
Karena ketukan di pintu terdengar makin keras, Rosi pun bangkit lalu meletakkan tubuh Avin di lantai begitu saja.
Rosi mendekati jendela, menyibak gorden sedikit dan terkejut melihat banyak orang di balik pintu.
"Apa-apaan ini ?. Kenapa banyak orang di sini ?" gumam Rosi panik.
Rupanya tak hanya papa Avin yang mengetuk pintu. Dua warga lainnya juga ikut mengetuk pintu dengan tak sabar. Sedangkan di belakang mereka warga nampak berkerumun.
Mama Avin yang baru saja pulang dari mini market pun terkejut melihat banyak orang berkerumun di depan rumah Rosi. Apalagi ada suaminya juga diantara warga yang berkerumun itu.
"Ada apa ini. Kenapa pada ngumpul di sini ?" tanya Mama Avin.
"Ternyata Wak Rosi itu gila. Ada keluarganya yang nyariin karena dia kabur dari Rumah Sakit Jiwa. Kami di sini karena dia lagi nyekap anak-anak di dalam sana," sahut salah seorang warga.
Jawaban warga tersebut membuat Mama Avin panik. Ia khawatir Avin lah anak yang dimaksud.
Tak lama kemudian pintu pun terbuka dan memperlihatkan wajah Rosi. Wanita itu nampak tenang seolah tak terjadi apa-apa.
"Ada apa ini. Kenapa pada ngumpul di sini ?" tanya Rosi.
Bukannya menjawab, papa Avin segera menerobos masuk ke dalam rumah Rosi. Aksinya yang tiba-tiba membuat Rosi terkejut dan kehilangan keseimbangan. Wanita itu pun jatuh terjengkang di lantai.
Sesaat kemudian terdengar jeritan dari dalam rumah. Papa Avin menjerit histeris menyaksikan anaknya terkapar di lantai dengan kepala berdarah. Pria itu segera menggendong anaknya lalu berlari keluar rumah.
"Astaghfirullah aladzziim ... Anakku, Avin !. Aviiin ...!. Dia memukul Avin, wanita itu melukai Avin. Liat kepala Avin berdarah !" kata papa Avin lantang.
Semua orang terkejut melihat kondisi Avin yang mengenaskan. Wajah Avin pucat, tubuhnya membeku dan terlihat ada dua lubang di kepalanya yang terus mengeluarkan darah. Warga bergidik ngeri menyaksikan kondisi Avin yang tak wajar itu.
Mereka menatap Rosi lalu menarik wanita itu keluar dari rumah dengan paksa. Rosi menjerit sambil menutupi kepala dengan kedua lengannya. Ia meronta dan menolak saat warga terus menariknya hingga keluar dari rumah.
Mama Avin yang menyaksikan anaknya terluka pun ikut menjerit dan menangis. Dalam hitungan detik suasana menjadi rusuh. Suara jeritan kedua orangtua Avin dan jeritan warga terdengar silih berganti.
"Bawa Avin ke Rumah Sakit sekarang. Jangan mampir kemana-mana kalo ga mau terlambat !" kata Bayan memberi perintah.
Kedua orangtua Avin mengangguk lalu bergegas pergi ke Rumah Sakit dengan menggunakan motor.
Setelahnya Bayan mendekat kearah warga yang mengerumuni Rosi.
"Tolong lepaskan dia. Biar Saya dan Anak Saya yang mengurusnya nanti," kata Bayan.
__ADS_1
"Ga bisa Pak. Wanita ini harus bertanggung jawab karena dia udah melukai Avin tadi !" sahut seorang warga.
"Betul. Bawa ke kantor Polisi aja biar kapok !" kata warga lainnya.
"Jangan !. Tanyain dulu apa motifnya. Kenapa dia melukai Avin. Jangan-jangan bukan cuma Avin yang udah dia lukai !" kata seorang warga dengan lantang.
Suara warga terdengar silih berganti hingga membuat Bayan dan Nathan terpaksa mengalah. Mereka tak bisa membawa Rosi pergi karena warga bersikeras ingin menahan wanita itu.
\=\=\=\=\=
Sementara itu kedua orangtua Avin telah tiba di Rumah Sakit. Oleh security Rumah Sakit mereka diarahkan ke UGD. Di sana Avin segera ditangani dengan baik.
Mama Avin nampak tak bisa menahan tangis saat melihat anak semata wayangnya terbaring lemah di atas tempat tidur. Saat itu ia dan suaminya tak bisa mendampingi Avin karena dokter dan perawat sedang berusaha memberi pertolongan pertama.
Luka di kepala Avin dibalut setelah dibersihkan dan diberi obat. Kemudian tubuh Avin dipasangi selang infus dan selang untuk transfusi darah karena ternyata Avin kehilangan banyak darah.
"Ya Allah, tolong selamatkan Avin. Jangan ambil Anakku ya Allah, tolong jangan ...," rintih Mama Avin sambil terisak.
"Jangan ngomong gitu Ma. Doain yang baik-baik dong," kata papa Avin sambil memeluk istrinya dengan erat.
"Aku takut Pa. Aku inget sama Rena. Dia ... dia juga kaya gini sebelum dibawa ke Klinik semalam," kata Mama Avin di sela tangisnya.
"Iya Pa. Badan dan mukanya Rena juga pucat dan hampir membiru kaya gini. Nafasnya pendek sama kaya Avin. Kalo Avin kaya gini karena Wak Rosi. Jangan-jangan Rena juga," sahut Mama Avin sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap sang suami.
Papa Avin menggeram marah. Ia ingin pulang dan memberitahu semua orang apa yang telah Rosi lakukan sekaligus melampiaskan kemarahannya pada Rosi. Namun ia tak mungkin meninggalkan anak dan istrinya sekarang karena mereka lah yang terpenting.
"Kita yang ceroboh karena udah menitipkan Anak-anak Kita di tangan orang asing. Kita kan ga kenal sama Wak Rosi, kenapa Kita bisa percaya gitu aja sama ceritanya," kata papa Avin penuh sesal.
"Iya Pa. Tapi jangan sampe ada korban lain yang jatuh. Cukup Rena dan Avin aja yang jadi korban. Dan semoga Avin ga harus menderita kaya Rena ya Pa," kata Mama Avin sambil memejamkan mata.
Papa Avin mengangguk sambil mempererat pelukannya. Dalam hati mereka terus berdoa, berharap agar Avin bisa pulih seperti sediakala kala.
Setelah setengah jam berjibaku memberi pertolongan pada Avin, dokter pun keluar dari ruangan untuk menyapa orangtua Avin.
"Gimana dok, gimana keadaan Anak Saya ?" tanya mama Avin tak sabar.
"Alhamdulillah, Avin sudah melewati masa kritis Bu. Beruntung Bapak dan Ibu bergegas membawanya ke Rumah Sakit. Karena kalo terlambat sedikit saja, mungkin Avin ga akan selamat," sahut sang dokter yang bernama Yusuf itu sambil tersenyum.
"Alhamdulillah ..., terima kasih dokter !" kata kedua orangtua Avin antusias.
__ADS_1
"Sama-sama Pak, Bu ...," sahut dokter Yusuf.
"Boleh kan Saya jenguk Anak Saya dok ?" tanya Mama Avin.
"Tentu saja boleh. Silakan Bu," sahut sang dokter.
Mama Avin pun mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam UGD diikuti suaminya. Saat papa Avin akan masuk ke dalam ruangan, dokter Yusuf menahan lengannya hingga membuat pria itu bingung.
"Bisa Kita bicara sebentar Pak, ini penting," kata dokter Yusuf setengah berbisik.
"Apa ini tentang Avin dok ?" tanya papa Avin cemas.
"Iya," sahut dokter Yusuf.
Papa Avin mengangguk lalu mengikuti langkah dokter Yusuf yang mengajaknya menjauh dari UGD.
"Jadi ada apa dok ?" tanya papa Avin tak sabar.
"Luka di kepala Avin itu terlihat aneh dan ga wajar Pak. Bisa Bapak ceritakan apa penyebab lukanya ?" tanya dokter Yusuf.
Papa Avin pun menceritakan kronologi kejadian yang menimpa Avin termasuk kabar tentang Rosi sebagai pasien Rumah Sakit Jiwa. Sang dokter tampak mendengarkan dengan seksama karena khawatir ada yang terlewat.
"Akhirnya Saya nemuin Anak Saya terkapar di lantai di rumah Wak Rosi. Saya yakin pengasuhnya itu yang melukai Anak Saya," sahut papa Avin di akhir ceritanya.
Sang dokter mengangguk. Nampaknya ia tahu apa yang terjadi.
"Luka di kepala Avin mirip luka gigitan hewan buas karena lubang di kepalanya mirip dengan bekas gigi taring. Apalagi kondisi Avin sempet kritis karena kehilangan banyak darah," kata dokter Yusuf sambil menatap papa Avin.
"Maksud dokter, Anak Saya digigit sama Bu Rosi ?" tanya papa Avin tak percaya.
"Iya. Tapi bisa kan kalo ini jadi rahasia Kita aja. Dan kalo bisa Saya mau ketemu sama dua kerabatnya Bu Rosi yang tadi Bapak ceritain," kata dokter Yusuf.
"Ok, Saya ngerti. Insya Allah Saya ajak mereka ke sini biar Kalian bisa ngobrol dan nemuin solusinya. Kasian Anak-anak lain kalo harus ngalamin kejadian kaya Avin," sahut papa Avin.
Dokter Yusuf mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Namun senyum dokter Yusuf berubah jadi tawa saat papa Avin mengatakan sesuatu.
"Ngeliat ekspresi wajah dokter Saya kok jadi takut ya. Jangan-jangan Wak Rosi adalah drakula yang nyamar jadi orang biasa," kata papa Avin sambil bergidik.
\=\=\=\=\=
__ADS_1