Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
246. Meledak Dan Terbakar


__ADS_3

Saat Bayan dan Nathan masih menatap pemandangan alam yang tersaji indah di depannya, tiba-tiba suara jeritan Rosi terdengar menggema di udara hingga mengejutkan Bayan dan Nathan. Keduanya menoleh ke belakang tepat kearah jendela dan terkejut melihat penampilan Rosi.


Saat itu Rosi berdiri tegak dengan leher terkuak dan kepala yang tersampir di bahu. Sudah tak terlihat darah yang keluar dari luka di pangkal lehernya itu. Hanya noda darah mengering yang ada di sekitar leher dan pakaian yang tertinggal dan terlihat jelas.


Rosi nampak memukul jendela dengan telapak tangannya seolah minta untuk dikeluarkan dari dalam rumah.


"Apa yang harus Kita lakukan Yah ?" tanya Nathan.


"Ga ada. Kita hanya bisa diam menunggu," sahut Bayan.


"Tapi kalo terus dipukulin begitu lama-lama kacanya bisa pecah Yah !" kata Nathan.


"Insya Allah ga bakal pecah. Ayah selalu milih kaca terbaik yang tahan api dan getaran untuk rumah Kita termasuk rumah ini. Jadi Kamu ga perlu khawatir Nath," sahut Bayan santai.


"Ok Yah," sahut Nathan sambil tersenyum.


Rosi makin keras memukul jendela. Bahkan kini Rosi kembali menjerit sambil membuka mulutnya lebar-lebar hingga memperlihatkan isi mulutnya.


Bayan dan Nathan tercekat saat melihat benda berwarna putih bergerak-gerak di dalam mulut wanita itu. Saat diamati dengan seksama ternyata benda putih itu adalah belatung hidup.


"I-itu belatung kan Yah ?!" tanya Nathan tak yakin.


"Iya Nath," sahut Bayan sambil mengangguk cepat.


"Kok bisa ada belatung di sana Yah ?!" tanya Nathan tak mengerti.


"Kamu gimana sih Nath. Rosi itu kan harusnya udah mati sejak beberapa hari yang lalu. Artinya dia bukan lagi manusia tapi mayat. Layaknya mayat yang udah beberapa hari meninggal dan ga langsung dikubur, ya itu lah yang terjadi. Pasti seluruh tubuhnya membusuk dan mulai dikerubuti belatung. Apalagi ada darah yang terus keluar yang membuat proses pembusukan lebih cepat terjadi," sahut Bayan menjelaskan.


"Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun ..., jadi selama enam hari kemarin Kita nemuin mayat hidup Yah ?!" tanya Nathan dengan suara bergetar.


"Betul. Sekarang Kamu liat telapak tangannya Nath. Selain pucat, bengkak juga mengelupas. Itu ciri-ciri khas mayat yang sudah membusuk beberapa hari," kata Bayan.


Nathan pun mengamati telapak tangan Rosi yang menempel di kaca jendela sebentar lalu menjauh karena diserang rasa mual. Selanjutnya Nathan pun muntah hebat hingga membuat Bayan tertawa.


"Kenapa Nath ?" tanya Bayan di sela tawanya.

__ADS_1


"Jijik Yah. Belatung nya juga nongol dan uget-uget di sela kulit tangannya," sahut Nathan sambil mengusap sudut mulutnya dengan punggung tangan.


"Sabar ya Nath. Kita di sini untuk mengakhiri petualangan siluman itu. Jadi hadapi semuanya dengan sabar dan kuat," kata Bayan sambil tersenyum.


"Sampe berapa lama Yah ?" tanya Nathan sambil meringis.


"Mungkin hingga tengah malam nanti," sahut Bayan.


"Ya Allah. Jadi selama itu Kita harus berdiri di sini nungguin Bu Rosi dan ngeliat wujudnya yang mirip zombie itu Yah ?" tanya Nathan tak percaya.


"Ga perlu. Kita bisa istirahat sebentar untuk sholat Isya di rumah besar. Setelahnya biar Ayah yang nungguin dia sendiri di sini. Kamu bisa tunggu di rumah besar nanti," sahut Bayan.


Usai Bayan menjawab pertanyaan Nathan, di kejauhan terdengar kumandang adzan Isya. Keduanya saling menatap dan tersenyum lalu bergegas melangkah menuju rumah besar. Sedangkan Rosi nampak mengamuk dan terus menggedor jendela seolah minta perhatian Bayan dan Nathan.


\=\=\=\=\=


Setelah menunaikan sholat Isya berjamaah di dalam rumah besar, Bayan pun bergegas kembali ke rumah lama. Nathan memilih tetap tinggal di rumah besar sambil menikmati kopi dan semangkuk mie instan yang dimasaknya beberapa saat yang lalu.


Saat tiba di depan rumah lama Bayan pun berhenti. Dia kembali mengamati keadaan di dalam rumah yang gelap gulita itu melalui jendela. Bayan nampak menghela nafas panjang saat melihat tubuh Rosi terbaring sambil menggelepar di lantai tepat di perbatasan ruang tengah dan dapur.


"Apa yang dia lakukan sih, kenapa bisa jatuh di sana ?. Bikin repot aja," gumam Bayan sambil mengambil anak kunci yang disimpannya di saku celana panjang yang ia kenakan.


"Ayah mau ngapain ?" tanya Nathan tiba-tiba.


"Mau buka pintu Nath. Kamu sendiri ngapain di sini. Bukannya Kamu bilang Kamu jijik ngeliat penampilan Rosi ?" tanya Bayan sambil mengerutkan keningnya.


"Rasa khawatirku sama Ayah lebih kuat daripada rasa jijikku Yah. Apalagi pas ngeliat Ayah mau buka pintu segala. Ayah ga liat Bu Rosi geleng-geleng kepala daritadi ?" tanya Nathan.


"Justru karena ngeliat Rosi jatuh di dekat pintu dapur makanya Ayah terpaksa masuk Nath," sahut Bayan.


"Ga ada yang jatuh di dekat pintu dapur Yah. Bu Rosi masih ada di balik jendela persis kaya tadi," kata Nathan sambil menunjuk kearah jendela.


Bayan pun menoleh kearah jendela dan terkejut melihat Rosi sudah berdiri di balik jendela sambil menggelengkan kepala. Bayan nampak menghela nafas panjang karena merasa dikerjai. Walau kesal namun Bayan berusaha maklum. Kini ia fokus menatap Rosi yang masih menggelengkan kepala itu.


"Apa maumu ?!" tanya Bayan dengan suara lantang karena khawatir Rosi tak mendengar suaranya.

__ADS_1


"Per ... giiiii ...," sahut Rosi parau.


Suara yang terdengar bagai dengung suara ratusan tawon itu memang membuat bulu kuduk Bayan dan Nathan meremang. Namun keduanya nampak tak gentar menghadapi Rosi.


"Kami di sini untuk mengakhiri semuanya sekarang. Kamu mau atau ga, Kami ga peduli," kata Bayan.


Rosi mengangguk lalu menggelengkan kepala. Banyak yang ingin ia ucapkan tapi nampaknya sulit karena belatung telah memenuhi rongga mulut dan tenggorokannya. Bayan dan Nathan pun saling menatap seolah ingin mencerna apa yang disampaikan Rosi, tapi sulit. Keduanya juga tak mengerti isyarat yang Rosi berikan.


"Kayanya cuma itu satu-satunya cara Nath. Kita masuk ke dalam lalu tarik Rosi keluar dan serang dia di tempat terbuka," kata Bayan.


"Iya Yah. Aku setuju," sahut Nathan sambil mengikat sebuah kain untuk menutupi hidung dan mulutnya.


Bayan tahu jika Nathan menggunakan taplak meja di rumah besar untuk menutupi hidung dan mulutnya itu. Nathan memang tak tahan dengan aroma busuk yang menguar dari tubuh Rosi yang bisa dipastikan bakal 'lebih hebat' dari enam hari yang lalu.


"Siap Nath ?!" tanya Bayan lantang.


"Siap Yah !" sahut Nathan sambil memegang handle pintu.


Bayan berhasil memutar anak kunci lalu bersama Nathan mendorong pintu ke dalam. Sayang usaha mereka terhalang tubuh Rosi yang sengaja menahan pintu agar tak terbuka lebih lebar. Bayan dan Nathan saling menatap tak percaya saat mengetahui bobot tubuh Rosi terasa lebih berat dibanding sebelumnya karena mampu menandingi bobot tubuh mereka berdua.


Bayan pun maklum saat aroma busuk menyeruak menghampiri Indra penciumannya. Namun ia terkejut saat ada aroma lain mengiringi aroma busuk yang menyeruak keluar melalui celah pintu yang terbuka itu.


Sadar ada bahaya yang mengancam, Bayan pun segera menarik Nathan lalu mengajaknya lari sejauh mungkin.


Saat Bayan dan Nathan berlari menjauh itu lah rumah tempat Rosi berada pun meledak dan terbakar.


Bayan dan Nathan menoleh ke belakang dan terkejut melihat rumah beserta isinya telah dilahap si jago merah. Lebih mengejutkan karena mereka juga melihat Rosi berdiri di tengah kobaran api sambil menatap kearah mereka.


"Apa yang terjadi Yah ?!" tanya Nathan histeris.


"Rosi sengaja membiarkan selang gas di dapur terbuka Nath !. Rupanya yang Ayah liat tadi nyata. Rosi jatuh karena ga tahan menghirup gas Elpiji yang menyeruak cepat di dalam ruangan tertutup itu. Sejak tadi dia meminta Kita menjauh tapi sayangnya Kita ga paham itu," sahut Bayan dengan suara bergetar.


Nathan membisu mendengar penjelasan sang ayah. Jantungnya masih berdetak cepat dan persendian nya pun terasa lemah. Kini ia terduduk di atas rumput sambil menatap rumah yang terbakar itu dengan tatapan nanar.


Sesaat kemudian tatapan Nathan beralih pada ayahnya. Ia terkejut melihat sang ayah menangis.

__ADS_1


"Senjaaa ...," kata Bayan lirih sambil mengulurkan tangannya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2