Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
40. Terima Kenyataan


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain. Seorang wanita tampak menelungkup di lantai sambil merintih kesakitan. Wajahnya yang pucat nampak dipenuhi luka sobek dan menganga seolah baru saja disayat benda tajam.


Wanita itu menggeram menahan sakit yang tak terkira. Ternyata bukan hanya wajahnya yang terluka tapi juga lehernya. Ada luka menganga di lehernya, basah dan masih mengeluarkan darah. Warna kebiruan juga melingkari hingga ke belakang, terlihat sangat jelas hingga menyerupai tali yang melingkar mengikat leher wanita itu.


Wanita itu merayap di lantai karena tak sanggup berdiri. Cairan merah nampak mengotori lantai dan itu bisa dipastikan berasal dari luka-luka yang diderita wanita itu.


Wanita itu terus merayap sambil berusaha menggapai handle pintu. Nampaknya ia ingin membuka pintu lalu meminta pertolongan. Namun sayang usahanya gagal. Wanita itu kembali memegangi leher dan bagian depan tubuhnya seolah merasa sakit yang amat sangat di sana. Setelah menggeram sekali lagi, wanita itu pun jatuh tak sadarkan diri.


Tak seorang pun tahu keberadaannya di ruangan itu karena selain letak ruangan yang terpencil, ruangan itu juga lama tak digunakan karena atapnya yang bocor dan dindingnya yang rapuh.


\=\=\=\=\=


Setelah penemuan darah yang berceceran di lantai dua hari lalu, Bayan merasa lebih tenang. Apalagi ustadz Mustafa juga menyatakan kuyang yang membayangi keluarganya selama ini terluka parah. Dan jika luka itu tak segera diobati, kemungkinan besar kuyang itu bisa tewas.


Bayan memang berharap jelmaan kuyang itu tewas karena itu artinya keluarganya terbebas dari ancaman.


"Kalo liat darahnya keliatannya makhluk itu memang terluka parah dan mustahil bisa selamat. Kecuali ada orang lain yang membantunya mengobati lukanya. Sekarang masalahnya, sanggup ga makhluk itu menjelaskan darimana luka itu berasal. Andai dibawa ke Rumah Sakit juga bakal jadi pertanyaan besar team dokter di sana. Kok bisa-bisanya ada pecahan kaca di leher dan sebagian organ dalam tubuh," kata Bayan dalam hati sambil mengendarai mobilnya lebih cepat.


Di samping Bayan saat itu ada Riko yang duduk dengan tenang. Di kursi belakang tampak tumpukan hadiah berupa makanan dan minuman yang mereka siapkan untuk Rama.


Sore itu Bayan dan Riko menyempatkan diri mengunjungi Rama. Mereka ingin tahu bagaimana kabar Rama setelah absen hampir dua Minggu di kantor tanpa penjelasan sama sekali. Bayan dan Riko mencoba maklum dengan kondisi Rama tapi mereka juga tak ingin membiarkan Rama larut dalam kesedihannya itu.


Saat tiba di rumah Rama suasana terlihat sepi dan berantakan. Dengan ragu Bayan dan Riko turun dari mobil sambil mengamati sekelilingnya. Mereka nampak prihatin melihat kondisi rumah yang biasanya rapi itu kini nampak tak terurus.

__ADS_1


"Berantakan banget sih. Kaya ga pernah dibersihin setaon aja," gerutu Riko.


"Wajar lah Rik. Yang punya rumah kan lagi sedih karena kehilangan Anak semata wayangnya. Jangankan bersihin rumah, Gue khawatir mereka juga lupa buat makan dan mandi," kata Bayan hingga membuat Riko tersenyum kecut.


"Mudah-mudahan ga separah itu Yan. Yuk Kita masuk," ajak Riko yang diangguki Bayan.


Riko menekan bel berulang kali. Setelah menunggu agak lama pintu pun terbuka. Di balik pintu terlihat Rama berdiri dengan wajah tersenyum menyambut kehadiran dua sahabatnya itu.


"Assalamualaikum, apa kabar Ram ?" sapa Bayan setelah rasa terkejutnya reda.


"Wa alaikumsalam. Masuk Yan, Rik," kata Rama sambil membuka pintu lebih lebar.


"Ok, thanks Bro," sahut Bayan dan Riko bersamaan.


Rama mengangguk lalu masuk ke dalam rumah. Ia bermaksud menyeduh kopi untuk dirinya dan dua sahabatnya itu.


"Apaan nih ?" tanya Rama.


"Makanan sama minuman lah. Masa gitu aja ga tau," sahut Bayan cuek.


"Ck, Gue tau. Maksud Gue, buat apaan barang sebanyak ini. Yang biasa doyan makanan ginian kan Anak Gue. Tapi sekarang ga ada Kayla di sini, jadi ada baiknya Lo bawa semua makanan ringan ini. Kasih ke siapa kek, yang penting jangan tinggalin di sini !" kata Rama ketus.


Ucapan Rama membuat Bayan dan Riko saling menatap. Mereka paham dengan kondisi Rama. Karenanya mereka tak menggubris ucapan Rama tadi.

__ADS_1


Setelah duduk dan meneguk kopi yang disuguhkan Rama, Bayan pun mulai bertanya tentang kasus hilangnya Kayla.


"Ga ada perkembangan apa-apa. Gue yakin Polisi juga nyerah buat nyari Anak Gue karena kemungkinan untuk ditemukan juga bisa dibilang sulit," sahut Rama gusar.


"Lho kok gitu," kata Riko tak mengerti.


"Ya iya lah. Dita yang jadi Ibunya aja ga tau kemana anaknya. Tiap kali ditanya Polisi jawabnya ngelantur. Bilang Kayla diculik setan lah, diambil hantu lah, mana ada Polisi yang percaya. Makanya Gue udah ga peduli lagi Polisi mau nyari atau ga. Karena feeling Gue bilang Kayla itu sebenernya udah meninggal," kata Rama sambil menatap kejauhan dengan tatapan kosong.


"Istighfar Ram, jangan ngomong kaya gitu. Itu artinya Lo nyumpahin Kayla meninggal dong," kata Riko sambil mengusap punggung Rama untuk menenangkannya.


"Tapi emang gitu kenyataannya kok. Gue bukan nyumpahin, Gue justru belajar ikhlas dan nerima kenyataan. Meski pun begitu Gue tetep ga bisa maafin Dita. Karena ulah Dita yang kekanakan dan egois, Anak Gue ilang tanpa jejak. Makanya Gue udah talak Dita dan Gue pulangin ke rumah Orangtuanya. Gue juga udah masukin gugatan perceraian ke Pengadilan Agama. Sekarang Gue tinggal nunggu panggilan sidang aja," kata Rama kesal lalu kembali meneguk kopinya.


Ucapan Rama mengejutkan Riko dan Bayan. Keduanya saling menatap dengan tatapan bingung. Meski pun awalnya mereka tak menyetujui pernikahan Rama dengan Dita dulu, tapi sejak Kayla lahir, mereka belajar menerima kenyataan. Dan saat mendengar Rama memutuskan bercerai, mereka tentu saja tak suka. Mereka tak ingin Rama menyesali keputusan yang diambilnya saat marah itu.


"Ga usah coba membujuk atau nasehatin Gue lagi !. Keputusan Gue udah bulat. Gua mau cerai, titik !" kata Rama saat dilihatnya Riko dan Bayan akan membuka mulut untuk menasehatinya.


"Ok, itu terserah Lo. Yang penting sekarang Kita cari makan di luar yuk. Biar Lo cari suasana baru. Emangnya Lo ga bete di rumah tiap hari," kata Riko yang diangguki Bayan.


"Bete juga sih. Ok tunggu sebentar ya, Gue ganti baju dulu," kata Rama sambil berlalu.


Bayan dan Riko mengangguk sambil menatap punggung Rama yang menjauh. Meski pun Rama memutuskan berpisah dengan istrinya, namun Bayan dan Riko melihat ketenangan di wajahnya. Dan itu artinya Rama lebih bahagia saat tak bersama Dita. Sebagai sahabat, keduanya hanya bisa mendukung keputusan Rama selagi itu baik untuknya.


Tak lama kemudian Rama keluar dari kamar dengan penampilan yang lebih fresh. Saat itu Rama tampil dengan pakaian kasual. Celana panjang berbahan denim warna biru dipadu kaos lengan panjang berwarna abu-abu nampak membalut tubuhnya.

__ADS_1


Bayan dan Riko nampak berdecak kagum dan itu membuat Rama membusungkan dada dengan bangga. Sambil tertawa bersama, ketiga sahabat itu pergi ke suatu tempat untuk melepas penat bersama.


\=\=\=\=\=


__ADS_2