
Rama melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Nathan yang duduk di sampingnya nampak bersorak gembira menyaksikan aksi Rama yang di luar kebiasaan itu.
Rama pun tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana antusiasnya Nathan.
"Seneng ya Than, bisa ngebut bebas tanpa denger jeritan khawatir Bunda Kamu ?!" tanya Rama lantang.
"Iya Om. Jarang-jarang bisa kaya gini. Biasanya kalo Ayah mau kaya gini ya pas ga ngajak Bunda. Kalo ada Bunda mah payah, nginjak gas dikit udah jerit-jerit sampe bikin kuping sakit," sahut Nathan hingga membuat Rama tersenyum.
"Tapi jangan salah Than. Justru Bunda Kamu yang udah bikin Ayah Kamu bisa sedikit membatasi diri. Dulu waktu masih belum menikah tuh Ayah Kamu jagonya balapan. Kami berdua pasti kalah deh sama Ayah Kamu. Selain jago, Ayah Kamu itu nekad dan berani mati. Apalagi kalo lagi suntuk," kata Rama sambil kembali mengingat saat dimana Bayan terpuruk usai Senja meninggal dunia.
"Maksud Om Rama, sebelum menikah sama Mama Senja atau sama Bunda Aku ?" tanya Nathan.
"Dua-duanya. Sebelum ketemu Mama Senja, Ayah Kamu tuh kaya orang ga takut mati. Mungkin karena merasa ga punya orang yang mencemaskan dia. Dan selama menikah sama Mama Senja Ayah Kamu jadi bisa mengendalikan diri. Tapi sejak Mama Senja meninggal, kebiasaan lamanya kambuh lagi. Sampe akhirnya ketemu sama Bunda Kamu, menikah dan punya Anak, kebiasaan Ayah Kamu yang suka ngebut itu jauh berkurang bahkan hilang sama sekali. Udah lama Om ga liat Ayah Kamu ngebut kaya dulu," kata Rama sambil tersenyum.
"Masa sih Om ?" tanya Nathan sambil menoleh kearah Rama.
"Iya. Kalo ga percaya, Kamu bisa tanya sama Om Riko nanti," sahut Rama cepat.
Nathan pun mengangguk. Ia kembali tersenyum saat Rama mempercepat laju kendaraannya. Saat itu mereka tengah berada di jalan tol dalam kota. Suasana malam yang sepi membuat Rama leluasa melajukan mobilnya.
Nathan ingat bagaimana ia bisa berada bersama Rama sekarang. Sebelumnya sang ayah mengatakan jika ia akan diungsikan sementara waktu ke rumah salah satu sahabatnya. Itu dilakukan untuk menyelamatkan Nathan dari kejaran kuyang. Entah mengapa Nathan tak keberatan dengan apa yang diucapkan sang ayah. Nathan merasa jika keputusan sang ayah adalah yang terbaik, meski pun harus diwarnai tangis bunda dan adiknya.
Nathan menoleh saat Rama memanggil namanya.
"Iya, kenapa Om ?" tanya Nathan.
"Kamu ... baik-baik aja kan ?. Kamu takut ga ?" tanya Rama hati-hati.
"Om mau jawaban jujur atau bohong nih ?" tanya Nathan dengan mimik lucu.
"Ayo lah Nathan, Om serius nih," kata Rama gemas.
__ADS_1
"Ok. Gini ya Om. Jujur Aku juga ga nyangka kalo kuyang yang Aku liat di rumah Galih itu bakal ngikutin Aku. Kalo ga Nicko yang bilang, mungkin sampe sekarang Aku ga tau apa-apa. Sebenernya kuyang itu ga ganggu sih Om. Buktinya Aku bisa ngejalanin hidup Aku kaya biasanya dan ga ada yang berubah sama sekali," kata Nathan sambil menatap keluar jendela.
"Menurut Kamu dia ga ganggu karena berada jauh di atas sana. Tapi siapa pun yang ngeliat penampakannya bisa dijamin bakal takut atau minimal kaget. Nah itu termasuk mengganggu Than. Walau ga mengganggu Kamu, tapi kehadirannya mengganggu orang-orang di sekitar Kamu dan itu bahaya lho," kata Rama mengingatkan.
Nathan pun mengangguk mengiyakan ucapan sahabat ayahnya itu. Tak lama kemudian Rama memperlambat laju mobilnya karena akan keluar dari jalan tol. Mobil berhenti saat mereka tiba di depan rumah Riko.
Rama pun membuka pintu lalu turun disusul Nathan. Dari balik jendela terlihat Mona dan anak perempuannya yang bernama Alika tersenyum menyambut mereka. Mona keluar dari dalam rumah untuk menemui Nathan dan Rama.
"Assalamualaikum Tante," sapa Nathan dengan santun sambil mencium punggung tangan Mona dengan takzim.
"Wa alaikumsalam. Wah, Abang Nathan tambah ganteng aja nih," sahut Mona sambil tersenyum.
"Ah Tante bisa aja. Aku jadi malu nih," kata Nathan sambil menggaruk kepalanya.
Ucapan Nathan membuat Mona dan Rama tertawa. Tak lama kemudian terdengar suara deru mobil Riko memasuki halaman rumah. Setelah menurunkan barang bawaan milik Nathan, mereka pun masuk ke dalam rumah.
"Ga usah sungkan ya Than. Kalo ada apa-apa bilang aja sama Om dan Tante," kata Riko yang diangguki Nathan.
"Makasih Tante. Ngeliat kamar ini kok bikin Aku khawatir ya," sahut Nathan sambil mengamati kamarnya.
Ucapan Nathan membuat Riko, Mona dan Rama saling menatap bingung.
"Maksud Kamu, khawatir gimana Than ?" tanya Riko.
"Iya khawatir dimarahin Bunda karena jadi betah di sini dan ga pengen pulang ke rumah lagi Om," sahut Nathan cepat hingga membuat Riko, Mona dan Rama tertawa.
"Dasar Bayan junior. Paling bisa kalo disuruh ngebanyol," sungut Rama sambil mengusak rambut Nathan dengan gemas.
Nathan pun tertawa geli sambil berusaha menepis tangan Rama dari kepalanya.
Dan mulai malam itu Nathan akan hidup terpisah dari keluarganya untuk sementara waktu. Walau berat, namun Nathan harus menjalaninya karena tak punya pilihan lain.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Sementara itu di rumah Bayan, suasana sedikit berbeda dirasakan Bayan dan seluruh anggota keluarganya termasuk Yumi.
Saat ini mereka tengah makan malam bersama di ruang makan. Yumi yang mondar-mandir menyiapkan makan malam pun ikut terbawa sedih karena kepergian Nathan.
Melihat wajah Yumi yang sembab membuat Bayan yakin jika Yumi baru saja menangis. Bayan memberi kode kepada istrinya agar menghibur Yumi. Anna pun mengangguk lalu meminta Yumi duduk dan makan malam bersama mereka.
"Saya makan di belakang aja Bu," kata Yumi.
"Ok. Tapi Kamu jangan nangis lagi ya Yum. Nathan cuma sebentar aja tinggal di rumah Bang Riko. Kalo suasana udah aman dan kondusif, Nathan pasti balik lagi ke sini," kata Anna.
"Emang ada apaan sih Bu. Kok Mas Nathan harus diungsiin segala ?" tanya Yumi penasaran.
"Itu karena Abang diikutin kuyang Bi. Supaya kuyang itu pergi, Abang harus diungsiin dulu. Iya kan Bund ?" sela Nicko hingga membuat Yumi terkejut.
Saat Yumi menoleh kearah Bayan dan Anna, kedua majikannya itu nampak mengangguk mengiyakan ucapan Nicko.
" Tapi tolong rahasiain ini ya Yum. Simpan aja buat diri Kamu sendiri," pinta Bayan sungguh-sungguh.
"Baik Pak," sahut Yumi sambil mengangguk.
Setelah mendengar alasan kepergian Nathan, Yumi pun mengerti. Yumi nampak mengusap matanya yang basah dengan ujung bajunya. Yumi terlihat lebih tenang sekarang dan itu membuat Bayan dan Anna tersenyum lega.
Bayan dan Anna mengerti bagaimana rasa sayang Yumi pada anak sulung mereka itu. Dibandingkan dengan Nicko, Yumi memang lebih dekat dengan Nathan. Mungkin karena Yumi ikut terlibat dalam tumbuh kembang Nathan sejak bayi hingga sekarang.
Di luar rumah udara malam terasa kian menggigit. Dan di atas langit yang berhias bulan sabit terlihat sebuah kepala tanpa tubuh melesat dengan cepat. Jika diamati dengan seksama, kepala tanpa tubuh itu berkali-kali melintas di atas rumah Bayan seolah sedang mencari sesuatu.
Yunus yang duduk di teras rumah pun tampak tersenyum puas menyaksikan kepala tanpa tubuh itu kebingungan bak anak ayam kehilangan induk. Rupanya Yunus juga tahu apa yang terjadi meski pun Bayan dan Anna tak pernah menceritakan apa pun padanya.
"Boleh ga sih ngetawain hantu yang lagi kebingungan. Nyari sesuatu tapi yang dicari ga ada," gumam Yunus lalu tertawa.
__ADS_1
\=\=\=\=\=