
Setelah melewati tahun yang berat di tahun ke empat kuliahnya, akhirnya Nathan lulus dengan nilai baik. Meski pun tak meraih nilai tertinggi, tapi apa yang dicapai Nathan tetap membuat kedua orangtuanya bangga.
Kini Bayan, Anna dan Nicko sengaja datang ke Semarang untuk menghadiri wisuda Nathan. Nathan dinyatakan lulus S1 dan berhak menyandang gelar Sarjana Manajemen.
Saat itu lah Bayan menepati janjinya pada Anna dan Nicko. Ia sengaja meluangkan waktu untuk menemani keluarganya menikmati kota Semarang sekaligus menghadiri undangan wisuda dari kampus Nathan.
Karena saat ini Nathan mengontrak rumah dan hanya ditempati seorang diri, maka Bayan, Anna dan Nicko tak perlu menginap di hotel. Mereka tinggal di rumah Nathan sambil membantu Nathan mengemasi barang-barangnya.
"Apa Mas Ferdi sama Mas Mario juga lulus tahun ini Bang ?" tanya Nicko.
"Iya. Cuma waktu wisudanya aja yang beda. Nanti Kita kasih kejutan saat mereka wisuda yuk, kayanya bakal seru deh," ajak Nathan.
"Boleh Bang. Aku juga kangen sama mereka," sahut Nicko sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=
Pertemuan yang menghebohkan pun terjadi. Nathan tak hanya mengajak Nicko tapi juga kedua orangtuanya dalam aksi surprisenya kali ini. Ferdi dan Mario yang memang kuliah di kampus yang sama nampak bahagia melihat kehadiran Nathan dan keluarganya.
Setelahnya Bayan sengaja mengundang Ferdi dan Mario serta kedua orangtua masing-masing makan di sebuah rumah makan mewah. Bayan ingin mengenal dekat keluarga Ferdi dan Mario yang merupakan teman dekat Nathan selama ini.
"Sekarang Kita senang sekaligus sedih ya Pak Bayan," kata ayah Ferdi.
"Lho kok gitu Pak ?" tanya Bayan tak mengerti.
"Maksud Ayahnya Ferdi, Kita senang Anak-anak Kita lulus kuliah. Tapi sedih ngeliat mereka harus berpisah setelah sekian tahun bersama," kata papa Mario.
"Oh tentu saja. Tapi mereka masih bisa ketemu kalo mereka mau kok. Dan Kita juga bisa ketemu lagi kan ?" tanya Bayan.
"Iya dong. Kalo Pak Bayan ke Padang, boleh lah singgah ke rumah Kami. Nanti bakal Kami sajikan makanan khas sekaligus enak yang dimasak khusus oleh Neneknya Ferdi," sahut ayah Ferdi.
"Kalo Pak Bayan ke Manado, jangan lupa juga mampir ke rumah Kami ya Pak. Saya bakal aja Pak Bayan keliling kota Manado sampe puas," kata papa Mario tak mau kalah.
"Dan kalo Kalian main ke Jakarta, jangan lupa mampir ke rumah Saya. Saya bakal ajak keliling Jakarta sekaligus nyobain makanan khas Jakarta sampe Kalian sendiri angkat tangan karena kekenyangan !" sahut Bayan antusias.
__ADS_1
Obrolan tiga pria itu membuat suasana di meja makan kian riuh. Canda tawa mewarnai pertemuan tiga keluarga itu.
"Jadi apa rencana Lo setelah ini Nath ?" tanya Mario.
"Gue balik ke Jakarta. Maunya sih kerja, entah dimana. Terus gajinya Gue tabung buat persiapan bikin usaha sendiri nanti," sahut Nathan.
"Keren. Semoga berhasil ya Nath," kata Ferdi.
"Aamiin. Terus Lo berdua mau ngapain ?" tanya Nathan.
"Pulang kampung. Bantuin orangtua lah. Kalo bisa ngelamar kerja di perusahaan besar ya Alhamdulillah. Kalo ga bisa terpaksa ngelamar cewek buat jadi Istri," gurau Ferdi disambut tawa semua orang.
"Sama Fer. Rencana Gue juga kaya gitu kok," kata Mario di sela tawanya.
Namun tawa Mario, Ferdi dan Nathan terhenti saat ibu Ferdi bicara lantang sambil menggebrak meja.
"Jangan berandai-andai. Kalian pikir nikah itu gampang ?. Kalo ga punya modal, jangan coba ngelamar Anak orang. Emangnya mau Kalian kasih makan apa anak dan Istri Kalian nanti ?!" kata ibu Ferdi sambil melotot.
"Tau nih. Kuliah Kalian itu ngabisin biaya besar. Harusnya Kalian mikir gimana cara membahagiakan orangtua dulu dengan ijasah yang Kalian miliki. Bukannya malah mikirin nikah. Kalo Kalian nikah, otomatis uang Kalian masuk ke kantong perempuan yang jadi Istri nanti. Kalo udah gitu, percuma dong Kami nguliahin Kalian kalo ga bisa nikmatin uang hasil jerih payah Kalian. Andai Kalian dapat Istri yang baik dan pengertian sih mendingan. Pasti dia mau memikirkan kebahagiaan Kami juga. Tapi kalo dapat Istri yang pelit dan ga menghargai mertua gimana ?. Bisa gigit jari dong Kami !" kata Mama Mario ketus.
Nathan, Ferdi dan Mario nampak terdiam karena takut sedangkan ayah mereka justru tertawa keras.
Pemandangan itu tak membuat Nicko terganggu. Dia justru nampak makan dengan lahap sambil mendengarkan hiburan live musik yang disajikan restoran itu.
\=\=\=\=\=
Setelah menghabiskan moment liburan bersama selama beberapa hari, akhirnya waktu perpisahan pun tiba.
Nathan, Ferdi dan Mario beserta keluarga masing-masing pun berpisah di bandara. Meski senyum dan tawa menghias wajah ketiganya, namun semua orang tahu jika sesungguhnya mereka merasa sedih.
"Semoga Kita ketemu lagi suatu saat nanti," kata Ferdi sambil merangkul Nathan dan Mario.
"Iya," sahut Nathan dan Mario bersamaan.
__ADS_1
"Jangan lupa jaga kesehatan, tetap berkabar dan jangan lupa senyum," kata Nathan hingga membuat Ferdi dan Mario kembali tertawa.
"Ayo Nak, cepetan. Pesawat menuju Jakarta sebentar lagi take off !" kata Bayan mengingatkan.
Nathan pun mengangguk lalu bergegas lari menyusul keluarganya.
Dan di bandar udara Adi Soemarmo adalah tempat Nathan, Ferdi dan Mario berpisah setelah hampir empat tahun bersama.
\=\=\=\=\=
Setelah lulus Nathan mencoba peruntungan dengan melamar di beberapa perusahaan besar. Meski pun Bayan memiliki perusahaan, namun ia tak melarang sang anak untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain.
"Gapapa Bund. Biar Nathan mandiri dan bisa mengekspresikan diri," kata Bayan saat Anna bertanya mengapa sang suami tak meminta anak mereka bekerja di perusahaannya.
"Tapi apa kata orang nanti Yah. Masa Ayahnya punya perusahaan kok Anaknya malah luntang-lantung nyari kerjaan," kata Anna.
"Ga usah dengerin apa kata orang. Yang ngerti jalan pikiran Nathan ya cuma keluarganya. Jadi, dukung aja apa yang dia lakukan selagi itu baik dan ga membahayakan," sahut Bayan bijak.
"Tapi sampe kapan Yah ?" tanya Anna.
"Apanya ?" tanya Bayan tak mengerti.
"Sampe kapan Ayah ngebiarin Nathan tanpa pekerjaan kaya gitu. Kasian kan dia. Saat teman sebayanya udah punya pekerjaan dan pasangan, eh Nathan malah masih sibuk mencari," kata Anna gusar.
Ucapan Anna justru membuat Bayan tertawa geli. Ia memeluk istrinya erat untuk menenangkannya. Sesaat kemudian ia mengurai pelukannya lalu mengatakan sesuatu yang membuat Anna tersenyum.
"Anak Kita hebat. Dia ga mengandalkan orangtuanya untuk bisa menjadi sesuatu. Beda sama Anak lain yang masih berlindung di bawah ketiak orangtuanya. Apa Kamu ga bangga sama Anak Kita ?" tanya Bayan.
Anna nampak berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Tentu saja Aku bangga," sahut Anna sambil tersenyum.
Setelahnya Anna memeluk Bayan. Sekarang ia tak peduli omongan orang, karena ia yakin Nathannya berbeda dengan anak lain dan ia bangga akan hal itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=