Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
159. Kehilangan


__ADS_3

Karena lelah menunggu Bayan bicara, Fikri pun memberanikan diri menyentuh lengan sang ayah.


"Ayah ...," panggil Fikri dengan suara rendah namun berhasil membuat Bayan terkejut.


"Iya Nak," sahut Bayan.


"Ayah kenapa ?" tanya Fikri.


"Ayah gapapa kok, apa Ayah keliatan aneh dimatamu ?" tanya Bayan balik bertanya.


Fikri menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Bayan.


"Aku yang lagi bertanya, kenapa malah Ayah balik nanya sama Aku," kata Fikri sambil tersenyum.


"Oh iya. Maaf Ayah lupa," sahut Bayan dengan enggan.


Hening sesaat. Kemudian Bayan menatap Arafah dengan mata berkaca-kaca. Ia melirik sekilas kearah Fikri seolah memintanya untuk menatap Arafah juga. Fikri pun mengerti lalu ikut menatap Arafah.


Tiba-tiba kedua mata Fikri membulat tak percaya. Ia melihat anaknya membeku. Nafas Arafah yang semula mengalun teratur tak lagi terdengar. Gerakan perut dan dadanya saat bernafas pun tak lagi terlihat. Saat itu lah Fikri sadar jika Arafah telah pergi.


"Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun ... Arafaaah ! Sayaanng !. Bangun Naaakk ...!" jerit Fikri sambil menghambur memeluk Arafah.


Suara jeritan Fikri mengejutkan Anna dan Ayu. Keduanya melompat turun dari sofa bed lalu bergegas menghampiri Fikri yang tengah memeluk Arafah.


"Ada apa Bi ?. Arafah kenapa ?!" tanya Ayu cemas sambil mengguncang bahu Fikri.


Bukannya menjawab Fikri hanya mengangkat kepalanya untuk menatap Ayu. Saat itu Ayu melihat wajah suaminya telah bersimbah air mata. Dan sesaat kemudian Fikri menggelengkan kepala pertanda sesuatu telah terjadi pada anak mereka.


Ayu yang paham isyarat suaminya itu pun menjerit. Ia berharap masih bisa menyelamatkan Arafah, karenanya ia merebut sang anak dari pelukan Fikri.


"Arafaahh ... Sayang. Ini Ummi Nak. Arafah bangun ya. Arafaahh ...," panggil Ayu sambil menciumi wajah Arafah.


Tak mendapat respon dari anaknya, Ayu pun mendekatkan telinganya ke dada dan wajah Arafah. Rupanya Ayu ingin merasakan detak jantung dan hembusan nafas Arafah. Namun saat ia tak menemukan apa yang ia cari, Ayu pun menangis keras.


Anna yang semula ingin bertanya pun tak lagi sanggup menahan air matanya. Ia membenamkan diri dalam pelukan Bayan lalu menangis saat tahu sang cucu pergi untuk selamanya.

__ADS_1


Tak lama berselang seorang dokter dan dua orang perawat masuk ke dalam ruangan. Rupanya saat Fikri sibuk menangisi anaknya, Bayan sempat menekan tombol darurat untuk memanggil team medis.


"Permisi Bu, ijinkan Saya mengecek kondisi Arafah," pinta sang dokter.


Dengan enggan Ayu melepaskan pelukannya. Tapi Ayu berkeras memangku Arafah hingga membuat dokter sedikit kesulitan mengecek kondisi Arafah. Fikri yang berdiri di sampingnya tak kuasa membujuk Ayu untuk melepaskan Arafah. Ia justru mendapat tatapan tajam dari Ayu hingga membuatnya menghela nafas frustasi.


Setelah beberapa saat mengecek kondisi Arafah, dokter pun menghela nafas sambil menggelengkan kepala.


"Maafkan Kami, Pak Bu. Kami telah berusaha semaksimal mungkin tapi Ananda Arafah telah pergi ke haribaan Allah sebelum Kami tiba di sini. Keliatannya Ananda Arafah meninggal sekitar sepuluh atau lima belas menit yang lalu," kata sang dokter dengan nada penyesalan.


Ucapan sang dokter membuat semua orang di ruangan itu mengucap istirja bersamaan.


"Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun ...."


Fikri menatap kearah sang istri yang masih memangku Arafah. Ia melihat gurat kesedihan di wajah cantik Ayu yang pucat dan sembab itu. Fikri mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu Ayu.


"Sayang ... ikhlaskan Arafah ya," pinta Fikri dengan suara parau.


Ayu mengangguk sambil menitikkan air mata. Tak ada sahutan yang keluar dari bibirnya karena saat itu Ayu sibuk memeluk dan menciumi Arafah.


"Apa yang Kalian lakukan ?. Bukannya membantu keluarga pasien, kok malah ngerumpi di sana," kata sang dokter dengan mimik wajah tak suka.


"Maaf dok. Kami cuma lagi mencatat waktu kematian pasien. Kalo menilik dari ucapan dokter tadi, artinya pasien meninggal pukul 00.15 menit. Mohon dikoreksi jika Kami salah," sahut salah satu perawat dengan gugup.


"Betul. Sekarang tolong bantu keluarga pasien untuk mengurus jenasahnya ya," kata sang dokter.


"Baik dok," sahut dua perawat itu bersamaan.


Dokter pun tersenyum lalu berbalik menghadap Fikri. Ia memberi tahu prosedur yang harus Arafah jalani sebelum diijinkan pulang. Fikri nampak menganggukkan kepala sambil mengusap wajahnya beberapa kali.


Sedangkan di sisi lain Bayan sedang berusaha menenangkan Anna. Saat mendengar pembicaraan dokter dan dua perawat itu membuat hati Bayan berdenyut nyeri. Bagaimana tidak. Bayan tahu yang terjadi. Karena sesungguhnya Arafah meninggal dunia saat jam menunjukkan angka 12.00, tepat saat sosok siluman wanita itu datang lalu membawanya pergi.


Bayan memang terbangun seolah apa yang ia saksikan tadi hanya lah mimpi. Tapi Bayan yakin jika semua nyata, termasuk apa yang wanita siluman itu ucapkan. Mengingat hal itu membuat Bayan makin sedih. Ia memejamkan mata sambil mengeratkan pelukannya pada sang istri.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Pemakaman Arafah yang dilaksanakan usai sholat Zuhur itu berjalan lancar.


Setelah doa berakhir, satu per satu warga pun pergi meninggalkan area pemakaman. Bayan, Nathan dan Nicko sebagai perwakilan keluarga nampak menjabat tangan warga sambil mengucapkan terima kasih.


Anna dan Ramadhanti tampak menaburkan bunga di atas pusara Arafah. Sedangkan Fikri dan Ayu nampak berdiri tegar sambil menatap nisan bertuliskan nama Arafah.


"Ummi gapapa kan ?" tanya Fikri cemas.


"Gapapa Bi. Ummi cuma lagi merenung aja. Dosa Ummi pasti banyak banget dulu. Dan pasti dosa itu bisa bikin Ummi masuk neraka nanti. Tapi Allah Maha Baik ya Bi. Allah memanggil Anak-anak Kita lebih dulu supaya Ummi punya tabungan amal yang bisa membantu meringankan hisab Ummi nanti. Bukan kah Anak-anak yang meninggal saat di kandungan Ibunya dan Anak yang meninggal saat masih kecil akan menjemput Kita dan membawa Kita ke surga nanti ?" tanya Ayu dengan suara bergetar.


Ucapan Ayu membuat Fikri terharu. Jika saat kehilangan janinnya dulu Ayu sangat hiteris, tapi di kehilangan kali ini Ayu justru terlihat lebih tenang. Fikri juga melihat Ayu masih bisa tersenyum saat menerima ungkapan bela sungkawa dari warga tadi.


"Ummi betul. Kita terima dan syukuri aja qodo dan qodarnya Allah yang berlaku pada Kita. Abi yakin keputusan Allah adalah yang terbaik untuk Kita," kata Fikri sambil memeluk Ayu dengan lembut.


Ayu mengangguk dan tersenyum dalam pelukan Fikri. Sesungguhnya Ayu telah mempersiapkan diri untuk kehilangan ini sejak Arafah hilang karena diculik beberapa hari yang lalu.


Kala itu dua malam berturut-turut Ayu menangisi nasibnya. Namun sebuah petunjuk datang saat ia baru saja menyelesaikan sholat. Ayu seolah dituntun untuk siap dalam menghadapi kehilangan. Dan saat mengetahui anak sulungnya juga pergi memenuhi panggilan Allah, Ayu nampak lebih siap.


"Gimana kalo Kita pulang sekarang Anak-anak. Kita harus mempersiapkan acara pengajian untuk mendoakan Arafah dan Adiknya nanti malam !" kata Anna sedikit lantang hingga membuat Bayan, anak dan menantunya terkejut.


Semua orang saling menatap kemudian mengangguk.


"Bunda betul. Kita pulang sekarang ya Sayang," ajak Fikri sambil mengurai pelukannya.


"Iya Bi," sahut Ayu sambil tersenyum.


Kemudian Fikri menggandeng tangan Ayu dan membawanya melangkah meninggalkan makam Arafah. Bayan dan keluarganya pun mengekor di belakang sambil merencanakan banyak hal untuk pengajian nanti malam.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Bayan menoleh sekali lagi kearah makam Arafah.


"Maafkan Opa ya Nak. Opa terpaksa melakukan itu karena Opa tak ingin Kamu menderita nanti. Kutukan itu hanya akan membuat hidupmu sengsara berkepanjangan. Opa hanya berniat membantumu menghentikannya sejak awal, tapi Opa ga nyangka jika efek yang ditimbulkan akan seperti ini," batin Bayan gusar.


Bayan kembali teringat dengan bubuk putih kecoklatan yang ia masukkan ke dalam wadah makanan Arafah. Bubuk itu berasal dari benda pemberian Senja yang telah ia hancurkan. Bayan melalukan apa yang seharusnya sesuai arahan Senja di malam sebelum kepergiannya. Tapi Bayan tak menyangka jika akibat menaburkan bubuk itu dia akan kehilangan Arafah.


Bayan menoleh saat mendengar suara klakson mobil. Bergegas Bayan masuk ke dalam mobil yang mulai bergerak perlahan meninggalkan area pemakaman.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2