak ?, tangan Mak kenapa ?" tanya Genta.
"Ba-bayimu menggigit tanganku Gen !" sahut sang paraji gugup.
Jawaban sang paraji membuat Genta ingin tertawa. Namun karena saat itu rasa panik lebih mendominasi, maka Genta pun hanya bisa menggelengkan kepala karena tak percaya mendengar 'laporan' sang paraji.
"Jangan bercanda Mak. Kan Mak sendiri yang bilang kalo bayiku masih ngumpet dan ga mau keluar. Terus bagaimana caranya dia menggigit kalo wujudnya aja belum keliatan," kata Genta sambil menahan tawa.
Genta pun mendekatkan wajahnya kearah sang paraji dan memang melihat luka di jari wanita tua itu. Bahkan ada darah yang merembes keluar perlahan, semula sedikit namun lama kelamaan makin banyak.
"Ini mah luka digigit tikus Mak," kata Genta kemudian.
Sang paraji melotot dan bersiap menjawab pernyataan Genta namun urung. Saat wanita tua itu membuka mulut untuk bicara, tiba-tiba bayi di rahim Rusti pun lahir. Tangisnya sangat keras dan memekakkan telinga hingga membuat semua orang di ruangan itu terkejut sekaligus senang. Karena setelah diselimuti ketegangan hampir tiga jam akhirnya bayi yang mereka nantikan pun lahir.
"Dia lahir Gen !" kata sang paraji sambil tertawa.
Genta dan Rusti pun mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Iya Mak. Laki-laki atau perempuan Mak ?" tanya Genta.
"Perempuan Gen, cantik kaya Ibunya !" sahut sang paraji sambil tersenyum.
__ADS_1
"Alhamdulillah ...," kata Genta sambil mengusap wajahnya.
"Ba-bagaimana wujud Anak Kita Sayang ?. Lengkap ga, cacatnya di sebelah mana ?" tanya Rusti takut.
"Apa-apaan sih Kamu. Masa nyumpahin Anak sendiri kaya gitu. Anak Kita sempurna, lengkap dan ga kurang apa pun !" sahut Genta tak suka.
"Oh, syukur lah. Aku seneng dengernya," kata Rusti sambil menghela nafas lega.
Kelegaan Rusti bertambah saat sang bayi diserahkan padanya. Melihat Senja untuk pertama kali membuat naluri keibuan Rusti muncul tiba-tiba. Ia menatap sang bayi dalam waktu lama seolah tak peduli apa pun yang ada di sekelilingnya.
Bahkan Rusti juga tak mendengarkan apa yang diucapkan sang paraji padanya. Beruntung ada Genta yang menyimak pesan sang paraji tentang apa yang harus dilakukan istrinya usai persalinan hingga empat puluh hari ke depan.
"Kalo gitu Aku pulang ya Rus," kata sang paraji hingga mengejutkan Rusti yang masih asyik memandangi bayinya.
"Iya Mak, maaf Saya ga bisa nganter," sahut Rusti basa basi.
"Biar Genta yang nganter. Kamu fokus saja sama bayimu dan kesehatan Kalian," kata sang paraji sambil tersenyum.
"Baik Mak, makasih," sahut Rusti.
"Iya sama-sama," sahut sang paraji sambil berkemas.
"Aku anter Mak Paraji dulu ya Sayang. Ga lama kok," pamit Genta yang diangguki Rusti.
"Anter sampe tikungan depan sana aja Gen. Selebihnya Mak bisa sendiri kok," kata sang paraji sambil melangkah ke pintu.
"Gapapa Mak. Aku anter Mak sampe rumah aja. Ntar kalo Mak jatuh gimana, kan kalo malam begini jalanan gelap," kata Genta.
"Ga perlu !. Aku bilang anter sampe tikungan ya Kamu harus patuh Gen. Ada hal lain yang harus Kamu utamakan yaitu Istri dan Anakmu. Jaga mereka baik-baik. Aku ga mau mereka dimangsa oleh makhluk malam yang biasa mengincar bayi dan wanita hamil itu Gen !" kata sang paraji sambil menatap Genta lekat.
Ucapan sang paraji membuat Genta takut namun membuat Rusti tersenyum kecut. Bagaimana tidak. Karena makhluk malam yang dikatakan sang paraji adalah jemaan dirinya sendiri.
__ADS_1
\=\=\=\=\=