Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
133. Harus Diantar


__ADS_3

Hilya menoleh dan tersenyum melihat Nathan berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang menegang nampak sedikit kendur melihat Nathan yang bergegas menghampirinya.


"Kamu gapapa kan Hilya ?" tanya Nathan cemas.


"Aku gapapa Nath. Kamu sama Ayah Kamu ke sini ?" tanya Hilya sambil melirik kearah Bayan yang sedang melangkah kearahnya.


"Iya. Ayah yang maksa ikut tadi. Gapapa, Kamu ga usah takut. Justru kehadiran Ayah bisa membantu Kamu supaya bisa cepat pulang Hilya," kata Nathan menenangkan Hilya.


Hilya pun mengangguk. Saat Bayan tiba di hadapannya Hilya segera bangkit lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.


"Ehm ..., maaf. Jadi yang mana Abangnya Bu Hilya ?" tanya polisi yang tadi menginterogasi Hilya.


"Abang ?" tanya Nathan sambil menatap Hilya dan polisi itu bergantian.


"Jadi bukan Abangnya ya. Mungkin pacar atau Suaminya Bu Hilya ?" tebak polisi itu asal hingga membuat wajah Hilya dan Nathan bersemu merah.


Melihat sikap Nathan dan Hilya yang salah tingkah membuat polisi tertawa. Bayan pun ikut tersenyum lalu menyapa sang polisi.


"Selamat malam. Perkenalkan Saya Bayan, Omnya Hilya. Saya yang akan jadi penjamin Hilya nanti," sela Bayan sambil menjabat tangan Polisi itu.


"Oh gitu. Mari silakan duduk Pak," kata sang polisi sambil tersenyum.


Hilya pun bangkit untuk memberi ruang kepada Bayan. Di tempatnya Nathan tampak berdiri sambil mengulum senyum dan itu membuat Hilya bingung.


"Kenapa senyum-senyum begitu sih. Jelek tau !" kata Hilya setengah berbisik.


"Gapapa. Kupingku gatel aja denger ada cewek ngakuin Aku jadi Abangnya," sindir Nathan.


"Maaf ya. Abisnya Aku terpaksa Nath, kepepet. Kalo ga gitu Polisi nanya terus apa hubungan Kamu sama Aku. Soalnya Aku bilang Kamu lagi di jalan tadi," sahut Hilya tak enak hati.


"Kenapa ga bilang aja kalo Aku Suami Kamu ?" tanya Nathan.


"Jangan mulai deh Nath. Kalo Aku ngaku-ngaku Kamu Suami Aku, terus gimana sama Istri Kamu. Bisa abis ntar Aku dibikin perkedel sama dia !" kata Hilya kesal.


"Eh, kapan Aku ...," ucapan Nathan terputus saat Bayan berdiri lalu menjabat tangan sang polisi.


"Baik Pak. Kami siap datang jika diperlukan nanti," kata Bayan.

__ADS_1


"Saya percaya bakal menyenangkan bekerjasama dengan Pak Bayan," sahut sang polisi sambil tersenyum.


"Kalo gitu Saya bisa ajak Hilya pulang kan Pak ?" tanya Bayan.


"Tentu Pak Bayan, silakan," sahut sang polisi.


Kemudian Hilya dan Nathan pun ikut menjabat tangan sang polisi. Setelahnya mereka mengikuti Bayan yang melangkah keluar ruangan lebih dulu.


"Jadi gimana Yah ?" tanya Nathan saat mereka tiba di luar kantor polisi.


"Sekarang Kita antar Hilya pulang ke rumahnya dulu Nath. Kita bahas ini lagi besok. Kasian Hilya pasti capek karena harus berhadapan dengan Polisi tadi," sahut Bayan.


"Maaf Om, bukan nolak kebaikan Om. Tapi Saya naik Taxi aja karena mau ke Rumah Sakit dulu ngambil tas yang masih ketinggalan di sana," kata Hilya tiba-tiba.


"Gapapa Hilya. Kami anter aja sekalian. Kamu ga lupa kan kalo sekarang Saya adalah penjamin Kamu. Saya ga mungkin biarin Kamu pergi tanpa pengawasan karena khawatir Kamu kabur nanti. Kalo Kamu kabur, otomatis Saya yang bakal gantiin Kamu dipenjara dan Saya ga mau itu," kata Bayan.


Hilya terkejut mendengar pernyataan Bayan. Akhirnya ia mengangguk karena tak ingin mengecewakan orang yang telah menolongnya itu.


Di balik kemudi Nathan nampak mengulum senyum. Ia tahu jika ucapan sang ayah hanya gertak sambal saja. Itu hanya siasat agar Hilya mau diantar pulang ke rumah. Nampaknya Bayan khawatir dengan keselamatan Hilya karena saat itu malam telah larut dan jam menunjukkan pukul dua dini hari.


Mobil memasuki parkiran Rumah Sakit. Saat Hilya turun dari mobil Bayan meminta Nathan mengawalnya.


Nathan mengangguk lalu melangkah tepat di samping Hilya. Gadis itu nampak gugup. Tapi Nathan berhasil meyakinkan gadis itu jika semuanya akan baik-baik saja.


Saat memasuki loby Rumah Sakit terjadi sedikit kegaduhan. Semua team medis dan security nampak terkejut melihat kedatangan Hilya. Beruntung saat itu Hilya tak sendiri hingga ia bisa tetap menegakkan kepala saat melangkah.


Kasak kusuk pun terdengar saat Hilya melintas. Rupanya sebagian perawat juga tak percaya Hilya telah melakukan kejahatan.


"Ya Allah, Bu Bidan pulang. Bu Bidan gapapa kan ?" sapa salah seorang perawat yang berpapasan dengan Hilya dan Nathan di koridor.


"Alhamdulillah Saya gapapa Suster," sahut Hilya sambil tersenyum.


"Syukur lah. Saya yakin Bu Bidan bukan penjahat yang sebenarnya. Maafin mereka ya Bu. Mereka pasti cuma salah paham. Buktinya Bu Bidan di lepasin kan sama Polisi," kata sang perawat dengan mata berkaca-kaca.


"Makasih udah percaya sama Saya Suster. Tentang memaafkan, Saya udah maafin mereka semua yang nuduh Saya kok. Sekarang Saya mau ke dalam dulu ya, mau ngambil tas Saya yang ketinggalan," kata Hilya sambil menepuk lengan sang perawat dengan lembut.


Sang perawat mengangguk lalu menepi untuk memberi jalan pada Hilya. Wanita itu menoleh kearah Nathan yang setia menemani Hilya. Ia tersenyum lalu bergegas pergi untuk melanjutkan tugasnya.

__ADS_1


Saat masuk ke ruangan khusus karyawan, Hilya melihat Ranti sedang menangis di mejanya. Saat itu tak ada seorang pun di sana. Dengan ragu Hilya mendekati Ranti lalu menepuk punggungnya dengan lembut.


"Lo Gapapa Ran ?. Kenapa nangis di sini ?" tanya Hilya hati-hati.


Ranti menghentikan tangisnya lalu mengangkat kepalanya perlahan. Saat melihat Hilya di hadapannya Ranti kembali menangis tapi kali ini sambil memeluk Hilya.


"Gue ga percaya Lo penjahatnya Hilya. Jangan pergi ya, tolong jangan pergi. Maafin Gue karena udah musuhin Lo. Gue udah bilang sama mereka kalo Lo bukan penjahat tapi mereka ga percaya. Maafin Gue karena gagal membela Lo tadi...," kata Ranti sambil menangis.


Ucapan Ranti membuat Hilya terharu. Padahal hubungan mereka belakangan ini memburuk karena salah paham Ranti padanya. Hilya sempat mengira Ranti membencinya. Tapi mengetahui Ranti menangis saat ia digelandang ke kantor polisi tadi, Hilya pun sadar jika Ranti adalah sahabat terbaik yang ia miliki.


Hilya pun balas memeluk Ranti. Ia juga mengusap punggung Ranti beberapa kali.


"Makasih karena udah percaya sama Gue Ran. Gue juga minta maaf karena udah bikin Lo kecewa. Tapi Gue ...," ucapan Hilya terputus saat Ranti memotong cepat.


"Lupain tentang itu Hilya. Sekarang bilang sama Gue gimana caranya Lo bisa bebas secepat ini. Apa Polisi udah nemu bukti kalo Lo ga terlibat dengan kematian bayi-bayi itu ?" tanya Ranti penasaran sambil mengurai pelukannya.


Hilya pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Sampe detik ini Polisi masih menyelidiki kasus kematian bayi itu Ran. Gue bebas karena ada orang baik hati yang mau menjamin Gue," sahut Hilya.


"Oh ya, siapa ?" tanya Ranti.


"Ada lah, Ayahnya temen Gue," sahut Hilya cepat.


"Temen atau demen ?" tanya Ranti sambil melirik kearah Nathan yang saat itu berdiri di depan ruangan.


"Maksud Lo apaan sih Ran ?" tanya Hilya pura-pura tak mengerti.


"Ga maksud apa-apa. Gue cuma seneng aja karena akhirnya Lo punya seseorang yang bisa Lo andelin saat menghadapi masa sulit kaya sekarang. Kenalin dong sama Gue," pinta Ranti setengah berbisik.


"Ga usah, ga perlu," sahut Hilya ketus.


"Ayo lah Hil. Gue janji ga bakal gangguin dia deh. Tapi kalo dia yang kepincut sama Gue itu kan bukan salah Gue," kata Ranti.


Ucapan Ranti membuat Hilya melotot. Ia mencubit Ranti dengan gemas lalu bergegas keluar dari ruangan itu. Di depan pintu ia berhenti lalu menoleh kearah Ranti.


"Ayo, katanya minta dikenalin ...," ajak Hilya.

__ADS_1


Dengan antusias Ranti bergegas melangkah untuk menemui Nathan. Hilya pun tersenyum melihat kebahagiaan Ranti yang tampak heboh saat berkenalan dengan Nathan.


\=\=\=\=\=


__ADS_2